Topbar widget area empty.
Tiga Hikmah yang Tersirat  dari Peristiwa Qurban Khotbah Shalat Iedul Adha Tampilan penuh

Tiga Hikmah yang Tersirat dari Peristiwa Qurban

KHUTBAH IDUL ADHA 1437H

الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، لاإله إلا الله ,الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

الحمد لله العزيز العليم غافر الذنب وقابل التوب شديد العقاب ذى الطول لا إله إلا هو إليه المصير

أحمده سبحانه وتعالى أبلغ حمد وأشمله وأنماه وأشهد أن لا إله إ لا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أدى الأمانة وبلغ الرسالة ونصح الأمة ـ اللهم اجعل أفضل الصلوات وأزكى النخيات وأعم البركات على خير انبيائك وأفضل رسلك نبينا وقدوتنا وشفيعنا وقرة أعيننا محمد وعلى آله وصحبه وأنصاره وجنوده وخلفآئه من بعده ومن أحيى سنته وسلك سبيله ونهج نهجه وجاهد فى الله  حق جهاده إلى يوم الدين ـ أما بعد، فأوصيكم عباد الله وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pada pagi hari ini, kita semua berkumpul lapangan Ikabina Rantauprapat yang berkah ini untuk melaksanakan sebuah ritual tahunan, yaitu Idul Adha. Adalah kesempatan, kemampuan, kondisi, serta keinginan tulus yang menjadi modal kita untuk dapat berpartisipasi pada pelaksanaan ibadah ini. Kesemuanya merupakan limpahan karunia Allah SWT yang harus senantiasa kita syukuri. Salam dan shalawat kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW selaku pemimpin segenap rasul dan nabi, teladan sejati umat Islam yang dengan Sunnahnya telah menuntun umatnya ke arah khayru ummah (sebaik-baiknya umat).

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Kemarin, tepatnya 9 Zulhijjah, saudara-saudara kita seiman yang tengah berhaji di Tanah Suci Mekkah telah datang dan berkumpul di Padang Arafah seraya bertalbiyah labbaykallahumma labbayk, labbayka la syarika laka labbayk (Ya Allah, kudatang penuhi panggilan-Mu, Engkau Esa tiada sekutu). Mereka mengenakan pakaian yang sama yaitu pakaian ihram, mengucapkan kata yang sama yaitu talbiyah. Kesemuanya merupakan simbol kesamaan kedudukan di hadapan Allah SWT dan simbol kebersamaan tanpa diskriminasi. Mereka berthawaf mengitari Ka’bah selaku arah yang dituju ketika umat Islam shalat. Tujuan utamanya adalah pemurnian keimanan dan ketauhidan kepada Allah SWT, dan diharapkan berimplikasi positif terhadap realitas sosial keumatan.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Idul Adha identik dengan qurban. Penyebutan al-Qur’an untuk kata qurban ini mengandung arti “upaya pendekatan kepada Tuhan”. Sejatinya, berqurban memiliki cakupan makna yang luas, sehingga apa pun yang kita lakukan, baik yang bersifat material maupun non-material dapat terkategorikan sebagai implementasi qurban. Pada hari ini, 10 Zulhijjah, umat Islam bersama-sama menunaikan shalat sunnat Idul Adha. Di hari Idul Adha ini juga dan tiga hari tasyriq setelahnya, yaitu 11, 12, dan 13 Zulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk menyembelih hewan qurban dan didistribusikan dua pertiga dagingnya kepada yang mustadh’afin. Bukanlah takaran material dari hewan qurban tersebut yang menjadi tolok ukur, melainkan ketulusan untuk memupuk kedekatan kepada Sang Pencipta yang juga termanifestasi dalam jalinan silaturahmi yang erat antarsesama umat manusia. Begitulah hakikat dari ketakwaan yang diawali dengan niat suci dan berkorelasi konstruktif pada ranah sosial keseharian.

Tidak dapat mencapai Allah daging dan darah hewan yang disembelih, tetapi yang dapat mencapai adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Hajj [22]: 37)

Ketulusan dalam berqurban telah dicontohkan oleh Khalilullah Nabi Ibrahim As ketika diperintahkan untuk mengorbankan putra tersayangnya, Ismail As. Pelaksanaan perintah tersebut merupakan sesuatu yang sangat berat secara psikologis, tetapi perasaan itu terkalahkan oleh ketundukan dan ketulusan menjalankan perintah Allah SWT. Sikap Nabi Ibrahim As tersebut mengisyaratkan sebuah pesan penting bahwa kecintaan kepada Allah SWT mengatasi kecintaan kepada yang lain, sehingga mensyaratkan kesediaan mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai demi menggapai cinta yang lebih tinggi, mahabbatullah.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Pelajaran dari Idul Qurban ini dapat menjadi spirit pengabdian kepada bangsa dan negara kita, Indonesia tercinta khususnya di Kabupaten Labuhanbatu. Paling tidak, ada tiga hikmah yang tersirat dari peristiwa qurban Nabi Ibrahim As:

Pertama, tanggung jawab sebagai pondasi aktivitas. Nabi Ibrahim As mencontohkan tingginya rasa tanggung jawab itu dalam menunaikan tugasnya. Ia berupaya mengabaikan egoisme individunya dan istiqamah terhadap amanah yang diembannya. Ia gigih menjalankan perintah Allah, kendati tidak sejalan dengan harapannya. Begitulah sejatinya kita menanamkan rasa tanggung jawab dalam keseharian, sehingga berimplikasi positif terhadap bangsa, negara dan masyarakat . Egoisme pribadi dan kelompok harus ditepikan untuk memprioritaskan kepentingan bersama yang lebih utama. Ketika rasa tanggung jawab ini tertancap kokoh dalam sanubari dan terpatri dalam segenap dimensi keseharian, maka profesionalisme akan terbangun secara konstruktif. Dimensi konkret dari tanggung jawab ini adalah senantiasa memberikan yang terbaik berdasarkan kapasitas dan kemampuan masing-masing. Terbuka varian jalan dan tersedia aneka cara untuk mempersembahkan yang terbaik bagi negeri tercinta ini, sepanjang rasa tanggung jawab itu senantiasa menyertainya.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, niscaya Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kamu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. at-Taubah [9]: 105)

Hikmah Kedua, optimisme sebagai penopang kreativitas. Nabi Ibrahim As mencontohkan betapa tinggi optimismenya ketika ia beserta istri dan anaknya, Hajar dan Ismail, meninggalkan negeri Palestina yang tanahnya subur menuju Mekkah yang tandus. Sebuah pengorbanan besar karena harus merelakan buah hatinya itu tinggal di kawasan Mekkah yang masih tak berpenduduk saat itu. Peristiwa ini mengisyaratkan bahwa keberanian untuk mengambil risiko demi menghadapi tantangan merupakan salah satu cara yang harus ditempuh untuk meraih kemajuan. Meninggalkan zona yang nyaman (comfort zone) yang dibarengi dengan optimisme akan keluasan rezeki yang Allah SWT sediakan akan memacu dalam meningkatkan prestasi. Begitu juga Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Mekkah ke Madinah menjadi babak baru dalam peradaban Islam. Mekkah yang sangat dicintainya harus ia tinggalkan demi menggapai harapan yang lebih tinggi. Kita teringat ucapan beliau ketika meninggalkan tanah kelahirannya menuju Madinah:

“Demi Allah, sesungguhnya engkau (wahai kota Mekkah) adalah bumi Allah yang paling aku cintai. Seandainya yang bukan bertempat tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan keluar meninggalkanmu”.

Seseorang yang optimis pasti akan menjadi pribadi tangguh. Ia akan siap menghadapi kondisi baik dan buruk. Kalau kondisi baik yang diperoleh, segera ia bersyukur; tetapi jika kondisi buruk yang dijumpai, maka ia sikapi dengan bersabar. Tidak ada keluh kesah yang terlontar dari lisannya. Atas dasar itu, berkreasi dan berinovasi merupakan manifestasi dari optimisme itu. Pengabdian kepada bangsa dan negara dapat terejawantah dengan semangat optimisme itu, yaitu dengan berupaya seoptimal mungkin menghadirkan kreasi dan inovasi yang mengakomodasi tuntutan kekinian namun tetap berpijak pada lokalitas budaya sendiri yang terbilang kaya.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Hikmah yang ketiga adalah kemampuan bekerja sama dengan pihak lain sebagai pemelihara kreativitas. Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As mencontohkan kerja sama yang apik di saat mengutarakan maksudnya hendak mengorbankan putranya karena menjalankan perintah Allah SWT. Bak gayung bersambut, Nabi Ismail dengan lapang dada merespons dengan baik maksud ayahnya. Kendati yang disembelih ternyata seekor domba (qibasy) karena Allah SWT tidaklah menghendaki qurban dalam bentuk manusia, tetapi dalam bentuk hewan. Antara ayah dan anak tercipta relasi harmonis sehingga tercipta saling pengertian dalam menjalankan perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim As dapat dijadikan teladan bagi seorang bapak, sedangkan Nabi Ismail As dapat dijadikan teladan bagi seorang anak.

Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai usianya dapat membantu Ibrahim, maka Ibrahim berkata; “Wahai anakku, saya bermimpi bahwa saya disuruh menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu” Ismail menjawab: “wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah aku termasuk orang yang sabar. Tatkala keduanya telah terbukti berserah diri dengan membaringkan atas pelipisnya, maka Allah memanggil Ibrahim; Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membuktikan ketaatanmu atas perintah dalam mimpi itu. Sungguh demikianlah, kami memberi balasan kepada orang berbuat baik. Ini sebenarnya hanya ujian saja. Dan kami tebus anak kamu dengan seekor binatang sembelihan yang besar. (QS. as-Shaffat [37]: 102-107)

Pengabdian untuk bangsa dan negara tidak dapat menihilkan peran kerja sama. Kebersamaan dan jalinan kekompakan untuk padu dalam keseharian juga menjadi prasyarat kesuksesan. Kita harus saling mendukung berdasarkan kapabilitas dan kapasitas masing-masing. Seorang anak harus patuh dan sayang kepada kedua orang tuanya, seorang siswa harus menghormati gurunya, seorang pegawai harus menghargai atasannya, seorang warga negara yang baik harus taat pada pemimpin, dan sebagainya. Di era kekinian, dibutuhkan kemitraan untuk dapat menggapai hasil yang maksimal. Sistem dan perangkat kehidupan menghendaki jalinan kebersamaan yang saling berinteraksi harmonis. Tentu saja, kerja sama hanya akan terejawantah dengan baik jika ditanamkan rasa saling percaya satu sama lain, yang didasari oleh prinsip amanah.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah

Kerelaan berkorban meniscayakan meniscayakan semakin terasahnya emosional kita yang bermuara pada kemampuan mengatasi masalah secara cermat. Semakin besar pengorbanan kepada bangsa, maka semakin besar pula kemajuan bangsa ini. Kita berharap, sekecil apa pun pengorbanan itu pasti berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat

Semoga hikmah Idul Adha ini akan meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan serta akhlak. Dengan semangat berqurban, pengabdian tiada henti untuk masyarakat ini dapat kita berikan sesuai kapasitas dan kapabilitas kita.

Dan dengan semangat Idul Adha 1437 H ini mari kita bangun Labuhanbatu yan aktif, kreatif dengan didasari rasa tanggung jawab, optimis khususnya dalam mewujudkan Labuhanbatu yang sejahtera, labuhanbatu yang hebat dan lebih berdaya di masa yang akan datang.

Dan mari kita dukung program pemerintah sebagai wujud tanggung jawab serta mari jalin kerjasama agar tercipta relasi harmonis dibawah perlindungan Allah SWT sehingga apa yang kita cita citakan dan pemerintah cita citakan dapat terwujud.

KHUTBAH KEDUA :

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْاَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتَكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ



Mengakhiri khotbah ini, marilah kita bermunajat kepada Allah SWT dengan tulus memohon ampunan atas dosa dan kesalahan kita, serta menerima segala amal kebajikan kita. Semoga Allah senantiasa menunjuki kita jalan yang lurus dan menghindarkan kita dari kesesatan. Ya Allah, berilah kemampuan kepada kami untuk senantiasa memberi yang terbaik buat bangsa dan negara  khususnya labuhanbatu yng tercinta ini. Ya Allah, jadikanlah Idul Adha ini sebagai titik tolak semangat berqurban kami dan semangat pengabdian kami kepada negara ini. Ya Allah, limpahkanlah kedamaian dan ketenteraman bagi bangsa ini. Berkahkanlah rezeki yang Engkau senantiasa limpahkan kepada kami.

رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَالَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

H. Darmansyah Siagian, S. Ag, Kantor Kemenag Kab. Labuhanbatu

Red/TP

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

sembilan − empat =