Sepenggal Kisah di Rumah Kami Penggalan kayu (Illustrasi) Tampilan penuh

Sepenggal Kisah di Rumah Kami

Mamak menghabiskan masa tuanya di ladang milik tulang Atan. Begitu setiap harinya, menanam apa saja yang dapat dipanen dan menghasilkan uang. Dan tak jarang hasil panen itu dibagi dua oleh tulang Atan yang kondisi keuangannya juga sulit. Anaknya dua kuliah di kota, banyak uang yang dikeluarkannya setiap bulan. Mengirimi anaknya uang untuk membayar uang kuliah, kamar kost, dan biaya hidup tentunya.  Semuanya serba mahal, sedang dia hanya buruh pabrik yang berupah pas-pasan. Apa lagi belakangan ini terdengar berita jika anak lelakinya  paling besar sedang terjebak masalah narkoba, entah bagaimana nasib bangku kuliahnya. Sedang mamak hanya menyekolahkan aku sampai bangku menengah atas saja. Tak ada uang dia untuk menguliahkan anak lelakinya di kota. Lagi pula mamak takut melepas anaknya pergi, tak mau dia nasib anaknya seperti anak tulang Atan yang menghabiskan uang kuliah hanya untuk membeli narkoba.

 

Setiap hari mamak pergi ke ladang. Bangun pagi, memasak nasi, menyiapkan sarapan dan bekal untuk makan siangnya di ladang. Menjelang petang nanti mamak baru akan balik ke rumah. Beristirahat dan mengenang kesendiriannya. Sedang aku mengahabiskan waktu bekerja di kilang padi. Itu pun hanya di waktu panen saja, jika belum masuk masa panen maka aku akan bekerja pada kolam ternak lele milik kila Manulang. Melihat kondisi kami yang murat-marut mamak mendatangi tulang Atan yang rumahnya tak terlalu jauh dari rumah kami. Dibujuknya  adik semata wayangnya itu untuk mengijinkan dirinya menggarap tanah kosong miliknya. Tanah yang penuh dengan ilalang dan semak belukar.

 

“Bolehnya aku pinjam tanahmu itu, Atan? Biarku tanami sayur-sayuran, beladang aku di sana. Samamu kian nanti setengah dari hasilnya,” bujuk mamak waktu itu.

 

Tulang Atan berbisik pada istrinya di dapur. Entah apa yang mereka bicarakan.

 

“Kakak tanamilah itu. Tak apanya aku, asal bisanya menambah uang belanja kakak.”

 

Begitulah mamak, sejak aku lahir sudah membagi dua dirinya menjadi ayah dan ibu. Aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Sejak diijinkan tulang Atan menggarap tanahnya mamak langsung membersihkan rumput dan tumbuhan liar yang memenuhi tanah kosong itu, betapa senangnya dia ketika memberitahuku.

 

“Ayo, bawa cangkulmu. Arit juga jangan lupa. Sama termos air, yang hausnya nanti kita di ladang,” katanya  setiba di rumah. Kulihat air wajah mamak yang sangat cerah. Tergopoh aku mengikuti langkahnya dari belakang, betapa cepatnya langkah kaki mamak itu.

 

Sudah tiga tahun belakangan ayah tak lagi pulang. Entah sudah diceraikannya mamak, entah hanya ditinggalkannya begitu saja. Yang jelas dia sudah tak lagi memberi belanja atau pun sekedar melihat keadaan kami. Memang, mamakku hanyalah istri kedua. Mereka hanya menikah siri waktu itu. Namun kehidupan kami tidaklah seperti kehidupan mewah istri siri lainya. Bahkan kata mewah jauh dari kehidupan kami. Kalau tidak mamak banting tulang, mungkin sudah matilah kami dalam menanggung lapar.

 

Ayahku seorang lelaki berseragam militer. Entah bagaiaman perkenalannya dengan mamak hingga terjadilah pernikahan sirih itu. Hidup mamak jauh dari kata bahagia. Bahkan ketika akan melahirkanku dulu mamak hanya ditemani tulang Atan di rumah sakit, sedang ayah pendidikan di Cimahi. Bahkan mamak harus berjuang mati-matian untuk melahirkanku ke dunia ini. Kata mereka aku terlahir tanpa membawa ari-ari. Air ketuban mamak sudah pecah dan kering hingga mengharuskan dokter mengorek plasenta itu agar keluar dari perut mamak. Betapa besarnya perjuangan mamak itu.

 

Aku pun demikian. Besar tanpa campur tangan seorang ayah. Mamak mendidikku agar tak menjadi lelaki lemah.

 

“Hidup ini adalah pilihan.  Bertahan dengan kebodohan, atau maju dengan segala keterbatasan.” Kata mamak tempo hari kepadaku. Kalimat itu lah yang menjadi acuan dalam hidupku.

 

Hampir magrib, mamak terlihat sangat lelah ketika pulang dari ladang. Kupandangi wajah sayunya, ada guratan kekecewaan di lengkungan bibirnya. Kudekati mamak dengan segelas air hangat.

 

“Merantau ajalah aku ya mak,” kataku sambil memijat kakinya.

 

Mamak masih tak menjawab

 

“Biar tak marah lagi tulang Atan padaku.”

 

“Sudah tak sayangnya kau sama mamak? Tak perlu kali kau masukkan perkataan tulangmu. Kan kam kerja juganya di sini nakku.”

 

“Tapi mak. Maksudku biar bertambahnya uang kita, tak tega aku lihat mamak setiap hari begini.”

 

“Hidupnya kita. Tak perlu kau pusingkan perihal uang dunia ini. Yang terpenting kau bahagia, mamak bahagia. Selalu bersama kita walau tak makan sekali pun.”

 

Aku peluk mamak dengan erat. Basah kian pipiku dengan airmata. Bukan maksudkunya membuat mamak bersedih, tapi tak tahan aku mendengar cibiran istri tulang Atan itu yang berbicara ke orang-orang perihal pekerjaanku yang tak tetap. Dibilangnya aku ini lelaki pemalas, tak mau bekerja. Padahal mamaknya sudah mati-matian mencari uang, sampai membujuk tulang Atan untuk meminjamkan tanahnya. Panas kupingku mendengar perkataanya.

 

“Entah kayak bang Ronggurnya dia.”

 

Ah, terbakar aku rasanya. Apa lagi ketika dia menyebut nama ayahku. Niat kian aku mencarinya ke kota, memberi pelajaran pada lelaki itu. Tapi mamak selalu melarang, dibilangnya biar jelek-jelek sikapnya dia tetaplah ayahku.

 

“Apa begininya mak resiko menjadi istri siri? Ditinggal kapan saja tanpa harus memikirkan hal-hal lain?” Kataku pada mamak tempo hari, saat kami berdua makan malam di ruang tamu. Biasa kami makan di sana, karena di rumah tak memiliki meja atau pun ruang makan. Kami hanya bersila di atas tikar plastik, menghadapi dua piring berisi sambal ikan dan daun ubi rebus. Serta secobek sambal kelapa yang pedas.

 

“Mengapa begitu cakap kam nakku?” Mamak memandangku dengan nanar.

 

“Maunya mati saja si Ronggur itu. Susahnya kita dibikinnya, mak. Tak dipikirnya mamak, aku sebagai anaknya. Entah makan entah tidak. Sedang dia santai di kursi malasnya!”

 

“Tak perlu bercakap seperti itu. Ini lah takdir. Bisa apa, makan saja buat perutmu kenyang. Lalu pergi tidur, tak perlu keluar lagi.” Kata mamak sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya. Aku diam, menanggung amarah yang sudah terlanjur membara.

***

 

Belum terlalu siang, sekitar pukul sembilan pagi ada seorang perempuan datang ke ruamh kami. Dia datang dengan seorang lelaki yang usianya beberapa tahun di atasku. Juga seorang anak perempuan yang berusia lima belas tahun. Diam aku di depan pintu, menatap tamu yang tak kukenal itu. Mamak sudah pergi ke ladang, hanya aku yang tinggal. Karena aku akan Ke ternak lele kila Manulang sekitar pukul sepuluh.

 

“Mau apa?”

 

“Bisakah kita berbicara di dalam?” Kata perempuan berpostur tinggi itu. Usianya sama seperti mamak.

 

Kupersilahkan masuk. Di dalam matanya tak henti menelanjangi rumah kami. Aku mulai risih dengan kehadiran tamu ini.

 

“Di mana mamakmu?” Tanyanya lagi.

 

“Jika ada yang ingin ibu katakan, silahkan pada saya.”

 

Perempuan itu menghela napas, menatap lelaki yang dibawanya tadi.

 

“Saya istri sah secara hukum dan agama dari bapak Ronggur.”

 

Berhenti rasanya detakan jantungku mendengar pernyataan itu. Bahkan tatapan tajam perempuan itu membuatku sulit untuk bernapas. Untuk apa dia datang ke rumah kami?

 

“Lalu?”

 

“Saya hanya ingin melihat kalian. Dia anak lelaki saya paling besar, dan ini anak perempuan saya paling kecil.” Beritahunya. Aku hanya mampu menelan ludah. Lelaki itu adalah abangku dan anak perempuan itu adalah adikku. Ah, ingkn runtuh aku rasanya.

 

“Kedatangan anda ingin menuntut kami? Dua puluh tiga tahun mamak saya sudah menderita dalam membesarkan saya. Merubah dirinya menjadi seorang ayah ketika saya selalu menanyakan kenapa ayah saya tak pernah ada di rumah?” Ceritaku. Perempuan itu hanya diam.

 

“Bahkan semenjak dua tahun lalu dia benar-benar tak pernah datang, mengirim belanja, namun kami tak pernah menuntut apa-apa dari anda.”

 

Perempuan itu mendekatiku. Dia menatap wajahku yang sudah memerah, menahan air mata.

 

“Tidak. Bukan itu tujuan saya kemari. Kau mewarisi darah ayahmu, bahkan marga ayahmu. Namun sudah sepantasnya kau juga tahu sebuah kenyataan”

 

“Kenyataan apa?”

 

“Ayahmu sudah meninggal, terkena stroke, bulan lalu” beritahunya. Sontak, tubuhku runtuh. Aku tak berdaya mendengar  pernyataan itu.

 

Setelah perempuan itu pulang, aku tak beranjak dari rumah. Kukunci pintu rumah rapat-rapat. Menangis aku sejadinya, mengenang kenangan bersama ayah yang tak terlalu banyak. Ah, ayah, lelaki yang tak pernah aku miliki. Mataku membengkak, lemas sudah tubuku.

 

Senja itu, ketika ibu pulang dia menemuiku di belakang rumah. Melihatku yang duduk diam penuh dengan lamunan.

 

“Kenapa kau diam begitu? Sakitnya kau?” Tanya mamak. Dia duduk di sebalahku.

 

“Kenapanya wajahmu, pucat sekali mamak tengok.”

 

“Aku tak apa, mak.” Kataku dengan datar.



 

Mamak mendesah. Tangan kanannya mengusuk kakinya yang terasa pegal.

 

“Siang tadi mamak bermimpi. Ketiduran mamak di gubuk. Entah mengapa mamak bisa bermimpi ayahmu. Datangnya dia, meminta maaf pada mamak. Katanya dia juga meminta maaf padamu.”

 

Pecah airmataku mendengarnya. Namun tak kulihat wajahnya.

 

“Terus dipegangnya kepala mamak sambil tersenyum. Berulang kali mulutnya mengatakan maaf itu.”

 

Aku sudah tak bisa lagi menahan tangis yang menderu. Kupeluk mamak, erat sekali. Entah bagaimana perasaan mamak jika kukatakan kalau ayah sudah meninggal sebulan lalu. Biarlah ini menjadi rahasiaku, walau waktu terus memaksaku untuk bercerita. Karena bagiku kami sudah terbiasa tanpa dirinya, jadi semuanya akan sama saja dan baik-baik saja. Walau aku tahu, aku tak sanggup mengenang kepedihan itu.

Tag:
Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.

Tinggalkan komentar

empat × dua =