Topbar widget area empty.
Sebuah Wajah Yuditeha Tampilan penuh

Sebuah Wajah

Ada kecoa di kamar kerja suamiku. Segera, kupukul kecoa itu dengan sapu. Kena. Ketika aku memberesi bangkai kecoa, kudapati sebuah foto perempuan yang tergeletak di dekatnya.

 

Salah satu ritual ibu rumah tangga di pagi hari bersih-bersih dan beres-beres. Pagi ini, saat aku membersihkan kamar kerja suamiku, seperti hari-hari sebelumnya, aku memang sering memunguti foto-foto wajah orang yang tercecer dimana-mana, bahkan ada yang di kolong meja atau terselip diantara gulungan kertas. Foto-foto wajah orang yang ingin dilukis suamiku. Ya, suamiku seorang pelukis yang khusus menggambar wajah-wajah. Dan foto-foto yang tercecer itu biasanya yang sudah selesai dilukis.

 

Dari pengamatanku sekilas sejak aku jadi istrinya sampai sekarang, foto-foto yang dilukisnya kebanyakan seorang perempuan. Laki-laki memang ada tapi jarang sekali kulihat. Ahai, jika hal itu diteliti bisa jadi akan menghasilkan sebuah hipotesa yang menarik.

 

Orderan melukisnya memang lumayan ramai. Aku lihat foto-foto wajah yang ingin dilukis menumpuk di mejanya. Hal itu berarti, jika pesan hari ini, pengerjaannya tidak bisa langsung hari ini atau besok, tapi bisa mencapai rentang waktu sebulan. Dan setiap harinya dia bisa melukis tiga sampai lima foto wajah. Biasanya saat fajar dia menyisakan satu lukisan yang belum benar-benar selesai dan fotonya masih terjepit di sisi pinggir lukisan itu. Sekilas pagi itu aku melihat lukisan yang belum selesai digarap itu, entah kenapa aku seperti merasakan sesuatu yang berbeda, tapi entah apa aku tak mengerti.

 

Kembali ke masalah melukis cepat tadi, dulu ketika aku belum tahu, kupikir pengerjaan satu lukisan bisa mencapai berhari-hari tapi ternyata dia bisa mengerjakan hanya dalam beberapa jam saja. Tapi mengapa ada beberapa pelukis yang terkenal itu membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan satu lukisan saja?

 

“Mereka melukis untuk seni,” jawabnya dulu saat kami belum menikah.

“Apa bedanya dengan lukisanmu?” tanyaku waktu itu.

“Aku hanya pelukis jalanan yang melukis hanya untuk keperluan mengabadikan sesuatu.”

“Tapi kan ada unsur seninya juga tho?”

“Iya tapi seni yang berbeda.”

 

Ahhh, dasar seniman sulit untuk dimengerti. Jujur aku bingung dengan penjelasannya tapi kupikir waktu itu ya sudahlah tidak begitu penting juga bagiku untuk mengetahui lebih detail. Yang kupikir, lukisan dia memang bagus dan dikerjakan dengan kecepatan tinggi, hal itu yang menurutku perlu dihargai. Meski dia bilang itu seni yang berbeda tapi bagiku sama saja. Dan hal itulah kenapa aku dulu begitu kagum padanya. Terlebih saat aku mendatangi pamerannya yang bertajuk : 100 Lukisan dalam Semalam. Haduuhh seperti cerita Bandung Bondowoso saja pakai kata semalam., tapi itu bukan 1000 candi, melainkan 100 lukisan. Waktu itu aku berkhayal, jika sampai fajar dia hanya bisa menyelesaikan 99 lukisan, lalu fajar itu aku datang padanya dan akulah yang akhirnya dilukis menjadi lukisan yang ke seratus.

 

“Apa yang kau khayal akan jadi kenyataan,” katanya waktu aku datang di pamerannya dan sempat mengatakan khayalanku itu padanya.

“Maksudmu?”

“Lukisan yang aku pamerkan ini tidak 100, baru 99 lukisan dan aku memang sudah merencanakan, ada satu pengunjung yang akan aku pilih dan akan aku lukis untuk menggenapinya,” katanya membuatku melongo.

“Jadi?”

“Iya. Aku memilih kau untuk kulukis. Sebagai penggenap 100.”

 

Hal itu adalah kejutan yang membuat hatiku tak karuan, terlebih pada saat itu juga dia mengungkapkan cintanya padaku dan aku menerimanya. Ya ampun, bahagiaku saat itu serasa bertumpuk-tumpuk. Tapi ada satu hal yang membuatku sedikit heran dari kisah itu. Kau tahu, diantara ke seratus lukisan itu, lukisan wajahku saja yang kunilai paling gagal. Menurutku, satu-satunya pengukur sebuah lukisan wajah itu dinilai berhasil adalah dilihat dari segi kemiripannya. Dan lukisan wajahku itu sama sekali tidak mirip. Waktu itu aku geli juga saat melihat lukisan itu selesai dikerjakan, tapi yang lebih aneh dari itu adalah kepercayaan dirinya tentang lukisan itu tidak terganggu. Diam-diam aku penasaran, ingin mengetahui kenapa bisa seperti itu.

 

“Entah kenapa jika dia melukis wajah orang yang secara emosional terkait dengannya, justru dia tak bisa menjadikannya mirip. Semakin jauh dari kemiripan, itu tandanya ikatan emosionalnya dengan orang itu begitu dekat.” Begitu info yang akhirnya kudapat dari teman pelukisnya. Bahkan pada sat itu aku malah mendapatkan berita tambahan mengenai dirinya. Kata salah satu temannya, dulu dia pernah mencintai dengan sangat seorang perempuan, tapi pada akhirnya perempuan itu mengkhianatinya.

 

Kembali kenanganku mengenai lukisan wajahku yang jauh dari mirip itu. Ohh lukisan itu bahkan setia terpasang di ruang tamu kami. Banyak orang atau teman menanyakan itu gambar siapa dan waktu kujawab bahwa itu adalah aku, mereka langsung tertawa. Jengkel juga sih tapi mau gimana lagi nyatanya memang beda sekali dengan wajahku. Lukisan itu seperti gambar wajahku melakukan operasi plastik. Tapi aku tetap suka pada lukisan itu karena lukisan itu adalah sejarah cintaku.

 

Aku melanjutkan beres-beres kamar kerjanya. Sekilas kulihat lagi lukisan yang belum selesai itu. Entah kenapa rasa penasaranku begitu tinggi, tidak biasanya aku seperti ini. Kuamati dalam jarak dekat lalu aku berpikir, memang ada yang tidak biasa. Nah… ketemu. Lukisan ini sama sekali tidak mirip dengan gambar fotonya. Aku amati foto itu. Seorang perempuan muda, sangat muda malah sepertinya seusia anak kami yang besar. Oh, sepertinya aku belum bilang kalau anak kami dua, perempuan semua. Yang besar kuliah tahun ketiga dan yang kedua baru kelas satu SMA.

 

Entah kenapa, kini pikiranku mengarah pada sesuatu, semacam pengertian firasat. Unsur kedekatan kita dengan seseorang dapat menjadi salah satu sebab mengapa di saat-saat tertentu kita merasa yakin bisa mengerti, bahwa ada yang tidak biasa telah terjadi pada diri seseorang. Kedekatan ini bisa jadi karena intensitas hubungan dengan orang itu tinggi. Atau bisa juga karena sifat jalinan hubungan dengan seseorang itu sangat dekat, misalnya pasangan suami istri, pasangan kekasih atau teman karib. Dan seperti yang sering dikatakan banyak orang, terlebih jika itu adalah perempuan. Bukankah mereka sering bilang bahwa laki-laki akan cenderung mengedepankan logika, sedangkan perempuan lebih suka perasaannya yang maju duluan? Aku sendiri sebagai perempuan tidak menyukai pernyataan itu. Ungkapan itu memberi kesan bahwa perempuan itu lemah dan memberi kesan seakan-akan pikiran itu selalu lebih unggul dibandingkan perasaan. Haduhh, serba salah. Jika ada orang yang tahu pemikiranku ini pasti mereka akan bilang, dasar perempuan, masalah begini saja dipermasalahkan. Ah..

 

Dan saat ini aku merasakannya, aku mencurigai ada yang tidak biasa terjadi pada  suamiku. Lukisan tidak persis itu adalah bukti awalnya. Hari hari setelah itu perasaanku tidak tenang tapi aku juga tidak berani menanyakan hal itu padanya. Sampai pada saat lukisan itu selesai dibuat justru tingkat kemiripannya semakin menjauh. Mengetahui hal itu pertahanan menyimpan rasa galauku sudah  tidak tertolong. Pecah.

 

Saat dia keluar dari ruang kerja dan menenteng lukisan itu aku menanyakan padanya tentang siapa jatidiri perempuan yang dilukis itu. Jawaban dia tidak sepontan seperti jawaban-jawaban sebelumnya. Dengan begitu aku semakin curiga. Kulihat dia kemudian mempersiapkan segala sesuatunya untuk membungkus lukisan itu.

 

“Kau pasti ada apa-apanya dengan perempuan muda itu,” kataku dengan masih kutahan tekanannya.

Sejenak dia seperti terkejut. “Ya jelas ada hubungannya dong Sayang, dia kan minta dilukis,” jawabannya dengan dialek gojegan itu seperti tidak wajar. Tidak seperti gojegan yang biasa dia lakukan.

 

Entah pengaruh setan atau apa, saat itu aku langsung meraih pisau roti yang kebetulan waktu itu ada di atas meja. Aku mendekatinya, dan saat diriku telah begitu dekat dengan lukisan itu, pisau aku ayunkan ke arah lukisan. Lukisan itu langsung terkoyak.

 

Aneh sekali, dia tidak marah. Hanya sempat tertegun, setelah itu dia membawa masuk lagi lukisan itu ke ruang kerjanya. Sejak saat itu kami tidak bicara lagi. Dan aku semakin kokoh dalam kediamanku karena menurutku aku sudah pantas melakukannya. Dia mulai main hati dan aku harus memberinya peringatan besar. Tapi dia juga semakin tenggelam dalam diamnya.

 

Dalam situasi seperti itu justru aku merasa tersiksa, bingung mau bertindak apa. Dengan perasaan marah, suatu hari aku mengambil foto perempuan itu. Aku ingin mencari tahu, siapa perempuan itu. Jika memungkinkan akan juga ingin memberitahu kepada perempuan itu bahwa lelaki yang dia cintai adalah lelaki yang sudah tua dan telah mempunyai keluarga.

 

Usahaku berhasil di hari ketiga pencarianku. Dari orang yang aku tanya, sebuah petunjuk mengarah pada sebuah rumah yang sangat sederhana. Tempatnya jauh terpencil dari kota. Dengan perasaan was was aku mengetuk pintu rumah itu. Tidak lama berselang sebuah sahutan terdengar dari dalam rumah. Seorang perempuan muda keluar. Cantik, teramat cantik menurutku.

 

“Ibu mencari siapa?” tanyanya membuyarkan tertegunku.

“Oh, maaf.” Aku mengeluarkan foto itu dari dalam  tas, “Mbak, kenal ini?” Foto aku sodorkan padanya.



“Lhoh.. dari mana Ibu mendapatkan foto ini? Sebentar…” Perempuan muda itu berlari masuk ke dalam rumah sembari membawa foto itu. Aku merasa belum benar-benar menyadari keadaannya, dia seperti tiba-tiba sudah berada di hadapanku lagi.

“Mari Bu,” ajaknya. Dan aku menurutinya begitu saja. Kami masuk di sebuah kamar. Sesampainya di dalam kamar itu aku melihat ada seorang perempuan setengah baya sedang berbaring. Sepertinya sedang sakit. Aku dipersilakan duduk dekat dengan tempat tidurnya. Aku menurut saja. Perempuan setengah baya tersenyum dan saat dia tersenyum itu perasaanku megatakan aku seperti sudah pernah melihat dia sebelumnya.

“Suami Anda tidak bersalah. Dia lelaki baik. Perkenalkan, saya perempuan masa lalunya. Perempuan yang pernah mengkhianatinya. Hidup saya tidak tenang. Saya merasa perlu dan harus minta maaf padanya sebelum saya mati. Kanker payudara ini sudah stadiun empat. Waktu saya tidak lama lagi. Sayalah yang memohon dan bisa dikatakan memaksa padanya untuk melukis foto masa muda saya itu. Saya ingin melihat lukisan itu sebelum.. saya…”

 

Pada awal bicara, perempuan itu tampak bersemangat, lancar dan sangat jelas, tapi semakin lama bicaranya semakin melambat, bahkan tersendat-sendat dan tidak jelas sampai akhirnya terputus itu.

Tag:
Ditulis oleh Yuditeha

Menulis puisi, cerpen dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku terbarunya Kumcer Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016). Hobi melukis wajah-wajah dan bernyanyi puisi. Penyuka bakpia dan onde-onde

Tinggalkan komentar

tigabelas + duabelas =