Topbar widget area empty.
Ber(pulang) Sawaluddin Sembiring Tampilan penuh

Ber(pulang)

Bus itu baru saja tiba di terminal. Sudah tiga puluh menit Athma menunggu di depan loket tiket bersama puluhan orang yang berjubel berdiri sembarangan. Lelaki berambut ikal itu sedikit mendengus, ada penat yang sangat mengiringi kepulangannya kali ini. Pintu bus dibuka. Para penumpang keluar dengan berdesak-desakan, seperti puluhan kunang-kunang yang dilepaskan dari dalam toples kaca. Satu persatu diamati olehnya, ada yang turun seorang diri, ada yang menggandeng tangan kekasihnya, ada juga seorang ibu dengan kedua anaknya yang masih kecil. Terlihat dibelakangnya sang suami sedikit tergopoh ketika membawa beberapa tas yang sangat berat. Bahkan salah satu tas sengaja diletakkannya di atas bahu, kemudian dia berjalan dengan tegap seperti para model di atas cat walk, sungguh tak terlihat kesusahan. Anak perempuan yang digendong ibunya itu tiba-tiba menangis. Bahkan suara tangisannya sudah mengimbangi kebisingan di terminal ini. Kata perempuan bertubuh gempal itu anaknya sedang haus. Dan dengan sigap sang suami menuruni tas yang dibawanya, mencari botol susu, termos air panas berukuran kecil, juga susu bubuk yang entah terselip di mana. Terlihat lelaki berkulit legam itu sibuk sekali membongkar isi tas yang mereka bawa. Beberapa pasang mata pun melihat ke arah mereka.

 

Melihat itu, Athma kembali mengingat bapaknya yang sudah meninggal lima tahun lalu. Bapaknya itu pekerja keras, apapun dilakukannya untuk menyenangkan keluarga. Bahkan bapak selalu siaga terhadap kebutuhan keluarga. Biasanya beliau yang sangat kerepotan jika salah satu dari keluarganya jatuh sakit. Namun sangking sibuknya dengan kesehatan dan kebahagiaan keluarga, lelaki jangkung itu tak menghiraukan sakit darah tinggi yang dirasakannya. Hingga suatu ketika saat bapak memanggul beberapa karung beras, darah tingginya kumat, dia terjatuh, dan mengalami stroke berat dan berujung pada kematian. Dari situ Athma memutuskan untuk menjadi dokter agar dapat merawat bapak dan mamaknya ketika sakit. Namun sayang, Tuhan memutuskan untuk mengambil bapak dari mereka. Athma hanya anak seorang pekerja kasar, ibu hanya seorang perempuan biasa yang setiap harinya bekerja di ladang. Bahkan untuk dapat melanjutkan kuliah di Medan, mamak menjual tanah di kampung. Mengingat itu Athma menangis. Sangat terasa rindu itu merejam hatinya.

 

Para penumpang mulai menaiki bus yang sudah dibersihkan oleh petugas kebersihan. Sangat berdesakkan, seperti takut tak dapat tempat duduk. Athma tak segera bangkit dari duduknya, dibiarkanya dahulu orang-orang itu menaiki bus berwarna putih itu. Dia tak mau berdesakan, karena setiap perjalanan harus dinikmati dengan khidmat. Setelah suasana mulai sepi, dia pun segera naik. Bus itu pun siap untuk berangkat. Dia duduk tepat di dekat jendela, pandanganya ikut berjalan mundur seperti pohon-pohon, rumah-rumah yang dilihatnya. Apakah akan seperti itu kenangan meninggalkan kita? Pikirnya. Bus terus melaju dan perjalanan masih akan tiga jam lebih lagi. Setidaknya bus akan sampai di terminal kampungnya sekitar pukul sebelas siang. Athma memejamkan matanya. Rasanya sudah tak sabar dia ingin segera sampai di rumah mamak. Pikirannya melayang, dia terus membayangi wajah mamaknya yang teduh. Wanita itu, dia perempuan yang perkasa. Mamak selalu berusaha mati-matian untuk dapat membahagiakan anak-anaknya. Bahkan untuk pencapaian cita-citanya menjadi dokter, mamak harus mengorbankan tanah warisan opung. Namun sayang, Athma seperti melupakan jasa mamak, dia menghilang, tak memberi kabar, bahkan tak pernah pulang. Dan kini semua itu disesali oleh Athma.

 

Pernah sewaktu masih di Medan, salah seorang temannya yang juga tinggal satu kampung denganya memberikan dia selembar surat. Surat itu datang dari Menda, adik perempuannya. Dalam surat itu Menda mengatakan jika mamak sangat merindukan kepulangan dirinya. Bahkan mamak ingin sekali melihat dirinya yang gagah saat mengenakan jas dokter. Tapi Athma tak juga pulang. Sampai mamak menanam banyak bunga di halaman rumah, supaya banyak datang kupu-kupu yang hinggap. Karena kupu-kupu dianggap sebagai simbol kedatangan. Padahal semua orang tau jika mamak tak menyukai bunga. Surat itu hanya sebatas kata dan cerita saja, Athma tak juga mau pulang. Dia beranggapan jika kerinduan mamak itu hanya sesaat. Jika sudah datang musim panen, dia pasti akan melupakan tentang rindu itu. Athma menangis mengingat itu. Betapa berdosanya dia menyampingkan jasa dan kehadiran mamak dalam pencapaian hidupnya.

 

“Kenapa kam menangis, nakku?” Tanya seorang ibu yang duduk di sebelah Athma. Lelaki jangkung itu membuka matanya yang penuh dengan airmata. Wajah ibu itu terlihat bingung, ada tanda tanya dikerutan dahinya. Athma menghapus airmatanya dengan lengan sebelah kirinya. Dia mencoba tersenyum ke arah perempuan itu.

“Tidak apa-apa, Inang.”

“Kalau kam mau cerita, siapnya aku untuk mendengar. Kasihan aku melihat kam menangis. “Katanya.

“Aku merindukan mamakku, Inang.” Airmata Athma kembali pecah. “Berdosa kali aku sama dia. Durhakanya aku, Inang.” Ucapnya dalam tangis.

“Apa yang kam buat rupanya, sampai kam merasa berdosa seperti itu?” “Aku melupakan mamak. Membiarkannya menanggung rindu sendiri di kampung. Tak pernah aku menjenguknya.” Cerita Athma.

“Jadi mau pulangnya kau?” Athma mengangguk. “Maaf bilang ke mamakmu. Kami sebagai ibu tak pernah menaruh dendam pada anak-anak kami. Karena sayangnya kami. Kami yang mengandung, kami yang melahirkan, bahkan membesarkan. Salah jika mamakmu menanggung rindu?”

“Aku takut inang, Tuhan menghukumku untuk dosa ini. Rasanya aku tak ingin pulang, malu pada diriku sendiri.”

“Kau ingat ya. Hati ibu itu seperti laut. Luas sekali. Karena ditempat itu, semua rasa akan kembali berpulang padanya.”

Bus yang dinaiki Athma sudah sampai di terminal. Dia sedikit menghela napas. Penat itu kembali membuat dadanya menjadi sesak. Ini untuk kali pertama lagi, kedua kakinya menginjak tanah kelahirannya. Di luar, Menda sudah menunggu dengan sepeda motor milik tetangga yang dipinjamnya. Dia meneriaki nama abangnya dari kejauhan. Dilambai- lambaikannya tanganya, sambil menyebut nama abangnya.

 

“Abang Athma.” Melihat Menda, Athma segera berlari ke arahnya. Dia memeluk adiknya itu dengan erat. Menda menangis di dalam pelukan abangnya. Dia mengadu semua resah dan rindu yang ditanggunya selama bertahun-tahun.

“Rindunya abang samaku?” Tanyanya dalam pelukan Athma. Namun abangnya tak menjawab. Athma menangis sejadinya.Mereka terus berpelukan, tak peduli dengan mata-mata orang yang melihat ke arah mereka. “Baik-baik saja kau?” Athma melepaskan pelukannya, menyeka airmata. “Rindu kali aku sama abang. Mamak pun rindu sama abang, tak rindukah abang sama kami?” Airmata Menda tumpah ruah. Tak sanggup dia membendungnya.

“Rindunya aku, dek. Sama kau, sama mamak.”

 

Setelah melepas rindu, Athma dan Menda pun segera pulang. Athma yang membawa sepeda motor, sedang Menda duduk di boncengan. Sesampai di rumah, kaki Athma gemetar. Dia seperti tak ingin melangkah masuk. Di pekarangan rumah, bunga-bunga yang ditanam mamak terlihat bermekaran. Banyak sekali kupu-kupu terbang di sana. Athma mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Di lihatnya bale-bale yang biasa di duduki mamaknya. Lantas terlintas di benaknya, jika mamak sedang duduk di sana, tersenyum ke arahnya.Tangis Athma kembali pecah. Dia sudah sampai di depan pintu, di bukannya pintu kayu itu hingga terdengar suara decitannya memecah kesunyian. Rumah itu terlihat tak ada orang. Namun semua perabot dan barang-barang yang tersusun rapi masih sama seperti dulu.

 

Athma tak sanggup lagi berdiri, tubuhnya terduduk di lantai. Dia menangis terisak, bahkan sedikit berteriak. Dia mengisi dosanya.

“Mamak,” panggilnnya. “Maafkan aku, mak. Maafkan aku.” Katanya. Dia mencari keberadaan mamaknya. Semua ruangan dicarinya. Tapi tak didapatinya mamaknya.

“Menda, di mana mamak? Masih di ladangnya dia?” Tanya Athma sambil mencari mamaknya. Mendengar itu, Menda mengigit bibirnya, dia menahan rasa sesak di dadanya.

“Tidak kau bilang, kalau aku akan pulang hari ini? Sampaikan surat yang kukirim padamu?” Airmata Menda pecah kembali. Dia menangis sejadinya. Athma memandang ke arahnya, diamatinya wajah adik perempuannya itu.

“Kenapa kam menangis. Dek?” Tanyanya dengan lirih. “Tak ada lagi mamak bang. Tak ada lagi.” Katanya sambil terisak-isak. Athma bergetar mendegarnya.

“Cakap apanya kau, dek. Kemana mamak rupanyanya?”

“Mamak sudah meninggal setahun yang lalu bang.” beritahunya. Tubuh Athma menjadi lemas, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya. Bukan maksud merahasiakan kepergian mamak, tapi Menda tak pernah tau di mana abangnya tinggal. Bahkan, teman-teman satu kampung yang sering bertemu dengannya di kota sudah kehilangan jejaknya. Sebab itu lah Menda tidak lagi menulis surat untuk abangnya perihal kepergian mamak untuk selama-lamanya.

 

Sepasang matanya mengarah ke kursi kayu di ruang tamu. Di kursi itu, mamak selalu duduk menghabiskan senja bersama Menda dan dirinya saat mereka masih kecil dulu. Di kursi kayu itu, dia merasa sedang dilihati oleh mamaknya. Athma pun mendekati kursi kayu itu. Bersimpuh, memeluk kaki kursi, seolah memeluk kaki mamaknya. Mengiba lelaki itu di sana, memohon ampun dan menangis sejadinya.

“Kursi kayu itu juga menangis, mak. Sepasang matanya membatu pada dinding lusuh. Di sini aku bersimpuh dalam maaf atas jalan buntu yang menuntun pelangi menjadi kelabu.”Serunya. Dia terus menangis, Menda pun demikian.

“Di ruang tamu ini, mak. Kau duduk di atas kursi kayu itu. Sambutan senyummu menjadi payung di waktu hujan, bahkan kalimat di bibirmu seperti puisi yang mengumpul menjadi doa. Maafkan aku, mak.”

 

Waktu mendadak menjadi beku, yang tersisa hanya tangisan yang tak berujung. Bahkan alasan untuk kembali pun telah sia-sia karena dia telah pergi tanpa mendengar salam perpisahan yang begitu dramatis. Dan penyesalan itu semakin menjadi api yang terus membakar dirinya.

Tag:
Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.

Tinggalkan komentar

13 − 2 =