Topbar widget area empty.
Dua Lelaki di Atas Perahu yang Sedang Memancing Udang memancing udang Tampilan penuh

Dua Lelaki di Atas Perahu yang Sedang Memancing Udang

Oleh: Muftirom Fauzi Aruan

 

Hanya seorang tekong perahu yang tahu kedalaman air sungai, sedang penumpang awam menganggap sungai memiliki kedalaman yang sama. Meski begitu, tak seorangpun yang tahu rahasia apa yang terdapat di kedalaman sungai.

 

“Sama seperti hati, menurut bentuknya, hati boleh sama, tapi kedalaman hati seseorang siapa yang tahu dan, rahasia apa yang ada di dalamnya,” kata seorang tekong yang bernama Trimo kepada seorang lelaki sebagai penumpangnya.

 

Mereka hendak memancing udang di hilir sungai.

 

Matahari hendak jatuh ke Barat sampai malam hari adalah waktu yang tepat untuk memancing udang dan, air yang tenang dan dalam adalah tempat udang bersarang.

 

Hanya beberapa menit lagi mereka akan sampai di waktu dan tempat yang tepat untuk memancing udang.

 

Perahu yang dikemudikan Trimo melaju di atas air. Suara mesin perahu sedikit bising. Kadang percakapan antara Trimo dan penumpangnya harus diulang-ulang dengan suara sedikit ditinggikan agar mereka saling memahami isi percakapan. Atau, kadang pula, hanya anggukan kepala sebagai balasan dari sebuah percakapan.

 

“Ya, aku pikir sungai memiliki kedalaman yang sama, rupanya tidak,” kata penumpang itu dengan suara sedikit ditinggikan disertai anggukan.

“Kadang juga kita berpikir isi hati manusia sama, padahal, tentu saja berbeda,” kata penumpang itu lagi dengan nada suara yang sama.

“Sama seperti hatiku, kau tak pernah tahu apa yang aku rencanakan kepadamu. Aku simpan dalam hati yang paling dasar,” kata Trimo dalam hatinya.

 

Mengapa percakapan mereka mengenai hati? Karena segenggam hati perempuanlah yang menuntun mereka untuk memancing udang bersama.

 

Adalah Muriah, nama seorang perempuan manis, berdagu sedikit lancip, dengan sepasang lesung pipit yang dalam bagai ada lubuk cinta di sana, berkulit putih jernih sejernih air sungai di mana ikan-ikan tampak berenang, bertubuh tidak telalu tinggi dan tidak terlalu pendek.

 

Itulah salah satu alasan dari alasan lainnya yang membuat Trimo jatuh cinta kepada Muriah, meski Trimo sudah punya istri dan, sayang berjuta kali sayang, Muriah sudah punya suami pula, yang tak lain adalah lelaki yang berada satu perahu dengannya.

 

“Kau tak bisa berbuat banyak kepadaku, Mo, jika aku masih menjadi istrinya,” kata Muriah kepada Trimo tempo hari.

“Aku hanya ingin dicintai dengan cara yang benar. Aku tak ingin kau bawa lari, sedang luka akan kita tinggalkan di hati banyak orang,” lanjut Muriah.

“Jadi apa yang harus aku lakukan agar kita hidup bersama?” Tanya Trimo.

“Apapun lakukanlah, asal jangan kau bawa aku lari. Aku tak mau mencoreng wajah sendiri,” jawab Muriah.

 

Begitulah Trimo dan Muriah memang saling mencintai setelah keduanya memiliki pasangan hidup masing-masing. “Cinta yang datang terlambat.” “Cinta yang datang pada waktu yang tak tepat,” begitulah yang sering mereka katakan ketika bertemu.

 

Rasanya ingin benar mereka menyalahkan Tuhan, tapi Tuhan tidak pernah salah. Mungkin Tuhan ingin menguji cinta mereka, seberapa kuat mereka ingin bersatu?

 

Maka setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, ide itu datang begitu cemerlang bagai bulan menerangi malam tanpa bintang, dalam pikiran Trimo.

 

“Bagaimana jika aku menenggelamkannya di sungai sampai mati?” kata Trimo kepada Muriah di hari berikutnya.

“Terserah, lakukanlah, asal kita bisa hidup bersama,” balas Muriah.

“Akan aku buat seolah-olah kami mengalami kecelakaan. Akan aku gulingkan perahuku di tempat paling dalam di sungai. Bukankah dia tidak bisa berenang?” kata Trimo. “Lalu aku akan menikahimu setelah seolah-olah aku bertanggung-jawab atas kematiannya,” jelas Trimo.

“Ide yang luar biasa, Mo. Bagaimana dengan istrimu? Aku tak mau di antara cinta kita ada cinta lainnya,” balas Muriah.

“Kalau masalah istriku, gampang, setelah kita menikah, pelan-pelan akan aku ceraikan dia,” kata Trimo.

 

Lalu Trimo dan Muriah membuat rencana agar suami Muriah mau ikut memancing udang dengan Trimo yang memang pekerjaannya adalah menangkap ikan dan udang dengan menggunakan jala, jaring, bubu, taut, dan pancing. Sedang suami Muriah pekerjaannya adalah penyadap karet.

 

Maka suatu hari berikutnya, dengan lembut Muriah berkata kepada suaminya, “Bang, aku kepingin sekali makan udang, tapi aku ingin udang hasil tangkapan abang. Aku tak mau udang yang dibeli.”

Demi cinta, tanpa ada rasa curiga, memang buat apa curiga kepada istri sendiri? Maka ia menjawab: “Dengan siapa aku pergi memancing? Sedang aku tak pernah memancing.”

“Trimo. Jika kita meminta kepadanya, mungkin dia mau membawamu memancing bersamanya. Ikutlah dengannya,” balas Muriah, setelah pura-pura berpikir.

 

Ketika mendengar nama Trimo, suami Muriah terkejut dan takut. Ada sebuah rahasia yang hanya ia yang tahu. Sebenarnya ia ingin menolak pergi memancing dengan Trimo, namun karena ia tak pernah menolak keinginan istrinya, terpaksa ia menyetujui karena takut istrinya curiga.

 

Itulah mengapa Trimo dan penumpangnya kini berada di atas perahu yang melaju ke bagian sungai paling dalam.

 

Sudah agak gelap ketika mereka sampai di tempat. Mesin perahu dimatikan. Perahu ditambatkan ke dahan pohon yang menjuntai ke atas sungai agar tak bergerak ke hilir. Joran pancing mulai diulurkan. Mereka masuk ke keheningan.

 

Dalam keheningan, pikiran Trimo tidak tertuju kepada ujung joran yang bergetar ketika umpan dimakan udang, tapi pikirannya tertuju kepada suami Muriah.

 

“Dia harus mati saat ini juga,” kata Trimo dalam hati.

 

Sedang suami Muriah tampak bahagia ketika ia mampu mendapatkan udang.

 

“Mo, lihatlah, rupanya bisa juga aku mancing udang ini,” kata suami Muriah.

“Mo, kau melamun? Lihat itu, ujung joranmu bergetar. Mungkin udang yang memakan umpanmu,” kata suami Muriah.

“Ya, aku tahu. Tapi bukan itu tujuanku ada di sini, melainkan aku ingin membunuhmu,” balas Trimo dengan tegas dan kejam.

“Ingin membuhuhku? Tanya suami Muriah terkejut.

“Ya, aku ingin menenggelamkanmu di sungai ini sampai mati. Akan aku jungkir-balikkan perahu ini,” kata Trimo, lalu ia berdiri di atas perahu dengan sebelah kaki ingin memijak sisi kanan perahu agar perahu itu berbalik lalu tenggelam.

 

Suami Muriah ketakutan. Ia berpikir bahwa Trimo tahu rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

 

“Tolong jangan bunuh aku. Aku tahu kesalahanku. Tak akan kuulangi lagi perbuatanku. Aku dan istrimu tak akan main serong lagi,” suami Muriah memohon.

“Maksudmu? Maksudmu kau ada hubungan terlarang dengan istriku?” tanya Trimo heran.

“Tapi percayalah, aku tak akan mengulanginya lagi. Aku tobat. Tolong jangan tenggelamkan perahu ini,” kata suami Muriah dengan wajah pucat ketakutan.

“Jadi selama ini kalian selingkuh?” tanya Trimo heran.

“Aku selalu menemui istrimu ketika kau pergi menangkap ikan. Itu aku lakukan karena kami saling mencintai “ jelas suami Muriah.

“Tapi aku mohon, jangan bunuh aku,” kata suami Muriah lagi.

“Tapi sayang sekali, meski kau telah berkata jujur, bukan karena kalian selingkuh yang membuat aku ingin membunuhmu, tapi karena aku mencintai istrimu. Kami saling mencintai. Aku akan menikahinya setelah kau mati,” jelas Trimo sambil ingin memijak sisi perahu dengan kuat.

“Tolong, jangan bunuh aku. Ini bisa kita pikirkan baik-baik,” kata suami Muriah, berharap. “Kita bisa saling bertukar istri. Kau menikah dengan istriku dan aku menikah dengan istrimu,” katanya lagi.

“Tidak! Aku dan Muriah telah merencanakan pembunuhanmu dengan matang. Ini tak boleh digagalkan. Kau tak boleh bahagia dengan istriku!” balas Trimo tegas.

 

Trimo mulai membuka tambatan perahu dari dahan pohon. Ia ingin melajukan perahu lalu menenggelamkannya.

 

“Tolonglah berpikir bijaksana. Jika aku mati, kau bisa menikah dengan istriku. Tapi pikirkanlah istrimu, meski kau tak mencintainya, seharusnya biarkanlah ia bahagia dengan aku,” kata suami Muriah.

“Kau ini banyak bicara,” kata Trimo.

“Kau bisa bahagia dengan istriku. Seharusnya kau bisa membiarkan istrimu bahagia pula. Jadilah laki-laki yang bijaksana. Jangan egois,” kata suami Muriah.

“Kau diam!” Kata Trimo.



 

Setelah Trimo melepas tambatan perahu, ia menyalakan mesin, perahu melaju.

 

“Tolonglah, jangan bunuh aku. Aku masih ingin membahagiakan istrimu lebih lama lagi,” kata suami Muriah.

“Kau bisa diam, tidak? Kau ini macam perempuan! Aku tak jadi membunuhmu. Kita akan pulang bersama-sama. Kita akan bahagia bersama-bersama pula,” kata Trimo.

 

Memang sudah malam, gelap, tapi entah mengapa, segalanya bagi Trimo menjadi terang.

 

Tanjung Pasir, 2018

M. Fauzi Aruan
Ditulis oleh Muftirom Fauzi Aruan

Pengarang cerita pendek, tinggal di Tanjung Pasir, Labuhanbatu Utara, Sumut