Topbar widget area empty.
Ritari Perahu (Illustrasi) oleh: De Puspa Tampilan penuh

Ritari

Semuanya seperti kembali ke masa lalu. Aku masih mendapati Ritari dengan segala kebimbangan. Pertemuan ini adalah langkah yang telah diatur waktu, dia yang bekerja sama dengan takdir. Karena itu menjadi alasanku untuk kembali menemuinya dengan segala jawaban yang pernah aku bunuh dengan ketakutan itu. Aku mengkhawatirkan setiap kepulangan, seperti ada dugaan yang bersarang di kepalaku. Menerima kepulangan sama saja dengan membuat kepulangan menjadi langkah yang sia-sia; adalah bukan pilihan. Tapi pulang adalah keinginan yang dibalut oleh ketakutan. Sebab itu, semua pilihan mulai berorasi menyampaikan gagasannya agar menjadi yang terpilih. Kau masih ingat pada setiap langkah yang kita tinggalkan, Ritari? Kini, aku sedang memungutinya  kembali. Ingin ku kumpulkan dalam kotak kenangan bersama cinta yang telah membiru. Karena merah adalah kemarahan, sedang hati  menduga, tak ingin angkara menjilati kebodohan. Yang menikamku adalah jarak yang tak sanggup memunguti lagi setiap jejak yang pernah kita tinggalkan.

 

Terlihat hanya guguran daun kering yang terbaring menutupi kenangan, juga ranting-ranting yang ditinggalkan berdoa dengan khidmat. Lalu desiran angin seperti ingin memeluk tubuh kerontang. Kemudian, aku terkurung dalam airmata yang melepaskan rindu pada tuannya. Sepertinya waktu yang merebutmu. Dalam pikiranku kau menjelma menjadi bayangan hitam yang bertanduk merah, kemudian menikamku. Di dalam mataku, kau juga terlihat menjadi bara api. Hembusan angin malam menggelitiknya hingga membara, terbakar sudah! Tubuhku sudah bermandikan peluh, napasku juga tersengal-sengal dan aku  mulai kehabisan akal untuk tidak melihatmu bercumbu buta.  Pernah di suatu malam aku terbangun dan ternyata hujan sedang meneriakki namaku. Tamaram lilin membakar gigil, ada penat yang harus direjam. Aku melihatmu di guyur hujan di dekat jendela kamarku.

 

“Aku ingin masuk,” katamu ketika ingin mencumbuku. Tapi kau hanya membulir pada kaca jendela. Aku hanya tertegun, sebab ada batas yang tak sampai, yang tak bertepi. Namun kini kau telah benar-benar menjelma dihadapanku.

 

Kau memandangku lekat. Pertemuan kita kali ini tak biasa, kita bertemu di bawah hujan yang sangat deras. Kau membiarkan tubuhmu basah diguyur hujan, sedang jemariku masih menggenggam erat payung hitam yang melindungiku dari kelemahan. Aku sempat mengirim pesan pendek padamu sebelum pertemuan kita terjadi sore ini. Mengapa kau diam ketika menatap wajahku?

 

Ritari, air wajahmu terlihat gelisah sekali. Kau memendam semua lisan di dalam kepalamu, membiarkan dirimu menjadi uring-uringan, padahal kau tau setiap kalimat dapat diucapkan dengan penegasan. Namun kau memilih membesarkannya di dalam pikiranmu. Aku yang nelangsa, tubuhku menggigil, mengeja dosa dari diammu. Sedang kau masih saja menyimpan hujan di matamu.

 

“Ritari,” ucapku. Kau terlihat bergetar. Kulit tubuhmu mulai mengkerut, rasa gigil itu kau tahan dengan ketegaranmu.

 

“Habiskah lisan itu? Atau kau sedang menghapus kalimatmu untuk sebuah kebisuan?” Tanyaku lagi. Namun Ritari masih tak bergeming.

 

Hujan turun semakin deras, aku dan Ritari masih saling berhadapan. Ingin sekali menangkap cahaya matanya, tapi dia selalu saja memalingkan wajah dari hadapanku. Oh Ritari, sudikah kau berbicara denganku? Bicarakanlah apa yang tak sempat kau bicarakan kemarin dulu. Sebelum aku mengulang semua tragedi, bukan kenangan.

 

“Masih kah kau menjadi luka itu, Ritari?”

 

Hari demi hari kuhitung luka itu dalam diam. Berharap kau mengerti dan kembali menelaah satu detik yang membunuhku. Setiap waktu, aku mengingat kisah luka yang harus dinikmati. Katamu luka adalah sajian menu orang kaya yang terhidang sangat mewah di atas meja makan. Dan semua itu harus dinikmati dengan khidmat. Katamu juga, kepergian adalah cara kita belajar untuk melupakan seseorang. Dan aku memegang tutur itu, walau kau tertanam mati di dalam hatiku. Berulang kali ingin tumbuh, namun kau menyiram racun pada perasaan itu. Oh Ritari, oh kekasihku. Bagaimana sebuah prinsip mengilhami dirimu yang menyayat hati hingga tak lagi mengeluarkan darah? Aku, aku yang tak lagi sanggup memandang setiap mata yang mengasihaniku, hingga membuatku bertunduk, berjalan bersama airmata. Oh Ritari, kau yang menjadi akar dalam kehidupanku. Tolong ajarkan aku bagaimana agar kuasaku mampu mencabut akar rambat yang mengawini darahku.

 

Ritari oh Ritari. Kuniatkan dalam hati, tak kubiarkan hati ini mencintai dusta sebab aku ingin engkau yang kembali pulang mengucapkan salam.

 

Tubuhmu bergetar hebat. Bahkan kau jatuh terduduk di atas tanah. Airmatamu telah membeku dalam hujan. Ritari, aku bukan datang untuk menghukum dosa. Karena dosa adalah urusan Tuhan. Hanya saja, aku tak ingin nelangsa karena keambiguan dari kisah yang rumit ini. Kemarin malam, aku menemui seorang lelaki yang menatapku penuh kemarahan. Dia mengatakan jika kau telah terlilit keputusan yang selalu menemui jalan buntu. Dia mengatakan jika cinta hanya lelehan es krim yang habis dijilat dan merasa puas, namun tak dapat memiliki seutuhnya. Jelas, kalimat itu menamparku, kau tau? Dia berbicara seperti itu, karena dia berdiri atas nama kehamilanmu. Inikah pengkhianatan itu Ritari? Sudahlah aku mulai bosan, kebisuan itu sangat jelas, jika kau benar-benar menikmati setiap penderitaan yang kau semaikan di dalam hati. Dan cinta itu, kau memilihnya, adik kandungku sendiri, sebagai lelaki yang meminangmu dengan luka di dalam hatiku. Oh Ritari, oh kenangan. Biarkan aku membunuh semua rindu atas nama belenggu yang menggantung cinta itu.



 

Ilustrasi Foto : de Puspa

Tag:
Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.