Topbar widget area empty.
Usai Asar di Ruang Tunggu Terminal Morchit-Bus-Station Tampilan penuh

Usai Asar di Ruang Tunggu Terminal

Oleh: Ruly R

 

Aku berlari secepatnya setelah turun dari ojek. Aku orang yang perfeksionis, semuanya harus sempurna, terlebih perkara waktu. Menuju tempat reservasi tiket bus dengan langkah seribu, aku menjadi pusat perhatian beberapa orang yang aku lewati. Sekilas aku mengarahkan pandang pada mereka, dan dalam sekelebatan itu aku melihat perempuan yang tengah duduk khusyuk membaca sebuah buku tebal, entah buku apa.

 

“440, 6D.” Petugas reservasi tiket memberi tahu nomor bus dan nomor kursi yang nanti akan mengantar dan kududuki, menuju tanah perantauan.

“Setelah Asar, Mas. Nanti, semua bus berangkat dari sini.”

 

Aku sedikit lega. Kupikir aku terlambat. Maklum saja ketika aku membeli tiket tidak ada pemberitahuan perihal keberangkatan bus, dan aku juga lupa bertanya waktu pasti keberangkatan. Petugas tiket hanya mengatakan kalau aku harus tiba di terminal sebelum Asar. Kulirik jam tanganku, memang waktu Asar belum tiba. Mungkin aku terlalu terburu-buru untuk sampai sini. Aku mengarahkan pandanganku ke ruang tunggu, mencari tempat duduk sembari aku menunggu waktu keberangkatan.

 

Entah keberuntungan atau sebuah kebetulan, aku duduk dua baris di sisi kiri, belakang perempuan yang tadi ada dalam sekelebatan pandanganku. Sembari menaruh tas selempangku, aku mengambil duduk dan mataku tak bisa lepas dari perempuan itu. Aku diam, dia pun begitu—sibuk dalam duduk dengan bukunya. Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan sedikit pernik di bagian bahunya. Mataku tak bisa lepas dari perempuan itu mungkin karena aku duduk di belakangnya dan kebetulan juga bangku di depanku kosong. Kebetulan, ya mungkin semacam itu. Aku berada di sini mungkin juga karena hal itu juga. Kemarin pagi, ada sebuah panggilan telepon untukku, yang isinya aku diminta  segera ke Jakarta perihal tawaran pekerjaan. Ah, sebenarnya semua terasa berat karena aku anak tunggal. Ibuku di rumah sakit-sakitan, beliau hanya bisa berbaring di ranjang. Ayahku sudah tidak ada, sudah sejak aku lulus SMK, dan kini usiaku hampir  berkepala tiga. Mungkin benar apa yang sering dikatakan orang-orang, bahwa tetangga adalah saudara yang paling dekat, aku tak bisa menampik hal itu. Aku meminta kepada salah satu tetangga, agar mau menjaga dan merawat ibu, selama aku pergi ke Jakarta. Saudaraku, maksudku saudara dari ibu atau keponakanku, sangat jarang berkunjung. Mereka mungkin sama seperti kebanyakan orang, sibuk dengan beban hidup masing-masing.

 

“Arem-arem, tahu, tahu, kacang,” suara pedagang asongan menguapkan lamunanku. Sudah lama aku tak mendengar suara  khas seperti itu. Tentu saja,  karena aku sudah lama tidak naik bus. Mungkin lain ceritanya kalau  aku kejadian naik kereta. Karena sebelumnya aku ingin memilih kereta saja. Di stasiun suara-suara seperti itu akan lebih sedikit. Sebetulnya pemilihan bus karena perkara tiket kereta yang sudah habis.

 

Aku menyapu sekeliling dengan pandanganku. Semua seakan khusyuk dengan kesibukan pikiran masing-masing. Ada yang memainkan  smartphone, bercengkerama dengan orang-orang yang di dekatnya. Ada yang sibuk dengan kreteknya, ada  pula yang bergerombol, mungkin itu keluarganya yang sedang menghayati sebuah perpisahan milik masing-masing. Mataku kembali bertumbuk dengan perempuan itu, tepatnya punggung perempuan itu. Dia masih sibuk dengan bacaannya. Aku tidak pernah melihat dia menengok ke arah lain, matanya terus tertuju pada bukunya.

 

Aku mengeluarkan kretekku dan menyulutnya. Asap rokok melayang tipis berbaur dengan macam-macam bau yang ada di ruang tunggu terminal. Ingatanku kembali terbang pada ibu di rumah. Aku menyesal kenapa belum juga menuruti apa yang dikatakan ibu perihal punya istri. Seandainya aku sudah melepas lajangku tentu ibu tidak akan kesepian seperti sekarang. Aku tidak punya keberanian untuk mempersunting perempuan karena sampai sekarang hidupku sendiri juga belum tertata. Bagaimana mungkin aku bisa menikah, jika hidupku sendiri masih tak jelas. Menurutku, menikah akan menambah beban untukku, juga buat perempuan yang aku nikahi. Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana jika sesuatu yang tidak kuinginkan menimpa ibu.

 

Jujur aku orang yang pemalu, untuk mendekati perempuan rasanya gugup tak keruan. Perempuan itu, apakah kali ini aku berani mendekatinya? Ya, perempuan yang sedang duduk di depanku. Mungkin dengan membuka obrolan basa-basi dengannya: dia mau ke mana, selama ini sibuk kerja dimana, dan seterusnya. Yang jelas, setidaknya hal itu bisa mengubur rasa maluku sedikit demi sedikit. Perempuan itu memakai baju putih, celana jeans biru, dan mengikat rambut panjangya yang hitam dengan karet warna merah. Dia sedang membaca buku yang lumayan tebal. Semua itu eksotis, menurutku. Mengajaknya ngobrol atau syukur bisa tahu namanya itu jelas berarti bagiku, atau paling tidak bisa menghapus kejenuhan di sela menunggu keberangkatan bus. Keinginan untuk mendekati perempuan itu terus berkelindan di pikiranku. Ragu menyelimuti hatiku. Bimbang tak keruan. Ah, sial benar kenapa aku terus saja berpikir dan tak segera menemukan keberanianku untuk mendekati perempuan itu. Semua yang berkecamuk di pikiranku tiba-tiba buyar ketika seorang anak kecil menyodorkan plastik bekas kantong permen di hadapanku.

 

Sedari tadi aku tidak menyadari kalau ada pengamen yang menyanyikan lagu, entah lagu apa. Aku memasukkan selembar uang dua ribuan yang kuambil dari saku jaketku. Pengamen kecil itu beringsut meninggalkanku dan menuju ke penunggu yang lain. Dan ketika dia sampai di hadapan perempuan itu, kulihat perempuan itu memberi selembar uang dua puluh ribu. Aku meyakini perempuan itu orang baik. Buktinya saja dia memberi uang yang lumayan besar untuk pengamen cilik itu. Keinginanku untuk mendekati dan berkenalan dengan perempuan itu semakin besar. Tiba-tiba saja perempuan itu menghadap ke belakang. Mataku bertumbuk dengan matanya. Kulihat mata itu merah. Aku langsung menunduk, gugup dan malu tak keruan. Apakah keinginanku kali ini juga akan menjadi angan? Dalam menundukku bayangan tentang perempuan itu, tentang ibu dan tentang pekerjaan di Jakarta berputar-putar dalam pikiranku. Aku berharap segalanya baik, baik untuk perempuan itu, untuk ibu, untuk pekerjaanku. Semoga perempuan itu nanti satu bus denganku sehingga aku bisa berbincang dengannya. Semua keinginan itu kusimpan dalam hatiku.

***

 

Dia terlihat buru-buru. Aku yakin dia tidak pernah naik bus atau pergi ke terminal. Dan lagi, bus berangkat terlambat menjadi hal yang lumrah. Menurutku, segala yang menjadi kebiasaan akan menjadi kewajaran. Pada saat dia berlari menuju reservasi tiket, sekilas mata kami bertemu. Aku menduga dia melakukan perjalanan ini bukan untuk urusan pekerjaan, karena dia tidak membawa tas besar. Biasanya orang yang merantau untuk alasan pekerjaan selalu membawa tas besar. Sementara lelaki itu hanya membawa tas bermodel selempang, mungkin dia pergi karena urusan yang sama sepertiku, keluarga.

 

Sudah lama aku tak pulang ke rumah, mungkin sekitar tiga tahun. Hari ini aku pulang, akan memeluk ibuku dan kukira tangisan akan menukar rindu di antara kami. Sejak pagi tadi ketika kudengar ibu di ujung telepon memberi kabar, pun aku sudah menangis. Dadaku sesak begitu mendengar kabar itu. Aku heran, ibu bisa mendapat nomor teleponku darimana. Mungkin dari seorang teman dekatku yang beberapa bulan lalu bertemu denganku di kota ini.

 

Bayangan masa silam tentang pertengkaran di rumah dulu kembali hadir. Saat itu aku mantap menuruti keinginaku, memutuskan hijrah ke kota ini. Kota yang sebentar lagi kutinggalkan. Aku tetap memilih kuliah jurusan sastra, meski ayahku menentang hebat keputusanku. Ayah menyuruhku melanjutkan pendidikan di jurusan manajemen, karena dia menginginkan aku bisa melanjutkan bisnisnya. Ayah menganggap sastra tidak akan membawaku pada kebahagiaan. Dulu, salah seorang kakak tingkatku bercerita, jika memilih jurusan tidak sesuai keinginan hanya akan menyiksa diri. Karena itu aku keluar dari rumah. Keputusanku sudah bulat. Sastra adalah pilihanku.

 

Semua bermula dari perpisahan, dan akhirnya aku kembali ke rumah karena perpisahan juga.

 

Aku mencuri pandang pada lelaki itu saat dia berdiri di depan tempat reservasi tiket. Aku pura-pura menunduk, satu-satunya cara untuk mengalihkan perhatian yaitu ke dalam buku yang ada di tanganku. Lelaki itu melintas di sampingku. Mengambil tempat duduk di belakangku. Ujung mataku sempat mencuri pandang padanya. Sebenarnya aku ingin bertegur sapa atau barang sebentar berbasa-basi dengan orang lain di sini, atau mungkin juga dengan lelaki itu. Terlebih jika kami bisa saling mengenal. Tapi aku ragu, bagaimana jika prediksiku tentang dia tadi salah, atau juga bagaimana jika dia bukan lelaki yang enak untuk diajak ngobrol.

 

Lengking suara pedagang asongan yang khas seakan meminta diperhatikan di ruang tunggu ini. Para penumpang yang menunggu keberangkatan bus tentu sibuk dengan pikiran masing-masing. Begitu juga dengan lelaki yang tadi berlari terengah ke reservasi tiket.

 

Mataku kembali ke buku. Aku hanya bisa menunduk dan mencari penghiburan diri dengan membaca. Tapi hal itu tidak bisa menghapus bayangan peristiwa dulu, saat aku meninggalkan rumah. Kenapa harus ada perpisahan? batinku terus bertanya. Kenapa ayah tak bisa satu pemikiran denganku? Dengan semua hal yang membahagiakanku? Aku coba menguatkan diriku sendiri, tapi sepenuhnya tidak bisa. Aku tahu semua ada awal dan akhir, tapi kenapa akhir yang menimpaku selalu menyesakkan dada? Apa memang segala akhir terasa menyakitkan? Pikiranku sibuk dengan itu meski aku terus menunduk dan menatap baris kata dalam buku yang kupegang.

 

Bahkan aku sampai membayangkan bagaimana jika aku membagi segala cerita ini dengan lelaki itu. Selebihnya bertanya nama atau pekerjaannya, lalu saling tukar cerita. Tapi aku tak berani, terlebih aku seorang perempuan. Seharusnya perempuan dihampiri, bukan menghampiri. Isi kepalaku terus berputar dalam tundukku. Membaca tetap tak bisa menepis keresahanku. Kupikir satu-satunya jalan untuk meringankan beban pikiranku adalah bercerita. Tapi bercerita pada siapa? Pada ibu, rasanya tidak mungkin, itu hanya menambah kesedihan kami. Bercerita dengan lelaki itu yang memungkinkan. Dia sendiri, aku juga. Mungkin sekadar bercerita tentang kota ini akan sedikit membuatku lega dan sejenak bisa melepas bebanku.

 

Suara cempreng tiba-tiba menyita perhatianku. Aku tidak tahu lagu itu ciptaan siapa, tapi aku tahu makna lagu itu. Mataku sedikit basah ketika mendengar lirik-lirik lagu itu dinyanyikan.

 

//Bahu jalan paham; perpisahan yang paling menyedihkan bukanlah ketika perpisahan yang diakhiri dengan pelukan, tetapi yang teramat menyedihkan ialah hari-hari setelahnya.//[1]

 

Sampai aku tidak mempertimbangkan, aku memberi uang dua puluh ribu untuk pengamen itu. Ah, aku semakin ingin membagi beban pikiranku pada lelaki itu. Aku menoleh padanya. Mata kami sesaat bertemu, lantas dia menunduk. Mungkin dia juga sedang memaknai perpisahan atau sibuk dengan pemikiran yang lain. Semoga tujuan kami sama, semoga kami satu bus. Bahkan aku berharap, kami bisa duduk bersebelahan lalu kami saling berbincang. Entah karena alasan apa, mungkin juga karena aku egois, ingin membagi pikiranku dengannya. Aku tahu keegoisanku yang dulu, yang membuatku kali ini sedih bukan main, semoga keegosianku kali ini, tak menjadi perpisahan yang menyakitkan, baik untukku atau lelaki itu.

***

 



Suara dari speaker terminal memanggil agar para penumpang segera naik ke bus masing-masing. Mereka—lelaki dan perempuan itu bergegas beranjak dari kursi, melangkahkan kaki dan mulai memasuki bus dalam waktu yang hampir bersamaan. Kursi 6D tempat lelaki itu menyandarkan punggungnya, sementara perempuan itu duduk di kursi bernomor 8A. Mereka saling tatap namun tenggelam ke dalam pikirannya masing-masing, tanpa saling bercakap. Tentu saja, karena bus mereka berbeda dan mulai sama-sama meninggalkan terminal, membawa mereka ke tujuan masing-masing.

 

Ruly R, lahir di Cirebon, 18 Desember 1994. Saat ini tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar (K4) dan Litersi Kemuning. Kumcernya yang baru saja terbit berjudul Cakrawala Gelap (Penerbit Nomina, 2018) dan Novelnya yang akan segera terbit berjudul Tidak Ada Kartu Merah.

[1] Nukilan Puisi berjudul Memaknai Perpisahan karya Eko Setyawan.

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*