Topbar widget area empty.

Suara Mengerikan Ketika Larut Malam

Oleh: Arie Siregar

 

 

Sudah empat malam berturut-turut aku tidak bisa tidur. Benar-benar tidak tidur sama sekali. Lantaran mendengar suara mengerikan yang melintas di depan rumahku. Sungguh, aku tidak sedang mengada-ada atau mencoba melebih-lebihkan. Suara itu benar-benar mengerikan. Selama empat malam berturut-turut suara itu selalu muncul tepat setelah jam dua belas malam. Menyerukan kata “tolong”.

 

 

Aku tidak tahu siapa dan bagaimana perawakan si pemilik suara itu. Aku tidak pernah berani beranjak ke jendela depan atau keluar rumah untuk mencaritahu. Jangankan beranjak ke depan, mau bergerak sedikit saja di tempat tidur, aku bahkan mikir berkali-kali ketika suara itu muncul lalu hilang entah ke mana. Aku hanya bisa tercenung di dalam selimut hingga sejam-dua jam suara itu tak terdengar lagi. Saking ngerinya.

 

 

Namun kali ini, aku benar-benar harus memberanikan diri. Aku sudah tidak tahan lagi. Jika nanti suara itu muncul lagi, aku akan keluar kamar lalu berjalan ke ruang depan lalu mengintip dari jendela. Iya, harus. Sudah kumantapkan niat itu sejak sore tadi. Aku harus tahu siapa dan bagaimana sosok pemilik suara itu. Dan jika nanti keberanianku bertambah, aku juga akan keluar dan menghampirinya. Menanyakan: pertolongan apa gerangan yang dia butuhkan.

 

 

Dua jam lagi, tepat jam dua belas malam. Aku duduk meringkuk di sudut tempat tidur. Menunggu suara itu muncul. Cukup lama aku terdiam memikirkan hal-hal entah, hingga kemudian aku merasa geli dengan diriku sendiri. Konyol. Iya. Aku seperti bocah penakut yang ditinggal pergi orang tuanya saja. Malang sekali.

 

 

Namun aku takkan keberatan jika kau harus menertawakanku. Tertawalah. Tak mengapa. Aku akan memakluminya. Barangkali memang lucu bagimu melihat lelaki dewasa sepertiku ketakutan berlebihan seperti ini. Tapi, asal kau tahu saja, selama empat malam berturut-turut suara itu muncul, tidak ada orang di sekitar sini yang mendengarnya selain aku. Tetanggaku? Tidak seorang pun. Hanya aku. Mengerikan, bukan?

 

 

Aku percaya dengan semua tetanggaku; mereka tidak mungkin berbohong atau sengaja menakut-nakutiku. Tidak mungkin. Mereka orang-orang sibuk, tidak punya waktu untuk mengisengiku. Meskipun aku masih baru di sini dan belum kenal betul dengan mereka, aku percaya kalau mereka memang benar-benar kebetulan tidak mendengar suara itu.

 

 

Sebelum aku memutuskan menerima tawaran bekerja sebagai pengawas perkebunan kelapa sawit milik sebuah perusahaan yang sekarang memperkerjakanku, aku sebenarnya sudah menimbang-nimbang banyak hal termasuk kesiapan mentalku. Karena waktu itu, dua minggu yang lalu, pihak perusahaan sebenarnya telah menyatakan lebih dulu: akan menempatkanku di kawasan perkebunan, yang lokasinya sangat jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Aku membayangkan persoalan-persoalan yang mungkin akan kuhadapi. Namun yang tidak sekali pun kubayangkan adalah, aku akan berhadapan dengan ketegangan dan kengerian semacam ini.

 

 

Pertama kali aku mendengar suara itu adalah empat malam yang lalu, malam keenam aku tinggal di sini. Malam itu, aku kebetulan sedang buang hajat di kamar mandi. Sedang berusaha menghabiskan sedikit lagi sisa-sisa kotoran dari perutku. Maaf, jangan kau bayangkan jika kau merasa jijik. Hal ini harus kuceritakan agar kau tidak mengira aku sedang dalam keadaan tidak sadar ketika mendengar suara itu, seperti perkiraan beberapa orang yang telah kuceritakan.

 

 

Jadi, malam itu, ketika sedang gigih-gigihnya aku mengeden, samar-samar kudengar suara itu dari luar. Jauh, entah dari arah mana. Aku termangu seketika mendengarnya. Merinding dan mematung cukup lama di atas kloset. Dan terus memasang telinga hingga entah berapa lama suara itu berlalu dari depan rumahku. Tak terdengar lagi. Sampai kakiku lemas kesemutan. Sungguh, aku benar-benar takut beranjak keluar kamar mandi. Bahkan sisa kotoran di dalam perutku yang sebelumnya sudah akan terjun bebas ke lubang kloset, sampai tak ingin keluar lagi. Mengurungkan diri.

 

 

Keesokan paginya, dengan rasa kantuk dan lelah yang hampir tak tertahankan karena tak tidur semalaman, kusambangi rumah tiga tetanggaku satu persatu sebelum berangkat melaksanakan lingkaran pagi. Tetangga sebelah kiri, kanan, dan depan. Kutanyakan pada mereka soal suara itu, barangkali mereka pun mendengarnya, pikirku. Namun ternyata, mereka bilang “tidak”. Mereka sudah tidur lelap sekira jam sepuluh ke jam setengah sebelas malam. Tidak mendengar apa-apa lagi. Mulanya, aku ragu dengan jawaban mereka. Sebab aku yakin sekali bahwa aku mendengar jelas suara itu, dari yang samar-samar hingga sangat jelas karena melintas tepat di depan rumahku. Tak mungkin mereka tak mendengarnya karena sudah pasti, suara itu melintas juga di depan rumah mereka.

 

 

“Kamu mimpi, kali, denger suara itu?” Kata tetangga di sebelah kiri rumahku, mengira-ngira.

 

Entah kenapa aku kesal mendengarnya. Spontan kujawab ketus. “Mimpi bagaimana, saya itu sedang berak pas mendengarnya.”

 

 

Di situ, tetanggaku itu kemudian mengajakku masuk ke rumahnya. Membuatkanku teh, lalu bercerita tentang satu peristiwa yang pernah terjadi di kompleks ini. Peristiwa yang sangat mengerikan.

 

 

Sepuluh tahun lalu, saat kompleks ini belum memiliki tim keamanan yang cukup tangguh, satu rumah yang berada di sudut paling timur kompleks ini, pernah berhasil dimasuki empat orang perampok. Selain merampok semua barang berharga yang ada di dalam rumah tersebut, keempat perampok itu juga membunuh dengan sadis penghuninya. Suami-istri, katanya. Si suami ditebas lehernya hingga putus, lalu si istri disayat-sayat seluruh tubuhnya hingga isi perutnya keluar. Namun yang membuatku ngeri adalah mengetahui cara para perampok itu masuk ke rumah tersebut, yaitu dengan berpura-pura minta tolong.

 

 

Salah seorang dari keempat perampok itu adalah perempuan. Dialah yang pertama kali memulai aksi mereka. Dia berdiri di depan rumah itu lalu meminta tolong. Kedua penghuni rumah tersebut lantas mengajaknya masuk setelah merasa yakin bahwa perempuan itu tengah dikejar-kejar suaminya, yang katanya, ingin membunuhnya. Lalu, setelah ditinggal pasangan suami-istri tersebut untuk beristirahat di sebuah kamar kosong, perempuan itupun memulai aksinya. Dia membukakan pintu untuk komplotannya setelah memastikan pasangan suami-istri tersebut telah tertidur pulas di kamar mereka.

 

 

Karena cerita itu jugalah mengapa selama empat kali aku mendengar suara minta tolong itu, aku menahan diri untuk tidak beranjak dari kamarku. Selain karena takut si pemilik suara mungkin adalah bukan manusia, aku juga takut karena menduga itu adalah tipu daya untuk merampok. Apalagi, aku juga sudah memastikan kebenaran cerita tetanggaku itu ketika mengobrol dengan beberapa penduduk sekitar perkebunan ini di warung kopi yang ada ujung barat sana. Semuanya membenarkan cerita itu.

 

 

Namun anehnya: hingga empat kali aku mendengar suara itu, tetangga-tetanggaku tetap saja mengatakan tidak pernah mendengarnya setiap kali kutanya lagi. Tetangga di depan bahkan sampai mengira aku habis minum alkohol sehingga berhalusinasi. Maka itu, aku jadi terdorong ingin mengetahui siapa pemilik suara itu. Jika aku bisa melihatnya dan yakin kalau dia adalah manusia, aku akan memberanikan diri menghampirinya.

 

 

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Suara itu akhirnya datang juga. Masih terdengar samar-samar entah dari arah mana. Aku segera berlari ke depan kemudian berjongkok di balik jendela. Mengintip keluar dari balik gorden yang kutarik sedikit bagian tepinya. Sungguh, jantungku berdebar kencang. Cemas dan takut beradu di dadaku.

 

 

“Tolong…!” Si pemilik suara itu, akhirnya terlihat. Muncul dari ujung jalan sebelah kanan, menuju ke sini.

 

 

Benar dugaanku; dia seorang bocah. Laki-laki. Sudah cukup besar. Mungkin, berusia sekira sebelas tahun. Dia mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Nampak lusuh. Langkahnya pelan dan nampak kebingungan. Sesekali dia memutar pandangannya ke kanan dan ke kiri. Melihat rumah-rumah yang dilewatinya. Hingga kemudian tepat di depan rumahku, dia berhenti.

 

 

“Tolong…! Tolong saya.”

 

 

Aku sontak berbalik dan terduduk di lantai. Terkejut setengah mati, melihat dia tiba-tiba menatap ke arah rumahku. Entahlah, mungkin dia melihatku, karena tahu aku sedang mengintipnya. Sial, aku malah menyesal beranjak ke sini.

 

 

“Tolong saya…!”

 

 

Dia pasti masih bertahan di depan rumahku, aku yakin sekali. Bisa kupastikan dari suaranya. Pelan-pelan aku kemudian berbalik lagi untuk kembali mengintipnya. Memastikan, apakah dia masih menatap ke arah sini? Oh, Tuhan. Iya. Tatapannya mengerikan. Tapi, cahaya mukanya terlihat seperti baik-baik saja. Seperti tidak terjadi apa-apa dengannya.

 

 

Dia akhirnya berbalik ke kanan dan kembali berjalan, meninggalkan rumahku. Aku tetap memperhatikannya hingga kemudian muncul perasaan bersalah di benakku. Tiba-tiba aku merasa jahat dan tega sekali membiarkannya berjalan di larut malam seperti ini. Dia masih anak-anak. Aku tidak yakin dia berkomplotan dengan perampok.

 

 

Cepat-cepat kucari kunci lalu membuka pintu. Aku mengejar dan memanggilnya yang masih belum jauh dari rumahku. Dia berhenti dan berbalik menatapku. Kami berdiri berhadap-hadapan dalam jarak sekitar empat meter.

 

 

“Kamu kenapa?” Suaraku bergetar gugup. “Kenapa berkeliaran sendirian malam-malam begini?”

 

“Saya tidak punya rumah, Pak.”

 

 

Tatapan matanya ternyata kosong adanya. Aku tak melihat sedikit pun kesusahan yang sedang dia rasa. Datar saja. Seolah-olah tidak terlalu berharap untuk kukasihani.

 

 

“Mana orang tuamu?”

 

Dia menjawabku dengan bergeleng lambat.

 

 

Kutampik segala pikiran buruk dari benakku. Kubawa dia masuk ke rumahku dan kuberikan segelas air putih, namun dia tak meminumnya. Pintu sudah kembali kukunci dan kuncinya langsung kumasukkan ke dalam saku celana yang sedang kukenakan. Jika benar dia komplotan perampok dan akan memanggil kawanannya saat aku meninggalkannya beristirahat, bisa kupastikan dia akan gagal total. Tak mungkin dia nekat merogoh sakuku untuk mengambil kunci ini. Bisa-bisa dia kuhajar habis-habisan.

 

 

Setelah menanyakan: di mana dia tinggal selama ini, aku tidak menanyakan apa-apa lagi hingga kemudian aku merasa sangat mengantuk. Kubawa dia masuk ke kamar belakang untuk beristirahat. Lalu aku masuk ke kamarku yang berada di sebelah. Aku sepertinya langsung tertidur begitu merebahkan tubuh di atas kasur. Sungguh, lelah sekali rasanya.

 

***

 



 

Pagi hari, pukul 08.00. Aku panik bukan main melihat anak itu sudah tidak ada di kamar belakang, dan di mana pun di dalam rumahku. Padahal, kunci masih ada di saku celanaku. Cepat-cepat aku melangkah keluar rumah dan menyambangi rumah tiga tetangga terdekatku. Kutanyakan pada mereka apakah melihat anak itu keluar dari rumahku. Namun lagi-lagi mereka menjawab, “tidak”.

 

 

Aku kembali ke rumah dan masuk ke kamar belakang dengan pikiran tidak karuan. Duduk di atas kasur dengan rasa lelah bukan main. Aku benar-benar tidak habis pikir, bagaimana anak itu bisa pergi tanpa membuka satu-satunya pintu untuk keluar-masuk rumah ini? Aku tidak ingin menduga dia bukan manusia. Namun, aku tak bisa menampik, rasa takutku memaksaku meyakini hal itu. Cukup lama aku termenung, sampai kemudian aku teringat obrolan terakhirku dengan anak itu, semalam. Ya, aku menanyakan: di mana dia tinggal selama ini. Dan dia menjawab: di tengah hutan sebelah utara perkebunan sawit milik perusahaan tempatku bekerja. Tanpa banyak pikir, aku segera menuju ke sana, dengan sepeda motor yang kupinjam dari tetangga depan.

 

 

Oh Tuhan, ternyata, benar apa yang kutakutkan. Selama beberapa malam ini, anak itu tidak datang dan melintas di depan rumahku sebagai manusia. Dia, ternyata arwah gentayangan, yang nampaknya memang sedang membutuhkan pertolongan. Karena di sini, di jarak beberapa puluh meter dari batas sebelah utara perkebunan sawit milik perusahaan tempatku bekerja, aku tercekat melihat mayatnya tertimbun puing-puing rumahnya yang hangus terbakar bersama hutan di sekitar sini. Tak hanya mayatnya, sebelumnya, aku juga menemukan mayat-mayat lain yang juga tertimbun puing-puing rumah-rumah yang terbakar dan yang bergelimpangan di mana-mana. Namun berbeda dengan mayat yang lainnya, mayat anak ini tidak hangus terbakar seluruhnya. Wajahnya masih utuh, makanya masih bisa kukenali.

 

 

Setelah merasa cukup dengan apa yang sudah kulihat, aku pergi. Kembali ke tempat tinggalku, berkemas lalu berangkat ke kota terdekat untuk kembali ke kota asalku. Iya. Melihat kematian anak itu dan penduduk lainnya yang tinggal di perkampungan di hutan itu, kiranya sudah cukup meyakinkanku, bahwa ternyata aku bekerja di tempat yang salah. Kebakaran hutan dan pemukiman itu, dapat kupastikan adalah ulah perusahaan tempatku bekerja. Mereka (entah siapa), yang membakar lahan di sebelah utara untuk proses penanaman ulang, pasti sengaja membiarkan api merambat ke hutan hingga akhirnya membakar pemukiman tempat tinggal anak itu. Sungguh, aku tidak ingin terlibat dalam dosa perusahaan itu.

Ditulis oleh Arie Siregar

    Alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang dan kini tinggal di Rantauprapat.