Topbar widget area empty.
Pulau Anggo Memandang Matahari, Fitri Lestari Siregar Tampilan penuh

Pulau Anggo

Angin bertiup kencang. Nek Asih menghalau debu-debu yang berterbangan dengan tangan untuk melindungi mata. Langit seketika menghitam saat nek Asih menyebutkan nama pulau itu. Pulau yang ada di seberang desa kami.

Pulau Anggo sangat dekat dengan desaku. Dari pelabuhan dapat terlihat tanaman-tanaman bakau yang tumbuh di pinggirnya. Juga pohon-pohon besar yang kelihatan sudah tua. Namun tak pernah tampak dikunjungi apalagi dihuni oleh manusia.

Dari kejauhan terdengar suara ibu memanggil-manggil.

“Sebaiknya kau pulang Ndah. Sudah sore.” Kata nek Asih yang juga mendengar panggilan ibu.

“Tapi nek, cerita pulau Anggo..” belum sempat aku selasai bicara suara ibu memotong

“Indah. Ayo pulang.”

Nek Asih mengangguk pelan.

“Cuaca tiba-tiba buruk.” Kata Nek Asih pada Ibu.

“Iya, sepertinya akan turun hujan.” Balas ibu.

Pulau Anggo membuatku penasaran. Ayah sedang konsentrasi pada layar komputernya. Begitu juga ibu sedang sibuk di dapur menyiapkan hidangan malam. Seperti biasa, jawaban mereka selalu tidak tahu kalau ditanya tentang Pulau Anggo.

Anggo berarti hantu. Pulau itu tempat pembuangan makhluk jadi-jadian” menurut Tuti teman semejaku ketika kutanya. Pulau itu menyimpan misteri yang enggan untuk diceritakannya. Kata ibu itu mungkin hanya cerita rakyat biasa yang digunakan orangtua untuk menakut-nakuti anaknya.

“Lalu kenapa pulau Anggo tidak dihuni manusia?” tanyaku menentang.

“Itu karena di sana masih banyak binatang buas. Itu saja.” kata ibu tak mau kalah.

Tapi cerita tentang Pulau itu masih membuat penasaran. Aku jadi rindu Nek Asih, yang menjadi teman baikku sejak kami sekeluarga pindah karena Ayah dipindahtugaskan ke desa ini. Dia sudah menganggapku seperti cucu sendiri karena aku mengingatkannya pada anaknya yang sudah lama pergi. Andai nek Asih adalah nenek kandungku dan tinggal bersama, pasti akan menyenangkan. Mendengarkan kisah-kisah menarik yang ada di desa ini kapan saja.

“Makan malam sudah siap.” Ibu mengumumkan.

Aku bergegas menuju meja makan.

“Makan yang banyak, supaya gemuk.” Celoteh Ayah sambil mengisi piring makannya.

Aku mengangguk.

“Bagaimana di sekolah hari ini?” pertanyaan langganan ibu.

“Biasa saja.” jawabku sekenanya.

“Boleh ibu minta sesuatu?”

Aku memandang ibu sambil mengunyah tempe goreng, menunggu kalimat selanjutnya.

“Indah jangan main lagi ke rumah Nek Asih ya?”.

“Kenapa bu?”

Ibu tak menjawab. Wajah ibu datar saja.

”Ayah rasa tidak apa-apa Indah main ke rumah Nek Asih. Lagian Nek Asih tinggal sendiri, jadi bagus kalau Indah menemaninya.”

Aku setuju dengan ayah.

“Menurut ayah, kenapa warga desa sini menjauhi nek Asih?”

Ayah tak menjawab.

“Lagian Indah kan perlu juga bermain dengan teman-teman sebayanya.”

Makan malam berlanjut dengan diam.

Pulang sekolah aku berencana ke rumah Nek Asih, tapi pasti ibu akan melarang.

“Bu, Indah berangkat.” Aku minta izin pada ibu pergi ke rumah Tuti untuk mengerjakan tugas matematika bersama. Tapi itu bohong.

Aku berjalan tergesa-gesa menuju rumah Nek Asih. Tak menghiraukan ibu-ibu yang sedang ngerumpi sambil mencari uban di bawah pohon mangga beralas tikar pandan. Ada yang mencari kutu rambut anak. Sebagian membersihkan daun-daun kelapa untuk membuat lidi sambil mengunyah pinang. Rumah Nek Asih tak jauh lagi.

“Nek Asih!” Aku berlari memeluk Nek Asih yang sedang menyapu halaman. Senyum mengembang dari paras tuanya.

“Nek cerita pulau Anggo” rengekku.

“Baiklah. Sudah izin tadi sama ibu mau kemari?”

Aku mengangguk.

“Ya sudah. Ceritanya di dalam yuk.”

Nek Asih menyuguhkan segelas teh hangat dan sepiring singkong rebus. Kami duduk selonjoran di ruang tamu.

“Waktu itu…” Dia mulai bercerita.

“Seluruh warga desa sedang resah. Pasalnya, hampir setiap tengah malam seseorang mengetuk rumah warga secara bergantian. Pintu diketuk lembut disusul suara rintihan dan memelas “Toloooonng, minta nasi dingin. Toloooong, buka pintu. Minta nasi dingin.” Suara itu sungguh membuat orang yang mendengarnya merasa gelisah.”

“Apakah pernah ada warga yang membukakan pintu dan memberikan nasi dingin kepadanya Nek?”

Nek Asih menggeleng.

“Kebetulan, seorang warga yang merupakan rentenir kejam di desa ini baru saja meninggal. Jadi banyak warga menganggap yang mengetuk pintu dan minta nasi dingin itu adalah hantu dari rentenir itu. Mereka meyakini bahwa karna kekejaman dari sang rentenir bumi tidak menerima jasadnya, makanya dia gentayangan.”

“Apa itu benar-benar hantu dari rentenir yang baru saja meninggal?”

“Beberapa warga lain menganggap itu adalah ulah orang gila yang hanya ingin mengganggu ketenangan dan merasa tidak perlu memperdulikannya. Tapi semua itu hanya dugaan tanpa seorangpun pernah membuktikannya. Beberapa waktu kemudian muncul sebuah isu. Seorang pemuda mengaku bertemu dengan sosok misterius pengetuk pintu. Pemuda itu dalam keadaan mabuk saat itu. Ia menggambarkan si pengetuk pintu-begitu warga menjulukinya- sebagai sesosok manusia berkaki empat.”

“Tubuhnya adalah tubuh manusia. Kulitnya sebagian seperti kulit manusia sebagian lainnya menyerupai kulit hewan. Demikian pula wajahnya. Seperti itu yang dilihatnya secara sekilas. Warga percaya dengan keterangan pemuda itu. Karena takut bertemu sosok menyeramkan itu warga tidak ada yang berani berkeliaran di malam hari. Yang biasanya suka berjudi dan mabuk-mabukan sampai larut tidak lagi berani. Apabila sudah jam 10 malam desa ini akan sepi seperti kuburan.”

“Sampai suatu ketika seorang pemuda alim yang baru menyelesaikan pendidik agama di pesantren pulang ke desa ini. Dia tidak takut sama sekali dengan sosok pengetuk pintu yang mencemaskan warga. Suatu ketika dia mengumpulkan warga untuk menyusun rencana penangkapan si pengetuk pintu. Warga sangat antusias dengan idenya. Mereka merasa sudah waktunya terbebas dari rasa takut.”

“Ketika malam jumat, warga berkumpul di rumah pemuda itu dan sebagian warga menunggu di rumah yang lain. Mereka yakin si pengetuk pintu akan datang. Benar saja, tepat pukul 12 suara ketukan pintu terdengar. Tok tok tok ‘Tolooong, minta nasi dingin. Buka pintunya, minta nasi. Tolooong.’ Pada saat itu terdengar dari tempat lain suara teriakan warga yang sudah menanti menyerbu makhluk misterius itu.”

“Lalu nek, apa yang terjadi?”

“Si pengetuk pintu lari. Mungkin takut melihat warga yang membawa obor, golok, parang dan benda-benda tajam lainnya. Beberapa orang menyerbu dari arah lainnya. Dia terkepung. Warga sudah sepakat untuk tidak menyakitinya. Yang menjadi rencana mereka adalah menangkap si pengetuk pintu dan membuangnya ke Pulau Anggo. Mereka mengikatnya, menutup kepalanya dengan karung beras dan membawanya naik perahu.”

“Kenapa ke Pulau Anggo nek?”

“Sejak zaman dahulu warga percaya bahwa pulau Anggo adalah tempat pembuangan jin dan makhluk-makhluk gentayangan.”

“Lalu, apa yang terjadi selanjutnya nek?”

“Diterangi cahaya bulan warga menyaksikan keberangkatan si pengetuk pintu ke Pulau Anggo. Hanya beberapa orang saja yang pergi mengantarkannya karena muatan perahu juga tidak terlalu banyak. Perahu kembali setelah menurunkan si pengetuk pintu dan membuka ikatannya. Namun, belum jauh dari Pulau Anggo perahu itu berputar-putar di air. Awalnya pelan. Lama kelamaan semakin kencang dan tenggelam. Warga yang menyaksikan di seberang hanya berteriak-teriak tanpa bisa berbuat apa-apa. Tak ada seorangpun yang selamat dari kejadian naas itu. Termasuk si pemuda alim. Warga menganggap itu adalah ulah si pengetuk pintu yang merasa sakit hati terhadap warga. Ada juga yang beranggapan itu ulah hantu yang bersemayam dalam air di sekitar Pulau Anggo.”

Hening. Nek Asih menitikkan air mata.

“Nenek menangis?” Nek Asih menarik nafas dalam.

“Cerita belum selesai.” Katanya sambil tersenyum pahit. Dia menyeruput teh yang tak mengepulkan asap lagi.

“Beberapa hari kemudian. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun nekat berenang ke Pulau Anggo untuk mencari ayahnya.”

“Ayahnya tenggelam setelah mengantar si pengetuk pintu ya nek?”

Nek Asih menggeleng.

“Ayahnya adalah makhluk yang dibuang ke Pulau Anggo. Dia sangat merindukan ayahnya. Lama hari berganti, dia tak pernah kembali.”

Aku terperangah.

“Nek…” belum selesai kalimatku, ibu sudah muncul di depan pintu.

“Indah. Kau membohongi ibu?”

“Maaf bu. Tadi Indah..” Kalimatku menggantung.

“Ayo pulang!.” Ibu menarik tanganku.

“Indah” panggil nek Asih lirih.

Dia melepas kepergian kami di pintu. Aku sempat menoleh. Wajahnya terlihat sangat sedih. Dibenakku masih menyimpan banyak pertanyaan. Angin bertiup kencang menerpa segala yang dilaluinya. Ibu-ibu di bawah pohon mangga kini sibuk mengangkati jemuran masing-masing.

Ibu mendiamkanku. Itu artinya ibu sangat marah dan kecewa. Sampai besoknya ibu tidak mengucapkan sepatah katapun. Siapa saja akan tersiksa diperlakukan seperti itu. Hingga akhirnya aku bersimpuh di kakinya ketika sedang menghidangkan sarapan.

“Bu, maafkan Indah. Tolong jangan seperti ini. Indah akan terima apapun yang akan ibu katakan. Tapi jangan diam. Tolong maafkan Indah bu, Indah sangat menyesal.”

Suara isak tangis menggema di ruang makan. Ibu melepaskan dekapanku di kakinya dan memelukku erat.

“Maafkan Indah bu.” Tangisku semakin keras.



“Iya ibu maafkan Nak, tapi jangan diulangi lagi ya.”

Aku mengangguk.

“Bu, Indah akan menuruti kata-kata ibu. Tapi bolehkah Indah meminta maaf juga pada Nek Asih? Indah juga telah bohong padanya.”

Ibu tersenyum.

Esoknya aku bersama ibu pergi ke rumah Nek Asih. Tapi kami tak menemukan nek Asih di rumahnya. Kata tetangga terdekatnya sudah dua hari ini dia tak melihat nek Asih. Pintu dan jendela juga dibiarkan terbuka.

Aku membuka pintu kamar nek Asih dan memberanikan diri untuk masuk. Di kamarnya hanya ada tempat tidur dan sebuah meja kecil yang di atasnya diletakkan bingkai foto. Nek Asih terlihat muda di foto itu, bersama suaminya dan seorang anak perempuan.

Aku berlari ke pelabuhan, berdiri mematung menatap Pulau di depan. Pulau Anggo.

Cerpen ini terinspirasi dari cerita rakyat tentang Pulau Anggo yang ada di Kabupaten Labuhanbatu.

Fitri L.S.
Ditulis oleh Fitri Lestari Siregar

    Penulis yang kesehariannya berprofesi sebagai guru RA-TK Robbani Rantauprapat

    2 Comments

    Tinggalkan komentar

    1 × 2 =