Topbar widget area empty.
Mesin Tik Mesin Tik Tampilan penuh

Mesin Tik

Seno masih duduk termangu di depan mesin tik. Dipandanginya benda yang berada di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan begitu baik serta penuh ketulusan seusai membuat ‘maha karya’ dari buah pikirannya itu. Ia pasti akan bercerita dengan penuh heroik.

 

Siapa yang tidak bangga memiliki benda itu? Berbagai karya yang dihasilkan selama 17 tahun lebih sebagai cerpenis di sebuah daerah terpencil, dijalaninya dengan penuh ketekunan yang hanya ‘bermodal’ mesin tik tua. Tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi profesi itu sangatlah ‘langkah’ di tengah-tengah daerah terpencil di mana Seno tinggal saat ini.

 

Tapi kini masa itu sudah lewat. Apalagi saat mengetahui Ratmi, istrinya sakit tidak kunjung sembuh, sudah lima tahun lamanya. Itulah yang sejak tadi terus menghantui benak Seno.

 

Tentu bila mesin tik itu dijual sudah pasti ada sesuatu yang hilang pada dirinya. Terlebih jika suatu hari Ratmi menanyakan keberadaan benda itu. Ia harus menjawab apa jika istrinya itu berkata demikian?

 

“Mas, sudah beli obatnya belum? Obat pereda nyeri tulangku sudah habis,” terdengar suara lirih Ratmi, istrinya memanggil-manggil.

“Iya, Dik! Sabar dulu ya. Ini ingin mencari pinjaman dulu,” jawab Seno. “Kalau begitu Mas pamit keluar dulu untuk mencarinya, ya,” lanjutnya sebelum meninggalkan Ratmi.

 

Di sana, di sudut retina Seno mengaliri butiran-butiran kristal sebesar biji jagung hingga menganak sungai kecil di pipi keringnya. Ia meratap. Ia tidak tahan lagi melihat penderitaan sakit Ratmi yang sudah hampir lima tahun itu tidak kunjung sembuh. Padahal semua harta benda sudah terkuras habis untuk pengobatan istrinya. Hanya tinggal mesin tik saja yang tersisa, dimiliki Seno.

 

“Iya, Mas! Hati-hati di jalan,” jawab parau Ratmi. “Maafkan aku ya Mas sudah membuat susah kamu.”

“Sudah jangan dibahas itu lagi! Doakan aku saja biar dapat pinjaman,” jawab Seno pelan. “Aku jalan dulu ya, Dik!”

 

Sebenarnya bukan mencari pinjaman uang yang akan dilakukan Seno. Tapi menjual mesin tik miliknya ke Pasar Senja. Maka itu ia menutupi kebenaran yang ada agar tidak membuat Ratmi tambah berduka. Jika istrinya itu tahu tentu akan melarangnya.

 

Dengan berat hati mesin tik itu dibungkus—dengan kardus pembungkusnya—yang sudah lama terkoyak dimakan rayap dan usia. Lalu dibawanya menuju ke Pasar Senja. Di mana para lapak loak berderet di tepi trotoar jika hari libur begini. Lebih baik mementingkan kesehatan Ratmi ketimbang mesin tik tua itu. Pikir Seno.

 

Tidak butuh lama akhirnya tiba juga di Pasar Senja. Ia langsung menghampiri para lapak loak yang begitu padat. Ia melihat-lihat lebih dulu lapak-lapak loak itu. Mana saja lapak loak yang menerima mesin tik tua miliknya. Ia telusuri lapak-lapak loak itu satu-persatu.

 

Dan ketika tiba tepat di ujung pasar itu. Seno melihat ada toko jual-beli barang bekas elektronik dan peralatan kantor. Di sanalah ia menjual mesin tik miliknya itu. Setelah itu terjadilah tawar-menawar.

 

“Yang benar dong, Pak! Masa mesin tik ini Bapak tawar tujuh puluh lima ribu. Saya saja belinya dua ratus lima belas ribu. Kalau bisa jangan ditawar sekecil itu dong, Pak!” Seno gregetan ketika mendengarkan tawaran itu terlalu murah sekali untuknya.

“Tapikan huruf-hurufnya juga sudah pada hilang,” alibi pemilik toko.

“Iya, saya tahu! Tapi tidak semuanya. Hanya tiga tuts saja yang hilang,” bela Seno.

“Begini saja saya tambah dua puluh lima ribu lagi, bagaimana? Jika tidak mau ya sudah,” pemilik toko akhirnya melakukan negosiasi kembali.

 

Seno pun menimbang-nimbang dulu.

 

“Ya, sudah, Pak! Terima kasih saya tidak jadi menjualnya,” Seno akhirnya menolak tawaran itu. Lalu ia meninggalkan pemilik toko itu dengan gontai.

 

Di tengah perjalananan Seno masih terus memikirkan Ratmi. Ia harus berkata apa jika kembali ke rumah tanpa bawa uang. Lalu bagaimana nanti dengan keadaan istrinya itu? Ia pun dicekam kerisauhan.

 

Hari itu senja pun sudah mengubah warnanya menjadi kelam. Tanda malam pun datang merangkul seisi semesta. Burung-burung prenjak pun sudah kembali ke sarangnya.

 

“Mas, sudah beli obatnya belum? Obat pereda nyeri tulangku sudah habis…”

 

Suara itu kembali terngiang di gendang telinga Seno.

 

Seno putus asa. Kemana lagi ia harus mendapatkan uang untuk membeli obat istrinya itu?

 

Mesin tik yang sudah ia bawa ke Pasar Senja untuk dijual ternyata sangat murah sekali ditawar. Apalagi itupun tidak cukup untuk membeli obat separuhnya.

Akhirnya Seno memutar otak kembali. Ia masih mencari jalan untuk itu. Ia yakin akan mendapatkan uang untuk membeli obat istrinya.

 

Aha! Atau, aku gadai saja pada Gondo, teman SMPku dulu itu. Dia kan guru PNS pasti butuh untuk mengetik pekerjaannya itu. Seno akhirnya mendapatkan jalan keluar.

 

Tidak lama Seno tiba di rumah Gondo. Rasa sungkan pun mendadak menyergapnya. Tapi untuk mendapatkan uang membeli obat istrinya ia halau semua itu.

 

“Ada, apa, No?” ujar Gondo dengan ramah. “Lho, itu apa yang kamu bawa?”

“A-aku lagi bu-butuh bantuan!” tukas Seno lirih. “Ma-maaf kalau aku mengganggu istirahat, Pak Guru! Karena aku tidak tahu harus kemana lagi.”

“Ya, sudah ayo duduk dulu, No! Jangan panggil formal begitu, ah! Aku inikan temanmu. Biasa-biasa sajalah panggil aku! Panggil nama juga sudah cukup!” pungkas Gondo.

“I-iya, Pak Guru! Eh, maaf,” Seno tergagap. “Terima kasih, Gondo!”

“Ayo, masuk ke dalam! Kenapa masih berdiri di situ. Tidak baik berdiri depan pintu. Pamali,” Gondo mempersilakan Seno masuk ke dalam ruang tamu.

 

Setelah Seno duduk dan minum akhirnya Gondo membuka topik pembicaraan malam itu. Ingin mengetahui tujuan kedatangan Seno, teman SMPnya dulu sekaligus tetangganya pula.

 

“Ada apa nih datang ke rumahku, No?” tanya Gondo ramah.

“Aku ingin menggadaikan mesin tik ini ke kamu. Ini aku lakukan untuk membeli obat untuk Ratmi,” dengan lirih Seno  mengungkapkan yang sebenarnya.

“Oh, dikira ada apa!” pungkas Gondo santai. “Butuh berapa yang kamu perlu, No?”

 

Seno yang sejak tadi tertunduk lesu karena merasa malu menatap Gondo, ia pun langsung mendongakkan kepalanya. Sontak Seno terkejut. Apa yang barusan didengarnya.

 

“Aku bukan meminjam uang! Tapi aku mau menggadaikan mesin tikku ini padamu,” dengan tangan gemetar Seno menyerahkan mesin tik tua miliknya itu.

“Ya, sudah kamu tunggu di sini! Aku akan mengambilkan uangnya,” jawab Gondo. “Oya, berapa yang kamu butuhkan?” lanjutnya.

“Hanya ti-tiga ratus ri-ribu saja!” pungkas Seno terbata-bata.

 

Akhirnya Gondo meninggalkan Seno sejenak. Mata Seno kini nanar melihat mesin tik itu kembali sebelum berpindahtangan. Biarlah aku tidak menulis dulu. Atau, perlu menggantung pena selamanya. Kembali Seno meratapi keinginannya itu.

 

Ehem, terdengar suara deheman Gondo. Ia keluar dari dalam kamarnya dengan membawa setumpuk Koran Minggu dan majalah serta amplop coklat. Seno bingung dengan apa yang dilakukan Gondo pada saat itu.

 

“Kamu tidak usah terkejut! Aku membawa setumpuk koran dan majalah ini ke hadapanmu ingin menunjukkan sesuatu padamu. Silakan kamu baca halaman koran-koran dan majalah-majalah itu. Itu sudah aku tandai dengan lipatan agar kamu mudah ketahui.”

 

Seno masih tetap bingung.

 

“Sudah kamu lihat dulu!” seru Gondo kembali meminta Seno untuk lebih teliti melihat halaman-halaman di koran dan majalah itu.

 

Ternyata Seno pun mengamati setiap halaman-halaman di koran dan majalah itu. Di sana ia melihat nama penanya tertera. RAIHAN. Sekarang ia baru tahu tujuan yang dilakukan Gondo.

 

“Ini di amplop coklat ada uang. Hanya ini yang mampu aku berikan padamu. Uang ini gaji ketigabelasku. Aku bukan meminjamkannya tapi berbagi rezeki padamu. Kuharap kamu bisa membelikan obat istrimu dan juga jangan lupa perbaiki mesin tik kamu pula. Lanjutkan cita-citamu sejak SMP menjadi cerpenis. Karena aku tahu kamu adalah yang mengarang di balik cerita-cerita itu. Walaupun kamu memakai nama samaran sekalipun. Namun kamu tidak bisa menutupi identitas kamu. Terlebih setiap akhir kamu menulis di titimangsa, selalu mencantumkan kampung kita. Kebon Sawah IV. Ternyata ketika aku menelepon ke berbagai redaksi itu. Ternyata aku bisa mengetahui siapa penulisnya. Apalagi aku salah satu penggemarnya. Aku bangga padamu, No!” Gondo akhirnya ‘menelanjangi’ Seno di hadapannya. Gondo sekarang sudah mengetahui siapa di balik nama samara, RAIHAN itu!

 

Seno seketika terpaku. Bibirnya kelu. Airmatanya tidak lagi mampu untuk bertahan. Kemudian buncah lalu menganak sungai kecil kembali di pipi keringnya.

 



“Sekarang kembalilah ke rumah! Lekas beli obat untuk istrimu itu. Ia sedang menunggumu,” lanjut Gondo.

 

Seno yang melihat Gondo malam itu seperti bertemu malaikat yang dikirim untuknya. Ia tidak mampu lagi berkata-kata. Ia hanya mampu memeluk Gondo sambil membisikkan ke telinganya.

 

“Tunggu karya-karyaku selanjutnya! Semua kupersembahkan demi malaikatku ini!” ucap Seno ke telinga Gondo.

 

Usai itu Seno menyeka airmatanya lalu meninggalkan Gondo sambil menatap kembali mesin tik tua miliknya itu. Kini benda itu bisa kembali padanya.

 

Dan di sana tampak bibir Seno tersungging sumringah. Ia jadi tidak sabar ingin segera menemui Ratmi di rumah. Ia ingin menceritakan semuanya yang terjadi malam itu pada istrinya. Jika ia baru saja bertemu dengan malaikat penolong dirinya.

Kak Ian
Ditulis oleh Kak Ian

    Bekerja sebagai Guru Jurnalistik tingkat Sekolah, penulis fiksi anak dan mahasiswa jurusan PAI. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta dan pendiri Perpus Jalanan Pembatas Buku Jakarta. Penikmat fiksi-fiksi bertemakan mitos dan urban legend.