Topbar widget area empty.
Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca Perpustakaan Tampilan penuh

Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca

Hari Kunjung Perpustakaan jatuh pada tanggal 14 September setiap tahunnya. Pertama kali digelar di Era Presiden Soeharto, pada tanggal 14 September 1995. Di tanggal itu juga dicetuskan sebuah gerakan Bulan Gemar Membaca. Peringatan ini bertujuan memaksimalkan Perpustakan dan gerakan keberaksaraan.  Ternyata waktu yang tidak terbilang pendek itu, 21 tahunn, belum mampu mencuatkan minat baca masyarakat Indonesia. Bahkan, jika dipersentasekan hanya 0,001 persen yang itu berarti hanya 1 dari 1000 orang yang memiliki minat baca.

Menurut Labibah Zain, Dosen Prodi Ilmu Perpustakan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang dimuat dalam nusantaranews.co, beberapa faktor yang menyebabkan rendahya minat baca adalah:

  1. Masyarakat masih terkungkung oleh sebuah mindset yang menganggap bahwa membaca hanya untuk kaum pelajar. Sehingga orang-orang yang sudah tidak berada di bangku sekolah/kuliah dianggap tak perlu membaca.
  2. Bisa jadi siswa/mahasiswa mengalami pengalaman membaca yang buruk di masa lalu. Karena itulah, siswa/mahasiswa tersebut trauma untuk baca buku lagi.
  3. Sejak kecil mereka dipaksa untuk menghafalkan materi pelajaran dengan bahasa yang susah dipahami. Tetapi mau tak mau mereka harus membaca karena kalau tak membaca buku-buku yang susah dipahami mereka bisa tak naik kelas.
  4. Mereka cenderung membaca huruf perhuruf, kalimat perkalimat, tetapi kesulitan memahami maknanya.
  5. Mereka bisa membaca tetapi tak tahu maknanya. Mereka hapal sebuah kalimat tapi tak tahu maksudnya.

perpust-sekolah

Pemaksaan-pemaksaan “membaca” semacam itu, tegas Labibah, membuat anak didik menganggap bahwa, membaca adalah kegiatan yang tidak menyenangkan. Sehingga ketika terbebas dari keharusan untuk membaca karena sudah selesai sekolah, maka mereka tak mau membaca lagi. Karenanya harus disembuhkan. Kita harus mengubah paradigma yang sudah ditanamkan bertahun-tahun, antara lain dengan cara:

  1. Semua pihak supaya mengubah mindset masyarakat Indonesia bahwa “membaca agar bisa naik kelas” diganti menjadi “membaca itu menyenangkan dan buku-buku yang ada juga enak dibaca”.
  2. Menggeser mindset masyarakat bahwa “membaca itu tidak menyenangkan” menjadi bahwa “membaca itu menyenangkan”.
  3. Membaca harus mempunyai motivasi, sehingga masyarakat, guru, orang tua, penerbit, perpustakaan harus bahu membahu menciptakan suasana gemar membaca. Penerbit harus menyediakan buku-buku textbook/paket dengan bahasa yang enak dibaca. Sehingga akan timbul kesan bahwa membaca itu menyenangkan,”
  4. Guru-guru harus bisa memancing kegiatan yang membuat murid membaca juga mengajar dengan cara yang menarik.
  5. Orang tua juga sudah harus mendorong anak-anaknya membaca buku dan menyadari bahwa membaca buku itu sesuatu yang kreatif bukan sesuatu yang dianggap membuang buang waktu belaka.
  6. Perpustakaan harus menyediakan program-program menarik yang berkaitan dengan kegiatan membaca (buku yang sesuai minat, mengadakan bedah buku, book review, book talk, dlsb).
  7. Masyarakat juga harus disadarkan bahwa persoalan apapun yang dihadapi akan bisa ditemukan solusinya di buku.

Perpustakaan sebagai penyedia buku, majalah, maupun buku digital seharusnya segera berbenah demi meningkatkan persentase di atas. Disamping ratusan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) terus beroperasi di daerah-daerah. Oleh sebab itu, perpustakaan mestinya lebih agresif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pembaca.

perpust2

Perpustakaan Perguruan Tinggi

Khusus untuk perpustakaan Perguruan Tinggi, kebutuhan informasi akademik segenap Civitas Akademika tidak boleh tidak harus harus dipenuhi. Tugas utama perpustakaan perguruan tinggi adalah pada pemenuhan kebutuhan informasi akademiknya. Termasuk membantu para mahasiswa dan dosen serta karyawan untuk bisa mengelola informasi yang ada menjadi pengetahuan baru.

Menurut Labibah Zain perpustakaan juga merupakan tempat untuk meningkatkan kualitas karya Ilmiah baik mahasiswa, dosen, atau karyawan perpustakaan sekalipun. Pembuatan karya tulis ilmiah yang bermutu sesungguhnya bisa dimulai dengan mengunjungi perpustakaan, menemui pustakawannya untuk melakukan konsultasi identifikasi masalah, menemukan pokok persoalan, membangun strategi penelusuran informasi, menemukan sumber informasi yang dibutuhkan, mengevaluasi informasi, menganalisis, menuliskannya, mencantumkan sumber-sumber rujukan hinga menyebarkan dan mempublikasikannya. Fungsi-fungsi seperti itulah yang masih perlu disosialisasikan.

Labibah Zain menegaskan bahwa, kebutuhan dasar membaca seharusnya sudah terlampaui ketika mahasiswa melalui pendidikan dasar dan menengah. Akan tetapi kebutuhan membaca harus terus dipupuk di dalam lingkungan perguruan tinggi. Karena di perguruan tinggi mau tidak mau mahasiswa harus membaca. Bagaimana dengan membaca di luar buku akademik? Nah ini menjadi tanggung jawab bersama dosen, perpustakaan dan komunitas-komunitas mahasiswa.

Tidak hanya itu, Labibah menegaskan bahwa dosen juga harus bisa memancing mahasiswa untuk membaca dengan menyelipkan pancingan diantara tugas-tugasnya dan mendiskusikan isu-isu terbaru di kelasnya. Dalam pada itu, perpustakaan bertugas menyediakan sumber informasi. Sehingga komunitas mahasiswa bisa menjadi ajang interaksi untuk melakukan perjalanan “imajiner” melalui buku.

(sumber: dirangkum dari nusantaranews.co)



Red/TP

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*