Teater Rumah Mata gelar Pertunjukan di Rantauprapat Teater Rumah Mata gelar Pertunjukan di Rantauprapat Tampilan penuh

Teater Rumah Mata gelar Pertunjukan di Rantauprapat

Teater Rumah Mata Medan menggelar Ngamen Teater bertajuk Ekstase Kemoceng di Rantauprapat selama dua hari. Pagelaran pertama diselenggarakan di Kafe Phoebe Kobure Jl. Belibis 39 Simpang Mangga Bawah pada hari Sabtu tanggal 7 Mei 2016 jam 20.00 WIB. Acara yang menarik banyak pengunjung ini dibuka dengan sambutan dari owner Kafe, Suhari Pane, sebagai penyelenggara dan pembacaan puisi oleh Batara Yudistira, 8 tahun yang merupakan anak dari seorang personal Teater Rumah Mata, serta Stand Up Comedy oleh Vedri alias Lombu, pemenang Stand Up Comedy Competition Rantauprapat 2016.

13147529_10209434118560090_946884854980017866_o

Pagelaran kedua dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 8 Mei 2016 jam 4 sore di Taman Binaraga Rantauprapat. Pertunjukan terbuka ini dipenuhi oleh penonton dari berbagai usia dan beberapa komunitas teater sekolah. Acara dibuka dengan sambutan ketua Dewan Kesenian Labuhanbatu sebagai penyelenggara dalam hal ini disampaikan Efendi (Eto), Wakil Ketua, pembacaan puisi oleh Nabila (siswa SD), Mayda Ayu (siswa SMP), dan Batara Yudistira.

13147267_10209443319630111_4536914872068469824_o

Berbeda dengan Ngamen Teater di hari pertama, di hari kedua ini tampil juga Teater SMK Kesehatan Sartika, Juara Harapan Teater KIM 2016, yang tampil sebagai teater pembuka. Penampilan mereka yang kocak dengan iringan musik melayu secara live dan tari melayu mampu mengundang tawa dan perhatian penonton yang memadai arena lingkaran bola tempat pertunjukan dilaksanakan. Sebuah penampilan yang layak diapresiasi dan dapat menjadi wadah munculnya aktor-aktris teater Labuhanbatu bila dibina secara baik.

13173164_10209443331070397_3275992624081216039_o

Ekstase Kemoceng adalah sebuah pertunjukan yang sarat dengan simbol-simbol. Sebuah pertunjukan bercerita tentang nusantara yang subur namun harus remuk oleh tangan-tangan yang haus kekuasaan. Dalam kepedihan dan ketakutan rakyat terus berjuang yang dalam pertunjukan ini disimbolkan dengan sosok perempuan. Identitas, jati diri dan nilai-nilai kemanusian nusantara hancur. Para penghuni yang ngilu bergerak dan merangkai perlawanan untuk keluar dari ketertindasan. Keadaan makin kacau ketika penghuni nusantara menguasai hasrat kekuasaan malah terbuai dan larut. Pada akhirnya, ketakutan-ketakutan akan kehilangan kekuasaanlah yang menguasai tubuh-tubuh kita.

13112849_10209434123680218_8779792468946745151_o

Pertunjukan yang hanya menampilkan tiga orang pemain ini mampu menghayutkan penonton. Agus Susilo penulis naskah, sutradara, dan juga pimpinan Teater Rumah Mata tampil maksimal dengan peran penguasa yang menindas. Tali-temali yang bergantungan di panggung sebagai simbol-simbol kekuasaan menjadi hidup dengan blocking dan permainan cambuk serta gelombang oleh Agus Susilo yang sudah 17 tahun berkesenian.

13173113_10209444120010120_7885186379220283107_o

Hayyun Kamila Humaida, seorang mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unimed, sangat ekspresif memerankan perempuan yang tersakiti oleh hasrat-hasrat kekuasaan. Penguasaan panggung yang sangat baik dengan penjiwaan peran yang prima membuat penonton larut dan merasakan penderitaan itu.

13147607_10209434118680093_8326656130989631729_o

Farida Lisa Purba yang sejatinya pelukis tampil perdana dalam pagelaran ini sebagai sosok tua yang juga korban dari hasrat-hasrat kekuasaan. Keterbatasannya sebagai rakyat kecil dan marginal membuatnya hanya mampu berdoa dan meronta dengan jeritan-jeritan yang menyayat hati. Sebuah peran yang bagus di pagelaran perdananya.

Lakon Teater Kemoceng ini mungkin sulit dicerna oleh penonton yang sebahagian besar masyarakat awam karena dialog-dialog yang ada menggunakan bahasa yang tidak jelas fonem dan morfemnya. Bahasa Alien ini menghiasi seluruh dialog hingga akhirnya sang penguasa sadar dan mengucapkan kata Cinta pada sang wanita yang telah ditindas selama ini. Dusta, ya dusta. Wanita tua itu tak percaya sehingga harus mengucapkan dusta pada sang penguasa. Kekuasaan Tetap Kekuasaan, tegas sang wanita muda yang tertindas.

Teater Rumah Mata sepertinya sedang mengkritisi kekuasaan yang sering membuat kebijakan yang tidak dimengerti dan tidak berpihak pada rakyat. Pola komunikasi yang dibangun selalu dari atas ke bawah sehingga tidak responsif dan adaptif. Sesuatu yang tidak dimengerti sehingga tersimbol  dalam bahasa alien. Bila dalam Orde Baru rakyat tidak bisa bicara namun di Orde Reformasi ini rakyat bebas bicara namun dengan bahasa dan cara masing-masing yang pada akhirnya tidak dapat dipahami juga maksudnya.

Pementasan Ekstase Kemoceng yang dilabeli Ngamen Teater ini dimaksudkan sebagai pertunjukan penggalangan dana bagi Ziarah Nusantara Jawa-Bali pada 20 Agustus s.d. 25 September 2016. Dana yang terkumpul akan dijadikan bekal bagi terwujudnya ziarah tersebut. Ngamen Teater akan dilakukan di sejumlah titik di Sumatera Utara hingga dana yang dibuuhkan terkumpul. Ini dilakukan sebagai bukti kemandirian Teater Rumah Mata sekaligus mengangkat harkat martabat teater. Teater Rumah Mata membuktikan bahwa mereka masih eksis dengan kemandirian ini selama belasan tahun dan baru saja menyelesaikan pementasan dengan lakon yang sama di 12 kota di Jakarta, Banten dan Sumatera.



Sebuah pementasan yang sangat baik dengan nilai-nilai yang positif dengan estetika yang apik. Bagi publik Rantauprapat dan Labuhanbatu ini adalah pagelaran langka sehingga banyak penonton yang hadir bahkan dari Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan dan Bagan Batu Riau. Dewan Kesenian Labuhanbatu dan Teater Rumah Mata berharap pagelaran ini menjadikan momentum awal kebangkitan teater di Labuhanbatu.

Red/TP

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

duabelas + duabelas =