Topbar widget area empty.
Unschooling: Sebuah Kelas Khusus Akber Labuhanbatu Unschooling Akademi Berbagi Tampilan penuh

Unschooling: Sebuah Kelas Khusus Akber Labuhanbatu

Akber Labuhanbatu menyelenggarakan Kelas ke-42 dengan tema Unschooling bersama Deddy Moerizal, Dewan Pendiri Akber Labuhanbatu dan juga PNS di Pemkab Labuhanbatu. Kelas ini merupakan Kelas Khusus Relawan dan Guru dengan tema dan kegiatan yang khusus pula. Acara digelar di Gantari Bumi Outbond Rantauprapat pada hari Minggu, 19 Juni 2016 bertepatan dengan Hari Ayah se-Dunia. Kelas kali ini semakin istimewa karena dimulai dengan kegiatan High Rope Outbond oleh seluruh peserta.

Jpeg

Pak Deddy Moerizal mengawali penjelasan dengan kekhawatirannya sebagai seorang Ayah yang akan mensekolahkan anaknya. Sekolah seringkali tidak memperhatikan setiap orang bersifat unik, walaupun secara umum terlihat memiliki kesamaan pola. Seperti uniknya setiap sidik jari dan DNA tiap-tiap orang maka demikian juga halnya dengan keunikan kehidupan yang dimiliki manusia satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini jika dicermati lebih jauh pada akhirnya akan berujung pada perbedaan kebutuhan tiap-tiap orang. Sekolah cenderung menyeragamkan setiap siswanya.

Selanjutnya dijelaskan bagaimana seorang anak dapat belajar secara alamiah dengan berinteraksi seperti belajar bahasa Indonesia di dalam keluarga dan lingkungan pergaulan dengan teman-teman mereka yang berbahasa Indonesia walaupun belum masuk sekolah. Begitu juga dengan perhitungan matematis sederhana seperti misalnya menghitung jumlah mainannya ataupun saat membagi sesuatu dengan temannya. Anak-anak itu ternyata sangat mudah untuk belajar memahami segala sesuatu yang memang merupakan kebutuhan buat mereka.

Setelah kebutuhan terpenuhi, fase yang secara alamiah akan muncul berikutnya adalah sebuah keinginan yang lebih spesifik yang sering kita sebut sebagai peminatan. Alurnya tidak harus berurutan. Minat-minat berikutnya akan muncul dengan sendirinya seiring makin membesarnya rasa ingin tahu yang membuatnya penasaran. Inilah bentuk pembelajaran mandiri seperti yang pernah dilakukan oleh para maestro terdahulu seperti Socrates, Leonardo Davinci, Thomas Alfa Edison, Ki Hajar Dewantara, dan tokoh besar lainnya. Sebuah konsep revolusi mindset yang diusung gerakan besar seluruh dunia dengan label Unschooling .

Uschooling adalah salah satu bagian dari model pendidikan berbasiskan keluarga yang sering disebut dengan home education. Secara umum home education terbagi atas :

  1. Home schooling yaitu model pendidikan rumah menggunakan metode pembelajaran terstruktur.
  2. Unschooling yaitu model pendidikan rumah yang lebih berfokus pada minat dan bakat anak dan menggunakan metode pembelajaran yang tidak terstruktur.

Unschooling memungkinkan anak memutuskan apa, kapan, dimana, bagaimana dan mengapa mereka harus belajar. Memperlakukan pendidikan segara holistik dimana pengetahuan secara alami saling berhubungan, tidak terkotak-kotak ke dalam mata pelajaran atau kelas yang terpisah. Belajar tidak selalu berurutan atau linear. Ini berarti bahwa unschoolers dapat belajar apa saja yang menjadi peminatannya pada usia lebih dini daripada sekolah konvensional.

Unschooling adalah sebuah pendekatan untuk pendidikan yang mengikuti rasa ingin tahu bawaan anak dan keinginan untuk belajar. Hal ini tidak berdasarkan arahan dari guru atau kurikulum yang ditetapkan. Konsep belajar mandiri tentang keterbukaan, berbasis masyarakat, pendekatan secara langsung ke dunia pendidikan siapapun, apapun, dan dimanapun dimungkinkan dalam belajar. Para pakar neuroscience menyatakan bahwa apa yang kita kita pelajari jika kemudian tidak kita gunakan maka materi itu akan menjadi sampah karena secara otomatis otak kita akan menghapusnya dari memori kita. Suatu materi ilmu akan berguna dan terus tumbuh, memungkinkan kita menjadi kreatif di bidang ilmu itu hanya jika dia relevan dengan hidup kita.

Jpeg

Pada sesi diskusi, salah satu peserta, Ibu Wilda, berbagi pengalaman tentang anaknya yang belajar dengan metode home schooling. Beliau menceritakan pada saat anaknya belajar di sekolah formal, sang anak sering sekali di bully oleh teman sekelasnya. Hal itu menyebabkan sang anak menjadi malas untuk bersekolah. Selain itu, guru kelas sang anak juga kurang ramah dalam menangani muridnya yang sedikit berbeda dengan murid lainnya, yaitu sang anak sedikit lebih aktif dari teman-temannya.

Belajar  metode homeschooling maupun unschooling belum begitu dikenal oleh masyarakat Labuhanbatu. Oleh sebab itu ibu Wilda membangun relasi dengan para orang tua yang anaknya belajar dengan homeschooling yang ada di Medan dengan tujuan berbagi tentang perkembangan anak mereka yang ber-homeschooling. Lebih lanjut beliau berharap Akber Labuhanbatu dapat memfasilitasi terbentuknya forum unschooling di Labuhanbatu.

piagam

Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang Unschooling dapat mengunduh ebook Agenda Deshcooling untuk Indonesia Abad 21: Kembali ke Rumah karya Prof. Daniel Muhammad Rosyid  Mantan Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur secara gratis di http://danielrosyid.com/wp-content/uploads/2014/03/Buku-Agenda-Deschooling-untuk-Indonesia-Abad-21.pdf

(Sumber & Foto: akberlabuhanbatu.wordpress.com)

Red/TP

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

sebelas − empat =