Polres Labuhanbatu Menggelar Car Free Day Car Free Day Tampilan penuh

Polres Labuhanbatu Menggelar Car Free Day

Polisi Resort Labuhanbatu melakukan Uji Coba Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau biasa disebut Car Free Day. Car Free Day (CFD) adalah sebuah kegiatan kampanye untuk mengurangi tingkat pencemaran udara di kota-kota besar di seluruh dunia yang disebabkan oleh kenderaaan bermotor. Car Free Day dilakukan dengan menutup Jl. MH. Thamrin Rantauprapat setiap hari Minggu mulai jam 6 hingga jam 10 pagi. Uji coba yang dilakukan mulai hari Minggu 17 April 2016 diisi dengan kegiatan Senam Aerobic, Taman Lalu Lintas Portable, Bersepeda, dan Lari Pagi.

Kanit Dikyasa Sat Lantas Polres Labuhanbatu, Ipda Agus EM, mengatakan tujuan Car Free Day dilakukan untuk pemulihan kualitas udara yang baik dan sehat serta membangun karakter agar warga masyarakat tidak lagi tergantung kepada kendaraan pribadi. Selain itu juga menyediakan tempat untuk berolahraga pagi kepada masyarakat seperti senam, berjalan kaki, lari, maupun bersepeda. Lebih lanjut dikatakan Car Free Day akan diperluas hingga ke Jl. Sudirman simpang empat Pos Polisi Rantauprapat. Kerjasama dengan Pemerintah Daerah akan dilakukan agar CFD lebih didukung dan dimanfaatkan masyarakat. Demikian juga dengan komunitas-komunitas yang mulai tumbuh di Rantauprapat diharapkan dapat mendukung program ini.

senam

Rantauprapat adalah sedikit kota di Sumatera Utara yang melakukan kegiatan Car Free Day. CFD di Sumatera Utara dicanangkan oleh Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, di Jalan Sudirman Medan pada Minggu 7 Desember 2014. CFD yang dilakukan Medan, Pematang Siantar, Kabanjahe dan Rantauprapat diharapkan dapat diikuti oleh kota-kota lainnya agar tingkat pencemaran udara dapat dikurangi dan menambah ruang publik bagi aktivitas masyarakat.

Sejarah Car Free Day

Bermula pada tanggal 25 November 1956 di Belanda melaksanakan Car Free Day setiap hari Minggu. Kemudian Francis pada tahun tahun 1995 melaksanakan pesta memperingati Green Transport Week di kota Bath, semua masyarakat turun ke jalan untuk merayakan acara tersebut. Inilah perjalanan panjang sejarah kegiatan Car Free Day, yang pada akhirnya kegiatan ini diperingati setiap tanggal 22 September di seluruh dunia.

Kegiatan Car Free Day di Indonesia pertama kali dilaksanakan tahun 2001 di Jl. Imam Bonjol yang saat itu dilakukan penutupan jalan setelah beraudiensi dengan pihak kepolisian dan diputuskan oleh Irjen Pol Djoko Susilo untuk melakukan penutupan jalur sudirman – Thamrin dan  pada saat hari bumi dan dilanjutkan tanggal 22 September 2002 yang berlangsung dengan sukses, dimana pada saat itu KPBB dan para aktifis lingkungan hidup bersama masyarakat mengkampanyekan penghapusan penggunaan bensin bertimbel. Maka dicetuskanlah untuk melakukan kegiatan Car Free Day yang pada awalnya kegiatan ini hanya sebatas kampanye semata, untuk mengingatkan para pemilik kendaraan bermotor pribadi agar lebih bijak dalam pemakaian kendaraan pribadinya. Setahun berikutnya, tepatnya pada tanggal 21 September 2003, Pelaksanaan Car Free Day mulai menyebar keseluruh penjuru dunia. Perayaan kegiatan car free sedunia serempak dilaksanakan oleh 1500 kota di dunia termasuk Jakarta, dihadiri 112 juta manusia .

Beberapa dampak pelaksanaan Car Free Day atau HBKB yang dilakukan Jakarta adalah :



  1. Meningkatnya kualitas udara akibat terjadi penurunan pencemaran udara selama pelaksanaan HBKB.
  2. Wadah interaksi; Meningkatnya pengguna sepeda yang ditandai dengan meningkatnya komunitas pengguna sepeda .
  3. Follower; Dilaksanakannya HBKB di beberapa kota di Indonesia 34 kota.
  4. Benchmark; Menjadi contoh bagi beberapa kota di negara lain dalam pelaksanaan HBKB.
  5. Penghargaan; CAI-Asia, memberikan penilaian kualitas udara kota dengan kategori Good untuk Jakarta. Penghargaan Cai-Asia kepada Jakarta atas pelaksanaan HBKB.
  6. Meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kendaraan bermotor adalah sumber emisi terbesar di Jakarta dan emisi merupakan bahan beracun yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan masyarakat.
  7. Mendorong tumbuhnya inovasi kebijakkan untuk membangun jalur pejalan kaki dan sepeda dan inovasi kebijakkan penegakan hukum yang mampu mendorong terciptanya kondisi lalu lintas jalan raya yang aman dan nyaman dengan mengembangkan partisipasi masyarakat.

Red/TP

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

18 − dua =