Topbar widget area empty.
Sarjana Penuh Dilema sarjana muda Tampilan penuh

Sarjana Penuh Dilema

Oleh: Nasrul M. Rizal

 

Berjalan seorang pria muda menuju taman. Ia tidak pernah menyangka, urusan mencari kerja lebih sulit daripada mengerjakan ekonometrika. Padahal sebelumnya,ia menganggap ekonometrika sebagai urusan paling sulit. Bayangkan saja oleh kalian; Ekonomi, Matematika dan Statistika berkumpul menjadi satu. Teori, angka dan rumus saling menyapa. Menyebalkan! Dulu pria muda itu menghabiskan setiap malam untuk mengerjakan tugas. Dan sekarang menghabiskan siang demi siang untuk mencari kerja. “Oh Ibu, kenapa siang dan malam tidak bersahabat denganku,” keluhnya. Pria muda itu duduk di kursi besi dengan jaket lusuh dipundaknya. Jaket kebanggaan sewaktu kuliah. Kendaraan lalu-lalang tidak jauh darinya. Ia menghela napas panjang. Lelah!

 

Sekali lagi pria muda itu menghela napas panjang. Ia menyimpan tas disebelah kanan. Merasakan sesuatu, ia membuka tas. Sial! Botol minum kosong. Pemuda itu berpikir. Tak lama kemudian beranjak dari kursi, menghampiri rumput-rumput liar yang berbaris di taman, mengambil sesuatu, lalu duduk kembali. Di sela bibir tampak mengering, terselip sebatang rumput liar. Ia tidak tahan dengan bibir keringnya. Rumput liar menjadi pilihan terbaik. Setidaknya bibirnya menggigit sesuatu. Kenapa tidak membeli air? Tentu saja pemuda itu ingin membeli air. Tapi, uang yang ia miliki hanya cukup untuk membeli bensin dan tambal ban –jaga-jaga jika ban motor tua miliknya bocor lagi.

 

Pria muda itu mendongak, jelas menatap awan berarak. Itulah satu-satunya hiburan untuknya. Ia bisa mengubah awan-awan itu menjadi apa pun. Ketika lapar, ia menyulapnya menjadi nasi beserta lauk. Saat bosan, ia jahil menyulap awan menjadi wajah dosen pembimbing skripsi, satu awan lagi disulap menjadi pistol. Dor! Ia tersenyum. Teringat, dulu merutuk dosen tersebut; tidak punya hati, pembunuh –gara-gara tidak bosan mencorat-coret skripsi. Tapi, setelah sidang, ia menangis dan berterimakasih pada dosen pembimbingnya. Berkat dosen -yang dilabeli pembunuh- tersebut, ia lulus sidang tanpa halangan berarti dan minim revisi. Ia masih menatap awan. Terkejut. Tiba-tiba awan itu berubah menjadi wajah ibunya.

 

Teringat Ibu di kampung, pria muda itu menunduk. Wajah murung semakin terlihat, mengingat wajah Ibu yang keriput. Ia berkata pada dirinya; tidak boleh menyerah, tidak boleh menyesali keputusannya. Tidak peduli meski seratus perusahan menolak, ia akan mendatangi perusahaan ke seratus satu atau bahkan perusaahan ke seribu. Tidak peduli apa pun yang terjadi, ia tidak akan pulang sebelum mendapat kerja, sebagaimana yang diucapkan pada ibunya. Janji adalah janji. Pantang lelaki mengingkarinya. Pria muda itu menggendong tas dan melangkah dengan langkah gontai tak terarah. Baru beberapa langkah, ia berhenti, menggaruk kepala, mengingat sesuatu. Rupanya ia lupa dimana memarkir Si (motor) Tua.

 

Berbagai prasangka mengerubungi benaknya. Ia bergumam, “Jangan-jangan Si Tua dicuri orang… Ah tidak mungkin ada orang yang berminat mencuri motor butut.” Pria muda itu memperhatikan setiap jengkal parkir yang berada di taman, kembali bergumam, “Atau jangan-jangan Si Tua dibawa pemulung, mengira rongsokan.” Meskipun dugaan yang ke dua lebih masuk akal, dengan cepat ia menghapusnya. Setelah berputar-putar, pria muda dengan jaket lusuh itu memaki dirinya. Ia ingat, Si Tua tidak diparkir di sini, tapi parkiran perusahaan asuransi dekat taman. Perusahaan yang terang-terangan menolaknya. Bergegas ia menyebrangi jalan, menghampiri Si Tua, susah payah menghidupkan mesinnya, membayar parkir, dan bergabung dengan kendaraan lain.

 

Keringat bercampur debu jalanan, mewarnai wajahnya yang hangus dibakar matahari. Pria muda itu mengurangi kecepatan, berhenti di sebuah bank. Dengan cepat memutuskan melamar kerja di sana. Semangat membawa surat lamaran dan ijazah S.Pd. Bukankah bank tidak melihat latar belakang pendidikan pekerjanya? Pemuda itu mempunyai kesempatan besar, apalagi ia sarjana Pendidikan Ekonomi, pernah mempelajari perbankan. Sayang, senyum di bibir hilang. Satpam dengan sopan “mengusirnya”, memberitahu tidak ada lowongan pekerjaan di bank tersebut. Tertekuklah wajah pria muda itu. Meskipun ini bukan pertama kali, tapi tetap saja ditolak itu menyakitkan. Oh Ibu kenapa mencari kerja tidak semudah yang kuucapkan. Ia tertegun, meratapi nasib.

 

Engkau sarjana muda satu-satunya di desa ini. Di sini, orang-orang membutuhkan dirimu. Kenapa kamu bebal, memilih mencari kerja di kota?” Perkataan Ibu tajam menyayat-nyayat hati pria muda itu. “Apa yang kamu harapkan? Gaji besar? Untuk apa? Ibu lebih senang kamu di sini, Nak. Memberi manfaat untuk tanah kelahiranmu. Tidak peduli meski Ibu makan seadanya.” Napas Ibu tersengal menahan amarah dan lelah. Pria muda itu menghiraukan ucapan ibunya, tanpa banyak kata mantap meninggalkan kampung halaman. Bayangan tersebut lalu lalang di benaknya. Pelan mengabarkan rasa sesal. Lihatlah sekarang ia nelangsa, wajahnya terlipat, badan dibanjiri keringat. Resah mencari kerja yang tak kunjung didapat.

 

Pria muda itu kembali menghidupkan motor bututnya. Menelusuri jalan di antara gedung-gedung pencakar langit. Ia berhenti di sembarang gedung. Ramah menyapa satpam, bermaksud menitipkan surat lamaran. Naas, dari pintu kantor yang diharapkan terngiang kata tiada lowongan, untuk kerja yang didambakan. Untuk kesekian kali wajahnya tertekuk. Tak peduli dengan hal tersebut, ia berusaha lagi. Mendatangi berbagai perusahaan, mulai dari perusahaan konsultan keuangan, jasa asuransi, teknologi-informasi, hingga tekstil. Namun kata sama yang didapatkan. Sebuah penolakan. Kali ini pria muda itu benar-benar frustasi. Sisa-sisa keangkuhan dan keegoisan telah lenyap. Yang tersisa hanya wajah murung. Ia menggigit bibir, menutup mata, dan erat mengepalkan tangan.

 

“Oh Ibu, aku tidak mau menelan ludahku. Tapi aku tidak sanggup terus-terusan seperti ini. Aku harus melakukan apa, Ibu?” Pria muda itu bergumam sambil menatap awan. Kalau saja ia tidak ingat bagaimana perjuangan untuk mendapat ijazah, sudah ia sobek selebar kertas itu. Butuh empat tahun supaya namanya tercatat di selembar kertas itu. Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, berkutat dengan tugas, sabar menghadapi dosen yang terkadang sangat menyebalkan. Ia tersenyum kecut. Sia-sia semuanya. Selembar kertas itu tidak laku. Belum ada satu perusahaan pun yang menerimanya. Padahal sudah berbulan-bulan keliling kota. Ia menangis tanpa air mata. Ditertawakan gedung perusahaan yang pongah.

 

Ditemani rasa putus asa, pria muda itu memutuskan untuk pulang. Di pinggir jalan, anak-anak berseragam putih merah tertawa lepas. Berbondong-bondong mengikuti gurunya. Entah apa yang mereka lakukan di museum -yang ia lewati. Yang pasti anak-anak itu terlihat bahagia. Pun dengan gurunya, walau terlihat repot, ia terlihat menikmati. Melihat kejadian itu, pria muda berjaket lusuh, mengambil keputusan. Ia mengubur angan-angan bekerja di perusahaan, di ruangan ber-ac, di depan komputer. Dengan lapang dada memenuhi kodratnya sebagai sarjana pendidikan, untuk mengabdi di kampung halaman. Barangkali Ibu benar, masyarkat desa lebih membutuhkannya daripada orang-orang kota. Air mata benar-benar berjatuhan, lirih ia berucap,“Maaf ibu…”

 

*cerita ini terinspirasi dari lagu Sarjana Muda yang dinyanyikan oleh Iwan Fals. Kalimat yang dimiringkan merupakan lirik lagu tersebut.  

 

Ilustrasi Foto oleh Kakilangit Photography

Biodata Penulis



Nasrul M. Rizal lahir tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Selain mengajar Ekonomi, lelaki jangkung ini pun suka membaca dan sering menulis cerpen. Bisa disapa melalui email mr.nasrul19@gmail.com

 

 

Ditulis oleh Nasrul M. Rizal

    Nasrul M. Rizal lahir tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Selain mengajar Ekonomi, lelaki jangkung ini pun suka membaca dan sering menulis cerpen.