Topbar widget area empty.
Rumah yang Terlupakan Siluet anak perempuan (Illustrasi) Tampilan penuh

Rumah yang Terlupakan

Akhirnya, setelah upaya sungguh-sungguh dilakukan, memaksa kuat-kuat mata ini  terbuka lebar, akupun dapat melihatnya. Ya, dari bentuknya, dia seorang gadis kecil. Tubuhnya hanya dibalut kain putih sepanjang mata kaki. Rambutnya panjang tergerai sampai punggung. Langkahnya pelan dan gemulai, seperti diatur dan diperhitungkan dengan baik. Dia terus melangkah menuju aku.

Siapa dia?

Mengapa menghampiri aku?

Aku masih terbaring. Kepala ini terus berusaha tetap mendongak. Aku melihat langit. Sama sekali tidak ada awan di sana. Meski ada matahari, sungguh tidak terasa sampai memanggang tubuh ini. Bahkan udara terasa sangat sejuk. Kuluruskan kepala, sehingga pandangan sejajar dengan hamparan rumput hijau. Aku coba meneliti. Rupanya ada banyak pohon di sini. Tempatnya terpisah-pisah. Pohon-pohon itu rimbun daunnya. Dipenuhi buah yang tidak aku tahu jenis buah apa. Tapi aneh, sama sekali tak kulihat rumah di sini.

Lalu dari mana dia muncul?

Sedang ada di mana aku ini sebenarnya?

Dia semakin dekat. Aku coba bangkit dengan sisa tenaga yang ada. Aneh. Kenapa tubuhku begitu lemas? Sumpah, untuk duduk saja susahnya minta ampun! Tapi akhirnya aku bisa duduk dengan kaki berselonjor. Dia membawa sesuatu di lengan kanannya. Sepertinya sebuah keranjang mungil. Di keranjangnya itu berisi bunga-bunga. Sepertinya kumpulan bunga mawar. Warna-warni. Akhirnya dia sampai juga kepadaku. Duduk di sampingku. Keranjang mungil itu diletakkan di atas rerumputan.

“Sudah lama aku menunggumu,” ujarnya  tiba-tiba.

Bingunglah aku. Dia memang menunggu kehadiranku. Sudah lama pula. Apa maksudnya?

“Apa ibu tak pernah menyampaikan pesanku kepadamu?”

Pesan? Pesan yang mana? Mengangalah mulutku. Tidak paham apa maksudnya.

“Aku selalu menunggu di depan rumah, tapi kau tak datang-datang.”

Rumah? Rumah yang mana? Duh Gusti, berilah hambaMu ini petunjuk. Aku sama sekali tidak paham apa maksud gadis ini.

“Apa kau sudah melupakan aku?”

Dia bertanya lagi. Lalu  aku harus menjawab apa?

Dia meraih keranjang mungilnya. Lalu dengan gemulai tangannya mengambil satu bunga berwarna biru. Bunga itu diciuminya berulang-ulang.

“Dulu, kau sering memetikkan bunga untukku.”

Gadis ini benar-benar berhasil membuat aku menjadi bodoh. Seperti katanya, aku sering memetikkan setangkai bunga untuknya. Tapi kapan?

“Dari tadi kau hanya diam saja. Apa kau benar-benar sudah lupa padaku. Coba kau pandang baik-baik wajahku.”

Sesuai perintah, maka aku lakukan itu. Kupandangi wajahnya baik-baik. Meneliti  dari segala sisi. Namun sebaik apapun aku berusaha, akhirnya jatuh pada kegagalan ingatan. Apakah aku sudah amnesia?

“Dia menyuruh aku menemuimu di sini.”

Dia? Siapa? Tidak ada orang di sini selain kami.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja. Aku lihat dari kau kebingungan. Lihat, di sana ada pohon yang buahnya lebat. Kau harus merasakan buah itu. Apa kau mau mencobanya?”

Aku mengangguk dan menurut saja. Kami berdua berdiri bersamaan dan kemudian berjalan beriringan. Saat sampai di tujuan, dia memadang ke arah rerimbun buah berwarna merah dan berucap, “Jatuhlah.” Jatuhlah satu. Aku hanya bisa terperangah.

“Makanlah buah itu,” perintahnya. Aku melahapnya dengan cepat. Rasanya sangat lezat.

“Apa masih kurang?”

Aku mengangguk.

“Jatuhlah lagi.”

Buah jatuh lagi. Tanpa diperintah, aku melahap buah itu.

“Kelak, jika berjodoh, kau akan makan buah ini sepuasnya,” ujarnya. Ah, lagi-lagi dia membuat aku bingung. Sesaat kemudian, karena perut sudah kenyang, tiba-tiba aku mengantuk. Berat rasanya mataku untuk tetap terbuka.

“Tunggu, jangan tidur dulu. Aku ingin bicara padamu.”

Dia meminta dan aku tidak bisa menolaknya. Lalu kami duduk di bawah pohon. Menikmati udara yang lembut menyentuh pori-pori.

“Kau pasti terheran-heran dan bertanya-tanya, tempat apa ini sebenarnya.”

Aku mengangguk.

“Mereka, teman-teman sebayaku, menamainya tempat bermain anak-anak. Penghuni tempat ini semuanya anak-anak. Usia kami semua sama.”

“Lalu kau siapa?” Aku pun terdesak untuk bertanya.

“Aku tahu kalau kau akhirnya akan bertanya seperti itu. Aku Nayla! Akulah balita yang dulu membuat hidupmu bersedih.”

Sontak aku terkejut, benar-benar terkejut. Bersamaan dengan disebutnya nama, maka semua ingatan menyembur dari dalam kepalaku. Ya, semua ingatan tentang dirinya.

“Jadi kau anakku?” tanyaku sungguh-sungguh.

Dia menganggukkan kepala, “Benar.”

“Apa ini mimpi?”

“Kenapa kau jarang ke rumahku sekarang?”

“Apa kau memiliki rumah?”

“Dulu, setiap hari Jumat, kau datang ke rumahku. Membawa sekeranjang bunga warna-warni lalu ditaburkan di halaman rumahku. Tapi lama-kelamaan, sejak lahir penggantiku, kau jadi melupakan aku. Aku sebenarnya rindu padamu dan juga ibu.”

Ucapannya itu langsung menyerang ulu hatiku. Limbunglah aku seketika. Deraslah pula air mataku mengguyur pipi.

“Maafkan aku, Nayla. Tak secuil pun ada niat untuk melupakanmu. Aku kira, dengan mengirimimu doa dari rumah saja itu cukup bagimu. Demi Tuhan, aku selalu rindu kepadamu. Ibumu apalagi. Janganlah kau berburuk sangka pada kami. Di hati kami, kau tetap tidak tergantikan.”

Dia rebahkan kepalanya ke pahaku. Aku berbicara tak terkendali.

“Aku memang ayah yang gagal menyelamatkanmu dari kematian. Dokter-dokter yang cerdas dan berpengalaman itu tidak bisa berbuat banyak atas penyakit yang kau derita. Akhirnya aku meyakini kalau Tuhan lebih menyayangimu daripada aku. Aku tidak bisa membayangkan, jikalau kau sembuh, lalu tumbuh dengan kaki hanya tinggal sebelah, pasti itu akan sangat menyakitimu. Aku kira, aku atau ibumu, juga tidak akan sanggup menerima kenyataan itu. Aku bersyukur Tuhan lebih menyayangimu dan memberi kesembuhan maha sempurna untukmu seperti yang kau rasakan sekarang ini.”

Dia bangkit, lalu tersenyum kepadaku.

“Aku bangga pada ayah. Kau tidak pernah merasa letih merawatku. Meski aku sering rewel karena deraan penyakit itu, kau tetap tersenyum dan tetap tenang menghadapi kenyataan. Aku bangga kau akhirnya bisa ikhlas melepas  aku.”

“Apa kau kesepian di sini?”

“Tidak. Setiap hari kerjaku hanya bermain-main saja bersama mereka.”

“Lalu kenapa kau mengajak aku ke tempat ini.”

“Sudah kukatakan tadi, aku rindu padamu. Suatu saat, aku juga akan mengajak ibu ke tempat ini.”

Dia terus berbicara tapi suaranya timbul tenggelam di telingaku. Seperti semakin menjauh. Terus menjauh. Entah kenapa, aku tiba-tiba mengantuk berat, dan seakan mata tak kuasa lagi menahan. Maka dengan sangat pelan sekali, akhirnya sempurna menutup. Lamat-lamat, aku masih bisa mendengar suaranya. Suara yang seperti menggema di gendang telinga. Suara yang sepertinya dilontarkan dari tempat yang begitu jauh. Tapi lama-lama, ada suara lain menindih. Suara itu mulanya sangat kecil. Tapi lama-lama mengeras. Terus mengeras, sehingga menjadi jelas. Suara itu sepertinya memanggil-manggil namaku. Ya, benar, memanggil namaku dan  seolah memaksa mata ini agar segera terbuka. Suara itu sangat aku kenal. Benar sekali, aku mengenalnya. Tunggu, ada yang mengguncang tubuhku sekarang. Sepertinya ada yang sangat ingin membuat aku terjaga. Guncangan semakin terasa kuat, terus dan terus, hingga akhirnya, dengan pelan-pelan mata ini terbuka. Tanpa terkendali mulut meneriakkan nama: “Nayla!”

Saat aku membalikkan wajah, ternyata  bukan.  Wajah yang ada di sampingku, adalah wajah Nalia, istriku.



“Sudah Subuh. Shalat sana, gih. Jangan sampai telat lagi.”

Aku bangkit dan duduk. Tak kunjung beringsut dari kasur. Sebelum meninggalkan kasur, aku ceritakan semua yang terjadi dalam tidurku pada Nalia. Tak butuh waktu lama untuk membuat dia menitikkan air mata. Aku yakin, di kepalanya juga mulai bermuculan kenangan tentang Nayla. Kenangan tentang Nayla tidak akan pernah terhapus dari ingatan kami berdua.

Paham. Ya, aku mulai paham sekarang. Apa yang dimaksudkan Nayla tentang rumah adalah kuburannya. Tidak becus. Aku memang ayah tidak becus dan sering lupa pada hal yang sebenarnya akan membuat Nayla bersedih. Dulu aku memang suka mengunjungi kuburannya setiap hari Jumat, sehabis shalat Subuh. Tapi karena kesibukan yang terus-menerus membuat waktu semakin sempit, aku jadi melupakan kebiasaan itu.

“Jumat depan, kita sama-sama ke kuburannya,” kata Nalia sembari menghapus air mata. Aku menggangguk dan pada saat bersamaan giliran aku yang menitikkan air mata.

 

Asoka, 2017

Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep