Kotak Kecil untuk Shi Yuditeha Tampilan penuh

Kotak Kecil untuk Shi

Ternyata bentuk hati tidak seperti daun waru atau seperti salah satu gambar di kartu remi. Aku tahu hal itu ketika suatu kali, karena penasaran, aku berkunjung ke hatiku. Aku ingin mengamati bagaimana sebenarnya bentuk hati.  Pada saat itulah aku benar-benar melihat sendiri kalau bentuk hatiku ternyata kotak, dimana dalam kotak itu sudah terbagi menjadi beberapa ruang dalam berbagai ukuran.

 

Sejak kunjungan pertamaku itu, aku jadi suka pergi ke sana. Memasuki ruang demi ruang dalam kotak itu. Hobiku mengamati semua pernak-pernik yang ada dalam ruang-ruang itu. Pernak-pernik yang berbeda di setiap ruangnya. Tak ada yang sama. Mungkin karena itulah aku tak merasa bosan. Jika aku mulai merasa tidak betah di salah satu ruang, pasti aku akan segera pindah ke ruang yang lain. Begitu seterusnya. Isteri dan anak-anakku masing-masing menempati ruang yang paling besar di sana. Pernak-pernik mereka memang paling banyak. Aku sendiri menempati ruang kecil yang berada di pojok belakang. Pernak-pernikku memang paling sedikit dan aku hanya sesekali singgah di ruang itu karena aku sudah hapal dengan isinya. Dan sesungguhnya masih ada satu lagi pernak-pernik yang dulu begitu sering aku amati. Tapi pernak-pernik itu berada di luar hatiku. Pernak-pernik itu berada di sebuah kotak kecil dekat dengan hatiku. Pernak-pernik itu kepunyaan Shi.

Pada mulanya kami bertemu di sebuah rapat akbar perusahaan di mana kami bekerja. Di saat peserta rapat disuguhi minuman teh hangat, kulihat dengan cara berbisik dia meminta kepada pramusaji untuk disuguhi minuman kopi. Karena peristiwa itulah aku jadi terus mengingatnya sebagai wanita kopi. Karena tak gampang melupakan itu, bahkan akhirnya aku bisa berkenalan dan berbicara basa-basi dengannya di beberapa hari kemudian. Dari situlah awal mula munculnya sebuah janji bertemu yang kami sengaja. Janji bertemu di sebuah kedai kopi pukul 22.30. Waktu yang sebenarnya terlalu larut untuk sebuah kencan. Tapi akhirnya aku memutuskan tak jadi masalah, apalagi ia mengatakan kalau hanya jam-jam segitulah yang ia bisa.

 

Pertemuan pertamaku dengannya membawa sejuta cerita. Karena itulah, pertemuan-pertemuan selanjutnya kami rencanakan. Ada hal yang menarik di setiap pertemuan itu. Ia selalu membawa semua pernak-perniknya. Pernak-pernik yang belum sempat punya tempat untuk menaruhnya.

 

Aku tak bisa menawarinya menaruh pernak-perniknya di dalam ruang di hatiku. Bukankah  baru saja kukatakan kalau semua ruang dalam hatiku sudah terisi? Tentu saja tidak pantas andai aku hanya menawarinya untuk menaruh pernak-perniknya di luar hatiku. Ah, mengapa aku sudah berpikir begitu, padahal belum tentu dia memikirkan hal itu.

 

Pertemuan-pertemuan setelah di kedai kopi itu, bukan lagi sebuah pertemuan kebetulan, bahkan beberapa kali kami sering bergerilya mencari dimana kedai kopi yang masih mau melayani pembeli di atas pukul 22.30. Keakraban itu pada akhirnya membuat kami seperti kecanduan ingin selalu bertemu. Di setiap perbincangan kami selalu mengalir dengan indah. Jalinan itu bergulir apa adanya, bahkan ketika ia tahu kalau kotak dimana tempat untuk menampung pernak-pernik miliknya adalah kotak baru yang kubuat di luar hatiku pun tak mengurangi kesyahduan jalinan kami.

Aku sadar benar jika pertemuan-pertemuan dengannya itu terus berlangsung tentu bisa menjadi bukan lagi sekedar pertemuan biasa. Tapi itulah kenyataannya, kami terus merasa saling membutuhkan. Mungkinkah ungkapan ini benar, meski hati kita telah penuh terisi tapi selalu ada ruang cadangan yang bisa kita buat? Jika memang begitu, berarti bukan sesuatu yang aneh jika pada akhirnya aku melakukannya, membuatkan kotak baru di luar hatiku untuk menampung pernak-perniknya. Tentu saja hal ini tetap akan mengundang pertanyaan dari banyak orang, mengapa aku sanggup melakukannya. Dan jika benar itu terjadi aku tak bernapsu untuk menjelaskan, karena aku tahu mereka akan mengatakan bahwa apa yang aku bilang nanti hanya akan dianggap pembelaan belaka. Justru aku sengaja tidak menceritakan banyak di bagian ini, termasuk tidak kuceritakan alasan yang masuk akal mengapa aku bisa melakukannya. Hal ini kusikapkan bukan berarti aku menganggap bagian ini tidak penting. Alasanku bersikap demikian karena hidup ini sebuah proses, dan proses itu akan terus berjalan sebelum maut datang. Jika aku sudah mati, bolehlah mereka menghakimi.

Kuakui, sejak aku membuatkan kotak kecil buat dirinya, aku sendiri suka berlama-lama di sana. Mengamati segala pernak-pernik miliknya, bahkan meski pada saat ia tidak ada di tempat sekali pun. Di sana aku seperti menemukan gairah hidup yang baru. Nuansa baru yang tercipta dari pernak-pernik miliknya membuatku terbuai. Sensasi itu sungguh berbeda. Apa yang aku dapatkan di luar ekspektasiku. Membuncahkan harap dan meletupkan emosiku.

Memang aku tak bisa selamanya di ruang itu, karena aku tetap harus kembali ke dalam hatiku, menemui orang-orang terkasih yang selama ini telah setia menemaniku mengarungi hidup yang tak sederhana ini. Tapi seringkali yang terjadi, pada saat ia datang, aku lebih memilih mendahulukannya.  Alasanku sederhana, karena kedatangannya jarang dan tak tentu waktunya. Seperti yang terjadi pada siang itu, Aku mengamatinya dia keluar dari kantor,  rupanya ia masuk ke dalam sebuah kedai kopi yang tidak terlalu jauh dari kantor. Tak lama kemudian aku juga sudah berada di sana.

“Aku melihatmu di saat aku mengharapkanmu. Mungkin seperti rasa kangen,” kataku sedikit membuatnya kaget.

Semaput ah,” katanya dengan dibarengi badannya berlagak hendak jatuh. Meski aku tahu hal itu hanya pura-pura tapi secara reflek kedua tanganku bersiap ingin menangkap tubuhnya. Ia tersenyum. Lalu matanya teduh menatapku lekat, dan itu membuatku kikuk.

“Ada apa? tanyaku bermaksud untuk mengalihkan perhatiannya.

“Boleh aku menanyakan sesuatu?” Dia balik bertanya.

Sembari tersenyum aku menganggukkan kepala.

“Benarkah ruang itu kau buat untukku?

Aku mengangguk lagi. “Kau sendiri ikhlas, pernak-pernikmu hanya kutempatkan di situ?” tanyaku kemudian.

“Ini memang kukehendaki. Selamanya aku ingin di sana,” jawabnya.

“Kata-katamu seperti puisi,” sahutku.

“Ijinkan aku untuk tetap singgah tanpa aku harus merebutmu.”

“Aku tak yakin kamu akan bertahan,” kataku menanggapi.

“Seburuk-buruknya aku, aku tak pernah punya keinginan untuk mencelakaimu.”

“Aku percaya,” sahutku. Dan apa yang kini kupikirkan tentang dirinya adalah kerelaannya menerima dan menyadari keadaanku. Itulah yang membuatku tersanjung.

“Kecuali jika aku tahu kau membuat kotak baru lagi buat seseorang di sebelah kotakku itu.”

“Kau akan melakukan apa jika aku begitu?”

“Banyak hal yang bisa dilakukan jika hati sedang kecewa.”

“Kau tak perlu risau. Semua akan kembali kepadamu?”

“Aku harus membelah dadamu, merobek jantungmu, memastikan bahwa itu benar.”

“Silakan.”

 

Kami saling menatap dan tersenyum. Bentangan bening di matanya seperti benar-benar menenggelamkanku. Apalagi jika mengingat karena tidak ada tuntutan apa pun darinya itulah yang membuatku bersemangat hingga dengan rela aku membuatkannya kotak baru di samping hatiku.

“Aku harus pergi. Ada hal yang perlu aku urus,” katanya.

“Begitu pentingkah?” tanyaku seperti menahan sesuatu.

“Ya,” jawabnya singkat.

 

Apakah benar, rasa yang ada tanpa dilandasi tuntutan sanggup meruntuhkan ketegaran lalu mencandu kalbu? Jika benar begitu, apakah saat ini aku sedang mengalami rasa jenis begitu?

 

Pada saat aku mengalami terputusnya sensasi secara tiba-tiba itu, aku disadarkan oleh janji dengan istriku untuk makan siang di rumah. Segera aku pulang. Begitu aku sampai rumah, aku langsung masuk rumah tanpa permisi, menemukannya sedang memasak. Aku mencuri mencium pipinya dan aku dipukulnya pakai irus. Tentu bukan pukulan sungguhan. Tapi aku tetap berlari menghindar, mengimbangi candanya. Di ruang tengah aku melihat anak-anakku masih asyik melihat film Naruto.

Pagi itu kami bertemu dan dia yang meminta. Saat berjumpa, kulihat keanggunannya terpancar dan matanya berbinar, lebih bening dari waktu-waktu sebelumnya.

“Kau tampak segar dan berbahagia sekali,” kataku.

“Karena kamulah semua ini terjadi. Kamu seperti merubahku menjadi seribu lebih cantik, ” sahutnya dengan diiringi derai tawa.

“Aku tak melakukan apa pun.”

“Siapa bilang? Kau menampung segala pernak-pernikku yang sebelumnya tak ada orang yang mau melihatku. Kotak itu sungguh berarti bagiku.”

“Demikian juga bagiku. Kotak ini membuat hidupku terasa berwarna kembali.”

“Bicaralah tentang cinta,” pintaku gantian.

“Aku sedang jatuh cinta,” katanya.

Aku menatap matanya. Aku melihat ada samudera di sana yang siap membuatku terhanyut. “Oyaaa?” sahutku menanggapi dengan menirukan gaya manjanya.

“Dia sangat baik. Sebaik dirimu.”

 

Di saat jiwaku melayang-layang oleh manja, gairah dan pesonanya, ia mengatakan begitu. Ibarat aku sedang melayang-layang di udara dalam gravitasi nol, tiba-tiba berubah menjadi gravitasi normal. Langsung menghempaskanku pada dasar terhina. Terpuruk tanpa daya. Meski pada kenyataanya ia masih ada di depan mataku tapi aku merasa ia sudah seperti meninggalkanku jauh. Sangat jauh. Ada perasaan tak rela dengan semua itu.

 

“Dia pasti telah mempersilakan ruang di hatinya untuk kau huni,” kataku kubuat seperti tidak terjadi apa-apa dengan hatiku.

Dia mengangguk dengan manjanya. “Aku masih boleh ke kotak ini?” tanyanya sembari menunjuk ke arah dadaku.

“Kenapa tidak? Kotak ini sengaja kubuat untukmu.”



“Tapi sekarang aku harus pergi.” Meski kata-kata itu diucapkan dengan lembutnya tapi di telingaku terdengar sangat garang.

“Pergilah. Dia pasti sudah menunggumu.” Jiwaku seperti padam seketika saat mengatakan itu.

 

Kali ini mataku tak kuasa mengantarkan tubuhnya berlalu. Segala daya upayaku untuk tegar di hadapannya seketika roboh. Aku memikirkan beribu pertanyaan yang sulit kutemukan jawabannya. Semua janji yang terucap dulu tak berhasil kucari. Hatiku bukan terbuat dari baja, maka hatiku pun hancur.  Aku merasa semua seperti jadi amburadul. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Hari-hari burukku ke depan sudah terbayang. Rongrongan kehinaan mulai bereaksi melumpuhkan kesadaranku. Dadaku sesak. Rasa sesak itu kian hari kian menguat hingga seringkali mengejakan keinginan yang paling biadap. Membunuhnya sesegera mungkin. Lalu membunuh diriku sendiri.

 

Tapi entah ini keberuntungan atau kesialan, janji dengan istriku menyadarkan aku. Dengan perasaan sakit aku pulang. Saat bertemu dengan istriku segera kugagah-gagahkan diriku. Tentu saja aku tak ingin dia mengerti apa yang sedang terjadi.

Tag:
Ditulis oleh Yuditeha

Menulis puisi, cerpen dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku terbarunya Kumcer Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016). Hobi melukis wajah-wajah dan bernyanyi puisi. Penyuka bakpia dan onde-onde

Tinggalkan komentar

5 + tujuh =