Topbar widget area empty.

Gedung Melankolis

Kita berduyun-duyun memasuki pekarangan yang mulai renta saat pagi dimulai. Saling memandang, merekahkan senyum, lalu mengucapkan salam seperti ritual yang tak terelakkan. Sebagian dari kita melangkah tergesa-gesa sambil merundukkan wajah yang lalai tersentuh riasan ataumerapikan helaian rambut yang berontak karena hembusan angin. Kadang-kadang episode mimpi teramat panjang, sehingga pagi sesekali tiba terlambat di rumah kita.

 

Langkah-langkah kita menghasilkan jejak-jejak di sepanjang koridor berupa ceceran air, pasir atau sisa-sisa tanah becek yang berasal dari berbagai penjuru kota. Seperti ucapan selamat pagi pada kotak-kotak persegi yang masih berarorama pembersih lantai.Kita membawa setumpuk pesan dalam tas-tas yang menggelayuti lengan dan pundak yang letih: rindu, harapan, semangat, ambisi, juga dengki.

 

Lift menanti muatannya dengan sabar. Selalu ada yang tertinggal, meski penumpang di dalamnya menanti dengan sabar. Satu per satu dari kita tiba di lantai tujuan. Kita kembali mengucapkan salam―sepotong pengantar sebelum sarapan pagi di meja kerja dimulai―untuk saling menguatkan, karena kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi. Hari ini bisa saja menjadi cerita bahagia, atau malah begitu sempurna untuk menuai frustasi berlebihan.

 

Meja-meja itu berderet di sana dan menanti kita dengan setia, meski kita kerap abai mengucapkan salam. Mereka senantiasa terjebak dalam kubikel-kubikel sebagaimana halnya kita. Seolah tak cukup, kita lalu membebani mereka dengan tindihan berkas dan buku tanpa henti. Noda tinta, kopi atau teh turut menambah penderitaan itu. Jika kita mengeluh letih, mereka harus pasrah menelan penat.

 

Di sinilah kita, berhadap-hadapan dengan layar yang menyala. Sapa dan basa-basi telah berakhir. Setelah sarapan pagi yang terburu-buru, roda waktu segera menggilas kita. Kata, kalimat dan angka-angka berkejar-kejaran di atas tuts hingga jemari kita kaku. Sementara kertas-kertas baru menunggu giliran, kertas–kertas lama penuh coretan mengakhiri nasib di dalam tong sampah. Manakala pandangan kita tertuju pada penjepit kertas yang berceceran, memo warna-warni yang mengantri di sepanjang dinding kubikel kini menuntut perhatian. Rapat pukul 3 sore. Perbaikan data a.n. Tuan X. Peraturan terbaru tentang bla.. bla… Ulang tahun pernikahan…

 

Sepasang mata kita lalu terhenti pada memo merah jambu. Ulang tahun yang nyaris terlupakan. Setiap tahun begitu. Momen-momen bermakna terlindas oleh kesibukan. Tunggu. Nanti. Sebentar. Kata-kata itu telah menjadi pembenaran sehari-hari. Untuk orang-orang. Untuk cinta. Untuk kasih sayang. Karena semua bisa menunggu, namun tidak “time is money” yang telah menjadi tuan.

 

Saat kau pasrah terkungkung dalam kubikel, menit-menit berlari kencang tanpa henti. Remah-remah roti mengotori hampir separuh meja dan mencemari blus putih kesayanganmu. Kau memenuhi meja dengan kertas-kertas sesuka hati. Jangan lupa bahagia. Stiker itu terselip di antara catatan tugas-tugas dan foto-foto dirimu dalam suatu perjalanan liburan. Foto-foto itu menyajikan deretan bibir-bibir merekah―senyumlebar untuk semua orang―untuk diabadikan kemudian dilupakan.

 

Remah-remah roti lalu menjadi fakta yang menggelikan manakala tubuhmu semakin lampai dari hari ke hari. Pola makan yang sia-sia. Tuduhan itu sering kulontarkan padamu dan membuatmu berang. Kau akan berkicau riuh rendah lalu berhenti manakala pemberang yang lebih hebat darimu keluar dari ruang kaca dan memandangmu, seakan-akan kau adalah kutu yang perlu dibasmi. Kau lantas meradang kala aku terpingkal-pingkal setelahnya. Penjahat yang tak boleh diampuni. Itulah yang kau katakan meski aku membujuk lalu menghadiahimu sebungkus kudapan ringan.

 

Jam makan siang tiba. Kita kembali bertegur sapa. Liur kita tertahan saat melihat sajian lezat tersaji di layar monitor, lalu mengering ketika pesuruh gedung menyebutkan menurutin di kedai makan langganan. Menu yang sama―kemarin dan kemarinnya lagi―namun sangat “memahami” lembaran-lembaran yang tak pernah betah berlama-lama menghuni dompet kita.

 

Bungkus-bungkus nasi lalu diletakkan di atas meja. Terima kasih. Pesuruh gedung terpaksa menelan kata-kata itu karena kita tak selalu mampu memberikan imbalan. Kita membawa botol pembersih tangan ke keran―kuman tak boleh turut andil menambah pengeluaran―kemudian mengawali santap siang hari ini dengan sepotong doa. Adakalanya, kita mengabaikan percakapan-percakapan di layarponsel yang menuntut perhatian di sela-sela kunyahan. Kejenuhan terhadap layar menjadi salah satu alasan selain ketidakmengertian terhadap apa-apa yang mereka perbincangkan. Membuat kita merasa terasing akibat kesemrawutan pikiran dan sebab-sebab lain yang entah dari mana datangnya.

 

Air mengucur ke dalam gelas-gelas kosong pertanda saat bersantai usai. Kertas-kertas itu menunggu kita. Kadangkala, aku ingin menulis nama kita di semua kertas-kertas itu. Angelina. Marco. Tidak perlu kata dan, karena kita memiliki dia: pekerjaan. Kita sama-sama tahu bahwa kita hanya terperangkap dalam gedung ini. Meski sesekali kita boleh merindukan suatu tempat di mana kita memiliki kebebasan sepenuhnya. Namun itu tak lebih sekadar khayalan. Sayangnya, kita tak pernah melupakan itu.

 

Tuts-tuts kembali berkejaran. Kau melirik pergelangan tanganmu. Pukul 3. Kita harus menuju ruangan itu untuk membahas sesuatu. Tanpa diperintah, aku mengikutimu, bergabung bersama orang-orang yang mengeliling meja panjang berbentuk oval. Mereka bersikap gelisah sambil melirik dan berbisik-bisik satu sama lain. Kau menarik nafas panjang lalu meletakkan kertas-kertas dalam dekapanmu di atas meja, demikian pula diriku. Semuanya sudah siap, kita tinggal berharap semoga tak ada yang terlupakan.

 

Pintu terbuka. Langkah-langkah cepat terdengar. Pemberang dari ruang kaca dengan mata menyorot tajam duduk di kepala meja. Kau menegakkan kepala, sementara aku menekuri kertas-kertas di hadapanku demi menghindari menjawab rupa-rupa pertanyaan yang membuat jantungku berdebar.Sementara itu, sorot matamu malah ingin menantang berdebat. Hal itu terbukti saat kau membacakan gagasanmu dengan berapi-api meski dia mencoba menyela. Menurutku, sebentar lagi kau resmi menjadi korban.

 

Pemberang dari ruang kaca menatapmu lama. Ruangan berubah hening. Orang-orang menunggu penghakiman dan perutku mulas sejadi-jadinya. Ini salahmu. Seharusnya, kau berdamai dengan pikiran liar dalam benakmu. Suara kursi. Kata-kata dengan nada tinggi beruntun dan menghujani bagai peluru. Gagasan berubah menjadi sampah. Anda hanya menjual omong kosong. Arogan.Tidak punya etika. Muntahan kemarahan itu sepertinya akan sulit untuk berhenti.

 

Api menyala-nyala di parasmu yang memerah. Aku berpikir, kau akan menumbalkan kursi atau meja. Secepat kilat aku memegang erat lenganmu. Perempuan ringkih dengan kemarahan seperti halilintar akan sulit untuk diredakan. Kau berusaha berontak. Pandanganmu tertuju pada satu orang―pemberang dari ruang kaca―yang kelihatannya akan kau telan dalam sekali lahap. Lalu, hal yang kucemaskan terjadi, kau membalas muntahan kata-kata dengan badai maha dahsyat.

 

Orang-orang terpaku ketika kau berperang dengan detil-detil yang kau rekam di ingatanmu dengan teliti. Kau dan dia sama sekali tak bisa dihentikan. Meja oval menjelma menjadi arena pertempuran. Tak ada yang ingin surut langkah, baik kau terlebih dia. Kalian bertarung sejadi-jadinya dengan perhitungan, argumen, dan data-data yang tumpah ruah di atas meja. Kita sama-sama tahu, ini bukan lagi sekadar perdebatan, namun telah menjelma menjadi pertikaian.

 

Hari telah beranjak sore, satu per satu orang-orang di ruangan bergerak-gerak gelisah. Kursi berderit-derit pelan, peluh merayap di kening-kening, dan bias cahaya meredup di kaca-kaca jendela berukuran raksasa. Suara-suara kau dan dia mulai melemah. Kalian mulai kehabisan amunisi. Sesaat menuju padam. Setiap nyala memang akan mengalaminya, kan?

 

Kau terhenyak di kursimu, sedangkan dia menatap kosong pada orang-orang yang diam-diam mengucap syukur dalam hati. Akhirnya… Ingin rasanya aku menepuk-nepuk pundakmu lalu mulai mengomelimu. Namun, kusut yang berjejalan di wajahmu menegaskan keletihan tak terkira. Pun dia yang kemejanya telah bersimbah keringat.Kalian benar-benar menuntaskan segalanya sore ini.

“Selesai untuk hari ini.”

 

Suara itu menggema bagai keajaiban. Hembusan nafas lega bergemuruh seperti suara aplaus di akhir pertunjukan. Selesai sudah. Kursi-kursi berderit. Satu per satu berpamitan dan meninggalkan arena pertikaian, meninggalkan aku, kau dan dia. Babak baru akan segera dimulai.

“Maafkan aku…”

“Tidak… akulah yang harus minta maaf.”

 

Kalian berdiri, mendekat lalu bersalaman. Sementara bunga-bunga mekar di udara, aku berubah menjadi lalat pengganggu yang beringsut pergi. Ketika pintu tertutup di belakang punggungku, aku yakin parasmu sedang merona bahagia. Sumringah.



 

Saatnya pulang. Aku membereskan buku dan kertas yang berserakan di atas meja sambil berharap bisa melarikan diri darimu. Namun, kau lebih sigap. Kau menyeringai di depanku dan mengajakku pulang bersama. Kita memasuki lift tanpa bicara. Lift penuh. Sesak. Aroma lily menguar dari tubuhmu. Sepertinya, kau baru saja menyemprotkan parfum sebelum pulang.

 

Orang saling mengucapkan salam perpisahan. Langkah kita kembali menyusuri kotak-kotak persegi yang beraroma cerita hari ini. Kita tiba di pekarangan renta lalu saling melambaikan tangan. Di sinilah kita berpisah. Entah besok akan berjumpa atau tidak, gedung ini akan selalu menanti kita, seperti hatiku yang masih menanti kehadiranmu.

Tag:
Ditulis oleh Fitri Manalu

Penulis Kumcer Sebut Aku Iblis (Sibuku Media, Desember 2015) dan Novel Minaudiere (Kobar-Sa Media, Februari 2017) serta peraih “Best in Fiction” pada Kompasiana Award 2016. Puisi dan cerpennya termuat di sejumlah antologi bersama dan media massa. Aktif di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Kini tinggal di Medan.