Topbar widget area empty.
Cerita yang Tak Layak Dikenang downloadfile Tampilan penuh

Cerita yang Tak Layak Dikenang

Oleh: Agus Salim

 

 

Anjing itu mati tercekik tali tampar, menggantung di tengah-tengah pintu kamar. Matanya mendelik dan lidahnya menjulur. Nah, apakah kalimat itu cukup membuat kalian penasaran untuk mendengar ceritaku selanjutnya? Baik, simaklah.

 

Waktu itu, hari hampir gelap, dan aku sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah. Entah kenapa tiba-tiba pikiranku tak tenang saat berjalan di trotoar, dan itu membuat aku kehilangan kesadaran. Aku merasa trotoar itu berubah menjadi sangat panjang, seperti tak berujung. Aku merasa berjalan sendirian di atas trotoar. Ya, sendirian. Dan, sepertinya, Tuhan sengaja melenyapkan segala yang ada di sekitarku. Pikiranku tak tenang karena teringat pada apa yang telah mereka—para tetanggaku—katakan kepadaku:

 

“Tahunya hanya mengganggu dengan asap menyan dan memantrai rumah-rumah tetangga. Dasar tukang ngutang.”

“Kalau bekerja sungguh-sungguh, pasti Tuhan akan menolong dan memperbaiki hidupnya.”

“Kalau dasarnya anjing, ya tetap anjing. Jangan sok jadi manusia bijak. Pakai menasihati tetangga segala. Salat saja tak pernah, mana mau baik rejeki hidupnya.”

 

Sejak aku mendengar itu semua, aku berusaha berubah menjadi manusia yang baik. Taat beribadah dan bersikap sopan kepada siapa saja. Tapi, sepertinya mereka tidak mau percaya, dan malah menuduhku hanya berpura-pura agar utangnya tidak ditagih setiap hari.

 

Utangku memang banyak.  Ah, bukan, bukan. Bukan utangku sebenarnya. Begini ceritanya. Aminah, istriku, telah salah bergaul. Ia suka bergaul dengan ibu-ibu tetangga yang hidupnya mapan, yang setiap hari suka bergaya dan berdandan dengan alasan demi menyenangkan suami. Entah suami siapa. Aminah terpengaruh, ikut bergaya dan berdandan sampai melebihi batas. Dia tak paham, kalau gaya itu selalu berbanding lurus dengan tekanan. Alhasil, diam-dia dia berutang ke tetangga, hanya untuk membeli kosmetik dan baju-baju baru. Dia baru jujur padaku ketika utangnya sudah menumpuk. Tentu saja aku terkejut ketika dia menyebut total utangnya: 10 juta rupiah! Gila! Aku sebenarnya sudah curiga dari sebelum-sebelumnya. Dari mana dia dapat uang untuk membeli kosmetik dan baju-baju baru. Aku pernah mananyakannya dua kali. Tapi dia menjawab seperti ini: “Sudah, jangan banyak bicara. Apa kau tak suka aku tampil cantik?” Jadi, aku diam saja. Ya, mau tidak mau, suka tidak suka, karena aku mencintainya, utang-utang itu aku yang menanggung akhirnya. Setiap ada yang menagih, aku yang menghadapi, meski kemudian aku hanya memberi janji untuk segera melunasi. Sejak aku tahu utang-utang itu, aku berjanji pada diri sendiri untuk bekerja lebih keras lagi.

 

Aku terus berjalan di trotoar dengan kondisi tubuh sudah terlampau lelah. Dan kemudian, kesadaranku kembali, dan semuanya kembali seperti semula. Kebisingan kendaraan yang lalu lalang di jalan raya, musik di warung-warung, orang-orang berbicara, dan suara-suara lainnya seperti dihidupkan seketika. Terpikir olehku kemudian untuk beralih profesi, mengikuti jejak Suparman yang pekerjaannya hanya bermodalkan canting, baju lusuh, dan cukup duduk di emperan toko. Memang, pekerjaan itu memalukan. Tapi, sangat menjanjikan. Aku pernah melihat Suparman menghitung uang hasil pekerjaannya. Hanya sehari, tidak sampai petang, dia bisa menghasilkan uang sampai lima ratus ribu. Ya, setelah berpikir masak-masak, aku pun memutuskan untuk mengikuti jejak Suparman.

 

Karena tidak sabar ingin bertemu Aminah, langkah aku percepat. Dan, setelah melewati masa satu jam lebih, aku pun sampai di rumah. Betapa terkejutnya aku saat disambut dengan wajah Aminah yang tampil menor: wajah putih seperti tembok habis dicat dan bibir mengobarkan warna merah menyala-nyala. Azan Magrib baru selesai mengalun di udara. Melihat tampilan wajahnya yang seperti itu, aku jadi tidak berselera menyapanya. Langkah aku lanjutkan menuju kamar untuk  meletakkan tas yang berisi perkakas di tempat biasanya.  Lalu aku melangkah menuju dapur, minum air sebentar, dan melangkah lagi menuju Aminah yang sibuk melihat wajahnya di cermin kecil dalam genggaman tangan kirinya. Aku duduk di sebelahnya dengan gerakan pelan, sekadar ingin menunjukkan kalau tubuhku sangat lelah. Lalu, tanpa aku duga, Aminah mengucapkan sesuatu:

 

“Kalau ingin dapat hasil besar, sepertinya harus besar juga yang dikorbankan, Bang.”

 

Aku tidak bisa menerka arah ucapan Aminah. Karena penasaran, aku pun bertanya:

“Apa lagi yang harus dikorbankan, Dik?

“Ada,” sambar dia, seolah pertanyaan macam itu memang sudah lama ditunggunya.

“Apa?” tanyaku menelisik.

“Aku,” katanya tanpa ragu-ragu yang kemudian membuat aku jadi kehilangan daya. Aku menelan ludah pahit berkali-kali. Sungguh, aku tidak menyangka kalau Aminah akan seberani itu.

“Apa yang ingin kau korbankan, Dik?” tanyaku kemudian, pura-pura tidak paham

“Ya, aku, Bang! Apa lagi? Di tubuhku ini ada surga yang disukai para lelaki hidung belang, surga yang mampu menghasilkan uang dalam jumlah besar. Kau pasti tahu apa yang aku maksud.”

“Aku tidak setuju, Dik,” bentakku keras, “Apa yang kau miliki, tidak untuk dikorbankan. Kau tahu, aku berencana mengikuti jejak Suparman. Bukankah itu ide cemerlang?”

“Menjadi seperti Suparman? Halah, aku tak yakin kau mampu melakukannya. Kau itu penakut.”

“Sepertinya kau benar, Dik. Aku ini penakut. Tapi aku ingin mencobanya. Dan, sekali lagi, aku tidak setuju jika tubuhmu yang dikorbankan.”

“Sudahlah, Bang. Hidup kita ini sudah sangat melarat. Kita ini butuh uang banyak untuk melunasi utang-utang.”

“Aku tetap tidak setuju, Dik. Apa yang ada di tubuhmu itu milikku.”

“Terserah. Mau setuju atau tidak, aku tak peduli.”

“Kau mau apa?”

“Aku tetap pada keputusanku, Bang.”

“Kau mau ke mana?

“Aku harus pergi.

“Kau tak kasihan padaku?

“Justru karena aku kasihan padamu, Bang. Biarkan aku pergi. Kalau dapat uang, aku pasti pulang.”

“Aku tetap tidak setuju, Dik.”

“Terserah.”

“Kau tetap mau pergi?”

“Ya.

 

Aku sangat tidak setuju Aminah melakukan apa yang menjadi keinginannya. Tapi, di sisi lain, aku tidak punya keberanian menghalaginya, meski aku sangat mencintainya. Aku juga tidak tahu kenapa jadi penakut. Jadi, mau tidak mau, aku harus rela melepaskannya pergi.

 

Setelah kepergiannya itu, aku dihampiri bisikan yang bunyinya begini:

 

“Hai, Jusup, orang yang kau cintai telah pergi mengorbankan tubuhnya. Ketahuilah, dia tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini. Aku yakin, kau tidak akan sanggup hidup sendiri. Mencari istri lagi pun kau tak akan laku. Siapa yang mau sama lelaki yang bentuk mulutnya mirip kera macam kau ini? Sudah buruk rupa, pekerjaan tak jelas pula. Sudahlah, hidupmu pasti menderita! Jadi, sudah tidak ada gunanya lagi kau hidup berlama-lama di dunia ini.

 

Bisikan itu tak mau berhenti mengganggu telinga, pikiran, dan imanku. Sampai akhirnya, gara-gara bisikan itu, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang aku yakini benar:  aku pun melangkah menuju kamar, mengambil tampar di bawah kasur. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun mengantung leherku di tengah-tengah pintu kamar. Mulanya, aku merasakan sakit yang kuat. Tapi aku tahan semampu aku bisa. Akhirnya rasa sakit itu hilang dengan sendirinya.

 

Pagi harinya, karena pintu rumahku memang lupa aku kunci, Suparman masuk dan memanggil-manggil Aminah dengan suara pelan. Aku tak tahu apa yang dia mau. Setelah matanya melihat tubuhku menggantung di tengah-tengah pintu kamar, dia terperangah sebentar, lalu segera lari meninggalkan aku. Dan setelah itu, Aminah pulang. Entahlah, kenapa dia pulang. Apakah dia sudah membawa uang, atau tidak, aku tidak tahu. Yang aku tahu, saat melihat aku dengan leher tergantung, dia hanya terkejut sebentar, lalu tersenyum lebar, dan berkata:  “Memang ini yang aku tunggu-tunggu, Bang. Dengan begini, aku bisa menjadi milik Suparman sepenuhnya.

 

Sialan, Geram benar aku dibuatnya. Sampai-sampai aku ingin mengulangi apa yang aku perbuat. Menggantung leherku berkali-kali di depan matanya, biar mati berkali-kali, agar dia puas sepuas-puasnya. Tapi, sudah terlambat.

 

Satu jam kemudian, rumahku ramai dengan orang-orang. Ya, tidak banyak. Tapi cukup untuk menguburkan mayatku. Tak ada satu pun dari mereka yang datang, membahas soal kematianku. Sepertinya aku sudah dilupakan. Sebelum pemakaman, aku lihat Aminah berbisik kepada laki-laki tua, sesepuh kampung, tepat di depan kerandaku.



 

“Pak, tolong rahasiakan kematian anjing ini. Aku tidak mau sampai menjadi urusan polisi. Tolong, atur sebaik-baiknya. Nanti aku bayar kau sepantasnya.”

 

Nah, kalian sudah paham sekarang, siapa anjing itu? Ya benar. Akulah anjing itu. Kalian tahu, habis dimakamkan, aku benar-benar dilupakan. Tidak ada kenduri (tahlilan) untuk kematianku. Sekarang, giliran kalian. Coba satu-satu dari kalian bercerita kepadaku. Bagaimana cara kalian mati?

 

Asoka, eA. 2018

Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep