Skripsi Setumpuk buku (Illustrasi) Tampilan penuh

Skripsi

Kasman tidak berbicara dengan Tegar, anaknya, hampir tujuh tahun. Kasman tahu itu tidak baik, tetapi ia melakukannya agar anaknya jera. Martinah, istri Kasman, menjadi penengah. Kasman berbicara pada Martinah, lalu si istri menyampaikannya pada si anak, demikian sebaliknya.

 

“Katakan pada anakmu, segera garap skripsinya,” kata Kasman pada Martinah, usai pulang mengajar.

“Kamu sudah katakan itu berkali-kali dan sudah kusampaikan pada Tegar berkali-kali pula, Pak,” sahut Martinah sembari menyiapkan hidangan di meja makan.

“Anakmu menjawab dengan jawaban yang sama pula?”

“Ya, Pak,” Martinah mengangguk. “Tegar belum sempat. Masih ada kepentingan masyarakat yang harus dia dan teman-temannya selesaikan.”

“Kepentingan masyarakat?” Kasman mencibir.

“Tegar itu aktivis, Pak. Bapak tahu itu.”

“Ya, ya,” sahut Kasman menarik kursi, lalu mendudukinya. “Anakmu itu aktivis. Tugasnya mengurusi kepentingan masyarakat, mengabaikan skripsi. Punya anak satu saja susah diatur.”

“Sabar to, Pak.”

“Terserah kaulah!”

Sejak dulu, Kasman selalu berbeda keinginan dengan Tegar. Kasman ingin mengajari Tegar bermain sepak bola, tetapi si anak lebih memilih membaca buku. Kasman ingin mengajak Tegar ngobrol tentang olah raga, tetapi si anak lebih suka bicara politik.

 

Kasman ingin selepas SMA Tegar masuk PGSD agar bisa menjadi guru SD seperti dirinya, tetapi si anak memilih jurusan Administrasi Publik. Jurusan aneh apa itu? Berhari-hari mereka beradu argumen pada pilihan masing-masing.

 

“Lulusan PGSD itu jelas prospeknya. Sekolah Dasar ada di mana-mana. Lihat desa kita, ada dua SD. Desa tetangga ada lima SD. Masa depanmu terjamin,” kata Kasman.

“Memilih jurusan itu harus sesuai minat, Pak. Prospek bisa diciptakan bila kita mampu menciptakan peluang,” sahut Tegar.

“Itukah yang kau dapatkan dari buku-buku politikmu? Menciptakan prospek?”

Tegar mengangguk. “Bukan hanya itu, Pak…”

“Sudah! Pusing aku berdebat denganmu. Kau ikut keinginan Bapak atau tidak jadi kuliah. Terserah kau!”

 

Ancaman Kasman gagal meruntuhkan semangat Tegar. Tegar menjual motornya untuk mendaftar kuliah sesuai jurusan pilihannya.

“Anak tak tahu diri. Berani benar dia menjual motor tanpa seizinku!” kata Kasman meradang.

“Sudahlah, Pak. Tak baik marah-marah terus. Ingat jantungmu, Pak. Seharusnya kita bersyukur punya anak yang kukuh pada pendirian. Zaman sekarang, sulit menemukan anak seperti Tegar,” sahut Martinah.

“Mulai sekarang aku tak sudi bicara dengannya. Kau urus sendiri anakmu itu!” sergah Kasman.

 

Di tempat kerja, perangai Kasman berubah; mudah marah dan murid-murid takut padanya. Kepala Sekolah memanggilnya dan meminta Kasman menceritakan permasalahannya. Kepala Sekolah mengangguk-angguk, lalu berkata. “Saya dapat info, pemerintah akan mengeluarkan aturan bahwa sarjana dari semua jurusan bisa menjadi guru.”

“Bagaimana mungkin, Pak?” tanya Kasman.

“Mungkin saja, Pak. Syaratnya harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru atau PPG, setelah itu bisa menjadi guru.”

“Jadi, Tegar bisa menjadi guru?”

 

Kepala Sekolah mengangguk dan tersenyum.

 

Hari-hari berikutnya, Kasman kembali pada perangai semula; ceria dalam mengajar dan murid-murid kembali menyukainya. Dan, setiap tanggal muda Kasman menyisihkan beberapa lembar rupiah dan memberikannya pada Martinah.

“Kau berikan pada anakmu. Kau suruh dia rajin belajar,” kata Kasman.

“Mengapa bukan Bapak saja yang berikan langsung pada Tegar?” sahut Martinah.

“Sebelum dia menjadi guru, aku tak akan bicara padanya.”

Martinah mendesah.

“Bapak dan anak sama saja. Sama-sama keras kepala!”

Lima tahun menanti terasa sia-sia bagi Kasman. Kasman tiada henti bertanya pada Martinah perihal perkembangan Tegar. Martinah mengabarkan bahwa sebentar lagi Tegar akan lulus.

“Tinggal bikin skripsi,” kata Martinah.

“Aku tak pernah melihat anakmu bikin skripsi,” sahut Kasman.

Martinah gugup.

“Beberapa hari anakmu tidak pulang. Kemana dia?” tanya Kasman lagi.

Martinah makin gugup.

“Anakmu pergi bersama teman-temannya? Mengurusi kepentingan masyarakat? Demo lagi?” kata Kasman.

Martinah tak bisa menyimpan rahasia lagi. Ia mengambil koran dari ruang tamu dan menunjukkannya pada Kasman.

“Lihatlah, Pak,” kata Martinah tersenyum bangga. “Ada foto Tegar di halaman depan.”

Kasman melihat sekilas koran itu.

“Suruh anakmu untuk secepatnya garap skripsi atau keluar dari rumah ini!”

Kesabaran Kasman sudah terlalu dalam dan ia tak sanggup lagi menggalinya. Hampir tujuh tahun Kasman merindukan hadir dalam wisuda anaknya, tetapi kapan?

“Sudah cukup! Malam ini juga anakmu harus keluar dari rumah ini!” kata Kasman menahan marah di kamar, menjelang tidur.

“Ssst. Jangan keras-keras. Jangan ganggu Tegar. Tegar sedang bikin skripsi,” sahut Martinah menyilangkan jari di bibir.

“Kau jangan menipuku lagi,” kata Kasman merendahkan suaranya.

“Tidak, Pak. Lihat ini,” sahut Martinah mengeluarkan selembar kertas dari laci lemari pakaian.

“Apa ini?” tanya Kasman.

“Surat teguran dari kampus. Kalau semester ini Tegar belum lulus, dia akan kena DO, dikeluarkan dari kampus.”

“Sungguh, anakmu sedang bikin skripsi?”

“Ya, Pak. Sungguh!” Martinah menatap lekat-lekat Kasman.

Kasman menghela napas, memejamkan mata dan mengucap, “Alhamdulillah.” Setelah itu ia mengambil brankas kecil dari bagian bawah lemari pakaian. Memutar sejumlah kode rahasia, membuka brankas itu dan menghitung beberapa lembar uang.

“Berikan pada anakmu. Belilah buku-buku yang dia perlukan dan cepat selesaikan skripsinya,” kata Kasman.

Mata Martinah berkaca-kaca, lalu mencium tangan Kasman.

“Terima kasih, Pak. Terima kasih.”

Kasman terjaga dari tidur ketika merasakan sentuhan ringan di bahunya. Kasman menggeliat dan membuka mata. Di depannya berdiri Tegar dan Martinah.

 

Tegar segera merendahkan tubuh dengan bertumpu pada kedua lutut, lalu memeluk Kasman yang duduk di tepi ranjang.

“Maafkan Tegar, Bapak.  Tegar salah, sudah mengecewakan Bapak,” suara Tegar terdengar tersendat.

Kasman tertegun dan diam. Kasman melirik Martinah dan si istri menjawab dengan anggukan. “Bicaralah, Pak. Semua harus berakhir hari ini. Tak ada perang dingin lagi,” Martinah berbisik.

Kasman tampak ragu, tetapi kemudian ia menyentuh bahu Tegar dan berkata, “Bangunlah, Nak.”



Tegar melepas pelukan dari tubuh Kasman. Mata Tegar basah dan hal itu melelehkan kebekuan di hati Kasman.

“Maafkan Tegar ya, Pak? Tegar janji, setelah lulus kuliah, Tegar akan mendaftar PPG. Tegar akan menjadi guru,” kata Tegar mengusap mata dengan punggung tangan.

Kasman tertegun, diam beberapa saat, tersenyum lalu berkata, “Tidak, anakku. Kejarlah cita-citamu, bukan cita-cita Bapak.”

Martinah terharu melihat peristiwa itu; matanya telah pula basah. Lalu dia berkata, “Sebaiknya kita segera berwudlu. Sudah lama kita tidak salat subuh berjamaah.”

“Ibumu benar,” Kasman menyahut dengan suara lembut. “Sudah lama kita menjauh dari Tuhan. Kau yang jadi imam ya, Nak?”

 

Sebelum mereka menuju tempat wudlu, Tegar kembali memeluk Kasman erat-erat. Kali ini disertai tangis; tangis bahagia seorang anak yang sekian lama kehilangan kebahagian karena skripsi.

Ditulis oleh Sulistiyo Suparno

    Lahir di Batang 9 Mei 1974. Gemar menulis cerpen sejak SMA. Cerpen-cerpennya tersiar di Sumut Pos, Radar Lampung, Analisa, Nova, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Radar Surabaya, Radar Bromo, Banjarmasin Pos, basabasi.co, apajake.id, malangvoice.com, floressastra.com, dan media lainnya. Pernah pula menerbitkan novel remaja Hah! Pacarku? (Elexmedia, 2006). Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.