Topbar widget area empty.
Kesedihan Atas Raibnya Sekolah Para Pemimpi Foto Muhammad de Putra Tampilan penuh

Kesedihan Atas Raibnya Sekolah Para Pemimpi

Lelaki itu lemah tak berdaya. Meja, kursi, papan tulis, lemari guru, gorden jendela, pintu, atap dan lain-lainnya sudah tak seperti itu lagi. Berubah bersama waktu yang ikut terbawa. Ia tak tahu sudah berapa lama jam dinding itu berdetak, sambil memanggil-manggilnya. Tinggal lelaki itu kini di kelas, masih lemah. Bisa dilihat dari mata, rambut, dan pakaian putih dongkernya bahwa waktu telah memanggutnya dengan egois.

 

Pintu kelas ada yang mengetuk. Mata lelaki langsung melalak ingin tahu. Ia berdiri dari duduk lesunya. Bunyi-bunyi ketukan juga berasal dari jendela. Ia kembali melalakkan mata, mencari muasal segala bunyi yang tiba-tiba membuatnya curiga. Seketika kelas senyap, tak ada detak-detak jantung bersua, tak ada suara, tak ada manusia selainnya.

 

“Guru, apakah sebab aku masih muda dan aku tak diperbolehkan bicara?”

Berbicara sendiri. Berbicara pada langit-langit kelas yang membingkai rasa sedih. Wajahnya menyiratkan selaksa bulan cacat. Lagi-lagi dia diam. Lagi-lagi menahah kesedihan. Suara begitu susah meluncur dari mulutnya. Kata-kata tersegal di tenggorokan.

 

Mengangguk. Entah apa yang di pikirkannya. Tapi ada senyum sinis di sudut bibir itu, senyum yang tak mau kalah dengan kederasan air mata.

 

“Aku takkan pernah bisa menyalahkan sesiapa pun disaat ini, bukan? Jawablah Guru! Jawab! Apa yang harus aku lakukan. Teman-teman yang lain bisa mengurus surat pindah sekolah. Dan aku hanya berbicara sendiri tanpa ada yang mendengar, orang-orang menganggap aku gila. Apakah kugila saat ini?”

 

Mengapa, makin berbicara dan berkata-kata. Air matanya makin tak mampu dibendung. Kesedihan yang telah lama menggantung di pucuk mata sudah mulai pecah dan membanjiri pipi dibagian mana saja. Air matanya satu per satu tumpah menimpa meja kelas.

 

Menjatuhkan kepalanya di meja tersebut. Beberapa kali ia membenturkan kepalanya ke meja itu. Detak jantungnya pelan, entah mengapa hampir tak terdengar sedikit pun. Tak terdengar bunyian apa pun, tak ada suaranya yang sudah mulai serak itu. Hanya ada desir angin yang akan menyapu air mata yang bermuara dalam rasa sedih di hatinya.

Anak muda itu makin gila tiap waktunya. Tak ada gerak-geriknya yang tak aku ketahui, tak ada raut wajahnya yang berbeda, pun untuk tersenyum mungkin ia tak mampu.

 

Ia mulai terdiam dari setelah berbicara sendiri. Entah Ia yang gila atau aku yang gila, aku tak tahu. Aku terus saja memata-matainya dari celah kecil di permukaan pintu yang mulai rapuh di makan waktu. Tubuhnya semakin bergetar, kendati suara cicak yang sepertinya ikut menghinanya.

 

Lelaki itu mandi keringat. Namun, tak sedikit pun ia menyeka jatuhnya keringat itu. Nyaris melupakan bahwa ia masih menggunakan seragam putih dongker. Seragamnya telah keluar dari ikat pinggang yang melarangnya keluar. Sepertinya angin telah membelai rambut hitam yang pendeknya.

 

“Bagaimana caranya  berjuang agar sekolah ini akan tetap didirikan. Mereka hanya ingin mendirikan penderitaan kita. Penderitaan para pemimpi yang tak kesampaian. Bukankah kami sekolah untuk mencari ilmu? Lalu mengapa jalan kehidupan kita harus terhalang. Mengapa Guru?”

 

Berhenti  sejenak, berhenti lagi. Bongkahan sinar matahari yang tertembus lewat atap berlubang di kelas, tepat bertumpu di ubun-ubunnya. Sedikit Ia memicingkan mata ketika retina matanya yang sedikit mulai perih.

 

“Guru…” jeritnya.

Aku makin sinis melihatnya, apa yang tengah Ia pikirkan.

“Apalagi yang akan menimpa nasib kita? Mengapa Kau diam dari tadi! Bagaimana kita akan memimpikan cita-cita, bila memicingkan mata saja sangat susah.”

Aku makin tak tahan. Ingin sekali aku mendampinginya, menanyakan apa yang tengah Ia lakukan. Namun  aku masih saja melihatnya lewat celah kecil di permukaan pintu yang sepertinya melarangku masuk.

 

Aku masih melihatnya, masih melihat getar tubuhnya. Isaknya semakin keras. Seketika kakiku benar-benar tak mampu lagi berdiri. Aku masih mau melihat reaksi lelaki itu, anak muda yang sepertinya penuh masalah. Dan ketika tubuh tak lagi mampu aku tahan. Pintu tua kelas itu terdorong sedikit, dan aku lihat raut wajahnya berbeda, berubah seperti ingin tahu apa yang tengah terjadi. Ia mencari aku.

“Guru?”

Lelaki itu bertanya pada angin yang menghempaskan pintu.

“Cobalah bicara guru! Aku dengar dari pengumuman tadi pagi, nanti malam sekolah ini akan diratakan oleh kesedihan kita. Entah apa tujuan orang-orang kaya itu ingin menghancurkan rumah imu-ilmu kita ini. Apakah engkau tak mau membantu?”

 

Percayalah. Pasti Ia tengah memikirkan tentang ucapan kepala sekolah tadi pagi. Rombong dari sekelompok orang-orang kaya yang hanya memikirkan uang. Katanya mereka ingin mendirikan komplek rumah toko. Orang-orang kaya tersebut akan merasa bahagia dengan mendirikannya tepat di tanah sekolah. Mungkin sebagai alasannya yang sangat tak berguna bahwa lahan sekolah itu sangat strategis untuk dibangun komplek rumah toko.

 

Ia sempat bernapas lega, dengan hitungan detik yang begitu berharga. Bernapaslah Ia dengan kekacauan yang menghasut jiwa. Air matanya mulai tak bercucuran, tak mengalir lagi.  Tapi tampak di matanya yang sudah sayu itu ada sebuah dendam, sebuah pemberontakan atas kata-kata. Dan Ia melepas semua sedih dengan seketika.

Lelaki itu semakin tak waras saja, kurasa. Duduk, meracau, menangis, memekikkan suara, memukul-mukul kepala di meja, meninju meja, menghentakkan kaki di lantai, dan semua hal yang pasti akan membuatnya semakin disebut gila. Dan sekarang Ia berdiri. Melihat ke bawah, menyiniskan mata pada butiran air mata yang sudah membanjir di lantai kusam kelas. Hatinya yang tadi becek kini semakin menjadi-jadi. Bisa orang lihat dari matanya bahwa ada sebuah luka yang tak bisa di basuh lewat air mata yang sudah melimpah.

 

Dia melihat sekeliling, melihat meja, kursi, papan tulis, lemari guru, gorden jendela, pintu, atap dan lain-lainnya sudah tak seperti itu lagi. Dia semakin lelah daripada saat aku lihat tadi sebelum dia berkoar-koar memuntahkan kata-kata yang menumpukkan diri di atas meja.

 

Kurasa, pasti dia tengah mengingat-ingat masa-masa indah di kelas yang akan menjadi tumpukan tanah itu. mungkin saja ia mengingat tentang saat teman-teman yang sedang tersenyum padanya suatu kala, saat ia bisa menjawab atas pertanyaan guru. Bahagia saa itu, adalah luka yang saat kini tak ingin Ia ingat.

 

Lagi-lagi Ia tersenyum. Melambaikan semua rasa yang ingin terus Ia tanyakan pada seorang tokoh yang Ia sebut guru.

 

Ia melangkah, mengangkat kaki kecilnya menuju luar kelas. Jujur awalnya aku ingin kabur dari situ secepat matanya bisa berkeliaran. Tapi aku sengajakan tak bergerak. Aku berharap Ia masih mengenalku. Aku berharap Ia akan menyalam tanganku dengan tatapan syahdu seperti tatapannya pada setiap pelajaran akan dimulai. Pintu terbuka, aku melihat ada sebuah mimpi yang tak bisa aku bayangkan akan jadi apa nanti.

 



“Eh, ada Bapak Kepala Sekolah. Permisi Pak, saya ingin pulang. Maaf membuat Bapak menunggu lama untuk menutup pintu gerbang sekolah. Maaf saya telah mengecewakan semua orang yang mengangap saya gila.  Anda benar Pak, takkan ada yang mau menjawab pertanyaan orang gila. Saya akan pulang, mencari tempat bernaung berikutnya. Saya takut rasa bahagia yang pernah terpendam di sekolah ini juga akan tertindas oleh sebuah benda besar yang akan  meludeskan sekolah ini malam nanti.”

 

Anak muda itu pergi dengan senyum yang dibuat-buat, pergi ke arah senja, ke arah dimana tak ada lagi mimpi yang akan membuatnya bahagia. Tepat di depan arah yang dipilihnya itu, truk-truk yang bersiap ingin  merubuhkan kebahagian mereka.

 

Entah mengapa kesedihannya juga tertumpah di hatiku. Mengapa guru? Mengapa anak itu lupa menyalam tanganku?

Ditulis oleh Muhammad de Putra

    Penulis yang masih bersekolah di SMPN 6 Siak Hulu. Beberapa kali mendapat juara lomba menulis cerpen, seperti Juara 1 Lomba Menulis Cerpen se-Riau di Public Fest UR. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER).

    Tinggalkan komentar

    15 − 7 =