Topbar widget area empty.
SEBUAH PERTEMUAN sebuah pertemuan Tampilan penuh

SEBUAH PERTEMUAN

Oleh: Sawaluddin Sembiring

 

“Boleh aku duduk disini?” tanya perempuan berlesung pipi itu. Lelaki yang duduk di hadapannya memandang ke arah perempuan itu dengan mimik wajah yang kebingungan. Belum lagi dia menjawab, perempuan itu sudah duduk di bangku depan. Lelaki itu melihat kesekitarnya, masih banyak kursi kosong di dalam kafe ini. Karena memang kafe ini selalu sepi saat siang hari seperti saat ini. Lalu, mengapa perempuan itu memilih duduk di hadapannya?

“Ini pertemuan ke dua kita,” ucapnya. Lelaki itu menyipitkan ke dua matanya, ada tanda tanya besar di dalam pikirannya.

“Tidak, tidak, tidak. Aku mengikutimu tadi. Semenjak kau keluar dari toko bunga yang ada di ujung jalan.” Ucapnya lagi. Perempuan ini sungguh gila, entah apa yang membuatnya sampai harus membuntuti lelaki tampan itu.

“Apa maksudmu?” lelaki itu sedikit kesal mendengar sebuah pengakuan konyol itu. Tatapannya pada perempuan itu seperti serigala buas yang sedang kelaparan.

 “Hahhah. Tidak perlu menatapku seperti itu.”

 

Sikap perempuan ini semakin menjengkelkan. Terlebih saat dia merampas minuman yang dipesan lelaki itu tadi.

“Apa yang membuatmu mengikutiku?” lelaki itu mulai merasa tidak nyaman, dia ingin tau apa motif perempuan ini sampai harus mengikutinya.

“Baumu!” serunya.

 

Kali ini tawa lelaki itu yang pecah. Wajah ketatnya tadi seketika menjadi lentur dan dia semakin tampan ketika sedang tertawa.

“Sudah banyak orang yang mengatakan hal itu. Ini aroma floral jasmine, parfum mewah yang aku beli saat liburan ke Prancis bulan lalu.” Lelaki itu sedikit membanggakan sesuatu yang menarik darinya. “Tidak sedikit orang yang penasaran akan aromanya.” Lelaki itu senang sekali mendengar pujian perempuan ini.

 “Aku tidak mencium wangimu, tapi aku mendengus baumu.” Perempuan ini mengatakannya dengan datar. Tawa lelaki itu menjadi beku seketika. Perempuan ini sedang tidak membicarakan aroma parfumnya.

 

Lelaki itu salah mengerti. Dia mencoba mendengus ke tubuhnya, mencari bau yang dimaksud perempuan ini.

“Bau seperti apa yang kau maksud? Hidungku hanya mencium aroma parfumku saja, juga tempat ini sungguh sangat wangi.” Lelaki itu terlihat kebingungan.

“Bukankah kau memang tidak pernah mau tau dengan semua yang tercium oleh hidungmu? Kau selalu merasa sempurna di balik topeng yang melekat di wajahmu.” Perempuan ini mencibirnya dan  membuat lelaki itu sangat tersinggung.

“Apa maksudmu?” nada suara lelaki itu mulai meninggi. Beberapa pengunjung kafe menatap ke arah mereka.

“Pembicaraanmu sudah terlalu jauh, nona. Lebih baik anda pindah ke kursi lain. Saya sedang menunggu seseorang.” Lelaki itu kembali ke sikap awal.

 “Aku mengetahui semua tentangmu.”

“Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi dari mulutmu!”

 “Kenapa? Kau takut takdir menyapa kematianmu lebih cepat? Kau terlalu naif.”

“Brengsek!” lelaki itu sedikit berteriak. Perempuan ini tersenyum ketus. Dia mengatakan jika lelaki itu adalah seorang gigolo, juga pelacur laki-laki. Tidak hanya itu, perempuan ini juga mengatakan jika lelaki itu sering memeras wanita-wanita yang mengajaknya berkencan. Terlebih, lelaki ini juga seorang biseksual. Jadi tidak jarang beberapa lelaki membayarnya untuk berkencan.

 

Mendengar penuturan itu, ada yang menyambar kepalanya. Dia tidak habis pikir mengapa perempuan ini mengetahui semua rahasia tentangnya. Padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Apa yang diinginkan perempuan ini?

“Kau membuatku gila,” lelaki itu terlihat sangat terbakar amarah.

“Tahan amarahmu. Bukan aku yang membuatmu gila, kegilaan-kegilaanmulah yang membuat aku gila.”

“Cukup! Tutup mulutmu.” Lelaki itu membentaknya.

 

Tubuhnya sudah basah akan peluh, wajahnya terlihat pucat sekali.

“Siapa kamu?” suarnya terdengar parau kali ini. Perempuan ini mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki itu.

“Aku adalah kamu.”

 “Omong kosong. Jangan mempermainkan aku, sejak lahir aku tidak memiliki saudara kembar. ” Lelaki itu semakin gugup.

“Aku tidak suka basa-basi dan inilah kenyataannya.”

 

Lelaki itu terdiam. Napasnya mulai memburu, dia mulai susah mengaturnya.

 

Perempuan ini sungguh membuatnya tidak berdaya. Dia terus memandangi perempuan ini, mencari sesuatu kesamaan dengan dirinya. Lama dia merenung, mencoba membohongi dirinya. Lelaki itu terus berpikir keras.

“Hentikan pekerjaanmu, kembalikan aku pada kodratnya. Aku terlahir sebagai seorang laki-laki, bukan wanita. Kau selalu saja merubahnya. Kau seperti memiliki kepribadian ganda.”

“Tidak mungkin,” lelaki itu terlihat ketakutan. Perempuan ini bangkit dari duduknya, dia naik ke atas meja. Tubuhnya meliuk-liuk , seperti penari bar yang erotis. Lelaki itu terlihat sangat khawatir, namun mengapa semua pengunjung di kafe ini terlihat tenang? Padahal dia sudah mau mati rasanya.

 

Perempuan ini terus menari erotis, lelaki itu hanya bisa diam-mematung. Entah mengapa dia seperti tidak ada kekuatan untuk menghentikan aksi itu. Perempuan ini semakin gila, dia mulai memainkan jemari lentiknya, dia membuka satu persatu kancing bajunya. Desahannya terdengar nakal dan dia terus menari. Persis seperti yang dilakukan lelaki itu setiap kali berkencan dengan seseorang yang membayarnya.

 

Perempuan ini sudah tidak lagi memakai bajunya. Kepalanya terus berputar, memandangi orang-orang yang berada di dalam kafe. Namun para pengunjung kafe seperti tidak melihat aksi gila itu, mereka semua masih terlihat tenang. Lelaki itu sudah semakin terpuruk. Dia mulai mengenali tubuh telanjang itu.

 

Itu tubuh lelaki, tidak ada jejak perempuan di tubuhnya. Dia semakin tersadar jika itu adalah tubuhnya. Kedua tato itu meyakinkan dirinya. Sepasang gambar sayap di punggung belakang dan tato ular di dada sebelah kirinya. Lelaki itu semakin ketakutan, bayang-bayang dosa terus menghantuinya dan membuatnya berteriak tak karuan. Para pengunjung kafe memandanginya dengan culas. Lelaki itu terus berteriak, sambil menutup mata dan ke dua telinganya-dari bisikan yang terus mengganggu. Tidak lama, dia berlari meninggalkan kafe. Lelaki itu sudah tidak tahan lagi. Dia pergi sambil ketakutan, seperti orang gila.

 

Seorang pelayan mendekati meja kasir. Mereka masih merekam bayangan lelaki itu saat keluar dari dalam kafe.

 

“Sepertinya lelaki itu sakit jiwa,” ucap pelayan itu pada temanya yang berdiri di balik meja kasir.



“Dia berlari seperti dikejar setan.” Tambah sang kasir.

“Bisa saja. Sedaritadi dia berbicara sendiri di bangkunya.”

 

Semuanya kembali bungkam.

 

Di luar hujan turun perlahan. Sayup-sayup terdengar decitan rem mobil dari jalan raya. Klakson panjang terdengar riuh siang itu. Sesuatu sedang terjadi disana, namun waktu mendadak menjadi beku, hingga tidak satu pun dari mereka yang ada di dalam kafe mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi di luar. Hanya hujan yang ada, sebagai airmata untuk sebuah akhir cerita.

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.