Tamu yang Tak Diinginkan Cover buku Surat Buat Emak - Terkait Tampilan penuh

Tamu yang Tak Diinginkan

“Seperti apa wajahmu, Nia?” Aku sedang membayangkan wajah seorang gadis yang akan kutemui siang ini. Semua berawal dari nomor asing yang masuk ke ponselku, dua minggu lalu. Aku lantas mengirimnya pesan kalau ia salah kirim SMS. Tak disangka ia membalas sekaligus mengajak kenalan.

“Namaku Nia.” Ia memperkenalan diri.

 

Aku sambut baik perkenalannya. Hingga akhirnya, aku mulai akrab dengan Nia.

 

Kemarin, aku memberanikan diri untuk bertemu Nia.

 

“Kita ketemuan yuk.” Aku mengutarakan niatku lewat telepon.

“Boleh. Datang saja ke kost-an aku. Kenanga namanya.”

 

Tak kusangka, Nia mau bertemu denganku.

 

“Ngomong-ngomong tak ada yang marah khan, kalau aku ke kost-an kamu?”

“Gak ada.”

“Pacar atau tunangannya nanti marah lho?”

“Pacar saja belum punya apalagi tunangan.”

 

Mendengar jawaban Nia, ingin rasanya aku berteriak hore sekeras-kerasnya tapi kutahan di dalam hati.

 

“Oke, besok aku kesana ya!”

“Sip…”

Hujan menunda keberangkatanku menemui Nia, siang ini. Kulihat di atas meja makan, tersaji tempe, sayur lodeh dan secangkir the hangat buatan ibu. Rasa lapar yang sudah berkecamuk di perut memaksaku melahap habis semua makanan. Begitu pun secangkir the hangat, kuminum sekali teguk.

 

Untunglah, hujan mulai reda.. Aku kembali memantapkan niat bertemu dengan Nia. Segera kupersiapkan penampilan yang sebaik-baiknya. Seperti memakai baju terbaiknya dan juga minyak wangi.

 

Maklumlah, ini kedua kali aku bertemu dengan seorang gadis. Aku tak mau kejadian pertemuan pertamaku dulu dengan seorang gadis yang ternyata sudah punya tunangan. Tapi syukurlah ternyata Nia masih jomblo.

 

“Sial..” Aku mengumpat melihat dua ban sepeda motor yang kutaruh di garasi rumah bocor.

 

Kucegat taksi yang kebetulan lewar di depan rumah. Segera aku naik.

 

Aku tiba di kampung, tempat kost Nia berada.

 

“Sial…” Aku kembali mengumpat kesal karena ponsel lupa aku bawa. “Jadi tak bisa pakai GPS. Terpaksa tanya orang.”

 

Ketika lewat halaman belakang sebuah rumah, kulihat seorang ibu tua sedang menyapu.

 

“Ibu tahu dimana kost Kenanga?”

“Ooo lurus saja terus nanti belok kanan terus kiri, kanan lagi, Mas.” Jawab ibu tua itu.

 

Lalu kuikuti arah darinya. Tapi ternyata aku malah semakin tersesat.

 

Kuistirahatkan sebentar tubuh ini di pos ronda kampung. Hari sudah beranjak agak sore. Aku tak menyerah. Kutanya kan arah kost Kenanga pada warga yang bermain catur di situ.

 

“Wah, Masnya keblabasan. Harusnya tadi belok kiri lalu ke kanan, itu tempatnya.”

Aku manggut-manggut. Lalu pergi setelah mengucap terimakasih.

 

“Syukurlah, akhirnya bisa juga ketemu kost Nia.” batinku sampai di tempat yang aku tuju.

 

Lalu kuketuk pintu kostnya.

 

Keluarlah seorang gadis muda. Ia lekat memandangiku dari ujung rambut hingga kaki.

 

“Nia-nya ada, Mbak?”

“Ada, ditunggu saja!” jawabnya ketus, seakan tak menginginkan kedatanganku. Lalu langsung masuk ke dalam.

 

Aku lantas duduk di kursi teras. Didiamkan, tak ada orang yang menemuiku.

 

Setelah setengah jam kemudian, keluar seorang ibu membawa secangkir teh. Aku terkejut melihatnya. Itu ibu tua tadi yang petunjuknya membuatku kesasar. Dalam hati, aku merasa ada yang tak beres.

 

“Silakan diminum tehnya, Mas.” Ibu tua itu mempersilakanku minum.

 



Karena haus, aku langsung meminum habis tehnya. Tapi rasanya betul-betul pahit. Beda dengan teh buatan ibu pagi tadi. Mungkin memang sengaja tanpa gula. Seolah aku ini tamu yang tak diinginkan sang tuan rumah.

 

Aku pun segera pamit pulang.

 

Sampai di rumah, aku rebahkan tubuh lelahku di atas kasur. Terdiam merenungi kejadian yang baru saja kualami. Ternyata apa aku harapkan tak selalu menjadi kenyataan. Kucoba memejamkan mata. Berusaha melupakan sejenak kejadian yang tak menyenangkan hari ini.

 

Yogyakarta, 2016

Ditulis oleh Herumawan P.A.

    Penulis berdomisili di Pringgokusuman Yogyakarta.

    Tinggalkan komentar

    4 + sebelas =