Telinga Ini Saya Pinjam Jejeran Buku (Illustrasi) - Terkait Tampilan penuh

Telinga Ini Saya Pinjam

Ia baru saja datang. Lebih lama satu jam dari saya yang sudah duduk di meja ini sejak pukul sembilan. Saya tidak mengenalnya. Pengunjung yang ramai, buat saya harus berbagi meja dan secara tidak langsung menjadikannya tamu—yang tak ditunggu, juga tak diundang. Duduk berjarak satu kursi dari samping.

 

Tak ada yang istimewa. Kedatangannya tidak buat mata saya sampai mengeluarkan ekor yang mengikutinya. Apalagi mencuri pandang. Saya tidak merasa ada yang harus saya ambil diam-diam dari kedatangannya yang tiba-tiba. Mata saya tetap berpaku pada laptop yang dipenuhi artikel sebuah portal pendidikan jomblo terkemuka. Beberapa tulisan saya dimuat di sana. Kata-kata, memang seringkali lahir dari kesendirian yang mengawini sepi.

 

Konsentrasi saya dibuat buyar oleh suara perempuan—yang baru saja datang—di sebelah. Entah apa yang ada di kepalanya hingga memutar musik dengan suara sekencang itu. Mungkin ia tak suka sunyi senyap perpustakaan. Mungkin ia terlalu sering dikoyak-koyak sepi, hingga walau terbaring dua buah buku tebal dengan jumlah halaman yang saya taksir lebih dari lima ratus itu, tak buat kepalanya ramai.

 

Sejak itu, ia mengambil alih perhatian saya.

 

Ia mencatat apa-apa yang ia baca. Menyalinnya kembali seperti merajut kenangan. Pelan dan takzim. Mungkin ia melakukannya sembari mengingat-ingat potongan masa lalu—entah pelajaran di kelas, obrolan dengan seseorang, atau gelombang bunyi yang tertangkap telinga—sebab, beberapa kali ia menengadah dengan pensil mengetuk jidat dan, mengangguk tanpa ritme yang jelas. Tak jarang ia tersenyum disela anggukan seperti seorang anak kecil yang kembali ingat di mana ibunya menyimpan cokelat. Tanpa sadar, saya mengikutinya. Bukan karena aneh, ia justru terlihat menggemaskan. Mirip pacar saya yang jauh di seberang.

 

Seorang petugas perpustakaan menegurnya dan segera ia mematikan musik yang diputar. Garukan di kepalanya, yang saya rasa bukan karena gatal, menyertai senyum malu memohon maaf pada petugas itu. Saya masih menatapnya dan makin menggila. Sialnya, ia memergoki dan menyimpul pelangi di bibir yang dikulum.

 

Dari percakapannya dengan petugas perpustakaan, saya tahu ia berasal dari kota ini, namun kuliah di Jakarta dan mengambil jurusan farmasi. Itu tidak mengherankan karena dua buku yang kaku di hadapannya sudah jadi petunjuk jalan. Sejak kepergok tadi, mata saya kembali menatap layar. Hanya saja, telinga saya rutin mencuri dengar. Hal terakhir yang tertangkap, adalah suara gesekan sepatu dengan ubin yang menjauh dan membuat kepala saya menoleh.

 

Ia berjalan menyusur rak. Rak-rak buku yang menjadi lapis kedua dinding ruangan membuat setiap geraknya mudah saya ikuti. Mata dan jarinya menjelajah dari satu buku ke buku lain, dari satu baris ke baris lain, dari satu rak ke rak lain. Seperti sedang membaui teritori, ia mengamati tiap jengkal daerah yang dilewati. Mungkin ini bukan hal baik untuk Anda dengar, hanya saja selain memerhatikan wajahnya dari samping, mata saya ikut tualang ke wilayah lain. Seputar dada yang kemudian saya acuhkan karena merasa kurang nyaman ketika mendengar suara seorang anak kecil lepas dari tangan ibunya, masuk ke dalam ruangan.

 

Saya tidak benar-benar yakin tentang siapa yang seharusnya merasa kurang nyaman. Sebagian besar lelaki melakukannya. Tidak, saya tidak sedang mencari alibi. Andabisa mencari artikelnya di internet. Itu perihal psikologi. Hal yang sejak kecil tertanam di benak kami.

 

Langkah kakinya mendekat, sambil menjinjing sebuah buku yang mungkin saja jadi tujuannya mengembara rak. Rasanya, saya ingin menarik perkataan di awal; ia menarik, jauh lebih menarik jika dilihat dari depan. Manik cokelat dalam bola matanya yang dilapisi kacamata berframe hitam seperti sebuah lukisan pemandangan alam yang dibingkai Tuhan. Saya tidak bisa jatuh lebih jauh dari helai rambutnya yang sesat di jidat. Bibirnya mungil, bak nastar keju yang biasa ibu buat.

 

Ia tak menjatuhkan bokongnya di tempat semula, melainkan berpindah di samping saya. Sebisa mungkin, saya berpura fokus pada laptop, tak menoleh padanya barang sesenti. Ia berdehem. Sungguh basa-basi paling basi, batin saya. Buku bersampul hijau itu dibukanya, perlahan. Sambil membolak-balik halaman, ia memindahkan buku catatannya agar tepat di hadapan.

 

Anda tahu, rasanya berpura dalam jarak yang sedemikian dekat itu sangat menggelikan? Saya merasa seperti sepasang kekasih yang ingin mengakhiri hubungan namun enggan memulai duluan. Sepasang kekasih yang saling tahu keburukan masing-masing dan ingin kembali menjadi asing. Saya berpura, isi kepala berpesta.

 

Saya memberanikan diri menyapa, setelah sebelumnya mencuri pandang pada buku catatan yang ia bawa. Tulisanmu bagus, kata saya. Bukan awal yang baik untuk memulai sebenarnya. Seharusnya, saya bisa bertanya tentang buku yang ia baca atau berpura tahu buku dalam tatapannya. Tak ada lelaki paling tahu selain mereka yang berhadapan dengan wanita dalam rasa menggebu. Biasanya begitu.

 

“Terima kasih,” jawabnya sambil tertawa kecil.

 

Bisa dipastikan, ia mengganggap saya konyol. Obrolan aneh yang jauh dari banyol. Untungnya, ia bertindak sebagai pahlawan. Memutus hening panjang di antara kami dengan kembali bercakap. Ia menanyakan bagaimana buku-buku di sini karena ini kunjungannya untuk pertama kali. Saya menjelaskan ala kadarnya karena lebih sering datang untuk membaca roman atau meminjam fasilitas internet. Percakapan basa-basi pun kembali muncul saat saya menanyakan ihwal kuliahnya dan ia mengajukan pertanyaan yang sama.

 

Dari percakapan yang kaku itu, saya tahu ia pembaca roman yang tekun. Hanya saja lebih pada cerita populer yang menye-menye dari jatuh-patah hati.

 

“Jatuh-patah hati, selalu mampu bereinkarnasi dari satu cerita ke cerita lain. Seperti tidak mati, abadi,” kata saya.

“Kalau hal-hal seperti itu mati, neraka menjamur di bumi.”

 

Ia, yang batu di depan buku, mencair. Memindah ulangan kalimat yang ia baca kuat, lewat ujung pensil ke catatan warna-warni.

 

Tak jelas dari mana datangnya, seorang anak kecil hadir di antara kami. Anak kecil itu muncul bak lahir dari rahim, kepalanya menyembul, kemudian disusul tangannya yang mencoba meraih benda-benda atas meja. Seperti seorang ibu, perempuan itu mengangkat dan memangku anak kecil itu.

 

“Aku suka anak-anak,” katanya sambil tersenyum.

“Semua wanita akan suka anak-anak, pada akhirnya,” tukas saya.

“Ya, pada akhirnya,” katanya sambil meladeni anak itu yang selesai mencoret buku catatannya, lantas turun dan hilang di antara meja-meja,” karena kewajiban mereka.”

“Karena kewajiban mereka,” ulang saya sedikit lebih pelan.

 

Kami lantas bercerita panjang lebar, luas percakapannya sampai menyentuh perihal jatuh-patah hati yang sebenarnya. Sampai di detik itu, ia menjadi dominan.Saya hanya mengangguk untuk menyetujui ucapannya dan mengangkat bahu bila kurang paham.

 

Ia berkisah tentang dirinya, masa lalunya, terutama mantan pacarnya yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Mimiknya berubah melankolis, meski kadang-kadang tertawa untuk menutupi lukanya. Perempuan memang lihai untuk masalah itu.

 

Dalam beberapa kesempatan, saya ingin memotong bicaranya, menyatakan simpati dan  mengaku pernah melakukan hal sama dan menyesal, juga tahu bagaimana sakitnya. Namun saya urungkan karena teringat akan Tamina, pelayan kafe kelahiran Praha, salah satu tokoh Milan Kundera di Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Seorang wanita cantik, juga seorang pendengar yang baik.

 

Saya ingin meneladaninya, dengan tidak menyela seorang pemborong cerita yang memiliki semangat juang juru dongeng. Saya tidak akan berkata “Ya, sama seperti saya, saya…” dan terus bercerita tentang diri saya sendiri. Kemudian teman bicara saya akan menunggu kesempatan yang sama untuk melakukannya. Dibeberapa bagian, saya paham, terkadang hidup adalah perkara mencari telinga. Bukan karena seseorang harus bercerita, tapi karena ia butuh didengar. Mungkin itu alasan beberapa orang menulis novel tentang kisah hidupnya.

 

Akibat cerita perempuan itu, dan dalam upaya meneladani Tamina, kelebat masa lalu saya pun turut hadir dalam kepala. Saya tetap menatap mata perempuan itu dan memberi sedikit gerakan sebagai tanda masih menekuninya, tapi pikiran saya jauh melayang ke mana-mana. Saya tidak meratap kesalahan terdahulu, atau menghakimi diri sendiri dengan merasa pandir. Sebab saya percaya, jatuh-patah hati adalah titik balik yang mendewasakan, bagi mereka yang mau belajar.

 

Ia menyelesaikan ceritanya dengan tawa dan sesekali mengetuk meja.

 



“Sungguh hari yang aneh!” katanya masih dengan tawa, mungkin berusaha menutupi kagoknya. Ia mengemaskan barang-barang setelah mengintip ponselnya yang tertimpa buku catatan. “Aku harus pergi.”

 

Punggungnya menjauh, dan saya masih hidup dalam tempurung kepala saya sendiri. Saya tidak lagi berharap ia akan berbalik, menyebut nama dan memberikan nomor whatsApp atau pin BB-nya. Saya justru teringat pacar saya di Yogyakarta, satu jam empat puluh lima menit jaraknya bila menggunakan pesawat dari kota ini. Sebagaimana yang tertera di portal penjualan tiket pesawat online. Saya merasa malu karena pikiran yang muncul saat pertama perempuan itu menarik perhatian. Hampir saja, saya tidak belajar dari pengalaman.

Terima kasih telah meminjami saya telinga, semoga Anda ikut meneladani Tamina dengan tidak berkata “Ya, sama seperti saya, saya…” selama saya bercerita.

 

Pontianak, Juni 2015

Tag:
Kristiawan B.
Ditulis oleh Kristiawan Balasa

Pekerja Teks Komersil

Tinggalkan komentar

4 × dua =