Topbar widget area empty.
Penggusuran Gedung di waktu malam (Illustrasi) Tampilan penuh

Penggusuran

Halte di Jalan Rendevo penuh orang; tua, muda, lelaki, perempuan, pelajar, pekerja kantoran, dan mungkin ada pula pengangguran seperti saya. Saya mendekap tas selempang untuk mengamankan berkas lamaran di dalamnya. Konon, di halte itu kadang ada copet, karena itu mendekap barang bawaan merupakan cara yang aman. Saya melirik arloji. Masih pukul 07.30.

Saya merasa asing dengan semua orang di halte, dan menyadari kota ini semakin padat oleh orang-orang entah dari mana. Saya terkejut ketika melihat seorang lelaki tua duduk di kursi ujung sana. Ia duduk seperti patung. Saya yakin lelaki tua itu adalah Pak Kukuh.

Waktu itu saya masih kelas XII SMA. Tiap malam saya diajak Danu, anak Pak Kukuh untuk menjaga rumahnya. Tiap malam kami begadang. Saya jadi sering bangun kesiangan dan mengantuk saat di sekolah. Ayah marah melihat keadaan saya.

“Percuma kamu melawan orang berduit dan dekat dengan penguasa. Pikirkan sekolahmu!” kata ayah, yang sudah menerima sekoper uang ganti rugi. Kapan kami akan pindah, tinggal menunggu waktu saja.

“Lagi pula kampung ini sudah tidak layak untuk hunian. Bising dan padat, tak ada lagi lahan kosong untuk anak-anak bermain,” kata ayah melengkapi alasan mengapa ia bersedia melepas tanah dan rumah kepada developer.

Beberapa kali ayah mengajak saya mencari rumah untuk tempat tinggal kami nanti. Sebenarnya, saya tak mau pindah. Saya sudah nyaman tinggal di kampung lama karena dekat dengan mal, alun-alun, kantor gubernur, bioskop, dan fasilitas lainnya.

Sungguh, tiap malam saat sedang belajar, saya membayangkan sesuatu yang mengerikan menimpa Pak Kukuh dan rumahnya. Bagaimana kalau rumah Pak Kukuh dilempar molotov, anak isteri Pak Kukuh diculik, atau Pak Kukuh ditembak? Astaga!

Saya menutup buku dan menyimpannya di laci meja belajar. Pelan-pelan membuka jendela kamar, melompat ke luar, berjalan mengendap-endap melintasi halaman, lalu ketika berada di luar pagar, saya bergegas berlari.

Sampai di rumah Pak Kukuh, saya melihat kerumunan orang di halaman. Saya mencari Danu, tetapi kata tetangga, sahabat saya itu ikut mengantar ayahnya ke rumah sakit.

“Apa yang terjadi, Pak?”

“Kepala Pak Kukuh berdarah. Ada orang menghantamnya dengan tongkat,” kata Pak Jamin, seorang tetangga.

“Astagfirullah. Kapan itu, Pak?”

“Tadi, usai jamaah isya di masjid. Waktu Pak Kukuh mau pulang, ada dua orang naik motor mencegat Pak Kukuh, lalu memukul kepala Pak Kukuh pakai tongkat,” jelas Pak Jamin.

“Ya, Allah. Sadis sekali.”

“Mudah-mudahan Pak Kukuh tidak gegar otak. Kasihan Pak Kukuh kalau itu terjadi, sebentar lagi pensiun,” sahut Pak Jamin.

Kampung kami ramai. Saat itu batas akhir bagi warga untuk mengosongkan rumah. Besok, buldoser akan meratakan kampung kami. Ayah menyewa tiga mobil pick up untuk mengangkut barang-barang.

Kami menuju kampung yang baru di pinggiran kota dekat hutan karet. Dua hari kemudian saya membaca berita di koran, kampung lama saya telah menjadi kenangan. Kelak, di sana berdiri bangunan megah; apartemen 17 lantai.

Saya di sini, di halte, berdiri mendekap tas selempang berisi berkas lamaran kerja. Bus merah berstiker nomor 03 di kaca depan, berhenti di halte. Bukan bus yang saya tunggu. Orang-orang bergegas turun dan naik. Lelaki tua yang duduk di pojok halte itu belum beranjak.

Saya mendekatinya dan melihat ada pitak di kepalanya. Saya yakin seribu persen, lelaki tua itu adalah Pak Kukuh. Pitak di dekat telinga kanannya itu pasti luka bekas pukulan tongkat.

Bus merah berstiker nomor 05 di kaca depan, berhenti di halte. Bukan bus yang saya tunggu. Lelaki tua itu beranjak menuju pintu bus.

“Pak Kukuh?” tanya saya.

Lelaki tua itu terus melangkah.

“Pak Kukuh! Pak! Pak Kukuh!” saya menaikkan volume suara.  Lelaki itu menghentikan langkah di depan pintu bus, menoleh sejenak ke arah saya. Hanya menoleh. Hanya sejenak. Lantas dengan dibantu kondektur, lelaki tua itu melompat masuk ke bus.

Saat bus bergerak meninggalkan halte, saya melihat Pak Kukuh menoleh ke arah halte dengan tatapan kosong. Pak Kukuh menatap saya lekat-lekat sampai akhirnya bus itu menjauh dari halte.

Saya duduk di kursi bekas Pak Kukuh. Duduk tegak mendekap tas selempang, memandang lurus pada kehampaan. Berkelebat potongan-potongan kenangan di kepala saya. Tentang kampung lama, tentang gegar otak, tentang kuliah, ijazah, lowongan kerja, dan apartemen 17 lantai.



Klakson dua kali menyalak. Saya tersentak. Bus merah berstiker 07 di kaca depan, berhenti di halte. Itu bus yang saya tunggu selama setengah jam ini. Orang-orang bergegas turun dan naik, kemudian bus itu perlahan bergerak meninggalkan halte.

Saya mendekap tas selempang. Di dalam tas itu ada berkas lamaran untuk posisi Asisten Manager Pemasaran sebuah perusahaan yang mengelola apartemen yang berdiri megah di bekas kampung lama saya.

Saya menghela napas, beranjak dari kursi, lalu melangkah meninggalkan halte. Saya menyetop angkot. Saya mau pulang saja!

Ditulis oleh Sulistiyo Suparno

    Lahir di Batang 9 Mei 1974. Gemar menulis cerpen sejak SMA. Cerpen-cerpennya tersiar di Sumut Pos, Radar Lampung, Analisa, Nova, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Radar Surabaya, Radar Bromo, Banjarmasin Pos, basabasi.co, apajake.id, malangvoice.com, floressastra.com, dan media lainnya. Pernah pula menerbitkan novel remaja Hah! Pacarku? (Elexmedia, 2006). Bermukim di Limpung, Batang, Jawa Tengah.