Topbar widget area empty.
Lokot yang Malang Lokot yang malang Tampilan penuh

Lokot yang Malang

Sudah lama keceriaan hilang dari raut wajah Lokot semenjak istrinya merantau ke Malaysia lima tahun lalu. Tubuh yang dulu sedikit tegap itu kini ringkih, wajahnya tirus, tulang pipinya menonjol. Pakaiannya juga lusuh tak terurus.

 

Tahun pertama istrinya di Malaysia, sebulan dua kali, istrinya masih meneleponnya dan mengiriminya sejumlah uang. Itu membuatnya merasa bahwa memang beginilah hidup seharusnya, hidup senang dan tenang, tak perlu lagi capai bekerja dan bergelut dengan waktu. Tinggal duduk manis di warung kopi sambil main gaple dan menanti kiriman uang dari istri tersayang. Di warung kopi, ia sering bilang begini dan setelah itu tertawa, “Istriku adalah istri yang paling berguna di dunia ini.” Orang-orang di warung kopi ingin muntah mendengar ucapannya itu.

 

Tapi, masuk tahun kedua, istrinya mulai jarang meneleponnya namun istrinya sempat pulang saat hari raya Idul-fitri. Tahun ketiga sampai sekarang, belum pernah lagi istrinya meneleponnya, mengiriminya uang, apalagi pulang kampung. Ia tak tahu mengapa istrinya berbuat seperti itu sehingga mengubah hidupnya dari senang kembali ke masa usang. Oleh sebab itu, ia mulai jarang ke warung kopi. Pernah ia di warung kopi, seseorang di sana bilang seperti ini kepadanya, “Sekarang istrimu sadar, kau adalah suami yang paling tidak berguna di dunia ini.” Mendengar itu, menjadi pucat wajah dan segera pulang.

 

Ia pernah mencoba menelepon istrinya, tapi tak pernah tersambung. Ia juga telah berulang kali bertanya tentang kabar istrinya kepada beberapa TKI yang ia kenal saat pulang kampung, namun kesemuanya mengatakan tak ada yang tahu kabar istrinya di sana. Padahal mereka tahu, hanya saja istrinya mengatakan kepada mereka, “Bilang saja kepadanya, kalian tak tahu di mana aku, bagaimana keadaanku. Aku sudah muak dengannya.”

 

Pada saat itu memang, di tahun kedua di Malaysia, istrinya sudah mulai dekat dengan seorang duda, yang juga TKI di sana. Di hati istrinya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta. Seorang duda yang ditinggal selingkuh oleh mantan istrinya, yang menyebabkannya memilih merantau ke Malaysia. Duda polos dan jujur dalam berkata, sesuai ucapan dengan perbuatan dan, juga pekerja keras.

 

Namun hubungan istrinya dengan duda itu tak cukup mulus lantaran si duda agak melebarkan jarak karena berpikir bahwa yang ia dekati masih mempunyai seorang suami dan seorang anak laki-laki, takut rasanya merusak hubungan keluarga orang, kecuali memang telah menjadi janda.

 

“Sayangnya, status kamu itu masih istri orang,” kata duda itu kepada istrinya, dengan penuh penyesalan.

 

Lokot dan istrinya mempunyai seorang anak laki-laki. Sekarang anaknya duduk di bangku sekolah dasar kelas dua. Tahun pertama dan kedua istrinya di Malaysia, anaknya masih tinggal satu rumah dengannya. Tapi, setelah itu, ayah mertuanya menjemput anaknya itu dan tinggal bersama mertuanya di sebuah desa di kota yang berbeda. Rupanya, itu adalah permintaan dari istrinya kepada mertuanya. Semenjak itulah ia tak pernah lagi ditelepon dan dikirimi uang oleh istrinya.

 

Ketika ia ingin menemui anaknya, mertuanya terkesan menghalang-halangi. Itu akibat mertuanya sudah malas melihatnya. Pernah kali pertama ia menemui anaknya dan menginap di rumah mertuanya beberapa hari, tapi yang terkesan dalam benak mertuanya adalah ia hanya menumpang makan. Bahkan, ketika pulang, ia tak memberi sepeser pun uang kepada anaknya dan, malah ia meminta ongkos pulang kepada mertuanya.

 

Maka begitulah, kini, hari-hari yang ia lalui banyak diisi dengan melamun. Melamun memandangi telepon genggamnya, barangkali istrinya meneleponnya meski tak tahu entah kapan. Dan, tidak hanya itu saja ia melamun. Sebelum tidur ia juga melamun. Saat dapat pekerjaan disuruh orang kampung mengerjakan sesuatu, misalnya meracun rumput di ladang atau sedang menambang pasir, ia juga lebih banyak melamun daripada bekerja. Bahkan, ketika akan melamun, ia telah melamun lebih dulu.

 

Ia memang lelaki pemalas. Ketika masih satu rumah dengan istrinya, ia bangun pagi di atas jam sepuluh. Tidur malam di atas jam dua belas setelah pulang main gaple di warung, tak ada bedanya dengan kelakuannya yang sekarang. Oleh sebab itu sangat jarang orang kampung memakainya sebagai pekerja lantaran ia pemalas. Ia pernah bekerja ikut orang menyadap karet dan memanen buah kepala sawit, tapi itu tak bertahan lama, hanya satu minggu saja, sebab si pemilik kebun langsung memecatnya karena ia selalu datang kesiangan. Padahal, istrinya selalu membangunkannya pada pagi hari. Namun, ia memang payah bangun pagi lantaran kemalasannya.

 

Maka begitulah, selama empat tahun hidup bersama istrinya, mereka mempunyai banyak lumbung utang. Untuk makan sehari-hari pun harus utang, apalagi kebutuhan lainnya, untuk suntik KB tiga bulan sekali pun utang, bahkan untuk membayar utang, harus utang dulu. Itulah yang menyebabkan istrinya memilih untuk merantau ke Malaysia, mengikuti kebiasaan orang-orang di kampungnya yang memutuskan bekerja di sana.

 

Sebelum istrinya memutuskan untuk merantau ke Malaysia, ia sempat mendebat istrinya, bahwa ia-lah yang lebih berhak bekerja di Malaysia daripada istrinya.

 

“Ide adik bagus sekali. Dengan merantau ke Malaysia hidup kita tidak akan sesusah ini. Tapi, tidak pantas adik yang bekerja di Malaysia, abang-lah sebenarnya yang pantas, karena abang-lah kepala keluarga,” ucapnya, tampak bijak.

 

Mendengar ucapannya itu, hati istrinya menggerutu. Sudah empat tahun mereka hidup bersama, istrinya sudah hafal benar bagaimana tabiatnya. Perkataan tak sesuai dengan ucapan. Ucapannya memang manis tapi nihil perbuatan. Dengan ucapannya yang manis itulah, dulu, yang membuat istrinya tergiur untuk dinikahi. Sekarang tak mungkin istrinya masuk ke lubang yang sama untuk ke sekian kalinya.

 

“Biarlah adik yang bekerja di Malaysia, Bang. Abang nanti bekerja di sini. Biar sama-sama kita bekerja. Kalau abang yang ke Malaysia, lalu adik mau kerja apa di sini? Di kampung ini tak ada pekerjaan yang pantas untuk perempuan kecuali pembantu rumah tangga—seperti pekerjaan adik selama ini,” kata istrinya.

 

“Tidak bisa, Dik. Kehormatan abang sebagai seorang suami akan runtuh di mata orang banyak kalau adik yang pergi ke Malaysia, karena suami wajib hukumnya menafkahi anak dan istri. Memang harus abang-lah yang pergi ke Malaysia. Adik harus tetap tinggal di sini,” katanya, meyakinkan, tapi hatinya tak sepenuhnya seperti apa yang dikatakannya.

 

Hati istrinya tambah menggerutu mendengar ucapannya itu. Berdebat dengannya hanya membuang-buang waktu dan membuat sakit pikiran. Istrinya merasa hanya dengan suara sedikit keras dan kalimat yang menusuk hati yang akan membuatnya kalah.

 

“Abang itu pemalas! Tidak akan ada orang yang mau mempekerjakan abang di Malaysia. Kalau abang kerja di Malaysia, tak sampai seminggu abang sudah dipecat dan dipulangkan ke Indonesia,” kata istrinya.

 

Ia tak mampu berkata apa-apa lagi. Sakit hati memang ia mendengar ucapan istrinya seperti itu. Tapi, apalah daya, ia mengakui kebenaran yang diucapkan istrinya itu. Ia merasa kalimat-kalimat bijaknya kali ini tak ada gunanya, tidak seperti dulu. Tapi sakit hati itu hanya berlalu begitu saja, dan, kini ia benar-benar sangat merindukan istrinya.

 

Maka, ketika telepon genggamnya berbunyi pada jam sebelas siang, ia langsung bangun dari lamunannya, dan bangkit dari rebahan di kamar tidurnya, lantas ia lari menyambar telepon genggamnya di atas lemari. Betapa sungguh ia kegirangan ketika mengetahui bahwa nomor yang memanggilnya berasal dari Malaysia. Ia sudah menebak bahwa itu adalah panggilan dari istrinya.

 

“Halo, apa kabar istri tersayang?” todongnya langsung dengan suara manja.

 

Mendengar ucapannya itu, istrinya langsung mual. Di samping istrinya, duduk manis seorang duda yang berniat ingin menikahi istrinya dan, istrinya sudah sepakat untuk dinikahi.

 

Sebelum istrinya berkata-kata, ia langsung berbicara lagi.

 

“Kapan istri tersayang pulang? Abang selalu merindukanmu di sini. Abang selalu terkenang masa-masa manis kita dulu.”

 

Jijik istrinya mendengar rayuannya itu.

 

“Hari Minggu besok adik mau pulang, Bang,” kata istrinya datar.

“Wah, betapa senangnya abang mendengar kabar ini. Pasti adik merindukan abang juga ya?”

 

Isi perut istrinya seakan terkocok-kocok mual mendengar ucapannya itu.

 



“Iya,” kata istrinya, singkat. “Adik akan memberi kejutan untuk abang,” tambah istrinya lagi, datar.

“Tidak perlu seperti itu, Dik. Adik pulang saja itu sudah kejutan buat abang.”

 

Maka begitulah percakapan itu. Setelah istrinya mengakhiri panggilan, ia pun langsung pergi ke warung nasi. Ia makan dengan lahapnya sambil bercerita kepada pemilik warung bahwa istrinya akan pulang, bolak-balik ia tambah makan meski ia utang dulu. Ia begitu tampak sangat bahagia, rasanya belum pernah ia sebahagia ini.

 

Tanjung Pasir, 2016

Tag:
M. Fauzi Aruan
Ditulis oleh Muftirom Fauzi Aruan

Pengarang cerita pendek, tinggal di Tanjung Pasir, Labuhanbatu Utara, Sumut

Tinggalkan komentar

16 − 14 =