• Beranda  /
  • Tokoh   /
  • Nero Taopik Abdillah dan Komunitas Ngejah
Nero Taopik Abdillah dan Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah Tampilan penuh

Nero Taopik Abdillah dan Komunitas Ngejah

Berawal dari kepedulian terhadap kampung halaman, segelintir pemuda mencoba menghimpun diri dalam sebuah ikatan organisasi yang kemudian diberi nama Komunitas Ngejah. Komunitas Ngejah berdiri pada tanggal 15 Juli 2010 bertempat di kampung Sukawangi, desa Sukawangi, kecamatan Singajaya, kabupaten Garut. Pada mulanya, Komunitas Ngejah hanya diisi dengan kegiatan-kegiatan diskusi, berbincang mengenai kondisi kampung halaman serta sekelumit permasalahan di dalamnya. Kegelisahan demi kegelisahan yang lahir dari hasil diskusi sedikit demi sedikit melahirkan pemikiran yang bertolak pada upaya memajukan kampung halaman, baik dari sisi pendidikan, kebudayaan, keagamaan, perekonomian dan sendi kehidupan lainnya.

 

Sesuai hasil kesepakatan bersama, beberapa hal yang menjadi ladang garap pertama priorotas Komunitas Ngejah adalah berupaya menanamkan minat baca tulis, literasi media, melestarikan seni budaya daerah setempat, ekonomi mandiri bagi pemuda dan masyarakat sekitar, pembinaan keagamaan, serta pelestarian lingkungan hidup. Pemikiran ini bukan tanpa alasan, melainkan setelah melewati proses perenungan dan sharing bersama mengenai kondisi saat ini serta berabagai kemungkinan di masa yang akan datang.

 

Kampung Membaca

Apajake.com berkesempatan mewawancarai Nero Taopik Abdillah, Pendiri dan Ketua Komunitas Ngejah via facebook pada Sabtu, 18 Juni 2016. Tema yang diangkat adalah Gerakan Kampung Membaca yang kini dikampanyekan Komunitas Ngejah. Berikut perbincangannya:

 

Apajake: Coba jelaskan tentang Gerakan Kampung Membaca?
Nero: Gerakan Kampung Membaca merupakan salah satu kegiatan Komunitas Ngejah dalam rangka menyebarkan virus membaca. Kegiatan Gerakan Kampung Membaca yang selanjutnya sering disingkat GKM, yaitu kunjungan ke kampung-kampung terluar di Garut bagian selatan untuk mengajak masyarakat khususnya anak-anak dan remaja untuk membaca. Prakteknya hampir saban akhir pekan kami (relawan Komunitas Ngejah) datang ke satu kampung setelah berkoordinasi dengan tetua kampung kemudian menggelar GKM. Selain membaca bersama minimal 30 menit, ada beberapa menu tambahan dalam kegiatan GKM diantaranya: penyampaian motivasi membaca, permainan konsentrasi, mendongeng, baca puisi dan beberapa kegiatan lain yang masih berhubungan dengan gerakan literasi

Selain GKM yang biasa kami gelar, kini variasi baru sedang kami kembangkangkan, yaitu GKM edisi akhir tahun, GKM edisi Trooper Nusantara, dan GKM Regional Bandung. GKM edisi akhir tahun dilaksanakan sebagaimana GKM biasa, perbedaannya dalam waktu kegiatan. Pada GKM edisi akhir tahun selama satu Minggu penuh kita berkunjung dari satu kampung ke kampung lainnya, mencuri waktu libur akhir tahun untuk kegiatan tersebut. Siang hari digunakan untuk kegiatan GKM seperti biasanya, malam hari kami bersilaturahmi dengan masyarakat serta dalam memutar film khas layar tancap

Apajake: Seperti apa GKM Trooper Nusantara?
Nero: GKM Edisi Trooper Nusantara secara bentuk kegiatan sama dengan GKM biasa. Perbedaannya hanya karena kami para relawan difasilitasi transportasi oleh Club Mobil Trooper Nusantara. Waktu kegiatan GKM Edisi Trooper Nusantara biasanya 2-4 hari, menjangkau daerah Garut bagian selatan dan Tasikmalaya bagian selatan.

Tropeer Nusantara

Apajake: Lalu GKM regional BANDUNG?
Nero: GKM regional Bandung merupakan perluasan GKM yang menyasar daerah Bandung. Gkm regional Bandung baru satu kali dilaksanakan. Praktek di lapangan dikomandoi oleh Komunitas DAMPAL. Sebuah komunitas literasi yang berasal dari kalangan mahasiswa. Kebetulan mereka pernah terlibat kegiatan GKM Komunitas Ngejah, kemudian mereka menyatakan siap untuk mengembangkannya di Bandung.

Apajake: Gerakan yang luar biasa. Apakah ini dilakukan Komunitas Ngejah dan relawannya atau siapa saja stakeholders yang terlibat dalam gerakan ini?
Nero: Masih total dinahkodai Komunitas Ngejah. Belum ada campur tangan pemerintah atau organisasi lainnya. Kalaupun ada sifatnya hanya membantu.

Apajake: Apakah ada upaya mempengaruhi kebijakan pemkab dengan Kabupaten Literasi atau bahkan Provinsi Literasi seperti yang diprogramkan Kemendikbud?
Nero: Akhir-akhir ini di Provinsi Jawa Barat iklim gerakan literasi sebetulnya sudah mulai tumbuh. Meski mungkin belum merata terjadi di setiap kabupaten/kota. Gerakan ini selain sikap cinta terhadap kampung halaman juga sebagai upaya membantu pemerintah mempercepat gerakan literasi yang saat ini sudah digongkan oleh pemerintah melalui Gerakan Indonesia Membaca oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jadi kami tidak memiliki agenda khusus untuk mempengaruhi kebijakan samapai level kabupaten apalagi provinsi. Kalau skala kampung dan desa itu sedang kami garap.

Apajake: Prestasi dan Apresiasi apa saja yang sudah dicapai Kang Nero dan Komunitas Ngejah?
Nero: Prestasi dalam bentuk penghargaan ada beberapa:

  1. Anugerah pelopor pemberdaya masyarakat Jawa barat dalam bidang pendidikan dari Gubernur Jawa Barat, untuk saya selaku pendiri Komunitas Ngejah
  2. Anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka yang diberikan kepada saya karena dianggap sebagai masyarakat yang berjasa menyebarkan budaya gemar membaca
  3. Penghargaan TBM Kreatif Rekreatif dari Mendikbud untuk TBM AIUEO sub organ Komunitas Ngejah
  4. Anugerah Peduli Pendidikan dari Mendikbud untuk Komunitas Ngejah
  5. Juara 2 Pengelola TBM tingkat Provinsi Jawa Barat untuk Roni Nuroni (Relawan TBM AIUEO Komunitas Ngejah)
  6. Juara 2 tingkat Nasional kategori Inovasi Pendidikan Bidang Literasi untuk Budi Iskandar (Relawan Komunitas Ngejah)

anugerah Nero

Apajake: Kalau tidak salah pernah juga diliput Program Kick Andy ya?
Nero: Andy F Noya yang langsung datang ke saung Komunitas Ngejah melakukan peliputan kegiatan kami melalui program acara Kick Andy On Location tahun 2014.

Apajake: Dari sekian banyak prestasi dan pengalaman, menurut Kang Nero problem lemahnya minat baca kita dimana?
Nero: Dua hal yang utama yang menjadi penyebab utama

  1. Kurangnya lembaga yang konsen melakukan dakwa gerakan membaca
  2. Fasilitas yang masih sangat minim

Jika dua hal itu terpenuhi, ruang terciptanya masyarakat literat dengan minat baca tinggi akan terbuka. Bayangkan saja, satu kabupaten hanya diurusi oleh satu Perpustakaan Daerah. Jadi peran serta masyarakat melalui TBM atau komunutas sejenis, sangat dibutuhkan dalam rangka membantu pemerintah melakukan akselerasi gerakan literasi

Ngejah

Apajake: Sebagai penutup saya ingin saran dan pesan dari Kang Nero untuk kami di Labuhanbatu yang juga sedang menggiatkan Literasi Sekolah dan berharap akan mengikuti Kampung Membaca, apa yang harus dilakukan?
Nero: Karena kampanye membaca tidak mungkin dilakukan oleh perorangan, bikin atau ciptakan gelombang gerakan kerelawanan untuk selalu mengingatkan pada diri dan lingkungan sekitarnya bahwa membaca itu penting. Hanya dengan gerakan kerelawanan masalah bangsa terkait lemahnya budaya baca bisa diatasi. Pun semoga pemerintah masing-masing daerah, termasuk di Labuhanbatu, mau melek dan menguatkan gerakan yang sudah tumbuh.

Apajake: Saya kira cukup dan semoga dapat menginspirasi dan menebar virus literasi bagi masyarakat. Terimakasih atas waktu dan sharing nya
Nero: Iya, sama-sama. Semoga suatu saat bisa bersua. Mohon maaf kalau ada kalimat yang kurang tepat. Semoga gerakan di Labuhanbatu semakin keren.

 

Untuk mengetahui lebih lanjut akan kegiatan Komunitas Ngejah dapat dilihat di www.komunitasngejah.wordpress.com dan FB: Komunitas Ngejah. Pembaca juga dapat mendukung Gerakan Kampung Membaca dengan membeli kaos Gerakan Kampung Membaca.



Red/TP

Foto: Nero Taopik

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

19 − empat =