Ada Apa Dengan Hadabuan Hadabuan Hill Tampilan penuh

Ada Apa Dengan Hadabuan

Kamis, 4 Agustus 2016 di sebuah Kedai Kopi di Rantauprapat, Koburebu, terjadi sebuah presentase yang dihadiri 30 orang pemuda dari berbagai komunitas di Labuhanbatu. Mereka adalah pemuda yang peduli terhadap lingkungan dan sosial. Sam Haray Munthe, seorang aktivis lingkungan dan penyelamat Harimau Sumatera, tampil sebagai nara sumber dalam diskusi sore itu.

Hadabuan Hill adalah topik diskusi yang digagas secara spontan oleh beberapa pemuda yang juga dihadiri apajake.com. Hadabuan berasal dari bahasa Mandailing yang berarti terjatuh. Hill dari bahasa Inggris yang berarti Bukit. Bukit Terjatuh atau bukit dimana Haray pernah terjatuh dan hampir menghilangkan nyawanya. Untuk mengenangnya dan mempermudah penandaan, tersebutlah Hadabuan Hill. Kombinasi Inggris dan Mandailing.

Lalu ada apa dengan Hadabuan Hill? Sam membuka diskusi dengan menayangkan empat video pendek yang totalnya berdurasi 15 menit. Dari layar LED di kedai beraroma kopi tampak mentari merah bangkit dari peraduannya. Tampak hamparan alam yang diselimuti kabut. Suara burung bersahutan memecah keheningan pagi. Sungguh suasana yang mengagumkan.

13937761_530696033790845_6252196584731765966_o

Pada video kedua, Haray bersama bersama kawan-kawan berkendara jip 4X4 membelah hutan dan menyeberangi sungai. Begitulah gambaran bagi mereka yang ingin memasuki Hadabuan Hill. Tak ada jalan. Hanya jalur-jalur yang dibuat seadanya sebagai penanda agar tak sesat atau merusak hutan. Setelah berkendara selama hampir dua jam dari Rantauprapat, kota terdekat sebagai pintu masuk, perjalan harus dihentikan. Medan yang terjal dan berpohon rapat hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.

Dalam tayangan video tampak 4 orang berkebangsaan asing memasuki kawasan Hadabuan Hill. Mereka menyusuri hutan dengan keragaman flora dan fauna khas hutan tropis sumatera. Pengorbanan 20 jam perjalanan udara yang mereka tempuh dari benua Eropa ditambah dengan belasan jam dari Bandara Kualanamu terbayarkan ketika sampai pada puncak Hadabuan Hill. Sebuah puncak yang dipenuhi pohon-pohon besar berumur ratusan tahun dimana sunrise dan sunset dapat kita nikmati. Gregory McCann, Dosen dan kandidat DoktorĀ  adalah satu diantara mereka dan menorehkan kenangannya di habitatid.org

Belajar dari Yogyakarta

Yogyakarta adalah provinsi tujuan wisata utama di Indonesia. Ribuan destinasi wisata ada disana dengan beragam keunikan dan keindahan yang memanjakan siapa saja yang datang kesana. Kalibiru Kulonprogo, Hutan Pinus Wonosari, dan Gunung Api Purba Nglanggeran Patuk adalah tempat yang bisa kita jadikan belajar karena memiliki potensi dan karakter yang tidak jauh berbeda dan menjadi primadona di kalangan muda.

Gunung-Nglanggeran

Mari kita lihat bagaimana Desa Wisata Ngalanggeran, Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul. Gunung Api Purba Nglanggeran yang merupakan deretan gunung batu raksasa dengan pemandangan yang eksotik. Selain Gunung Api Purba yang iconic, Desa Wisata Nglanggeran juga masih memiliki daya tarik wisata lain yang tidak kalah unik diantaranya Embung Nglanggeran, agrowisata kakao, wisata outbond, live-in dan lain sebagainya. Fakta yang jarang dibicarakan yaitu tentang bagaimana kegigihan para pemuda dan pemudi serta masyarakat dalam upaya memajukan Desa Nglanggeran, khususnya terkait pariwista.

Dalam sebuah blog jogjacultureandtourism.blogspot.co.id, Hary Hermawan, bermula pada tahun 1999 pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Organisasi Karang Taruna Desa Nglanggeran yang sering terkendala pembiayaan kegiatan. Agar tidak terlalu membebani warga maka Karang Taruna memulai langkah antara lain penghijauan di sekitar area konservasi Gunung Api Purba Nglanggeran, penanaman area lereng Gunung Api Purba dengan tanaman produktif seperti kakao, pisang, kolonjono, mangga rambutan, mahoni dan sebagainya. Dengan kegiatan penghijauan yang dilakukan, Gunung Api Purba yang dahulu gersang mulai menjadi pegunungan hijau yang dikelilingi berbagai tanaman buah-buahan yang produktif seperti saat ini.

Awal tahun 2006 beberapa pengunjung mulai ada yang datang ke Gunung Api Purba. Pengunjung yang datang bertujuan untuk mendaki atau tracking, namun pada saat itu belum ada pengelolaan pengunjung dari pihak manapun. Maka dari itu beberapa tokoh pemuda karang taruna mulai melakukan inisiatif untuk mengelola Gunung Api Purba serta menetapkan tiket masuk dan parkir bagi wisatawan. Setelah Gunung Api Purba Nglanggeran dikelola, dikemas dan dipasarkan oleh Karang Taruna Desa Nglanggeran, ternyata Gunung Api Purba Nglanggeran mendapatkan respon positif serta kunjungan wisatawan semakin hari semakin banyak.

Tahun 2009 kunjungan wisatawan ke Gunung Api Purba mulai terjadi peningkatan jumlah kunjungan secara pesat diikuti dengan peningkatan jumlah kebutuhan wisatawan terhadap daya tarik, fasilitas serta jasa pendukung pariwisata yang lebih banyak secara kuantitas dan lebih baik secara kualitas. Untuk dapat mengemas daya tarik wisata yang lebih baik dibutuhkan koordinasi yang lebih luas kepada berbagai pihak termasuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pelaku pariwisata. Untuk itu pengurus Karang Taruna Desa Nglanggeran mulai merangkul berbagai pihak antara lain Pemerintah Desa, tokoh-tokoh masyarakat, kelompok-kolompok usaha dan kelompok kesenian sehingga pada tahun 2009 terbentuklah organisasi pengelola yang lebih kompleks yaitu Badan Pengelola Desa Wisata (BPDW) Nglanggeran sekaligus peresmian Desa Nglanggeran sebagai Desa Wisata. BPDW merangkul semua: ada pemerintah desa, tokoh masyarakat, kelompok tani, kelompok ibu PKK, homestay, pedagang, kesenian, calung, jatilan, reog, karawitan dan lain-lain.

Suatu pelajaran yang dapat kita ambil dari pengalaman saudara-saudara di Desa Wisata Nglanggeran adalah bahwa ternyata sebenarnya potensi desa dapat kita upayakan dari yang tidak ada menjadi ada, dari yang minimal dapat kita upayakan agar memperoleh hasil yang optimal. Namun cita-cita suci inshan pariwisata untuk memajukan desa melalui pariwisata sangat tidak mudah dan dibutuhkan mimpi yang besar serta kegigihan untuk berjuang dan belajar terus-menerus sampai suatu ketika apa yang kita impikan berhasil membuat warga tersenyum ceria merasakan dampak positif dari kegiatan pariwisata yang selama ini kita upayakan.

Ekspedisi Hadabuan Hill

Haray Sam Munthe menyadari potensi yang besar di Hadabuan Hill dan juga keterbatasan dirinya. Dibantu beberapa orang aktivis mereka menghijaukan kawasan yang mulai dirusak dan mengajak warga untuk memelihara kawasan. Pemetaan keragaman flora dan fauna yang dilakukan sungguh mengejutkan, beberapa jenis burung langka, Black Gibbon, Badak Sumatera, Harimau Sumatera dan tumbuhan langka ditemukan. Tidak hanya kekayaan, kerusakan wilayah dan perburuan juga ditemukan.

HBH2

Upaya penyadaran dan penyelamatan segera dilakukan. Masyarakat diedukasi dan digerakkan untuk bersama menjaga kelestarian alam. Pengembangan ekonomi masyarakat mulai ditumbuhkan, salah satunya adalah ekonomi kreatif dan wisata. Dusun Napompar Desa Pematang Kecamatan NA IX-X Kab. Labuhanbatu Utara perlahan dikenalkan ke dunia luar dengan tajuk Hadabuan Hill.

Akankah upaya ini dapat mengikuti kesuksesan Desa-Desa di Yogyakarta? Ataukah digagalkan deru chainsaw dan escavator yang mencabik-cabik Hadabuan? Pertanyaan itu menutup presentase Haray Sam Munthe. Sebuah ekspedisi ke Hadabuan Hill akhirnya tergagas di akhir diskusi. Langkah awal agar Hadabuan tak benar-benar “jatuh”.

Tatang Pohan, Apajake, dari berbagai sumber



(Foto: Haray SM, jogjacultureandtourism)

 

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

4 × dua =