Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Ideas   /
  • Jadi Ayah Hebat: Mengasuh dan Mendidik Anak

Jadi Ayah Hebat: Mengasuh dan Mendidik Anak

Kehadiran ayah bukan hanya menjadi sosok pelengkap rumah tangga, bukan hanya menjadi sosok yang bertanggung jawab masalah nafkah keluarga saja, dan juga bukan hanya menjadi  figur yang otoriter, sebagaimana yang terlihat ditengah-tengah kultur dan budaya masyarakat kita.  Ayah ditengah-tengah kultur dan budaya masyarakat kita selama ini masih sangat terbatas peranannya dalam pendidikan dan polah asuh anak. Kita lebih sering melihat ayah yang nongkrong di warung kopi sepulang mereka bekerja, atau ayah yang sepulang bekerja sibuk dengan hobinya sendiri seperti: memancing, mengurusi ayam laga, burung peliharaan, atau dengan sepeda motor dan mobilnya, atau ayah yang 24 jam sibuk dengan pekerjaan di kantor. Tetapi Ayah adalah figur yang merupakan sosok penting dalam rumah tangga yang mempunyai peran sentral baik bagi anak-anaknya maupun bagi istrinya. Tulisan ini secara khusus akan membahas tentang bagaimana menjadi ayah hebat dan peranannya dalam pendidikan dan mengasuh anak di rumah tangga.

Anak-anak yang hebat adalah anak yang diasuh dan dibesarkan oleh ayah yang hebat juga, terutama dalam hal pembentukan karakter ayah adalah peran utama dan peran sentral. Ini semua tidak mungkin bisa didapatkan kecuali menghadirkan sosok figur ayah ditengah-tengah keluarga. Di dalam al-Qur’an sendiri banyak termaktub kisah peranan seorang ayah dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak. Diantaranya adalah Nabiyullah Ibrahim dan anaknya Nabiyullah Ismail, ini tercantum dalam al-Qur’an surah As-Shafaat 102-109, yang inti daripada kisahnya adalah menggambarkan tentang kepatuhan seorang anak kepada Allah dan orang tuanya, karena kepatuhannya itulah seorang anak rela dan pasrah untuk disembelih oleh orang tuanya karena perintah dari Allah sang pencipta yang pada akhirnya ditukar dengan sembelihan seekor domba, peristiwa itu menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam dalam pelaksanaan hari raya Qurban. Ini tidak mungkin terjadi bila saja seorang ayah tidak menjadi figur sentral bagi anaknya, tetapi karena Nabiyullah Ibrahim berhasil menjadi sosok figur yang diteladani anaknya maka anaknya akan patuh dan berbakti kepadanya.

Kisah lain yang termaktub dalam al-Qur’an adalah tentang kisah seorang ayah yang bernama Luqman bin Anaqa’ bin Sadun dengan anaknya yang bernama Tsaran (Suhaili). Luqmanul Hakim adalah seorang ayah yang mempunyai kebijaksanaan yang tinggi walaupun bukan dari golongan Nabiyullah, akan tetapi wisdom dan kebijaksanaanya Allah cantumkan di dalam al-Qur’an yang memuat tentang wasiat seorang ayah kepada anaknya (al-Qur’an Surah al-Luqman ayat 12-19). Diantara wasiatnya adalah untuk senantiasa bersyukur, tidak menyekutukan Allah, berbakti kepada orang tua, senantiasa mendirikan shalat, tidak sombong, dan tidak berkata dengan suara yang keras.

Kedua kisah dalam al-Qur’an tersebut menjadi bukti betapa pentingnya kehadiran seorang ayah bagi anaknya dan sosok figur ayah  tidak bisa tergantikan oleh figur seorang ibu. Ayah adalah sumber inspirasi bagi anaknya, tempat dimana anak belajar tentang kedisiplinan, keuletan, ketangguhan, kerja keras, maskulinitas, ketegasan, ketenangan dalam mengahadapi masalah dan tentang kehidupan baik yang sedang dilalui ataupun yang akan dilaluinya. Ayah adalah figur pengayom yang memberikan kenyamanan dan ketenangan pada saat situasi darurat dan tak menentu, ayah adalah sahabat bagi anak-anak yang beranjak dewasa, ayah adalah guru kehidupan, dan ayah adalah pelatih bagi anaknya.

Selain kisah di atas yang menjadi inspirasi positif  bagi para ayah ada juga kisah yang terjadi di zaman Khalifa Umar bin Khattab yang menjadi warning buat para ayah agar tidak menjadi seperti yang ada dalam kisah. Suatu hari ada seorang ayah yang menarik tangan anaknya yang beranjak dewasa dengan buru-buru menghampiri Khalifa Umar bin Khattab dan berkata “Wahai Amirul Mukminin, berilah nasihat kepada anakku ini, sesungguhnya ia telah mendurhakaiku.” Lantas Amirul Mukminin bergegas menghampiri anak muda tersebut dan berkata “Wahai anak muda apakah engkau tidak takut kepada Allah dengan berbuat durhaka kepada orang tuamu, tidakah kamu tahu bahwa ridho Allah berada di ridho kedua orang tuamu, maka sudah sepantasnyalah kewajiban seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.” Kemudian anak muda tersebut menjawab, “Wahai Amirul Mukminin apakah saya boleh bertanya?” “Silahkan jawab Amirul Mukminin.” “Lantas apa kewajiban Ayah kepada anaknya yang menjadi haknya wahai Amirul Mukminin.” Kemudian Umar bin Khattab menjawab “Kewajiban ayah kepada anak yang menjadi hak anaknya ada tiga: pertama, dicarikan dan dipilihkan ibu yang baik; kedua, diberikan nama yang baik dan bagus; dan yang ketiga, adalah mendapatkan pendidikan yang baik dan layak, terutama mengajarkan al-Qur’an kepada anaknya.” Kemudian pemuda tersebut menjawab “Wallohi dari ketiga hak itu tidak satupun aku dapatkan wahai khalifah.” Seketika itu juga Umar bin Khattab berpaling kepada orang tua anak muda itu dan berkata “Celakalah engakau wahai orang tua, sesungguhnya engkau terlebih dahulu durhaka kepada anakmu sebelum anakmu durhaka kepada mu.”

Untuk itu agar anak tidak durhaka kepada orang tua hendaknya orang tua mempunyai ilmu dan pengetahuan tentang mendidik anak, disini penulis ingin mengemukakan beberapa point penting agar bisa menjadi ayah yang hebat seperti Nabiyullah Ibrahim Alaihissalam dan Luqmanul Hakim diantaranya adalah:

  1. Ayah yang hebat adalah ayah yang menjadi figur yang selalu hadir bagi anak-anaknya.
    Kehadiran seorang ayah sangat berarti bagi anak sejak kelahiran sampai anak dewasa dan menikah. Terutama pada saat momen-momen khusus seperti kelahiran, ayah harus mendampingi penuh proses persalinan, karena itu akan memberi sugesti dan support kepada ibu dalam proses persalinan anaknya. Kehadiran ayah pada saat persalinan juga akan memicu meningkatnya produksi hormon oksitosin yang merupakan hormon kasih sayang selanjutnya hormon kasih sayang akan memicu lancarnya ASI. Pada saat air ketuban pecah hormon oksitosin akan menyebar dan sesiapa saja yang berada didekat ibu yang sedang bersalin akan mendapatkan pancaran hormon oksitosin tersebut. Itulah sebabnya kenapa anak mempunyai hubungan batin yang kuat kepada ibu dan ayah, akan sangat sayang sekali bila momen penting itu tidak dihadiri oleh seorang ayah. Berikutnya kehadiran seorang ayah sangat penting bagi anak diawal-awal kelahiran anak hingga empat bulanan. Dalam Islam sendiri kehadiran ayah bahkan sangat penting sejak kelahiran dan sebelum pernikahan yaitu dengan memilih dan menikahi wanita yang baik berarti seorang ayah telah investasi yang baik buat bakal anaknya nanti. Momen khusus lainnya adalah pada saat anak mulai bersosialisasi dengan teman sebaya di dunia sekolah. Seorang ayah harus hadir langsung untuk menemani dan memilihkan sekolah yang baik buat tumbuh kembang anak, yang bukan hanya dari faktor akademis saja tetapi juga meliputi sosio emosi, moral, dan motoriknya. Pada saat anak beranjak Aqil Baligh, Ayah  hadir sebagai tempat bertanya tentang berbagai masalah termasuk hak dan kewajiban, sikap dan mental, serta hubungan lawan jenis. Sosok ayah juga harus hadir pada saat memasuki usia dewasa sosok ayah juga harus hadir menemani proses perubahan dan peralihan status terutama dalam hal karier dan pencarian jodoh.
  2. Ayah hebat adalah ayah yang selalu menjadi idola, contoh, dan suri tauladan bagi anaknya.
    Jauh-jauh hari sebelum seorang ayah menginginkan kebaikan kepada anaknya, hendaklah ayah terlebih dahulu telah menjadi baik. Ketika ayah meminta anaknya untuk menghormatinya hendaklah ayah terlebih dahulu telah menghormati dan menyayangi orang tuannya. Begitu juga sebelum orang tua menyuruh anaknya belajar hendaknya ayah memberi contoh terlebih dahulu. Sebelum ayah menyuruh anaknya shalat ayah sudah harus terlebih dahulu shalat. Dengan sendirinya karena anak mendengar, melihat, dan merasakan secara langsung kebaikan itu dari ayahnya maka anak akan baik juga, anak akan meniru segala apa yang dilakukan ayah. Karena tindakan adalah bahasa lebih nyaring daripada kata-kata itu sendiri.
  3. Ayah hebat adalah ayah yang visioner.
    Ayah yang mempunyai pandangan jauh tentang kesuksesan dan cita-cita dalam kehidupan. Tidak terpaku oleh persoalan yang timbul saat sekarang ini tetapi lebih melihat apa dampak dan bagaimana mempersiapkannya untuk jangka masa yang panjang. Tidak terlalu menuntut anak tetapi lebih mengajarkan komitmen dan tanggung jawab kepada anak. Tujuan dan cita-citanya melampaui batas hingga kehidupan akhirat nanti. Ayah yang memberikan sayap kepada anak-anaknya untuk terbang melihat indahnya cakrawala dunia ini, dengan segala pesonanya namun pada saat yang bersamaan mengingatkan anak agar tidak terlena dan terjebak kepada kesenangan yang sesaat dan sementara. Tidak hanya fokus pada hasil dan pencapaian tetapi juga memperhatikan proses yang baik dan benar.
  4. Ayah hebat adalah ayah yang memberikan pengajaran kepada anak-anaknya.
    Sebelum memberikan pengajaran kepada anak, maka tugas ayah adalah belajar tentang banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan kemudian mengajarkan kepada anaknya tentang kehidupan tersebut dengan bijaksana dan lemah lembut. Dalam hal ini berkaitan dengan Surah al-Luqman ayat 12-19 ada beberapa pengajaran yang harus diajarkan seorang ayah kepada anaknya seperti: mengajarkan kepada anak untuk senantiasa bersyukur, mengajarkan untuk tidak menyekutukan Allah dengan selain Allah. Mengajarkan anak untuk berbakti kepada orang tua, karena ridho Allah berada pada ridho orang tua. Mengajarkan kepada anak untuk berbuat kebajikan dan ber amarma’ruf nahi munkar, mengajarkan untuk senantiasa mengerjakan shalat. Mengajarkan anak untuk tidak sombong dan mengajarkan untuk tidak berbicara dengan suara yang keras.
  5. Ayah hebat adalah ayah yang mampu menjadi pelatih bagi anak-anaknya.
    Jadi seorang ayah harus turun langsung dalam mengasuh, mendidik, dan melatih. Tentunya dengan kesabaran dan keuletan anak akan berhasil dan akan membahagiakan orang tuanya kelak. Kenapa ayah yang harus menjadi pelatih untuk kesuksessan anak, karena ayahlah yang paling tahu karakter anaknya, ayahlah yang tahu kelebihan dan kekurangan anaknya, lantas mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki anaknya, kalau kelebihan sudah maksimal maka dengan sendirinya kekurangan akan meredup. Maka seorang ayah harus mempuyai waktu khusus kepada anak-anaknya dimana pada saat itu ia tidak bisa digagnggu sama sekali, kecuali dengan persoalan yang darurat.

Kalau kelima point penting di atas dapat dijalankan oleh seorang ayah dalam mengasuh dan mendidik anaknya, maka niscaya anak akan menjadi harta sekaligus investasi yang paling mahal dalam hidup ini, bahkan anak adalah investasi dunia akhirat. Tentu kalau semua ayah bisa menjadi ayah hebat bagi anak-anaknya kelak akan tumbuh anak-anak yang hebat juga. Dan kita tidak akan mendengar lagi kekerasan terhadap anak, pelecehan dan pemerkosaan anak, perdagangan anak, dan kenakalan anak. Karena mereka telah menjadi anak-anak yang hebat dalam bidang dan bakatnya masing-masing.

Demikian tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut hari Ayah se-Dunia, dan saya mengucapkan “Selamat Hari Ayah se-Dunia”. Jadilah Ayah yang Hebat.

Junaidi,S.Psi.,M.Soc.Sc (Child and Teenager Psychologist)



Dosen UNIVA Labuhanbatu dan Guru BK SMP-IT ARROZAQ

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

7 − 2 =