Topbar widget area empty.
Benang Merah benang merah Tampilan penuh

Benang Merah

Oleh: Yuditeha

 

Setiap sore selalu ada lelaki berjaket coklat di warung Yu Ginah. Lelaki itu duduk di bangku pojok sebelah timur dan bersandar di salah satu tiang warung. Bola matanya terkadang jelalatan.

 

Di warung itu juga selalu ada gadis kecil yang duduk di bangku pojok yang lain. Dengan suara yang tidak terlalu keras, dia sering mendendangkan sebuah lagu. Aku tidak tahu lagu itu milik siapa, tapi karena nada dan syairnya itu-itu saja, karenanya aku menjadi hapal. Sejauh apa pun kamu pergi/Dirimu tetap ada di sini/Bahkan andai kau mati sekalipun. Begitulah sebagian bunyi syair itu.

 

Aku tahu, Yu Ginah pernah memanggil gadis kecil itu dengan nama Putik. Sedangkan kepada lelaki itu, Yu Ginah memanggilnya Barong. Ada yang kuheran, setiap ada pengunjung yang jajan di warung, tidak pernah ada yang menganggap hal itu sebagai sesuatu yang aneh. Pun juga aku belum pernah mendengar, orang-orang yang jajan menanyakan perihal lelaki misterius itu, dan gadis yang sering berdendang tersebut. Sementara aku menangkap hal itu sebagai sesuatu yang tidak wajar tapi aku merasa sungkan bila ingin menanyakannya.

 

Oya, perlu aku jelaskan dulu kepada kalian, siapa dan bagaimana hubunganku dengan warung Yu Ginah itu hingga aku bisa menceritakan tentang dia dan warungnya. Begini, aku orang baru di desa kecil ini. Kira-kira baru dua pekan aku tinggal di desa ini. Belum banyak warga yang kukenal, bahkan dengan Pak Anwar yang tinggal di sebelah rumah saja baru ketemu sekali, yaitu saat aku pindahan. Pak Anwar pekerja lajon yang pulang setiap pekan sekali. Jarak warung Yu Ginah cukup dekat dengan rumahku. Karena alasan dekat itulah, aku memutuskan untuk tidak memasak sendiri kebutuhan makanku setiap harinya, cukup dengan jajan di warung Yu Ginah. Toh aku juga masih sendiri. Maksudku aku belum punya tanggungan hidup, selain diriku sendiri.

 

Jadi bisa disimpulkan, setiap sore aku hampir selalu pergi ke warung Yu Ginah untuk makan. Mengapa pagi dan siangnya tidak ke sana? Pagi hari aku terbiasa tidak sarapan, jikapun sarapan, aku lebih memilih makan di kantin tempat kerjaku, termasuk pada saat makan siang pun juga di kantin tersebut. Karenanya apa yang kuceritakan tentang segala sesuatu yang terjadi di warung Yu Ginah semata karena hasil dari pengamatanku setiap sore selama hampir dua pekan ini.

 

Melanjutkan ceritaku tadi, beberapa kali aku melihat Yu Ginah memberikan makanan, baik kepada lelaki berjaket, maupun kepada gadis kecil itu. Tetapi di saat Yu Ginah  melakukan itu, wajahnya terlihat tidak ramah. Aku mengira, dia melakukannya karena terpaksa. Tetapi apakah suasana hatinya benar begitu, aku tidak tahu. Tentu saja seperti yang sudah kukatakan tadi, aku tidak berani menanyakan hal itu kepada Yu Ginah, atau kepada yang lainnya. Nah, untuk alasanku tidak berani menanyakan, selain karena aku orang baru, juga karena aku tidak ingin membuat masalah jika nantinya pertanyaanku ternyata tidak disambut baik oleh Yu Ginah, atau yang lain. Tapi hatiku mengatakan bahwa aku merasa yakin, entah kapan waktunya, pasti pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benakku ini akan terjawab juga.

 

Oh, jika kalian ada yang bertanya kepadaku, apakah aku pernah melihat antara Yu Ginah, gadis kecil itu, dan lelaki berjaket pernah melakukan perbincangan, aku akan menjawab tidak pernah. Tetapi aku tidak tahu, apakah jika pas aku tidak ada, juga begitu adanya. Yang jelas jika aku berada di sana, aku tidak pernah melihatnya. Jikapun tadi aku mengatakan pernah melihat Yu Ginah memberi makanan kepada mereka, sesungguhnya hal itu terjadi tanpa adanya obrolan. Jadi, jujur, aku belum pernah melihat mereka berbincang.

 

Mungkin kalian akan menebak, pasti mereka ada hubungan keluarga, tetapi jika benar begitu, yang menjadi keherananku, mengapa aku belum pernah melihat sekalipun di antara mereka berbincang, membicarakan sesuatu? Yang kupahami selama ini, jika ada dua atau lebih orang yang berkumpul dan di antara mereka ada hubungan keluarga, bagaimanapun suasananya, satu atau dua kali pasti akan berbincang, meski mereka berada pada emosi apa pun. Memang pernah, Yu Ginah pernah memanggil mereka, tetapi hanya sebatas panggilan, setelah itu tak berlanjut obrolan.

 

Lalu apakah aku tidak pernah mendengar obrolan sedikit saja mengenai mereka –orang-orang yang jajan ke warung itu? Bagaimana aku akan mengatakan pernah, jika senyatanya selama ini aku memang belum pernah mendengarnya? Mungkin kalian bisa bilang hal itu hanya kebetulan saja. Ya, bisa saja begitu, tetapi berbeda dengan apa yang ada di pikiranku. Kalau pemikiranku begini. Tidak adanya komunikasi antar mereka dan tidak pernahnya aku mendengar obrolan orang-orang mengenai mereka karena pada kenyataannya keadaan itu memang sudah berlangsung lama, dan mereka sudah tidak menganggap hal itu sebagai sebuah rahasia yang biasanya asyik untuk digosipkan.

 

Jika kalian bertanya kepadaku, apakah Yu Ginah punya keluarga, akan aku jawab begini. Tetapi sebentar, jawabanku nanti hanya bersifat terkaan hasil dari pendengaranku tentang obrolan singkat antara salah satu orang yang jajan di warung itu dengan Yu Ginah. Orang itu bertanya begini: “Bagaimana perkembangannya, Yu?” dan waktu itu Yu Ginah menjawab singkat: “Belum ada.” Orang itu bertanya lagi: “Suamimu gimana?” Dan Yu Ginah menjawab: “Karena tidak ada perkembangan, ya aku tidak tahu.” Jika mencermati percakapan itu, sepertinya bisa untuk menanggapi pertanyaan kalian, apakah Yu Ginah punya keluarga. Salah satu pertanyaan tadi ada yang menanyakan tentang suaminya. Tapi ingat ya, sebenarnya aku tidak meyakini jawabanku ini, karena aku sendiri tidak tahu kebenarannya. Itu tadi hanya jawaban atas dasar analisa sederhanaku.

***

 

Hari ini, hari Minggu. Aku bersantai di rumah. Kuisi hari Minggu ini dengan membersihkan rumah, termasuk memberesi perabot yang kubawa saat pindah ke desa ini, dan belum sempat kusentuh. Saat aku sedang asyik menata perabot, kudengar sebuah ketukan di pintu. Kuhentikan aktivitasku dan mendengarkan dengan saksama, apakah benar ketukan itu, ketukan di pintu rumahku. Usai aku mendengarnya, aku yakin itu ketukan di pintu rumahku. Segera aku menuju ke ruang depan, bermaksud menyambut siapa yang bertamu. Begitu pintu kubuka, kudapati lelaki berjaket yang biasa di warung Yu Ginah telah berdiri di depanku.

“Ada yang perlu saya bantu, Pak?” tanyaku padanya.

“Anda punya tujuan apa datang ke desa ini?” tanyanya.

“Saya tidak mengerti dengan pertanyaan Bapak?”

“Anda bermaksud jahat dengan keluarga saya?”

“Bahkan saya tidak tahu keluarga Bapak.”

“Anda orang asing. Lalu untuk tujuan apa Anda sering datang ke warung itu?

“Tentu saja untuk makan, Pak.”

“Saya tidak percaya!”

 

Pada saat itu, Pak Anwar tetangga sebelah keluar rumah, dan langsung mengatakan sesuatu. “Barong, jangan khawatir. Dia orang baik. Biar aku yang menjaganya.” Setelah lelaki itu mendengar perkataan Pak Anwar, dia pergi dari hadapanku. Dan aku langsung mendekati Pak Anwar



“Kapan Pak Anwar pulang?” tanyaku.

“Tadi malam. Oya, apapun omongan lelaki itu jangan dimasukkan hati, Mas. Kasian dia.”

“Memangnya kenapa, Pak?”

Dia pernah mengalami kecelakaan bersama keluarganya. Anak lelakinya meninggal seketika, Istrinya selamat, tapi ketika sadar semua memori masa lalunya hilang. Setelah peristiwa itu jiwa lelaki itu tidak kuat dan menjadi stres berat. Satu-satunya yang paling aman adalah putrinya yang bernama Putik.***

Ditulis oleh Yuditeha

Menulis puisi, cerpen dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku terbarunya Kumcer Balada Bidadari (Penerbit Buku Kompas, 2016). Hobi melukis wajah-wajah dan bernyanyi puisi. Penyuka bakpia dan onde-onde