Togel Coretan angka-angka di kertas (Illustrasi) Tampilan penuh

Togel

Amang Lottas. Demikian orang kampung memanggil lelaki bergigi boneng itu. Kerjanya tiap hari berkutat dengan angka-angka. Semua kedai tuak telah ia sambangi. Namun kedai tuak Pak Kabuyut yang buatnya merasa betah. Katanya, di kedai tuak itu ia mendapat ilham angka jitu. Di kedai itu pula ia masih diakui untuk berutang.

 

“Ikutlah ke ladang. Rumput sudah mencekik batang ubi kita.” Ujar Ramenda. Ia jengkel melihat sang suami tak pernah lepas dari kitab tafsir mimpinya.

“Pergilah sendiri. Aku juga sedang mencari uang.”

“Angka yang kamu bilang jitu itu sering meleset. Berhentilah main togel.”

 

Ramenda membanting pintu. Tidak tahu lagi bagaimana mengingatkan Amang Lottas agar berhenti main togel. Ubi mereka tumbuh kerdil karena tidak diberi pupuk. Pun anaknya si bungsu sering merengek minta sepatunya diganti.

 

“Doakan agar angka pasangan ayah menang. Uangnya akan ayah gunakan beli sepatumu.” Bujuk Amang Lottas  ketika si bungsu tak mau sekolah dengan sepatu menganga.

“Benarkah itu, ayah?”

Si bungsu langsung sumringah. Ingusnya keluar karena habis menangis.

“Jangan percaya sama ayah. Doa pemain togel tidak akan dikabulkan Tuhan.”

 

Martogap, anak paling sulung menarik tangan adiknya. Ia tidak suka melihat kelakuan ayahnya yang tidak mau bekerja itu.

Belum sepenuhnya pagi. Amang Lottas mengguncang tubuh anaknya. Setiap hari selalu begitu. Pantat mereka akan dipukul bila tidak segera bangun.

 

“Apa mimpimu, Nak? Ceritakan sama ayah.”

Amang Lottas menepuk-nepuk pipi si bungsu agar segera membuka mata.

“Kalau menang, ayah akan beli sepatumu.” Lanjut Amang Lottas terus mengguncang tubuh anaknya. Karena merasa terganggu, si bungsu langsung menangis. Amang Lontas membekap mulut si bungsu. Ramenda akan marah bila tahu kelakuannya.

“Jangan menangis. Tidur sana. Ayah tak akan tanya mimpimu lagi.”

 

Amang Lottas menatap punggung Martogap yang tengah tidur telungkup. Ia tahu kalau anak sulungnya itu membenci dirinya. Amang lottas belum beranjak dari tempat tidur. Ia harus mendapatkan sebuah mimpi. Barangkali Martogap punya mimpi yang bisa dijadikan uang.

“Bangun, Nak! Ayah mau bicara.”

 

Amang Lottas memaksakan diri mengguncang tubuh anak sulungnya dengan hati-hati. Martogap bangun sembari mengucek-ucek mata. Ia tahu maksud ayahnya mengapa membangunkan dirinya.

 

“Ayah mau tanya mimpiku?”

Amang Lottas langsung mengangguk.

“Coba ceritakan mimpimu itu pada ayah.”

“Aku bermimpi ayah mengejar-ngejar Si Nova…”

“Nova yang mana?”

Amang Lottas memotong cerita Martogap. Di kampung mereka ada tiga orang bernama Nova. Pertama, Nova janda kembang penjual jamu gendong yang tinggal di simpang jalan. Kedua, Nova isteri Pak Haji Hanung yang gemar pakai berlian dan tas-tas bermerk. Dan yang ketiga….

“Ayah mengejar si Nova tetangga kita si banci itu.”

Wajah Amang Lontas langsung merengut. Kalau tidak ingat itu hanya mimpi, ia akan menampar mulut Martogap dianggap telah kurang ajar pada orang tua.

“Dalam mimpiku, ayah terus mengejar Si Nova. Tiba-tiba ayah terjatuh…”

Martogap memasang wajah serius. Matanya dibuka lebar-lebar. Amang Lottas semakin penasaran. Mimpi anaknya kali ini bukan mimpi biasa.

“Apa yang terjadi setelah itu, Nak?”

Amang Lottas mendekatkan wajah hingga tarikan napasnya terdengar jelas.

“Ayah terjatuh tepat pada tumpukan tahi kerbau.”

 

Martogap tertawa. Wajah ayahnya mendadak merah. Martogap telah durhaka padanya. Amang Lottas berusaha redahkan amarah. Ia teringat omongan salah seorang teman membualnya di kedai tuak. Mimpi mendapat atau tertimpa kotoran tanda keberuntungan. Ia batal menampar Martogap.

Angka 47 adalah banci. Amang Lottas memasang dua angka itu sebanyak lima puluh lembar sesuai mimpi Martogap. Andai Ramenda memberi uang lebih, ia akan memasang beberapa lembar lagi. Amang Lottas pulang diantar Pak Kontu dalam keadaan mabuk. Mulutnya bau tuak. Celana dan kemeja dipenuhi muntah. Mulutnya meracau tidak jelas. Ia ditidurkan di tikar pandan tepat di samping Martogap.

 

Ramenda menanggalkan celana dan kemeja sang suami, lalu digantikan dengan pakaian bersih. Gegas ia merendamnya. Ketika mengucek kain rendaman, ada sesuatu dalam kantong celana. Terkejut melihat puluhan lembar kertas berisi angka.

 

“Aku bisa dibunuh kalau kertas ini sampai hancur.”

 

Ramenda keluar dari kamar mandi dan segera menuju tungku masak. Lembaran kertas itu diletakkan disekitar tunggu agar lekas kering. Ia menunggu beberapa menit sambil terkantuk-kantuk. Amang Lottas bangun kesiangan. Mabuk tadi malam masih meninggalkan pening. Handphone bututnya berbunyi. Sms dari Pak Kunto. Amang Lottas terkejut campur senang membaca sms itu.

 

“Ramenda! Ke sini dulu.”

Amang Lottas berteriak.

“Kamu selalu buat masalah. Ada apa!”

Ramenda muncul dari dapur. Wajahnya cemong habis meniup api dalam tungku.

“Jangan langsung marah, Hasian (sayang)! Andai memberiku uang lebih tadi malam, pasti uang yang kita dapat semakin banyak. Aku menang togel.”

Wajah Ramenda mendadak cerah. Ia membenci suaminya main togel. Tapi kalau menang ia senang juga.

“Aku menang lima puluh lembar.”

Amang Lottas tertawa lebar membuat gigi bonengnya tampak jelas. Buru-buru dirogoh kantong celana. Lembar togelnya tidak ada dalam kantong. Ramenda menyadari suaminya kecarian.

“Aku mengganti celanamu. Kamu muntah tadi malam.”

“Di mana kertas togelku?”

“Tuh….di atas meja.” Ujar Ramenda sembari menunjuk kearah meja. Namun matanya seketika melotot. Lembar togel itu tidak ada di sana. Ramenda menghampiri meja memastikan keberadaan kertas togel suaminya. Tadi malam, setelah kertas togel kering, ia meletakkan di atas meja. Berharap, jika suaminya sudah bangun bisa langsung melihatnya. Digeser meja, mungkin angin meniupkannya hingga jatuh.

“Bila kertas itu hilang, aku akan membunuhmu.” Teriak Amang Lottas. Ia berjalan sempoyongan menuju meja. Segala tempat mereka acak-acak. Tetap tidak ketemu. Tak sengaja, pandangan Amang Lottas tertuju pada dinding pintu. Bagaimana bisa kertas togelnya menempel di sana. Ini pasti ulah anak bungsunya yang nakal. Kertas itu dilengketkan pakai lem. Bila dipaksa, kertas akan robek.

“Tanpa kertas ini, aku tidak bisa mengambil uangnya.”

Amang Lottas memeluk pintu.

“Bagaimana kalau pintunya kita lepas.”

Ramenda memberi solusi.

“Maksudmu, pintu ini kita bawa kehadapan pencatat togel itu?”

Ramenda mengangguk.

Amang Lottas dan isterinya membawa pintu rumah ke kedai tuak Pak Kabuyut. Sepanjang jalan, orang-orang menatap heran pada mereka.

 

“Pintu ini akan kami tukarkan pada pencatat togel.” Demikian jawah Amang Lottas bila ada menanyakan perihal pintu itu.

“Hati-hati kamu membawanya. Jangan mengangkat terlalu tinggi. Aku tidak bisa melihat jalan.” Amang Lottas memperingatkan Ramenda.

“Kamu kira pintu ini ringan? Kamu juga jangan terlalu cepat jalannya. Aku tidak bisa mensejajarkan langkah.” Sahut Ramenda. Pandangan mereka berdua tertutup oleh pintu. Ketika menyeberang jalan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Pintu ditabrak dan menyeretnya beberapa meter. Amang Lottas dan Ramenda terpelanting ke tepi jalan. Mereka berdua selamat. Mobil terus melaju. Pintu rumah menutup seluruh kaca mobil. Apes, mobil itu menabrak pohon mangga milik warga. Pintu rumah hancur. Demikian juga dengan mobil. Untung pemilik mobil segera melompat. Jika tidak, mungkin nasibnya akan seperti pintu itu. Remuk.

***

Amang Lottas dan Ramenda duduk di teras dengan wajah sedih. Sudah tiga hari rumah mereka tanpa papan pintu.



 

“Terpaksa harus menjual tivi untuk membayar kerusakan mobil itu.”

Amang Lottas memberi solusi. Ramenda terbungkam. Ia tidak bisa hidup tanpa tivi. Hanya sinetron yang bisa membuatnya terlelap. Kemarin, ketika mendengar suaminya menang togel, langsung membayangkan dirinya belanja pakaian dan kebutuhan rumah tangga ke pasar. Ternyata nasib berkata lain. Uang togel tidak bisa mereka dapat karena kertas bukti telah hancur bersama pintu rumah. Ditambah dengan biaya perbaikan mobil harus mereka tanggung.

“Pintu rumah kapan kita ganti?” Ujar Ramenda. Amang Lottas menggaruk kepala. Otaknya sudah tumpul. Tiba-tiba kedua anaknya muncul. Si bungsu menangis sembari menyandang tas sekolah yang sudah robek.

“Aku tidak mau berangkat sekolah sebelum sepatuku diganti.”

“Bersabar sebentar lagi, Nak! Ayah akan pasang togel nanti malam.”

Amang Lottas membujuk si bungsu agar berhenti menangis. Tapi si bungsu semakin merajuk. Ia tidak percaya lagi dengan perkataan ayahnya. Amang Lottas jadi emosi melihat anaknya tidak mau diam.

“Kalau mau sepatumu diganti, kamu harus bermimpi.” Teriak Amang Lottas sembari membanting pantat anaknya.

Dody W.M.
Ditulis oleh Dody Wardy Manalu

Penulis yang juga seorang Guru yang tinggal di Kecamatan Sosorgadong Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara