Topbar widget area empty.
Garam Ladang Garam (Illustrasi) Tampilan penuh

Garam

Warung bakmi di tengah kota kami memang terkenal enaknya. Sudah lama menjadi langganan kami sekeluarga. Dan biasanya aku yang akan disuruh membeli bakminya. Seperti halnya malam ini, ibu yang menyuruhku.

“Beli bakmi goreng, bihun saja, telurnya dicampur dan enggak pakai garam.” perintah ibu.
“Kok enggak pakai garam?”
“Soalnya garam sekarang baru mahal. Kita harus berempati pada orang lain, biar kebagian garam.”

Aku mengangguk walaupun sebenarnya tak bisa menerima alasan ibu. Karena aku ini sebenarnya penyuka garam. Masakan akan terasa enak bila dibumbui garam sesuai takaran. Tapi aku sedih melihat kabar garam langka di pasaran sehingga harganya menjadi mahal sekarang. Sungguh ironis mengingat negara ini negara kepulauan dengan banyak pesisir pantai tapi belum mampu mencukupi kebutuhan garam rakyatnya. Berbagai alasan pun muncul seperti menyalahkan alam. Faktor cuaca yang tak menentu, terkadang panas terkadang hujan dituding biang kerok petani garam gagal panen.

“Melamun terus, kapan berangkatnya.”

Ibu menyadarkan aku dari lamunan ilmiahku. Aku segera berangkat menaiki sepeda motor.
Setengah jam kemudian, aku tiba di warung bakmi langganan. Ternyata sudah ada banyak pembelinya.

“Bakmie goreng, telurnya dicampur dan mie bihun saja.” pesanku sambil duduk mengantri.
“O ya, enggak pakai garam ya.” imbuhku.
“Lha nanti tak ada rasanya, Mas.” Si penjual menyahut.
“Tak apa-apa, Pak. Biar buat yang lain saja.”

Si penjual manggut-manggut. Sementara pembeli yang lain acuh tak acuh, mereka sudah terlalu sibuk memperhatikan ponselnya.

Akhirnya pesanan bakmiku selesai dibungkus dan dimasukkan ke dalam kresek. Kutaruh di cantelan sepeda motor. Lalu pulang ke rumah.

Belum begitu jauh, aku merasa ada janggal. Kuperhatikan kresek berisi bakmi goreng di cantelan sepeda motor sudah tak ada.

“Lho kok bakminya hilang.”
“Mungkin jatuh di dekat warung tadi.” pikirku.

Kuputuskan kembali lagi ke warung bakmi. Kutanya seorang pemuda yang kebetulan sedang duduk di dekat situ,

“Masnya lihat bungkusan mie jatuh di sini tadi enggak?”
“Ooo mie goreng yang hambar itu ya, maaf tak lihat.” Pemuda itu menjawab.

Aku langsung menaruh curiga. Ditambah lagi kulihat ada bekas bungkusan bakmi goreng di bawah tempat duduknya. Tapi aku tak mau mempermasalahkannya. Sudahlah, kuikhlaskan saja. Kulihat uang di dompet, tak cukup membeli bakmi lagi. Kutarik nafas dalam-dalam. Segera kukendarai sepeda motor. Kembali ke rumah.

Kuceritakan kejadian yang kualami tadi pada ibu.

“Itu namanya belum rezekinya makan enak.” Ibu memberi petuah.
“Sekarang Ibu mau makan apa? Kubuatkan mie instan saja ya.” Ibu menggeleng. Lalu menjawab, “Ibu mau buat sendiri mienya.”
“Ada yang bisa anakmu ini bantu, Bu?” Ibu kembali menggeleng sambil bergegas ke dapur. Hendak memasak mie instan.

Dari jauh, kuperhatikan ibu memasak mie instan. Setelah matang, ibu meniriskan mie instan. menaruhnya ke dalam mangkok. Tak lupa, semua bumbunya dicampur.

Entah karena sudah tak bisa menahan lapar atau memang buru-buru ingin mencicipinya, kulihat ibu langsung memakan mie instannya. Tapi baru beberapa sendok suapan, ibu tampak menghentikan makannya.

“Rasanya kok asin ya.” celethuk ibu tiba-tiba.

Aku yang mendengarnya lalu menghampiri ibu.
“Mungkin kebanyakkan garam, Bu.” Yu Cebret langsung menggeleng.
“Tak mungkin, garam di rumah kita sudah sebulan habis, Ibu tak punya uang buat belinya.” Selesai berkata, wajah ibu tampak sedih mengingat garam begitu penting dalam kehidupan memasaknya.

“Tapi kok bisa asin, Bu.” Aku bertanya keheranan.
“Ibu tak pernah menumpuk garam diam-diam apalagi pakai garam rahasia.” Wajah ibu tambah sedih.
“Aku tak menuduh Ibu pakai garam rahasia apalagi menumpuknya diam-diam. Aku percaya Ibu tadi hanya lupa.”
“Jadi kamu kira Ibu ini sudah pikun ya.”
“Bukan begitu, Bu. Ya sudah, aku minta maaf.” Kucium tangan ibu. Tampak ibu hanya diam.
“Boleh kulihat bungkus mie instan Ibu tadi?”

Dengan masih sedikit menyimpan rasa kesal, ibu memberikan bungkus mie yang tadi dimasaknya. Kuperhatikan seksama bungkus mie instannya. Tak ada yang salah dengan tanggal kadaluarsanya, yang masih lama. Begitu juga label halalnya, masih ada di situ. Bungkusnya juga bersih, tak ada bekas gigitan tikus, hanya ada bekas dibuka memakai gunting tadi. Tapi….

“Lho, ini kan mie instan rebus, Bu.” Kuberitahu ibu. Ia tampak kaget. Lalu merebut bungkus mie dari tanganku. Diperhatikannya seksama.
“Ooo pantesan asin, lha wong belum diberi kuah.” celethuk ibu yang baru ingat kalau yang dimasaknya tadi mie instan rebus bukan mie instan goreng.



Ibu tersipu malu.
“Maafkan ibu ya, Benar katamu, Ibu yang lupa.” Aku tersenyum menanggapinya. Lalu aku mengambil termos kecil. Menuangkan sedikit air panas ke mie instan dalam mangkuk di depan ibu. Mengaduknya sebentar.
“Nah, kalau sekarang sudah tak asin lagi, Bu.” Aku mempersilahkan ibu menyantap mie instannya lagi tapi kali ini berkuah.
“Ini baru pas.”

Yogyakarta, 2 Agustus 2017

Ditulis oleh Herumawan P.A.

    Penulis berdomisili di Pringgokusuman Yogyakarta.