Topbar widget area empty.
Hatif dan Khayalan hatif khayalan Tampilan penuh

Hatif dan Khayalan

Oleh: Saiful Bahri

 

Sejenak aku mengkhayal tubuh Sakinah. Ia gadis desa yang menarik mataku meresapi ranum cinta. Entah aku harus mengungkapkan keinginan ini pada Sakinah. Atau malah kebingungan yang mesti membeku di dadaku. Tanpa berpikir panjang, pesan yang berisi ajakanku semalam telah diterima. Ia pun merasa bahagia bisa memandangku di bulan ini. Begitu pun jua dengan riak sukma perasaanku.

 

Setelah aku pinta padanya, semalam ia turuti kemauanku. Semalam aku mengajak Sakinah mendatangi Pantai Lombang menghadiri pertemuan KPU. Pagi itu, Sakinah beranjak pergi lebih awal dari langkah kakiku. Ia rela menunggu waktu berjam-jam demi ajakan aku semalam. Beruntunglah harapanku bisa menemui tubuh Sakinah. Tak sia-sia Tuhan ciptakan narwastu mimpi di pantai imaji.

 

“Sakinah, tunggu aku di dekat gerbang itu, menuju pantai, sebentar lagi aku datang membawamu pergi dan membangun istana cinta yang paling doa.” Sesaat aku menelpon Sakinah. Ia tidak berkata apa-apa. Barangkali hanya menjawab kebahagiaan di dadanya, pikirku.

 

“Iya, tak tunggu di sini ya. Tapi, jangan kelamaan. Aku sudah tidak sabar, sebab waktu hanya menjadikan aku kelam.” Katanya. “Secepatnya ya!” Tambahnya kemudian.

 

Kupacu kendaraanku melintasi hatif lamunan: tertarik suara-suara yang sempat aku dengar dari jarak jauh. Terkadang dari langit. Aku belum pernah merasa bahagia kecuali bertemu dengan wanita berkerudung biru, pikirku nanti. Tersesatlah aku dalam asmara, terseretlah aku dalam gejolak rasa. Sejenak meraba-raba dada.

 

“Sakinah, aku tidak akan membawamu ke dalam jurang kematian. Aku hanya ingin membawamu ke surau menerjang pulau. Ikutilah apa mauku. Aku tak ingin bermain-main dengan perasaanku.” Khayalku di siang itu.

 

Setibanya di gerbang itu, Sakinah memandangku. dengan lunglai mata sedikit terbuka. Aku pandang lorong-lorong masih menyisakan lumpur kehitaman. Tapi tidak dengan pipi rona Sakinah: elok tak habis menawan. Ibarat pantai di siang itu, Sakinah adalah pasir yang mengiringi derap-riap langkahku. Baru kali ini aku terpana, terpana oleh wanita yang berkidung rindu menghujat waktu.

 

“Ayo kesana, kita nikmati pantai ini, sebelum acara nanti dimulai,” ajakku pada Sakinah. Ia manggut-manggut mengikuti ajakanku.

 

“Marilah, akan kuikuti apa maumu, selagi kamu tidak bermain-main dengan pantai ini”

 

Kuajak ia bersua dengan alam. Ku tatap dengan khayal menembus awan. Serasa tak habis indah kala memandang pantai ini. Keindahan ini. Pantai ini. Akan terasa indah untuk kita selami. Sebelum acara dimulai, gemuruh langit memilih hujan dengan derasnya menyapa alam. Sejenak aku ngobrol dengan Sakinah, sambil lalu menunggu waktu.

 

“Kenapa tidak memandangku saja, Sakinah. Inginkah engkau mandi di pantai itu, atau inginmu adalah menunggangi kuda itu?” Tanyaku seketika hujan menyapa. Ia tersenyum tersipu malu.

 

“Gak, aku hanya ingin menikmati keindahan gelombang di pantai ini.”

 

***

 

Sehabis hujan. Tanah kering menjadi basah. Sebasah bibir sakinah kala itu: merona, ranum memilih senyum. Dan aku mulai sadar dengan gigil yang menusuk dadaku. Apakah hujan yang membawa gigil, ataukah gigil menanti hujan. Tiba-tiba, Sakinah menghilang dari dekatku. Aku bingung, di mana Sakina berada, di mana dia sekarang, pikirku menghujat waktu.

 

Kupandang dari kejauhan mata-mata telanjang. Tersisa tiga ratus ribu detik sebab gerimis yang menyala. Kali pertama aku bahagia melihat tubuh merona di pantai ini. Dan ternyata, Sakinah sedang mengendarai kuda dengan temannya, Safitri. Safitri adalah teman Sakinah sejak dulu. Sepertinya ia bahagia dengan kuda itu. Di pantai ini, selain indah dengan potensi alamnya, kuda-kuda menjadi saksi akan mataku yang kerap memandang tubuh Sakinah. Aku berjalan mengitari bulir bibir pantai. Aku hembuskan napas cinta pada Tuhan. Sakinah, ijinkan aku memandangmu, bisikku dalam hati.

 

Sesaat kemudian, ia menghilang kembali dari dekatku—menjadikan aku kebingungan berkepanjangan—di manakah Sakinah? Aku bertanya pada temanku, tak ada satu pun yang menjawab tentang keberadaan Sakinah. Entah di mana ia berada, sementara aku tak ingin dipandang laki-laki lain. Aku merasa cemburu bila orang lain memandang Sakinah. Entah apa yang harus aku lakukan. Aku semakin gila memerangi khayalan ini.

 

“Al, kamu melihat Sakinah tidak, barusan aku lihat dia berada di kejauhan terbawa kuda itu. Tapi sekarang ia menghilang lagi. Dimanakah ia sekarang?” Tanyaku pada Aldi.

 

“Aku tidak tau keberadaan Sakinah, coba saja kamu cari di sekitar pantai ini,” jawab Aldi menunjukkan jarinya ke pantai itu.

 

Aku semakin kelelahan mencari Sakinah. Sesaat kemudian, ternyata ia berada di sebelah timur tempat obrolanku dengan sakinah. Sakinah melihatku, pun aku melihat Sakinah. Padangan itulah yang mendamaikan suasana. Sebetulnya, khayalku tidak akan sia-sia di bulan ini. Apalah dayaku bila rasa ini tak tertuang, sebab cinta sudah melekat di ubun karang.

 

“Sakinah, kemana saja sih, kamu?

 

“Aku tidak kemana-mana kok. Aku hanya foto-foto,” jelasnya. Ya, sekalian mengabadikan suasana indah di pantai ini. Maaf ya, aku tidak memberi tahu kepadamu. Aku ingin sesekali menikmati pantai ini. Sendiri.” Imbuhnya.

 

“Iya, tidak apa-apa. Lain kali bilang dong, biar aku gak kebingungan. Jika kamu menghilang, pastinya aku juga kan yang kerepotan. Mana harus mencarimu kesana-kemari lagi. Ayo, kita siap-siap untuk merapat, karena acara akan segera dimulai.” Pungkasku menjelaskan.

 

Kuajak Sakinah duduk di sampingku. Biarkan aku bisa memandang mata sakinah dengan cantiknya. Setibanya di pertengahan acara, ia meminta pamit pulang. Karena saat itu, Sakinah ada jadwal di bangku kuliahnya. Kuyakini kesibukan itu, sebab saat ini ia masih semester satu, yang memang identik dengan banyaknya tugas di kampusnya. Namun, aku membujuknya agar ia tidak segera pulang. Aku kasihan pada diriku. Jika Sakinah pergi, aku mesti merasa kesepian berhari-hari. Sebetulnya, aku masih belum puas memandang wajah cantik Sakinah, khayalku kesekian kali.

 

Sakinah menuruti permintaanku. Entah apa sebabya ia turuti kemauan ini. Jam pertama dia ijin di kampus kuliahnya hanya demi ajakanku. Lagi-lagi aku merasa bahagia bila melihat bibir Sakinah. Pandanglah aku sesukamu, Sakinah. Begitu pun aku akan memandangmu di pantai ini, pikirku seluas waktu di antara wasiat senja menuju rindu yang menggebu. Sakinah, tunggu aku menimangmu, khayalku.

 

Sore itu ia pulang membawa senyum mekar menyala. Aku tak ingat dimana rumahku yang sebenarnya. Sakinah sudah pergi meninggalkanku sekitar dua jam yang lalu. Sementara khayalku masih sama seperti semalam, hatif mengkhayal Sakinah saat tersenyum.  Bagaimana jadinya, bila nanti aku menimang tubuh Sakinah. Tapi, bagaimana bisa. Senja ini telah membawaku pada lembah tanda tanya.



 

Aku yakin dengan rasa ini. Rasa yang mustahil aku buang ke ubun jalang. Di amperan rumahku, burung-burung masih bernyanyi menyaksikan warna senja. Aku bersila menuntun imaji. Sesaat hatiku mulai riang menintai khayal semakin dalam. Rasanya tak ingin pergi dari hatif-hatif lamunan. Mungkinkah aku bisa mencintaimu, khayalku berkali-kali.

 

Sumenep, 2018

Saiful Bahri, kelahiran Sumenep-Madura, O5 Februari 1995 adalah tanggal lahirnya. Selain menulis, ia juga seorang aktivis di kajian sastra, dan “Teater Kosong Bungduwak”, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), sekaligus perkumpulan (Pemuda Purnama). Disela-sela kesibukannya ia belajar menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Esai, Resensi dan Opini, dll.  Penulis tinggal di Dusun Bungduwak. Desa Gapura Timur. Kec. Gapura. Kab. Sumenep-Madura. Email: ipul0343@gmail.com

 

Ditulis oleh Saiful Bahri