Topbar widget area empty.
Selubung Garis Polisi (Illustrasi) Tampilan penuh

Selubung

Pernahkah kau berpikir ingin membunuh orang? Bagaimana rasanya meminum darah? Lalu tanpa berniat menyisakan sedikit pun tulang belulangnya. Cincang dia dengan segala jurus super cooking canggih yang kau punya. Rasakan segala sensasi yang dihasilkannya, perlahan amis yang memerah itu merambat membaluri seluruh kerongkonganmu, menyusup ke dalam lambungmu, lalu terus menyatu di tiap sendi pori-pori tubuhmu.

Di seberang pulau, hiruk pikuk terjadi pada keramaian yang tak biasa. Berpasang-pasang mata, berjubel manusia bak lautan. Semua berdesakan demi mendapatkan posisi terdepan. Menjadi saksi kekejaman yang masih tumbuh subur di muka bumi, di desa mereka, Hasahatan Jae. Bagaimana tidak, terhitung dalam empat bulan terakhir sudah tiga orang ditemukan tewas tanpa jasad yang utuh. Tanpa kepala. Bahkan tangan dan kaki sudah tak bisa disebut sebagai anggota tubuh lagi. Remuk seperti habis digilas oleh benda berton-ton beratnya. Mayat-mayat itu ditemukan tanpa darah sama sekali.

Tempat kejadian perkaranya selalu sama, ladang jagung milik salah satu warga. Pak Dayat, berkantong tebal namun teramat pelit dan doyan daun muda. Dia berdiri di sebuah sudut berkacamata hitam dan memakai topi lebar bak koboi, nampak angkuh berlipat tangan. Dari sudut bibirnya tak henti-hentinya meludah. Tak peduli dengan aparat yang persis di depannya.

Dari raut wajahnya terlihat ia amat serius. Dialah Kepala Desa setempat, Pak Ahmad. Seorang lelaki dengan wibawa tinggi juga nampak tegang berdiri disebelahnya.

“Ini kali ketiga Pak Kades,” bisiknya ke telinga petinggi Desa tersebut.

Kilatan cahaya kamera dari insan pers menghujani sosok mayat yang terbujur kaku itu. Terlihat ada biru lebam di bagian leher seperti habis dicekik kuat. Terlihat seorang detektif muda dari kepolisian, bergaya tomboy dengan rambut ala polwan disisir ke belakang, mengenakan rompi jins biru senada dengan celana yang dipakainya.

Nitha. Sekilas mirip dia, pikir Pak Ahmad dalam hati.

“Tidakkah menurut Anda ini aneh? Kali ketiga tetap di TKP yang sama, di ladang jagung Anda sendiri, Pak?”
“Saya yakin itu untuk modus.” Jawabnya singkat sambil mengusap keningnya yang basah berkeringat. Sedang ekor matanya tertumbuk pada benda yang baru saja didapat oleh Nitha.

Dengan langkah tenang sang Detektif menyodorkan tepat diujung hidungnya.

“Bagaimana dengan ini, Pak tua?” Tanyanya dalam sedalam tatapan mata yang penuh selidik.

Sontak semua pandangan tertuju pada benda berkilat tajam seruas telunjuk yang baru saja diambil oleh tim forensik dari dalam bagian perut korban. Gugup lelaki yang dimaksud. Jelas terukir disitu berinisial ’D’.

Bila nalurimu terus kau asah sesuai bakatmu, yakinlah jalan untukmu terbentang luas di depan sayang. Satu pesan dari yang jauh disana. Satu sunggingan manis penuh arti. Beberapa detik kemudian gadis itu membalas. Sudah lama tidak meneguk semerah darah itu, sayatan daging mentah disiram kuah cabai. Sungguh ingin kutancapkan belati tepat ke jantungmu agar kau tahu artinya rindu.

Di balik dinding putih abu-abu sebuah perkantoran, tampak seorang lelaki berumur 47 tahun tergelak lepas demi membaca pesan singkat dari si tomboy, sebuah nama terukir di telepon genggamnya. Cekatan ia pun membalas.

Vampir
Aku lebih dari itu. KANIBAL

Berkerenyit dahi pria tersebut mengamati tulisan besar di layar telepon genggamnya. Lama dia merenung kata-kata itu, mengapa semakin sadis saja? Pikirnya bergidik. Terlebih saat nada pesan berbunyi lagi, lama dia membiarkannya setelah akhirnya ia buka lagi. Jantungnya seakan berhenti, sedang matanya nanar.

Jagung bakar di ladang tak terurus itu, di desamu, ditanak pakai belati.

Sejak kejadian pembunuhan berantai di desa yang ia kepalai itu, warga yang diperintahkan melakukan ronda bergilir setiap malamnya. Bila sudah jam sembilan, malam pun teramat lengang. Sesekali terdengar jangkrik dan binatang malam meramaikan kampung. Kebenaran berita masih simpang siur. Terakhir orang yang sempat dicurigai sebagai pelaku yaitu si pemilik ladang jagung itu sendiri dibebaskan petugas, karena tidak cukup bukti. Semua berjaga-jaga, jangan sampai ada korban selanjutnya. Para aparat pun masih wara wiri di kampung tersebut. Terkadang hanya sekedar ngopi bersama warga yang ronda malam ataupun berbincang seperti malam itu di teras rumahnya.

“Apa tidak ada hal mencurigakan lagi, Pak Kades?” Tanya salah seorang diantaranya.

Dengan senyum ramah Kades menggeleng.
“Kalau sementara ini besar kecurigaan saya pelaku sengaja hening, Komandan.” Jawab Kades dan disambut anggukan kepala dari aparat berpakaian preman tersebut.

Pikiran si Kades melayang pada seorang perempuan yang ia kenal lewat dunia maya sejak hampir setahun belakangan. Bermula dari saling curhat masalah sepele sampai sedikit demi sedikit mereka merajut asmara online. Ahmad berjanji untuk mengatur waktu agar bisa kopi darat dengan leluasa.

Seorang perempuan berusia 28 tahun, bekerja pada salah satu media penyiaran yang nyambung diajak bicara apa saja. Termasuk urusan politik dan beban tanggung jawabnya selaku pejabat dari satu desa di wilayahnya. Tidak seperti Istrinya yang sulit beradaptasi dengan kemajuan berpikir sang suami serta tidak mau tampil selaku istri dari seorang petinggi desa. Dia lebih suka dibelakang layar.

Sekali waktu hubungan mereka sempat terputus sampai empat bulan, sebab sang Istri mulai curiga dengan tingkah yang tak biasa dari suaminya. Lebih-lebih ada dua kali sms yang terbaca oleh perempuan yang sudah memberikannya lima orang anak tersebut, berisi ucapan terimakasih atas perlakuan istimewa yang diterimanya lewat rekening serta ungkapan sayang penuh rindu.

Mendung menggantung di langit, matahari yang tadi gagah semakin layu di ufuk barat perlahan-lahan kian tertidur berselimut awan pekat. Desau angin mulai terasa dingin bercampur air, sepertinya sebentar lagi hujan turun. Tampak seorang lelaki tanggung menggiring sekawanan kambing pulang.

Sebuah bunyi terdengar samar. Ia pikir cuma suara gesekan angin dengan dedaunan. Namun terdengar suara lenguhan panjang disusul jeritan tertahan. Sontak ingatannya terbang pada kejadian mengerikan di ladang jagung tepat didekat ia berdiri saat itu.

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia mengendap dengan napas yang ia atur agar tidak terdengar. Jantungnya kian berdegup kencang. Aroma amis dan bau daging yang entah darimana datangnya sungguh menusuk hidung.

Sesosok berambut panjang, memakai pakaian serba putih baru saja menancapkan belati sebesar telunjuk kedalam perut sebuah tubuh. Sosok itu menjilati darah yang mengalir diantara mulut yang menganga lebar. Sosok angker nan misterius itu menikmati ‘hidangan’ dihadapannya.

Tiba-tiba ia menolehkan pandangannya dengan tatapan menusuk, mata mereka saling bertemu. Ia menatap lelaki itu. Seringai bak srigala lapar ia pertontonkan. Dari sepasang bola matanya seakan mengeluarkan api merahnya. Berjalan perlahan mendekati lelaki tersebut. Suara azan menyadarkannya. Ia berlari tunggang langgang. Berteriak meminta tolong sekencang-kencangnya. Beruntung satu dua mulai mendengar suaranya, apalagi disaat mahgrib seperti itu banyak lelaki yang sedang menuju mesjid.

Kehidupan ini memang penuh teka-teki. Terkadang ibarat roda yang berputar, ada kalanya naik dan juga turun. Lilitan ekonomi, kebutuhan hidup yang memuncak, ditambah iman yang rendah mudah disusupi setan, sehingga jalan haram penuh dosapun dilakukan tanpa perduli akibat dari perbuatan bodoh sekalipun.

Begitulah yang terjadi dengan Kasro, si gondrong, sering dipanggil orang. Tak ada yang menyangka sedikitpun kalau dia yang berbadan ringkih seperti tanpa tenaga itu sudah menghabisi empat orang dengan cara sadis demi ngelmu pada lelembut agar cepat. Walaupun bukan orang yang termasuk rajin ke mesjid ataupun sering aktif pada kegiatan hari-hari besar keagamaan di desanya, tapi si Gondrong itu sangat patuh pada Ibunya. Ia juga suka membantu membersihkan ladang-ladang warga tanpa menetapkan upah, termasuk ia juga pernah ikut menanam jagung di TKP tersebut.

Hanya saja ia mengaku pernah sakit hati pada Pak Dayat selaku juragan yang membayar upahnya sekaligus pemilik ladang tersebut, sebab lelaki terkaya di desa itu mengejek kemiskinan serta buruknya muka dan penampilan Kasro. Sejak saat itulah ia berambisi hendak membuktikan bahwa ia juga bisa punya banyak uang. Selain itu, Kasro juga sengaja mengukir beberapa belati yang dibawanya sendiri ketukang ukir, temannya di kota, dengan sebuah inisial ‘D’ pada bilah belati tersebut.

“Alhamdulillah, Bang, sekarang kampung Abang sudah aman” Ujar suara diujung telpon sana.

“Iya, Dek. Kalau tidak, entahlah…” Terdengar helaan napas berat disertai pandangan mata tertumbuk pada lagit-langit di bale-bale sawah tempat lelaki itu berbaring.

“Cuma Abang heran sama Adek, kenapa semakin menyerupai vampir massage yang masuk?”



Terdengar gelak yang aneh di seberang, cukup membuat lelaki yang diajak bicara itu terkejut dan langsung duduk sedang mata menyipit.

“Dek…?” Ia memanggil sedang desau angin kian sayup menyapu aroma lain ditengkuknya yang mendadak dingin.

“Bukankah Abang yang menyarankan agar saya harus terus mengasah bakat? Hihihihi…”

Fitrie SR
Ditulis oleh Fitrie Slawat Ritonga

    Seorang Ibu rumah tangga, pecinta puisi dan suka belajar menulis. Bertempat tinggal di kota kelahirannya, Rantauprapat, bersama seorang buah hati semata wayangnya.