Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Ideas   /
  • Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Tunai dalam Meningkatkan Ekonomi Umat
Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Tunai dalam Meningkatkan Ekonomi Umat Maratua Simanjuntak, Ph. D Tampilan penuh

Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Tunai dalam Meningkatkan Ekonomi Umat

 Wahai orang-orang yang beriman infakkanlah sebagian dari usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji (QS. 2:267)

Latar Belakang

Zakat adalah ibadah yang bermuatan dua dimensi sekaligus, ibadah kepada Allah dan hubungan kemanusiaan. Konsep zakat mempunyai relevansi dengan sistem ekonomi yang menguntungkan umat Islam dan dapat memberdayakan perekonomiannya. Zakat dalam konteks kontemporer tidak hanya dibagikan secara terbatas kepada delapan golongan penerima zakat saja (mustahiq). Namun telah diperluas cakupannya meliputi segala upaya produktif, juga telah dikembangkan sebagai upaya pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat

Gerakan zakat memiliki implikasi dan andil yang menentukan pada kebangkitan peradaban Islam dalam arti yang luas. Zakat memberikan momentum lahirnya ekonomi Islam sebagai alternatif bagi ekonomi kapitalis yang pada saat ini menguasai perkenomian global.

Zakat sebagai Pengembang Ekonomi

Zakat sebagai doktrin ibadah mahdhah bersifat wajib, mengandung doktrin sosial ekonomi Islam yang merupakan antitesa terhadap sistem ekonomi riba. Tujuan zakat akan tercapai jika tidak seorang pun menjadi penerima zakat seperti pernah terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Zakat memiliki fungsi sosial tinggi, yakni sebagai upaya mengurangi kemiskinan dan mengatasi pengangguran.

Harta lain yang wajib dizakati

Harta lain ini merupakan hasil pengembangan zakat kontemporer, yaitu:

  1. Zakat Perikanan seperti tambak dan kolam lele
  2. Tanaman hias seperti bonsai, anggrek, dan bunga-bunga lain
  3. Unggas seperti puyuh itik, dan ayam
  4. Zakat Profesi seperti petenis, pengacara, kontraktor, pengarang, politisi, pegawai/karyawan, dan lainnya

Membangun Ekonomi

Dalam teks kitab suci Alquran, zakat secara tekstual memang dianjurkan untuk dibagikan kepada delapan golongan yang berhak menerimanya. Reformasi  konseptual memperluas cakupan pembagian zakat meliputi segala hal yang bersifat produktif yang tidak hanya diperuntukkan bagi kaum dhuafa saja,tetapi juga telah dikembangkan sebagai upaya pegentasan kemiskinan dan pemberdayaan umat.

Zakat sebagai Pilar Ekonomi Umat

  1. Zakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para mustahiq, terutama fakir miskin
  2. Zakat berkaitan dengan etos kerja, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mukminun: 1-4.
  3. Zakat terkait dengan etika bekerja dan berusaha, yakni hanya mencari rezeki yang halal. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima sedekah yang ada unsure tipu daya (HR. Muslim)
  4. Zakat terkait dengan aktualisasi otensi dana untuk membangun umat, seperti untuk membangun sarana pendidikan yang unggul tapi murah
  5. Zakat terkait dengan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Artinya kesediaan ber-ZIS (Zakat, Infaq, Sadaqah) ini akan mencerdaskan untuk mencintai sesamanya
  6. Zakat akan mengakibatkan ketenangan, kebahagiaan, keamanan, dan kesejahteraan hidup sebagaimana firman Allah dalam QS At-Taubah: 103
  7. Zakat terkait dengan upaya menumbuhkembangkan harta yang dimiliki dengan cara mengusahakan dan memproduktifkannya sebagaimana firman Allah dalam QS Ar-Rum: 39)
  8. Zakat juga akan menyebabkan orang semakin giat melaksanakan ibadah mahdhah seperti sahalat maupun yang lainnya, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 43
  9. Zakat mencerminkan semangat sharing economy dimana tren dunia saat ini menuju sharing economy, semangat berbagi diyakini akan menjadi solusi untuk mengatasi masalah ekonomi termasuk resesi (Swiercz & Smith, Georgia University)
  10. Zakat juga akan sangat berguna dalam mengatasi berbagai macam musibah yang terjadi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal-hal tersebut tidak mungkin bisa dipublikasikan kecuali melalui amil zakat yang amanah, transparan dan bertanggung jawab.

Perberdayaan zakat kurang maksimal

  1. Persoalan fiqih yang selama ini menjadi perdebatan, mulai dari harta yang wajib dizakati, perhitungan dan alokasi pendistribusian
  2. Muzakki ingin menyerahkan zakat hartanya langsung kepada mustahiq, untuk lebih yakin zakatnya sampai atau juga untuk popularitas
  3. Kurang percaya kepada Badan Amil Zakat yang dibentuk pemerintah dibandingkan dengan panitia zakat
  4. Undang-undang tentang pengelolaan zakat tidak punya daya paksa kepada muzakki dan sanksi hanya kepada pengelola
  5. Pendistribusian zakat lebih diarahkan kepada konsumtif dibandingkan dengan produktif

Wakaf Tunai

Wakaf tunai (cash waqf) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang dan lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai. Juga termasuk kedalam pengertian uang tunai adalah surat-surat berharga seperti saham, cek dan lainnya. Wahbah Az-Zuhaili mengatakan bahwa mahzab Hanafi membolehkan wakaf tunai sebagai pengecualian atas dasar istihsan bi al urfi karena sudah banyak dilakukan masyarakat.

Cara melakukan wakaf tunai menurut mahzab Hanafi ialah dengan menjadikannya modal usaha dengan cara mudharabah sedang keuntungannya disedahkan kepada pihak wakaf. Mahzab Syafii tidak membolehkan wakaf tunai, karena dirham dan dinar akan leyap ketika dibayarkan sehingga tidak ada lagi wujudnya, lain halnya Abu Tsaur meriwatkan dari Imam Syafii tentang kebolehan wakaf dinar dan dirham (uang).

Wakaf tunai yang diinvestasikan dalam wujud saham atau deposito, nilai uang tetap terpelihara dan menghasilkan keuntungan dalam jangka waktu lama. Untuk menginvestasikan wakaf uang dapat dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Investasi wakaf langsung dilakukan dalam bidang usaha yang aman, bahkan kalau perlu diasuransikan. Investasi wakaf secara langsung misalnya untuk mendirikan hotel, rumah sakit, rumah sewa. Selain itu, dana wakaf uang yang terkumpul dapat dijadikan modal untuk mendirikan Baitul Mal wat Tamwil (BMT), Koperasi Syariah, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Bahkan kalau permodalan mencukupi, dapat mendirikan Bank Umum Syariah. Selain itu investasi wakaf uang dapat juga dilakukan dengan cara melakukan penyertaan modal.

Sebaliknya investasi secara tidak langsung, dilakukan dengan cara menyimpan uang wakaf di perbankan syariah dalam bentuk tabungan. Apabila uang yang terkumpul sudah memungkinkan selanjutnya dirubah dalam bentuk deposito. Apabila dana wakaf uang yang terhimpun sudah besar, maka nazhir (pengelola) wakaf dapat melakukan negosiasi dengan pihak bank tentang margin keuntungan yang diberikan bank. Sebab dana wakaf uang merupakan dana segar yang selalu tersimpan di bank.

Wakaf Uang melalui Perbankan Syariah

Wakaf uang melalui perbankan syariah adalah menghimpun dana wakaf dengan cara bekerjasama dengan perbankan syariah yang ada. Artinya penghimpunan dilakukan melalui akad wadiah antara nazhir wakaf dengan bank.

Ibadah wakaf dapat diamalkan tanpa mengenal tempat dan waktu. Namun agar wakaf uang fleksibel, diberi jangka waktu. Jangka waktu zakat uang dapat dikategorikan kepada dua macam, yaitu:

  1. Wakaf Abadi (selamanya); berwakaf untuk selama-lamanya. Wakaf seperti inilah yang lazim dipahami oleh masyarakat luas.
  2. Wakaf Berjangka; berwakaf dengan jangka waktu (masa), misalnya enam bulan, setahun, dst. Setelah berlalu jangka waktu yang diperjanjikan, harta/uang tersebut kembali kepada

Payung Hukum

Payung hukum wakaf tunai di Indonesia telah dilegitimasi oleh MUI melalui fatwanya tanggal 11 Mei 2002 tentang Wakaf Uang dan UU no.41 Tahun 2004 dengan PP no.42 Tahun 2006 tentang Wakaf dan UU no.23 Tahun 2011 dan PP no.144 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Zakat.

Manfaat Wakaf Tunai

  1. Wakaf tunai jumlahnya bisa bervariasi sehingga seseorang yang memiliki dana terbatas bisa memberikan dana wakafnya
  2. Melalui wakaf tunai asset-aset wakaf yang berupa tanah-tanah kosong dapat dimanfaatkan dengan pembangunan gedung atau diolah untuk lahan pertanian
  3. Umat Islam dapat lebih mandiri dalam mengembangkan dunia pendidikan dengan wakaf tunai tanpa tergantung kepada anggaran negara

Oleh karena institusi wakaf uang adalah perkara yang baru dalam gerakan wakaf di Indonesia, maka dibutuhkan sosialisasi yang terus menerus oleh para akademisi, ulama, praktisi ekonomi syariah, baik melalui seminar, ceramah maupun tulisan di media massa.

Ekonomi umat adalah ekonomi rakyat kecil yang tetap tergeser, terjepit dan tersingkir oleh sistem ekonomi yang sedang berkuasa. Dalam terminologi Islam umat yang telah terjepit dan tersingkir inilah yang disebut dengan kaum mustadh’afin. Jadi ekonomi umat adalah ekonominya kaum mustadh’afin yaitu orang miskin, akibat sistem ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil/umat. Mereka prioritas pertama yang berhak menerima dana zakat. Dengan ekonomi keumatan, Islam telah lebih dulu melahirkan ajaran tentang zakat.

Alquran surat Al-Hasyr (59) : 7 dengan sangat indah mengajarkan bahwa adanya distribusi kekayaan bertujuan agar harta benda itu berputar dari satu tangan ke tangan yang lain. Tidak beredar di kalangan orang-orang kaya semata.

Prinsip ekonomi Islam menurut KH. Abdullah Zaki Al-Koap ada lima yaitu:

  1. Kewajiban berusaha tidak mengharap pemberian orang lain dan tidak menyandarkan nasibnya kepada orang lain
  2. Membasmi pengangguran. Bekerja adalah kewajiban, negara membasmi pengangguran.
  3. Mengakui hak milik, berbeda dengan gerakan komunis
  4. Kesejahteraan agama, dengan kewajiban untuk mengambil zakat kepada kaum muslimin
  5. Kesejahteraan sosial, menundukkan ekonomi di bawah hukum kepentingan masyarakat

Pentingnya Pemberdayaan Wakaf dan Zakat:

  1. Angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi yang perlu mendapat perhatian dan langkah-langkah yang konkrit
  2. Kesenjangan yang tinggi antara penduduk kaya dengan penduduk miskin
  3. Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar, sehingga wakaf dan zakat memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan

Kesimpulan dan Saran

Dari uraian-uraian yang disampaikan terdahulu dikemukakan bahwa perlu dilakukan usaha intensifikasi wakaf dan zakat baik dalam pengumpulannya maupun pengelolaannya. Sebab apabila ibadah wakaf dilaksanakan dan dikelola secara intensif, ibadah wakaf dan zakaf akan dapat memberikan kontribusi yang besar kepada peningkatan umat.

Untuk intensifikasi pelaksanaan ibadah wakaf dan zakat dapat dilakukan dengan cara menggerakkan wakaf uang dan zakat produktif di tengah-tengah masyarakat. Sebab dengan wakaf uang lebih mudah untuk diamalkan oleh semua orang dan dengan zakat produktif akan meningkatkan ekonomi mustad’afin. Selain itu wakaf uang lebih mudah untuk menginvestasikannya dan tentunya lebiih cepat produktif. Sebab, wakaf memang harus produktif.



Dengan demikian, dapat dikemukakan, bahwa alangkah tepatnya umat Islam menjadikan ibadah wakaf sebagai lifestyle dalam kehidupan sehari-hari karena berwakaf dan berzakat dijadikan sebagai lifestyle akan memberikan manfaat yang besar baik kepada orang yang memberi maupun kepada masyarakat penerima.

Maratua Simanjuntak, Ph. D, Wakil Ketua Umum MUI Sumatera Utara – Disampaikan dalam Muzakarah Musda VI MUI Labuhanbatu 8 April 2016

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

5 × 1 =