Topbar widget area empty.
Burung Hantu Owl Watches Intently Illuminated By Full Moon On Halloween Night Tampilan penuh

Burung Hantu

“Aku ingin pulang.”

Bibi memberikan sepotong gayas padaku.

“Besok. Ada hantu kalau sekarang, tuh dengar,” katanya.

 

Di sekelilingku gelap. Ada angin. Aku merasa seperti melihat hantu. Aku mendekat ke pangkuan bibi.

“Masih mau pulang?” Paman bertanya.

Aku menggeleng. Pelan-pelan kukunyah gayas itu. Paman dan bibi serempak meminum tuak dari gelas mereka. Paman bersendawa.

“Kenapa ayahnya?”

“Biasa seperti dulu itu.”

“Lagi?”

“Ya.”

“Ada saja yang merusak orang. Kalau ndak dia gitu dia sudah kaya. Tanahnya berhasil. Sapinya sekarang berapa? Lima? Enam  ya? Ya, enam sama yang baru dia beli.”

“Makanya lebih enak begini.”

 

Aku mendengar suara burung hantu. Biasanya, sebelum tidur, ibu akan bercerita tentang burung hantu itu. Kata ibu, burung itu sering datang ke rumah-rumah, mencari manusia untuk dimakan. Walaupun kita sembunyi di dalam lesung, dia pasti bisa menemukan kita.

“Biii,”

Ssssst..Sssstt..” Bibi menenangkanku. “Jangan takut. Yang penting kamu ndak minta pulang,” katanya.

“Mau kamu tinggal di sini?” tanya pamanku. Napasnya bau tuak.

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

Bibi mengelus-elus kepalaku.

“Di sini rumahnya jelek,” kataku.

Mereka tertawa. Bibi mendekapku. Hangat.

“Nanti sih kita buat rumah yang bagus, lebih bagus dari rumahmu,” katanya sambil tertawa-tawa.

“Tinggal di sini, bantu bibi pelihara sapi,” kata bibiku.

“Sapi ibu banyak di rumah,” kataku.

 

Sapi ibu mungkin ada sepuluh. Besar-besar. Gemuk-gemuk. Aku sering ikut kalau sapi-sapi itu dibawa ke kebun. Ada sapi yang paling kecil, baru lahir, katanya ibu akan memberikannya padaku.

“Aku ingin tidur sama ibu.”

“Besok kita ke sana,” jawab pamanku.

“Ndak mau.”

“Ada hantu kalau kita pulang sekarang,” kata bibiku sambil mengelus-elus kepalaku lagi.

“Tapi aku mau pulang, mau tidur sama ibu.”

“Dimakan kita sama hantu kalau kita pulang sekarang. Berani?”

“Ya, biasanya yang dicari itu anak kecil,” bibiku menambahkan.

Aku mulai terisak.

“Ndak boleh nangis, nanti hantu itu dengar.”

Aku gigit bibir. Air mataku keluar.

“Kasian ibunya anak ini.”

“Ya. Tiap hari dia ndak betah diam. Pagi-pagi dia pergi ambil air, terus masak. Siangnya dia bawa sapi ke kebun.”

“Dulu kebun Man Kadip cuma yang di rumah itu kan? Semuanya dibeli dari hasil ibunya anak ini berdagang dan pelihara sapi.”

“Semua hasil kerjanya dia. Ayah anak ini ya cuma bisa main judi.”

 

Pada saat mereka sedang berbicara, aku terus melihat kegelapan di depanku. Ada sesuatu di sana. Burung hantu itu terus bersuara seperti pada saat aku tidur di rumah. Burung hantu itu seperti berada di pohon dekat rumah bibi. Aku merasa tubuhku mengecil. Dan kepalaku penuh dengan bayangan seekor burung yang sangat besar hendak menelanku. Tubuhku bergetar.

Gde kenapa?” tanya bibi.

“Burung hantu itu mau ke sini.”

“Bawa masuk tidur,” perintah paman.

“Tidur?”

Aku menggeleng. “Ndak berani,” kataku, “Mau tidur sama ibu.”

 

Aku melihat mereka berpandangan. Lama mereka tidak bersuara. Sekarang suara burung hantu itu terdengar jauh, mungkin burung itu terbang ke dekat rumahku. Aku memejamkan mata.

 

Burung hantu itu turun ke halaman rumah, mematuk-matuk pintu sampai robek. Ketika ia melihat ibu berbaring, ia mematuk ibu dengan paruhnya kemudian membawanya pergi. Burung itu terbang membawa ibu di paruhnya. Angin tiba-tiba sangat kencang.

“Bawa Gde masuk. Angin ini.”

“Dia belum tidur.”

“Sudah.”

 

Aku melihat paman dan bibi di dekatku. Aku tiba-tiba teringat ibu. Burung hantu itu membawa ibu. “Ibu dibawa burung hantu. Ibu dibawa burung hantu, Bi. Ayo kita pulang.”

Ssssst ssst, kalau kita pulang sekarang burung hantu itu akan membawa kita juga.” Wajah paman tiba-tiba terlihat seram.

“Ibu sendiri di rumah.”

“Ada ayahmu.”

“Ayah pergi beli jajan,” kataku.

 

Aku tahu ayah pasti tidak ada di rumah sekarang. Setiap malam dia pergi. Kata ibu dia pergi cari uang. Aku tidak tahu jam berapa dia pulang. Bangun pagi, dia sudah di dekatku. Sebelum dia pergi, aku sering minta dibelikan jajan, tapi ayah selalu lupa.

 

Ibu tidak pernah berbicara kalau ayah mau pergi. Ibu juga tidak pernah minta jajan sepertiku. Hanya beberapa hari yang lalu ia bicara. Ia suruh ayah pakai parfum banyak-banyak.

 

Aku sedang bermain di halaman saat ayah pergi. Ia mengelus kepalaku dan aku minta jajan. Ayah bilang akan membawakan aku jajan yang banyak.

“Man Kadip ndak ada pikirnya sama sekali. Anaknya masih kecil masih saja begitu.”

“Ayo tidur. Besok kita pulang ambil jajan bawaan ayahmu. Kasih bibi juga ya.”



“Ndak mau.”

“Ya..ya, ndak usah, yang penting sekarang tidur.”

 

Bibi menggendongku. Aku memejamkan mata. Sayup-sayup aku mendengar suara paman dan bibi.

kaye..kayee..bunuh ayahmu nanti kalau sudah besar, De.”

“Ayo tidur, tidur.”

 

Catatan kaki:
Gayas  : ulat yang bersarang di tanah dan sering di makan sebagai teman minum tuak.
Gde     : panggilan untuk anak laki-laki.

Arianto A.
Ditulis oleh Arianto Adipurwanto

    Penulis yang lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Aktif di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat