Topbar widget area empty.

Ripin

Sebelum meninggalkan rumah, Ripin sempat memandangi cermin sebentar. Di dalam cermin itu ia tidak melihat wajahnya. Tapi sebuah wajah lain. Wajah yang sangat ia benci. Ia ingin hancurkan cermin itu. Tapi tak berani. Takut ibunya terusik, bertambah marah, lalu memukulnya lagi.

Sekarang Ripin ada di depan pintu pagar rumah besar. Ia tak tahu rumah ini milik siapa. Tetapi ia menyukainya. Tubuhnya yang kurusterus mondar-mandir, pindah dari satu bunga ke bunga lain. Di depan pagar rumah besar memang banyak ditumbuhi bunga. Banyak jenis, juga banyak warna. Sesekali ia mengintip ke halaman rumah lewat celah pagar. Celah yang sebenarnya agak rapat. Ia tak tahu kalau ada lelaki berkepala botak, pemilik rumah besar, duduk tenang di beranda samping, sedang memerhatikan gerak-geriknya. Waktu terus bergerak dan gelap sebentar lagi merata.

Ripin belum bosan bermain dengan bunga-bunga. Ia petik satu, lalu dibuangnya bunga ke selokan. Bunga itu terbawa arus dan lenyap entah ke mana. Lelaki berkepala botak gemas melihat tingkah Ripin. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan dan membuka pintu pagar. Ripin ketakutan melihat wajah lelaki yang gelap dengan senyum yang kuning.

“Tenang, jangan takut anak manis. Mari sini ikut Om.”

Lelaki berkepala botak menyentuh pundak Ripin dan hilanglah rasa takut itu. Ripin jadi penurut seketika. Ia menurut ketika lelaki berkepala botak menggiringnya masuk ke dalam. Pintu pagar ditutup kembali.

Ripin lupa pulang dan terhibur dengan kolam kecil yang ada di tengah halaman. Di kolam itu ada tugu kepala ular sanca yang mengucurkan air dari mulutnya. Cahaya benderang membuat ikan-ikan di dalam kolam terlihat jelas.

“Ikan-ikannya cantik-cantik, Om. Besar-besar juga.”

Lelaki berkepala botak tidak menggubris ucapan Ripin. Ia terpaku pada wajah Ripin yang imut dan manis.

“Ikan-ikannya boleh digoreng, Om.”

“Tidak boleh,” jawab lelaki berkepala botak, “Ikan-ikan itu dilindungi dan dipelihara. Tidak untuk dimakan.”

“Aku suka tinggal di sini, Om. Bolehkan aku main sepuasnya di sini, Om?”

“Tentu saja boleh. Kau main saja sepuasnya. Sudah lama Om tidak melihat anak kecil main di halaman ini.”

Ripin senang bukan kepalang karena mendapat ijin bermain sepuasnya. Sepasang kakinya yang mungil pun berlarian. Mengitari kolam kecil itu. Lelaki berkepala botak duduk di kursi besi berwarna perunggu. Pandangannya tak mau lepas dari tubuh bocah yang bermain riang. Sesekali bibirnya yang hitam menggores senyum. Senyum yang dingin dan licik. Ripin seperti tidak memiliki lelah, terus berlarian, sesekali merentangkan kedua tangan. Lama-lama, lelaki berkepala botak bosan melihat Ripin yang masyuk dalam kegembiraannya sendiri. Ia pun menghentikannya.

“Kau, berhentilah. Duduk di sini bersama Om. Om ingin bercerita.”

Ripin tertarik dengan tawaran lelaki berkepala botak. Ia berhenti dan menghampirinya. Duduk di dekat lelaki berkepala botak tanpa rasa takut sedikit pun.

“Om mau bercerita apa?” tanya Ripin dengan napas tak teratur.

“Om mau bercerita tentang ular. Ular yang besar,” jawab lelaki berkepala botak dengan suara berat dan pelan.

Ripin sebenarnya sangat takut pada ular. Ia mulai mengenal takut pada ular semenjak pamannya selalu menunjukkan ular kecil kepadanya. Ular kecil tak berbisa yang telah membuat lubang dubur Ripin sakit. Anehnya, kali ini, ia sangat penasaran pada cerita ular yang akan disampaikan oleh lelaki berkepala botak.

“Dulu, di tempat yang jauh, tempat yang kelak akan ditempati oleh manusia-manusia beriman, ada seekor ular besar. Ular itu bisa bicara…”

Pembukaan cerita sudah sanggup membuat Ripin mendongak dan menganga. Ia meminta lelaki berkepala botak meneruskan ceritanya.

“Ular itu melingkar di pohon besar, mengawasi dua manusia, laki-laki dan perempuan, yang sedang berdebat di depan sebuah pohon yang buahnya begitu menggoda. Si laki-laki berkata, ‘Aku tak boleh makan buah ini.’ Si perempuan berkata, ‘Kau tak perlu menghabiskannya, cukup mencicipi saja.’ Si laki-laki berkata lagi, ‘Tuhan bisa marah kalau aku memakannya.’ Si perempuan terus memaksa, ‘Kalau hanya mencicipi Tuhan tidak akan marah.’ Lalu, ular besar itu juga ikut-ikutan bicara, ‘Makanlah buah itu, kau tidak akan pernah mati.’”

Ripin semakin penasaran, “Terus, Om, terus, bagaimana, Om?”

“Si laki-laki memakannya, hanya secuil saja, dan benar, Tuhan marah. Si laki-laki dihukum, dibuang dari tempat itu. Si perempuan juga dibuang. Mereka dipisahkan.”

Sambil menggaruk-garuk kepala, Ripin bertanya, “Mereka dibuang ke mana, Om?”

“Ke bumi, dan hidup mereka menderita. Si laki-laki merasa kesepian, si perempuan pun sama. Mereka memohon ampun pada Tuhan. Dan, setelah sekian puluh tahun lamanya, mereka pun dipertemukan.”

Ripin bertanya lagi, “Terus ular besar itu masih ada, Om?”

“Masih, dia ada di sekitar kita.”

Ripin ketakutan mendengar itu. Ia teringat ular kecil milik pamannya. “Jangan-jangan ular itu seperti ular paman?” desis Ripin kemudian. Lelaki berkepala botak mendengarnya. “Apa kau bilang, ular itu ada di pamanmu?” Ripin menggeleng-geleng, “Tidak, Om. Aku hanya teringat sesuatu.”

Lelaki berkepala botak merasa haus. Ia pamit pada Ripin untuk mengambil minuman dan memberi perintah pada Ripin agar menunggu. Ripin menuruti perintah itu.

Hari sudah gelap sempurna. Tidak ada bulan. Bintang hanya sedikit jumlahnya. Angin tidak bergerak sama sekali. Sementara Ripin sudah tidak memiliki keinginan untuk pulang.

Tak lama kemudian, lelaki berkepala botak keluar dari dalam rumahnya. Membawa segelas minuman untuk Ripin.

“Ini, untukmu, minumlah. Jika kau lapar, kita bisa makan di dalam. Aku sudah siapkan makan malam yang enak untukmu.”

Ripin meraih minuman itu. Ia kehausan dan meminum air berwarna merah itu dengan lekas. Ia juga lapar. Tapi tak berani berterus terang pada lelaki berkepala botak. Ia lupa makan sebelum pergi tadi. Lagi pula, ibunya belum memasakkan apapun untuknya.

Ibu Ripin memang tak biasa masak sebelum perutnya sendiri yang lapar. Kapan perutnya lapar juga tak tentu waktunya. Bisa pagi, siang, sore atau malam. Ia hanya masak sekali dalam setiap harinya untuk jatah dua kali, dan kadang hanya sekali. Ibu Ripin hanya seorang pencuci baju panggilan. Jadi kalau tak ada yang memanggil, ia tak bekerja. Kalau tak bekerja, berarti tak dapat uang. Kalau tak dapat uang, berarti harus menghemat uang. Biasanya, kalau tak dapat uang, ia lebih sensitif orangnya. Seperti hari ini, ia ngomel-ngomel tak keruan pada Ripin dan juga memukulnya. Itu tak hanya terjadi sekali, maksudnya pada hari ini saja. Pokoknya, Ripin sering menjadi sasaran omelan dan pukulan kalau ibunya tak mendapatkan uang. Kalau sudah marah, ibu Ripin tak sekira-kira kalau ngomong. Anjing dan babi sering dibawa-bawa untuk mengutuk Ripin. Suaranya yang nyaring, membuat telinga Ripin sakit, mendengung-dengung. Begitulah, kalau Ripin sudah tak suka dengan ibunya, maka ia pergi. Kadang pulang pagi hari. Tak tentu ia tidur di mana. Kadang di depan toko orang, di depan pagar orang, dan  kadang pula tidur di jembatan, dan masih banyak lagi tempat tidur lainnya yang biasa ia tiduri agar tak ketahuan ibunya.

Selepas menghabiskan minuman, Ripin merasa ada yang beda di kepalanya. Ia merasa pusing dan ingin segera tidur.

“Kenapa, kamu pusing?” tanya lelaki berkepala botak, seperti senang.

Ripin mengangguk.

“Kalau begitu, ikut aku ke dalam rumah. Hari sudah malam. Kau mungkin butuh istirahat.”

Ripin tidak menolak. Lebih tepatnya, tidak berdaya. Kelincahannya hilang. Laki-laki berkepala botak menggiring Ripin masuk ke dalam rumah, lalu menuju kamar yang cahayanya remang. Di sana hanya ada sebuah ranjang tanpa alas dan sebuah kipas angin yang baling-balingnya berputar dengan cepat. Suara deru kipas angin menenggelamkan semua suara yang berasal dari luar.

Lelaki berkepala botak menutup pintu kamar setelah menidurkan Ripin di ranjang. Lelaki berkepala botak begitu leluasa memperlakukan tubuh Ripin. Di depan mata Ripin yang buram, ia menunjukkan sesuatu.

“Lihatlah, aku punya ular lucu.”

Ripin tak bisa melihat dengan jelas apa yang dipegang lelaki berkepala botak. Tapi karena telinganya telanjur mendengar kata ‘ular’, ia langsung menutup matanya.

“Tidak usah takut. Ular ini tidak menggingit.”

Ripi tidak sudi lagi membuka mata. Ia sudah terlelap. Sudah tak mendengar suara-suara lagi. Lelaki berkepala botak itu melakukan apa yang ingin dilakukannya kepada tubuh Ripin. Kebiasaan yang sering dilakukannya kepada bocah-bocah lain. Tapi Ripin sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

Waktu terus bergerak, merangkak di dinding yang pucat. Lelaki berkepala botak yang kelelahan, tertidur di lantai. Sementara Ripin, pulas tidur tanpa celana.

Tanpa dipaksa pun, pagi datang. Menyeret gelap agar pergi dari langit. Lelaki berkepala botak bangun dengan tubuh terhuyung. Ia langsung ke kamar mandi. Tak lama dari itu, Ripin bangun. Setelah sempurna melihat warna terang sinar yang menembus kaca jendela, ia buru-buru bangkit dan berlari keluar. Di luar rumah, tidak ada siapa-siapa. Lelaki berkepala botak masih membersihkan tubuhnya dari kotoran yang melengket di antara selangkangannya.

Saat kesadaran Ripin mulai pulih, ia tiba-tiba merasa ketakukan, dan bergerak cepat. Untung pintu pagar tidak terkunci. Ia pun berlari setelah berhasil melewati pintu pagar. Ia berlari. Terus berlari. Di dalam keadaan berlari itu, ia merasa ada rasa yang melekat di duburnya. Semacam rasa nyeri yang diakibatkan oleh gesekan benda yang pernah ia kenal. Tapi ia abaikan rasa itu. Sesampainya di rumah, kemarahan sang ibu  langsung menyambutnya.



“Dari mana saja kau, hah? Aku kira kau sudah mati. Kenapa kau tidak mati saja seperti ayahmu. Kenapa kau tidak jadi anjing atau babi saja, hah? Menyusahkan saja hidupmu.”

Ripin tidak menggubris. Ia berlari terus menuju kamar dan mengunci pintu. Barulah di dalam kamar ia menangis. Terus menangis. Suara tangisnya bercampur rintih. Sambil menangis, ia pindah tempat duduk, menghadap cermin. Ia tatapi wajahnya sendiri yang merana dan menderita. Tapi di dalam cermin itu malah muncul dua wajah. Wajah pamannya dan wajah lelaki berkepala botak. Ripin seketika geram. Mengambil benda berat dan menjauh dari cermin. Ia lemparkan benda berat itu ke cermin dan pecahlah. Suara benturan benda yang keras, mengusik sang ibu yang masih dikuasai amarah.

“Apalagi yang kau perbuat, bocah tengik. Kalau sudah bosan hidup di rumah ini, pergi sana.”

Ripin tidak bersuara. Ia meringkuk bagai kucing kecil yang kesakitan.

Asoka, 2017

Tag:
Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep