Pelukis Terakhir Matahari terbenam (Illustrasi) - Terkait Tampilan penuh

Pelukis Terakhir

Aku menghadap-Nya.Meminta agar ia menjaga hatiku untuk Mu. Aku memohon dihadapan-Nya agar cintaku tetap terjaga. Aku mencari hidup dan kebenaran juga kesempatan. Di atas kertas putih kulukis kau sebagai impian terakhirku.

 

Asap rokok mengepul ke udara. Memenuhi seluruh ruangan yang tak terlalu besar itu. Ada kepengapan yang terpenjara di sana. Seperti sebuah goa mati yang tak berpenghuni. Namun Kori Arafah yang senantiasa menyebut namanya dengan Kori El Sador, jauh merasa nyaman diperaduannya itu. Disetiap sudut penuh lukisan-lukisan busuk yang sengaja ditumpukkan tanpa boleh dilihat orang lain. Kini ia tengah menekuni sebuah lukisan yang sangat membuat waktunya benar-benar tercurah. Ia terlihat serius diantara kepulan-kepulan asap rokoknya. Tangannya berlepotan cat. Di bawah biasan lampu yang tak terlalu terang itu, Kori terus menekuni lukisan Pangerannya, Azhar. Seorang pemuda tampan yang soleh, yang saat ini memenuhi ruang hidupnya.

 

Kori sadar perasaannya itu sangatlah tidak wajar, bila Azhar tahu, mungkin pemuda itu akan enggan menyapanya bila bertamu kerumah mereka. Kori mengakui perbedaan dan jarak yang ada diantara mereka, sebuah perbedaan kekuatan hati. Hidup Azhar senantiasa dinaungi oleh kalimah-kalimah-Nya. Sementara ia lebih senang dengan ketertutupan, jauh dari Allah. Ia enggan menyebut nama-Nya. Baginya Tuhan itu tidak ada. Keyakinan itu timbul dari hati namun bukan untuk-Nya. Keyakinan itu ada karena manusia yang mengadakannya.

 

Ia jauh dari apa yang diharapkan Azhar, seorang wanita sholehah. Kori tahu itu. Kori tahu seperti apa wanita yang akan dicari Azhar. Wanita seperti dia tidak akan mungkin memasuki dunia Azhar. Ia hanya bisa menyimpan perasaan itu jauh dilubuk hatinya. Siapapun tidak akan tahu, tidak akan pernah mendengar. Hanya ruang pengap dan lukisan-lukisan busuknya lah yang dapat mengintainya.

 

Kori sangat bahagia bisa mencintai Azhar. Ia merasa hidupnya tidak sia-sia, meskipun hatinya selalu menangis dan menderita. Azhar tersenyum dalam lukisan itu. Pemuda itu seakan-akan mampu membuat Kori percaya bahwa masih ada ruang untuknya, walaupun ruang itu teramat kecil.

 

Keseriusan Kori buyar ketika ia mendengar sebuah suara yang selalu membuatnya bahagia.

“Kak Azhar..”

Azhar tersenyum. Terlihat begitu tulus. Demikian juga dengan Mariam yang datang bersamanya. Gadis lembut berjilbab itu tertunduk, menghindari tatapan mereka bertemu terlalu lama. Mereka seperti menyimpan sesuatu yang sangaja mereka tutup rapat-rapat. Yah mereka takut apa yang disembunyikan mereka itu menjadi sebuah bencana bagi mereka. Hati keduanya seakan-akan mengikat janji, janji yang kuat kepadaNya.

“Tadi Kakak sudah menemui ustad Asmad. Kakak ceritakan semuanya, ia bilang jika hati kita sudah kuat, melangkah saja, jangan sampai dosa meracuni hati kita” ujar Azhar.

Mariam mengangguk.

“Semua terserah kak Azhar, kalau saya… kalau saya tinggal menunggu kepastian saja.”

Telinga Kori berdiri mendengar pembicaraan mereka. Darahnya berdesir. Ia memang belum paham arah pembicaraan keduanya. Tapi kegelisahan tiba-tiba membuatnya tak tenang.

“Kakak juga sudah bilang pada Abi. Abi setuju”

“Alhamdulillah. Lalu?”

“Kakak rasa alangkah baiknya jika kita meminta padaNya, agar ia tunjukkan kekuatan hati kita. Kakak tidak mau sesudahnya Mariam akan kecewa pada Kakak.”

“Jangan bilang begitu. Saya sudah mantap dengan pilihan saya, Kak. Sesudahnya kita akan jalani bersama.” Ucap Mariam tulus.

Azhar merasa ucapan Mariam membuat ia semakin kuat dan berani.

 

Kuas terjatuh dari genggaman Kori. Kini ia bisa menebak arah pembicaraan itu. Air matanya meleleh. Tubuhnya lemas. Ia jatuh dihadapan lukisan itu, lalu menatap nanar pada lukisan Azhar. Hatinya tergores luka. Kali ini jauh lebih parah. Ia merengkuh lututnya kuat. Bahunya berguncang. Isakannya ia tahan. Ia tidak mau Mariam mendengar tangisannya. Lalu masuk dan bertanya apa penyebab kesedihan yang membuatnya sesegukan.

“Nanti malam kita ke masjid sama Abi dan Ummi untuk membicarakan hal ini pada ustad Asmad. Kamu siap khan?”

Mariam tersenyum malu. Lalu mengangguk mantap. Kebahagiaan memenuhi perasaan keduanya. Namun tidak dengan Kori. Meski Mariam adalah kakaknya dan sepatutnya ia bahagia ketika Mariam menemukan seorang pemuda yang akan menemaninya menjalankan syariat Islam, menempuh jalan Allah. Ia semakin kuat mendekap lututnya. Ia tidak bisa terima, ia tidak akan rela. Pangerannya akan menjadi milik wanita lain, meskipun itu kakaknya sendiri.

Ia tahan isaknya dengan membekap mulut. Guncangan rasa pilu membuat seluruh tubuh Kori seperti tak bertulang lagi.

Kini ia merasa seorang diri. Ia butuh seorang teman. Ia kesepian. Cinta yang ia miliki membuatnya jauh terdampar ditempat yang sama sekali tak pernah dikenalinya.

“Allah” gumamnya. Ia sadar kini ia harus lari dan mengadu padaNya. Ia lebih mengerti bagaimana kondisinya saat ini.

Kenapa ia harus memasuki kehidupanku. Kenapa Engkau biarkan ia yang aku cintai. Kenapa ya Allah. Aku tidak kuat, aku tidak sanggup melihat mereka bersanding. Aku tidak rela kak Azhar harus hidup bersama kak Mariam. Kumohon ya Allah hentikan waktu ini. Biar semuanya tidak pernah terjadi.’ Bisiknya dalam hati.

Mariam terlihat siap-siap di kamarnya. Kori masuk dengan wajah sendu. Dipandanginya Mariam dengan hati terluka. Mariam menatapnya. Bola mata wanita itu berbinar terang. Kebahagiaan jelas tampak disana. Mariam tersenyum pada Kori.

“Kori, ayo kamu kemas-kemas, temani kakak bertemu dengan orang tua Kak Azhar.”

“Untuk apa?” tanya Kori cetus.

“Kakak akan dilamar Kak Azhar, Ri. Kamu kenapa sich, apa kamu tidak suka Kakak menikah? Kakak tidak akan meninggalkanmu. Kakak akan tetap bersamamu. Kak Azhar tidak keberatan kok.”

Tatapan Kori kosong. Ia tidak bisa membayangkan mereka tinggal di bawah satu atap. Ia akan menyaksikan Azhar dan Mariam hidup dalam kubangan kebahagiaan. Sementara Ia harus tiap malam menangis memandangi lukisan-lukisan Azhar di kamarnya yang pengap. Terbenam dalam kepedihan dan kepulan asap rokok. Kori benar-benar terhempas. Ia jatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk bangkit.

“Kori” panggil Mariam.

Kori tersentak.

“Aku malas, lagi nggak enak badan. Aku doakan saja semuanya lancar dan Kak Mariam bahagia bersama Kak Azhar” kata Kori lalu beranjak.

Mariam tercenung menatap Kori yang begitu dingin. Tidak biasanya respon Kori sedatar itu. Bahagia Mariam adalah bahagia Kori juga. Tangis Mariam adalah tangis Kori juga. Namun kali ini semuanya berubah. Kori memperlihatkan dirinya yang lain. Dirinya yang kini berbalut benci pada Mariam dan Azhar.

Kori mengemasi bajunya ke dalam sebuah tas ransel butut. Sisinya sudah robek dan satu talinya putus. Ia akan pergi dari kehidupan Mariam dan Azhar. Ia akan mencari sesuatu yang sama sekali belum ia ketahui. Yang pasti hatinya kini telah kuat untuk pergi jauh dan tidak ingin melihat Mariam dan Azhar lagi. Kori mencoba untuk merelakan dan mengikhlasan hidup baru yang akan dijemput keduanya.

Kori masuk kedalam kamar Mariam lalu meletakkan secarik kertas di atas tempat tidur. Satu titik air mata jatuh di pipinya. Ia akan melepas semuanya. Meninggalkan sebuah cinta yang memberinya semangat hidup. Akhirnya perasaan yang sudah sekian lama ia pertahankan itu ternyata terhempas begitu saja. Ia sadar suatu waktu badai itu akan datang. Namun karena ia selalu kuat ia tetap yakinkan dirinya sendiri bahwa Azhar akan menjadi pangerannya.

Tatapan Kori tertumpu pada figura foto Mariam. Gadis berbalut jilbab itu tersenyum penuh kasih sayang. Wanita itu adalah pengganti orangtuanya. Yang menjaga ia dari kecil. Tempat pengaduan semua deritanya. Tapi kini ia adalah orang lain bagi Kori. Apapun kondisi Kori saat ini tidak mungkin ia beri tahu pada Mariam.

Kori menggigit bibirnya kuat. Lalu menyeka air matanya. Ia berbalik dan melangkah keluar tanpa memandang kearah rumah itu lagi. Rumah yang memberi ia perlindungan. Rumah yang menumbuhkan cintanya pada Azhar. Pemuda itu akan selalu hidup dalam hatinya.

 

Mariam pulang. Wajahnya ceria dan merona merah.

“Assalamualaikum” ucapnya seraya membuka pintu.

Tak ada sahutan.

“Kori!!!”

Nihil.

Mariam tidak menghadirkan dugaan-dugaan lain dalam pikirannya. Mungkin Kori keluar. Itu selalu menjadi jawaban nalurinya ketika ia tidak menemui Kori dirumah. Mariam masuk ke dalam kamarnya. Ia berdiri di depan cermin dan tersipu malu.

“Kak Azhar” gumamnya bahagia.

Lalu ia duduk. Perhatiannya teralih dari cermin ketika jemarinya menyentuh sebuah benda. Mariam melihatnya. Sebuah surat. Mariam mengerutkan dahi. Tak biasanya Kori keluar dengan meninggalkan sebuah memo sekalipun ia harus pulang larut malam.

Mariam mengambil dan memperhatikannya. Kemudian membukanya.

‘Aku minta maaf pada kak Mariam jika apa yang kunyatakan ini akan menjadi sebuah kekecewaan dalam hidup kakak. Namun jika aku tidak ceritakan hal yang sesungguhnya dan memilih untuk diam, aku yakin aku tidak mampu atau bahkan aku tidak ingin hidup lagi didunia ini. Aku mencintai kak Azhar…..

Pada kalimat itu Mariam berhenti. Sebuah halilintar menyambar perasaannya. Surat itu jatuh. Jari-jarinya tidak kuat lagi memegang secarik kertas itu. Air matanyapun meleleh. Ia mengenggam sisi tempat tidur kuat.

“Tidak..tidak mungkin Kori.” Gumamnya.

Seisi kamar itu terasa berputar. Berpindah tempat dan semua perasaan galau menderanya.

Mariam memungut kertas itu. Meskipun tidak kuat namun ia harus tahu sejauh mana Kori telah menyimpan cinta untuk Azhar.

‘Ia adalah pemuda pertama yang membuat aku mengakui perasaanku. Ia adalah pemuda pertama yang memberi aku kekuatan bahwa aku juga berhak untuk jatuh cinta. Aku sadar kehadiran perasaan itu adalah sebuah lulucon. Karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa memiliki kak Azhar seperti kak Mariam. Aku hanya memiliki wajahnya dalam lukisanku. Yang selalu kutatap dalam kegamangan hatiku. Kumohon jangan pernah benci aku karena pengakuan ini. Kumohon.

Aku pergi dari rumah dan jangan mencariku karena ini adalah sebuah pelarian yang bisa kulakukan. Aku tidak akan sanggup melihat kak Mariam dan kak Azhar hidup bahagia. Ini adalah pilihanku. Aku ingin memulai hidup baru tanpa harus takut dibayangi oleh keutuhan cinta kalian. Tanpa harus memaksakan diriku untuk menghapus cinta ini. Aku menyerah pada waktu, biarlah ia yang menghakimi kesalahan yang telah kuperbuat.

Aku pergi dan akan kembali apabila aku sudah mampu melupakannya. Izinkan aku menelusuri jalan hidup yang sudah terlanjur membawaku melangkahkan kaki.’

 

Air mata Mariam semakin deras mengalir. Ia terisak kuat. Ia memeluk kertas itu.

“Kori….”

Lalu ia ingat lukisan Azhar yang disebutkan Kori dalam suratnya. Iapun beranjak menuju kamar Kori. Kamar yang selalu penuh rahasia dan tidak seorangpun yang boleh masuk kesana.

Perlahan Mariam membuka daun pintu. Pertama yang ia temui adalah kegelapan dan kepengapan. Mariam menghidupkan lampu. Meski sudah diterangi oleh cahaya kamar itu tetap saja terlihat muram.

Puntung rokok bertaburan disana sini. Kuas dan cat berserakan. Mariam terus masuk. Lukisan-lukisan usang bertumpuk.

Perasaan Mariam kembali seperti dicabik-cabik. Lukisan Azhar bergantungan. Dan Mariam yakin lukisan-lukisan itu dibuat Kori dengan sepenuh cintanya. Hal itu terlihat dari goresan-goresan kuas dan cat yang rapi.

Mariam memandangi satu persatu lukisan itu dengan nanar.

Azhar terlihat heran dengan raut wajah Mariam. Ia tampak tegang dan gelisah. Azhar tersenyum.

“Kenapa Mariam. Apa ada masalah?” tanya Azhar hati-hati.

Mariam diam. Ia begitu berat untuk bercerita. Ia memilin-milin ujung jilbabnya. Tiba-tiba matanya berlinang.

Azhar semakin heran.

“Mariam, kamu kenapa? Ceritakan pada kakak”

Mariam tetap bungkam. Namun air matanya terus mengalir. Azhar bingung. Jika saja saat ini wanita itu adalah muhrimnya, ia tidak peduli seberapa banyak air mata Mariam, ia akan terus memeluk gadis itu. Ia akan menenangkannya dengan seluruh perasaan cinta yang ia miliki. Namun Mariam masih haram baginya. Ia tidak boleh berlaku lancang pada wanita yang belum sah menjadi istrinya.

“Tolong Mariam, Kakak tidak mengerti jika kamu hanya menangis. Kamu harus cerita”

Mariam menggeleng.

Bahu Azhar turun. Ia kecewa.

“Jangan buat Kakak khilaf Mariam. Kakak tidak bisa memahami apapun masalahmu kalau kamu terus menangis seperti ini. Atau kakak memelukmu saja, bagaimana?” kata Azhar diiringi canda.

Mata berair itu melotot.

“Kalau begitu ceritalah”

Mariam menunduk.

“Aku membatalkan rencana pernikahan kita”

“Apa?!” Azhar begitu terkejut.

“Kamu serius Mariam. Kamu sedang bercanda khan?”

Mariam menggeleng.

“Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak bisa”

“Mariam…” Azhar kehilangan kata.

Lalu Mariam menyerahkan surat yang ditinggalkan Kori.

Azhar terlihat shock membacanya. Ia geleng-geleng kepala.

“Tidak….tidak Mariam. Ini tidak mungkin.” Kertas itu terjatuh.

“Tapi Kori telah pergi. aku merasa bersalah, membiarkan adikku tanpa pernah menanyakan isi hatinya. Aku sering tidak peduli padanya. Aku sangat bersalah padanya.”

“Aku mengerti Mariam, tapi bukan berarti kamu harus membatalkan rencana pernikahan kita. Abi dan Umi sudah setuju. Mereka akan kecewa. Tolong Mariam tarik keputusanmu itu. Kakak mohon.”

Mariam tetap menggeleng.

“Keputusanku sudah bulat Kak. Aku tidak ingin membuat hidup Kori semakin menderita. Ia sangat mencintai Kakak.” Mariam menghapus air matanya. Lalu beranjak.

“Ikutlah denganku.” Mariam melangkah menuju kamar Kori.

Azhar mengikutinya.

Mariam membuka daun pintu. Azhar masuk. Ia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya. Begitu banyak lukisan dirinya bergantungan.

“Ini tidak mungkin Mariam.” Ia bersandar didinding. Memegang kuat sisi lemari.

Bibir Azhar tak henti berdzikir. Ia khusyuk dan tafakkur di masjid. Menenangkan hatinya yang kini hancur berkeping-keping. Ia ingin mengadukan semua kegaulauan perasaannya di hadapan sang Khaliq. Ia meminta agar cinta itu tidak pernah berubah menjadi benci dan dendam. Ia tidak bisa bersama Mariam bukan berarti ia harus menganggap wanita itu adalah musuh. Air matanya menetes. Ia sedang diuji. Kekuatannya dihadapkan pada suatu cobaan yang menuntut ia harus berani menerima kenyataan. Cintanya harus rela ia korbankan.

Demikian halnya dengan Mariam. Setiap selesai sholat ia bersimpuh dihadapan-Nya sambil menangis.

“Ya Allah kuatkan hambaMu. Genggam hati hamba dengan cintaMu”.

Satu tahun Kori menghilang. Dan perlahan-lahan perasaan Mariam dapat juga sembuh. Dan kini ia tengah menanti pinangan dari seorang pemuda. Mariam sudah menanamkan dalam benaknya bahwa ia akan menikah dengan orang lain, bukan dengan Azhar. Karena ia tidak ingin menambah luka dalam hati Kori.

Mariam mengelus wajah Kori pada sebuah figura. Terasa sudah sangat lama ia tidak melihat adiknya itu. Ada kerinduan yang dalam dibenaknya.

“Kori pulanglah. Kakak merindukanmu” katanya pelan.

Dihadapan Azhar, akhirnya Mariam melepas kesendiriannya. Azhar memperhatikan wajah gadis itu. Sangat tulus. Azhar menunduk. Sekarang ia sadar begitu suci hati gadis itu. Begitu mulia perasaannya pada adiknya. Azhar ikhlas. Ia tidak akan menuntut apa-apa sesudah ini. Iapun akan kembali menata hati dan perasaannya, untuk orang lain.

Kori memandangi dirinya dicermin. Disana ada seorang gadis berjilbab yang anggun dengan gamisnya. Itu adalah Kori yang saat ini lebih dekat dengan-Nya. Ia telah menemukan kehidupan barunya. Sebuah perjuangan yang panjang.

“Kak Mariam” gumamnya. Dalam keadaan seperti itu, kerinduan memenuhi rongga dadanya. Ada hasrat untuk kembali, bertemu dengan Mariam dan memeluk erat kakaknya. Ia ingin memperlihatkan pada Mariam bahwa ia sudah berubah. Berubah menjadi seorang wanita yang lembut dan bersahaja.

Akhir tahun Kori memutuskan untuk kembali. Ia merasa sudah cukup lama menghilang dari kehidupan Mariam. Ia ingin melihat senyum Mariam disisi Azhar. Kini ia kuat dan tidak akan rapuh lagi sekalipun Azhar masih ada dalam hatinya.

 

Kori menapakkan kakinya di rumah itu setelah dua tahun lebih ia pergi tanpa kabar. Ia terlihat gugup.

“Assa…lamu …‘alaikum” ucap Kori terbata.

“Wa’alaikum salam” sahut Mariam dari dalam.

Mariam tercengang mendapati gadis yang ada dihadapannya. Lalu muncul Azhar. Kekuatan Kori nyaris runtuh.

“Ko..Kori??” Azhar dan Mariam serentak.

Kori tersenyum kaku dan mengangguk.

“Mas, Kori sudah pulang” teriak Mariam seraya memeluk adiknya.

Kori heran kenapa Mariam memanggil orang lain.

Seorang laki-laki muncul dengan menggendong bayi. Laki-laki itu tersenyum dan mencoba mengenali Kori.

Mariam membawa Kori masuk. Kori memperhatikan laki-laki dan bayi dipelukannya.

“Kori ini Mas Ibra, suami kakak, dan ini buah hati kami, Al-Sani. Mas Ibra adalah sahabat Kak Azhar saat di pesantren” Kata Mariam dengan penuh semangat.

Kori memandang Azhar. Azhar menunduk.

Mariam paham.

“Kakak memilih untuk tidak bersamanya”

Ibra mendehem. Lantas ketiganya tertawa.

Kori tersenyum. Perasaan itu seperti bergejolak kembali. Perasaan yang terus berusaha ia bunuh. Tapi kini ia tidak mau berharap besar, karena ia tahu sampai kapanpun Azhar hanyalah dalam lukisannya.

 

Mariam mengajak Kori ke kamar. Ia menyentuh dengan lembut wajah adiknya. Mariam benar-benar tidak percaya bahwa Kori adalah gadis berjilbab yang manis. Air mata Mariam berlinang. Sebuah rasa harus menyumbat dadanya.

“Maafkan kakak Kori” kalimat itu keluar dengan pelan dan bergetar. Mariam masih terus merasa bersalah karena ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan Kori sebenarnya.

“Kakak tidak salah apa-apa pada Kori, jadi kenapa harus minta maaf?” Kori menyeka air mata yang telah jatuh itu.



“Kakak tidak tahu kalau…….”

Kalimat Mariam terhenti ketika Kori meletakkan jarinya dibibir Mariam.

“Kori mohon jangan bawa-bawa masa lalu kak, Kori kinu sudah melupakannya. Tapi kenapa kakak tidak jadi menikah dengan Kak Azhar?”

“Kakak tidak bisa Kori. Kakak tidak yakin bisa hidup bahagia bersamanya. Sebab itu kakak membatalkan pernikahan kami”. Ucap Mariam sambil merapikan letak jilbab Kori.

“Lalu?”

“Lalu kamu punya kesempatan, dia masih sendiri adikku. Dia tahu kamu begitu mencintainya”

“Kakak…”

Kori terdiam beberapa saat.

“Kak Azhar itu tidak akan mungkin bisa menerima Kori”

Mariam menjawil hidung Kori.

“Kau harus berani. Jangan pernah bohongi perasaanmu. Jika kau masih mencintainya, itu tidak salah. Allah pasti akan membantumu adikku. Yang utama tetap tanamkan niat suci dalam hatimu bahwa cinta tidak akan menjadikanmu kehilangan haluan hidup dan menghancurkan semua apa yang seharusnya kamu bina.” Lalu Mariam mengecup kening Kori.

 

Mungkin Kori pernah berputus asa bahwa ia tidak akan pernah bisa melihat senyum Azhar lagi. Namun saat ini semuanya telah ia genggam. Ketulusan yang ia korbankan meski itu sebuah kepahitan kini menjadi pembela baginya.

Azhar duduk di hadapannya. Memandang Kori penuh cinta. Lalu mengecup kening Kori dan membawanya dalam pelukan. Mereka kini bersama.

Tag:
Erni R.
Ditulis oleh Erni Rangkuti

    Penulis lepas yang kesehariannya sebagai karyawan di Yayasan ULB

    Tinggalkan komentar

    5 × dua =