Mata Yang Indah mata yang indah 2 - Terkait Tampilan penuh

Mata Yang Indah

Oleh: Ade Vika Nanda Yuniwan

 

Seberapa besarpun syukur yang kuberikan pada Tuhan rupanya takkan mampu menandingi sentuhan anugerahNya yang telah Dia limpahkan padaku. Tuhan memberikanku sepasang mata indah yang berfungsi dengan baik. Tuhan menyayangiku. Kata Ibu aku selalu dapat menyaksikan dunia degan sepasang bola mata yang belo, hitam, dan tidak ada seorangpun yang dapat menandingi keelokan mataku. Ibu selalu mengatakan jika sepasang mataku selalu dapat menarik perhatian setiap orang. Lewat sepasang mataku, orang-orang akan mudah bersimpati dan akan dengan cepat menyayangiku.

 

Tidak hanya Ibu. Ayah juga sering mengatakan hal yang serupa. Beberapa kali waktu beliau mengatakan jika mataku—mata putri bungsunya, berbeda dengan mata yang dimiliki oleh kebanyakan anak. Manik mata yang sehitam jelaga, kelopak yang sayu, bulu yang lentik, panjang, dan pekat, kelak ketika besar akan dapat menggaet pangeran dari negeri dongeng manapun. “Ah itu hanya perumpamaan. Lebih dari itu, matamu sangat indah Rini.”

 

Aku selalu dapat memandang dunia dengan luas. Ternyata pernyataan para ahli yang menyatakan bahwa bumi bulat, rupanya itu adalah sebuah kesalahan yang mendarah daging pada manusia. Dalam penglihatanku, bumi datar. Tuhan menciptakan bumi degan permukaan datar. Bumi tak berbatas. Bumi tak bergaris. Bumi tanpa batas akhir yang cekung. Semuanya datar.

 

Ketika banyak orang yang beramai-ramai menjunjung kebenaran bahwa bumi itu bulat, alangkah lucunya mereka. Kumaklumi, mata mereka tak seindah mataku. Mereka tidak dapat menyaksikan bumi yang seyogianya luas tanpa batas. Datar namun indah. Bukan bulat namun penuh batas dan berjarak antara atas dan bawah. Ayah benar. Aku mempunyai mata yang indah dan unik. Tidak semua orang dapat menyaksikan indahnya dunia seperti yang dapat kusaksikan.

 

“Arini.. Nak?” kali ini aku harus merelakan anganku tiba-tiba terpotong karena suara ibu yang memecah keheningan kamar.

“Ya Bu?”

“Keluarlah. Ada semangkuk bubur yang harus kau makan pagi ini. Apa kau tidak lapar?”

“Ya Bu. Arini lapar.”

“Segeralah. Nanti buburmu cepat mendingin.”

 

Setelah aku keluar dari kamar, beberapa tangkai bunga mawar putih meyambutku di bawah pintu. Ah dan rupanya aku patut bersyukur kepada Tuhan sekali lagi. Tuhan juga menganugerahiku dua orang malaikat yang senantiasa membuat duniaku semakin lebih indah. Ibu dan ayah. Seperti dulu yang pernah mereka janjikan kepadaku, mereka akan mampu membuat duniaku yang terlihat indah menjadi semakin indah sejak aku membuka kelopak mataku.

 

“Kami tidak ingin menyia-nyiakan mata indahmu. Kau harus memandang dunia yang lebih indah. Dan kami berjanji, hal itu akan mejadi urusan kami kelak.” Rasanya seperti baru kemarin Ayah menggemakan kalimat indah itu. Lantas sejak itu mereka berhasil membuktikan bahwa dengan mereka, aku dapat merasakan Tuhan benar-benar Maha Pencipta.

 

“Ibu?” Seperti kanopi yang telalu terbuka. Begtulah aku selalu merasakan kehangatan Ibu yang selalu ia tawarkan padaku. Melihatnya tersenyum bagiku akan menjadi obat penetralisir termanjur.

“Ayo kemarilah. Duduk, dan makan buburmu.”

 

Tanpa aba-aba dua kali, aku duduk meraih kursi terdekat dengan Ibu. Aku tau meski Ibu tampak tak melihatku, Ibu selalu mengamati seluruh gerak-gerikku lewat sudut mata. Lagi-lagi tentang mata. Namun kali ini tentang sepasang mata malaikat jelitaku.

 

“Ibu tau, kau sedang memperhatikan Ibu.” Ibu tersenyum.

“Ibu selalu tau tanpa perlu aku mengatakan. Bagaimana aku dapat lebih mengucap syukur atas pemberian Tuhan berupa wanita penyayang yang begitu sempurna untukku?” tidak. Aku tidak sedang dalam merayu Ibu agar aku dibelikan sebuah barang baru. Seperti anak-anak yang menghendaki mainan baru karena mainan lama yang usang. Tapi yang kukatakan ini benar adanya. Ibu melebihi kesempurnaan apapun di dunia ini.

“Makanlah…”

“Kemana ayah?”

“Selepas subuh tadi, ia sudah bergegas menuju pabrik. Katanya, pabrik sedang mendapat pesanan sepatu sangat banyak. Pabrik memajukan jam operasional. Ayahmu, seperti biasa tidak ingin terlambat. Ia memutuskan untuk berangkat ba’da subuh.” Ibu terdiam sejenak.

“Ayahmu menitipkan salam untukmu. Katanya, hari ini putrinya harus berjalan-jalan ke luar rumah. Cuaca sedang bersahabat. Nanti kau akan menemukan dunia yang sangat luar biasa cantik dengan mata indahmu.” Lanjut Ibu.

“Benarkah Ayah berpesan demikian Bu?”

 

Ayah selalu mempunyai kejutan yang tak terduga untuk memperlihatkan padaku bahwa dunia memang indah seperti yang kulihat degan mataku. Sebab itu, gairah makanku seakan-akan membuncah. Ingin segera kusudahi makanku lalu aku akan memenuhi pesan ayah. Aku ingin bersahabat dengan cuaca dunia hari ini.

 

“Setelah ini apakah aku boleh memenuhi permintaan Ayah, Bu?”

“Tentu. Ibu akan menemanimu Arini. Ibu ingin melihat dunia yang indah juga sepertimu.” Bahkan tanpa kuminta, Ibu selalu mengerti apa yang kumau dan kubutuhkan.

***

 

Langit menebar burung-burung pipit. Semburat putih begradasi indah degan biru safir yang direntangkan oleh kekuningan warna bintang pagi. Waktu yang tepat bagi serangga terbang mencumbui putik bunga yang bermekaran. Sayapnya berwarna-warni. Sekilas kulihat serangga itu adalah serangga ajaib. Sebab sayapnya dalam hitungan detik dapat berubah warna tanpa bisa kuduga. Lalu selain itu, terdengar suara manusia-manusia dari beragam kesibukan. Aku mendengar diskusi ringan tentang proyek taman. Gaji yang tak kunjung meningkat,  sampah yang dicampakkan pemiliknya dengan sesuka hati, atau tentang anggaran pemerintah yang tidak kunjung turun untuk sekadar pebaikan taman kota. Ah sungguh pelik. Untuk mendengarnya sedikit lebih lama pun akan dapat merusak gendang telingaku. Lalu cuaca bersahabat yang ayah katakan bisa saja beurbah jadi terpaan badai dahsyat yang siap mengancamku agar aku kembali masuk ke dalam rumah.

 

“Ibu, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Sepertinya itu pembicaraan tentang orang dewasa ya?” tanyaku memastikan pada Ibu.

“Sudah, jangan hiraukan mereka. Lihatlah. Keadaan sekitarmu. Dunia indah yang selalu tergambar jelas di matamu. Kau suka?”

 

Seperti mendapat sulutan semangat, suara bising orang-orang proyek tadi seketika senyap. Tergantikan dengan pemandangan sebuah taman dengan beragam bunga mekar yang siap petik.

 

Namun setelah suara para pekerja proyek itu lenyap, kebisingan lain terdengar kembali. Kali ini adalah suara para ibu-ibu yang saling berseloroh. Dengan sedikit bumbu cekcok, rupanya percakapan mereka semakin memanas.

 

“Beberapa hari lalu suamiku membelikanku sebuah jam tangan edisi terbatas! Bayangkan, hanya konglomerat-konglomerat dunia yang punya. Dan aku salah satu konglomerat yang beruntung itu. Bisa mendapatkan satu dari 40 jam tangan edisi terbatas ini. Hebat kan?” celetuk wanita bersuara cempreng.

“Ah baru jam tangan. Kemarin, saya dibelikan mobil sport keluaran terbaru. Mobilnya langsung didatangkan dari showroom di London! Besok saya akan pakai mobilnya jika plat nomor sudah resmi rilis!” timpal seorang wanita dengan suara altonya.

 

Sayup-sayup mereka lebih mencekcokkan sebuah perdebatan yang nihil sama sekali untuk dibicarakan. Namun aku tetap mencuri dengar sembari mengikuti langkah kaki Ibu yang terus berjalan meyusuri taman.

 

“Ibu, apa yang mereka bicarakan? Sepertinya mereka adalah istri-istri pejabat?”

“Kau bisa tau darimana?”

“Mereka meyebut konglomerat Bu.”

“Jangan hiraukan Nak. Nikmati saja duniamu yang indah. Matamu terlalu indah untuk menyaksikan sesuatu yang kurang berarti.” Ujar Ibu kembali menenangkan.

 

Perjalanan kami berlanjut di depan sebuah warung yang terletak tidak jauh dari trotoar depan taman. Ibu merasa lelah. Kata Ibu jajaran gorengan yang masih mengepulkan asap di warung seberang terlihat meggairahkan napsu makannya. Ibu segera mengambil langkah seribu untuk menghampiri lokasi berdirinya warung yang dimaksud tadi.

 

Sepertinya tidak hanya gorengan yang tampak meggiurkan. Rupanya pemilik warung adalah seseorang degan tangan dingin. Ia menghias sekitar warungnya dengan bunga tulip. Tulip kuning, tulip putih, dan ia menghiasinya dengan kolam angsa mini di tengahnya. Ah sungguh indah. Sebagai pemilik warung ia benar-benar memperhatikan apa saja yang dibutuhkan oleh pembelinya selain hanya makanan ringan dan minuman kaleng.

 

“Ya begitulah! Di akhir bulan hutangnya menunggak. Tanjakan Puncak saja kalah!” si pemilik warung akhirnya bersuara juga.

“Halah sudah biasa. Wong hutang dia ke saya saja tidak cukup dibilan hutang biasa. Saya katakan dia seperti hutang budi. Masa iya setiap bulan jadi saya yang membayari uang sekolah anaknya? Dia bilang akhir bulan bayar tapi ya sampai genap satu tahun saya hanya makan janji.” Timpal seseorang.

“Bu, apa yang sedang mereka bicarakan?” tanyaku.

“Sudah-sudah. Makan saja gorengannya. Ibu tidak ingin kau lebih jauh mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Itu tidak sopan Arini.”

 

Ibu benar. Saat aku menyantap gorengan pada gigitan pertama, rasa udang pada petis sangat terasa. Sehingga membuatku semakin lupa dengan suara-suara itu. Lalu seketika suasana hening. Hanya suara renyahnya gorengan yang digigit oleh Ibu, yang menjadi suara latar kami.

 

“Ibu, aku ingin pergi ke toilet umum.” Pintaku pada Ibu.

“Tunggu sebentar.”

 

Setelah Ibu menyerahkan beberapa lembar uang kertas dua ribuan, Ibu menggandeng tanganku. Di sepanjang jalan menuju toilet umum, kurasa taman kota ini benar-benar unik. Sebuah air mancur yang megah melingkar di tengah taman degan corak gypsum yang tidak tanggung-tanggung bergaya klasik ala kastil di Eropa. Di sekitar air mancur tergelar karpet merah dai 5 penjuru yang dapat menghantarkan pengunjung untuk sekadar bermain air atau bercengkarama dengan elitnya air mancur taman.

 

“Bu… Taman ini sangat indah. Biarkan aku sedikit lebih cepat mengelilingi taman ini.” Kuurungkan niatku untuk menuju toilet. Keindahan cuaca di sini sama sekali tidak ingin membuatku membuang waktu barang sedetikpun. Aku melepaskan genggaman tangan ibu pada pergelangan tanganku.

“Arini, tunggu!”

 

Tiba-tiba saja sesosok makhluk berwarna hitam legam dan berbulu lebat menghadangku. Aku tidak sempat meghentikan lariku, sehingga akhirnya tanpa segaja kami bertabrakan. Aku terpental berkat perut buncit makhluk itu. Sebuah cairan asing megalir dari perutnya hingga mengalir melumuri sebagian kakiku.

 

‘Demi Tuhan, makhluk buruk apa yang hadir di tengah-tengah taman yang indah ini?’ erangku dalam hati.



“Sialan. Apa matamu tidak berfungsi, ha? Minumanku jadi jatuh. Aku baru saja membelinya. Lalu kau menabrakku dan membuat minumanku tumpah sepenuhnya. Dasar Buta!” hardik makhluk mengerikan itu.

“Arini!”

“Ibu… apa yang ia katakan tadi? Ia meyebutku buta Bu..”

“Abaikan Nak, abaikan! Abaikan suara-suara yang dapat mengusik dunia indahmu pagi ini. Jangan biarkan ia dan suara-suara asing tadi melenyapkan duniamu yang indah. Kau tidak buta. Matamu indah Nak. Kau bisa melihat dunia yang indah tanpa melihat beragam keburukan.”

 

Ibu benar. Duniaku selalu indah. Selamanya dunia takkan pernah menampakkan sisi buruknya pada mata indahku. Aku memiliki bumiku yang datar, yang tak bertepi, yang tak bergaris. Dimana dalam duniaku semua manusia akan sama dan akan sederajat. Hanya Tuhan pemiliki segala kesempurnaan.

 

Ade Vika Nanda Yuniwan. Lahir di Surabaya 21 tahun silam. Saat ini aktif di UKMf Teater Sabit. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak dan media elektronik. Tinggal di Ds. Ketajen, Kec.Gedangan, Kab.Sidoarjo – Jawa Timur

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

[wpw_follow_author_me author_id = "5"]