Topbar widget area empty.
Tiga Cerita Ringkas Tentang Hujan Sawaluddin Sembiring Tampilan penuh

Tiga Cerita Ringkas Tentang Hujan

Hujan di Awal April

Maria menatap cemas ke arah ayunan tua yang ada di halaman rumah. Sedaritadi perempuan itu sudah berdiri disana, dia sedang mengingat sesuatu.  Di ayunan itu, semua kisah romansanya bersama sang suami. Banyak waktu mereka habiskan duduk di ayunan itu. Mereka bercerita banyak hal, tentang pekerjaan, pertumbuhan anak, memorabilia, juga cinta mereka sendiri. Dan ayunan itu juga yang akhirinya menjadi saksi untuk keputusan mengejutkan dari suaminya.

Maria menahan napasnya sejenak, sebelum akhirnya dihembuskannya perlahan. Ini awal April, seharusnya menjadi hal yang menyenangkan. Namun entah apa yang terjadi hingga hatinya terdera kesedihan.  Dadanya terasa penat, semua kenangan itu seperti sedang menggerogoti ingatannya. Maria masih berdiri di teras rumahnya, dia mencoba melupakan semuanya. Namun selalu saja gagal. Tiba-tiba saja ingatannya membawa dia pada sebuah ilusi. Ilusi yang selama ini benar-benar dia tunggu, namun seperti jauh. Dari bola matanya yang berwarna cokelat, Maria melihat suaminya berdiri di balik pintu pagar. Lelaki itu tersenyum, sambil membuka pintu pagar. Kemudian berjalan mendekatinya, sambil merentangkan tangan. Bibirnya bergetar, dia mengatakan sesuatu,

I love you, dear. Your beautiful woman!

Maria tersenyum sangat terpuji. Dia tidak menyangka jika itu adalah lelakinya, suaminya.  Namun angin siang itu segera menyadarkannya. Maria tidak berdaya, semua itu hanya sebatas khayalan belaka.

Dia menangis. Tubuhnya sedikit sempoyongan. Dadanya semakin terasa sesak, dia sudah tidak tahan dengan semua ini.

“Aku harus siap!” batinnya. Maria mencoba untuk berdiri dengan tegar, merapikan penampilannya. Dengan cepat, Maria menutup pintu rumahnya, kemudian mengembangkan payung hitam yang sedaritadi dipegangnya dan segera pergi.

“Biarlah. Aku yang akan menemuimu. Walau kau yang berjanji untuk menemuiku di awal April.” Lirihnya.

Maria terus berjalan, melewati rumah-rumah tetangga. Para tetangga memandanginya. Merasa iba. Karena baru seminggu lalu, suaminya meninggal ditangan istri mudanya.

“Hendak kemana kau, Maria?” tegur tetangga di ujung gang.

“Mencari yang hilang!”

“Mengapa hendak membawa payung?”

“Karena aku sedang diguyur hujan dari mataku.”

Hujan yang Tandus

Tidak ada hujan hari ini, bulan ini. Sungguh januari yang tandus. Dari semua kemarau ini, Menda yang paling gelisah dengan ketidakhadiran hujan ini. Perempuan dengan lesung pipi ini sangat menyukai hujan. Dia sudah jatuh hati pada rinai hujan. Dia selalu menikmati hujan dengan doa, juga suka cita. Namun ketidakhadiran hujan membuatnya seperti seorang kekasih yang sedang patah hati.

Menda ingin hujan segera datang. Dia merinduinya, bahkan dia ingin mengikat hujan agar tidak selalu angkat kaki. Hujan banyak mengajarinya berbagai hal. Tentang rindu, kenangan, cinta, juga kehilangan. Namun dia membuat dirinya menjadi naif, ketika hujan tidak menyapanya.

Siang ini, matahari bersinar sangat panas. Tidak banyak angin yang terasa, hanya semilir saja. Benar-benar panas. Menda terlihat sedang berjalan di atas trotoar jalan raya. Dia baru saja dari toko buku, membeli beberapa buku romantis yang selalu menjadikan hujan sebagai konflik cerita. Juga di tangan kirinya, Menda terlihat sedang memegang dua kuntum mawar putih yang dibelinya dari toko bunga langganannya. Toko bunga itu berada tepat di sebelah toko buku. Dia tersenyum sendiri saat membayangkan percakapannya dengan penjaga toko bunga tadi.

“Untuk apa?” Tanya penjaga itu, saat Menda membawa dua tangkai mawar putih untuk dibungkus.

“Untuk menaburi kematian hujanku.” Ungkap Menda. Penjaga toko bunga itu tidak bersuara, dia hanya mencuri-curi pandang ke arahnya. Menatapnya dengan sorotan mata yang aneh.

Langkah Menda tercekat. Dia mendengar ada suara instrumen musik yang indah selain deru mesin kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Dia melihat ke seberang  jalan. Disana, ada lima orang lelaki dengan jas hitam, serta bertopikan payung yang menempel di kepala mereka. Kelima lelaki itu sangat memberi arti pada setiap melodi yang dimainkan oleh mereka. Menda sangat penasaran dengan kelima lelaki itu, dia mencoba mendekati mereka.

“Lihatlah, langit tanpa awan hitam. Sudikah hujan menjadi tandus?” Tanya seorang ibu saat berhenti dihadapan mereka. Menda mematung di sebelah ibu tadi. Dahinya berkerut, dia juga memandang ke langit tadi. Kelima lelaki tadi menghentikan permainan musik mereka. Kelimanya menjadi diam. Ibu itu segera pergi, tinggallah Menda disana.

“Apa kau menunggu jawabanku?” Tanya seorang pria dengan saksofon di tangannya.

Menda menggelengkan kepala.

“Apa kau tak suka dengan irama kami?” sambung lelaki dengan harmonika.

Menda menggeleng lagi.

“Apa kau menganggap kami ini aneh?” tambah lelaki dengan biola di tangannya.

Menda kembali menggelengkan kepala.

“Apa kau menyukai hujan?” Tanya lelaki dengan gitar dipelukannya.

Menda menatap lelaki itu.

“Atau…”

“Aku rasa hujan sudah mati.” Jelas Menda.

“Mengapa?”    Tanya kelimanya. Hampir bebarengan.

“Karena dia telah pergi.”

“Ada firasat di atas payung-payung kelam. Menerka waktu, kapan dia harus menghitam.” Kata kelima lelaki itu.

Menda tidak berdaya mendengarnya. Dia menundukan wajahnya, tenggelam dalam tangisannya.

Tanpa terduga, dari ujung jalan. Seperti ibu yang menyirami tanaman, hujan itu pun mengguyur januari yang tandus.

“Hujan tidak akan pernah mati.” Seru kelimanya. Sebelum   mereka benar-benar menjadi rinai dan kemudian memeluk tubuh gigil Menda.

Hujan, Teman Masa Kecilku

Aku dan dia adalah satu jiwa yang menyukai keteduhan. Kami adalah penikmat yang selalu menunggu kedatangannya. Kami berdua sama-sama menyukai hujan. Walau rinainya selalu membuat tubuhku menggigil. Aku selalu mencoba untuk kuat, dia yang selalu membuatku yakin, jika aku pasti bisa melawan rasa gigil itu. Dia selalu mengatakan kepadaku, jika ini semua akan baik-baik saja.

“Jika kau menyukainya, maka jangan anggap dia musuhmu. Tapi anggap dia adalah hal yang paling indah dari hidupmu.” Katanya saat itu. Kami sedang diguyur hujan saat jam pulang sekolah.

Aku dan dia memang sangat  menggilai hujan. Tidak perduli dengan jeritan cemas ibu yang tidak ingin melihat kami diguyur hujan. Menurutnya, hujan akan membuat kami sakit. Kalimat yang selalu diucapkan ibunya, atau pun ibuku. Dari kecil kami selalu menghabiskan waktu  berdua. Bermain apa saja. Karena memang rumah kami hanya kelang satu rumah saja dan semua itu membuat masa kecilku menjadi indah. Tadinya aku tidak menyukai hujan, karena ayah selalu melarangku untuk bermain hujan. Bahkan hujan harus dihindari. Namun, dia memberikanku harapan baru saat itu. Harapan dimana aku mulai menyukai hujan. Sejak itu, aku dan dia selalu berceria tentang hujan. Tidak perduli jika tidak ada hujan, tapi kami akan selalu menceritakannya.

“Hujan itu sendu,” ucapnya saat kami berdua sama-sama mendorong sepeda yang biasa kami pakai pergi kesekolah. Ban depannya bocor, terpaksa aku harus membantunya mendorong dari belakang.

“Kamu sok tau.” Umpatku kesal.

“Aku sering mendengar Kakakku berbicara pada temannya. Dia bilang hujan itu romantis.” Cerita dia. Aku manggut-manggut dibelakangnya.

“Kata Mama, anak kecil gak boleh dengerin pembicaraan orang besar.” Beritahuku.

Langkahnya berhenti, mendadak. Aku hampir menubruknya. Aku menjadi diam, aku takut dia memarahiku.

“Kau tau pelangi?” tanyanya dengan nada ragu-ragu.

“Aku sering menggambarnya di pelajaran kesenian.”

“Kau pernah melihatnya?”

Aku menggelengkan kepala.

“Aku berjanji. Aku akan membawamu melihatnya.”

Sejak saat itu aku mulai mempercayainya. Beberapa hari setelah perjanjian itu, hujan mengguyur kota kami. Dia menculikku dari rumah, aku berusaha kabur dari jendela kamar. Tangannya terus memegang tanganku dengan erat, penuh keyakinan, aku benar-benar menghilangkan rasa takutku sendiri. Aku terkesima, ketika dia mengajakku kesebuah padang ilalang. Aku sempat ragu, karena ilalang ini membuat kulitku menjadi gatal. Namun dia kembali meyakinkanku.

“Semua ini akan baik-baik saja.” Aku mempercayainya.

Tidak lama, hujan berhenti. Aku terpesona. Saat langit melahirkan lapisan warna yang sangat indah.

“Pelangi, pelangi, pelangi.” Sorakku kegirangan. Aku menunjuknya.

“Jangan ditunjuk.” Larangnya. Dia memarahiku.



“Kenapa?” tanyaku penuh selidik.

“Kata nenek, kita bisa ikut dibawa pelangi itu.” Beritahunya. Aku menjadi takut.

 

Aku tersenyum mengingat semua itu. Aku tutup semua kenangan itu dengan moksa. Aku tidak ingin terlalu tenggelam. Dari jendela kamarku, aku melihat hujan turun dengan deras. Aku merasa senang, mencari anakku yang sedang bermain di halaman belakang. Mereka berdua sedang menikmati hujan.

“Panggil kedua anakmu itu, sakit nanti mereka.” Kata mertuaku.

“Biar saja, bu. Biar mereka merasakan pelukan ayahnya melalui rinai hujan itu.” Aku menahan tangis. Namun ibu mertuaku tidak dapat menahan airmatanya. Ibu mertuaku menangis, karena anaknya, teman masa kecilku, telah menjadi hujan bersama bidadari-bidadari di surga.

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.