Topbar widget area empty.

Membelah ‘Batang Larut’ Di Tepi Senja

MEMBELAH ‘BATANG LARUT’ DI TEPI SENJA

Buat Fadly Zour MT

 

mengendap suara di sudut kamar,

merengkuh sepi. Senandung berderai

sunyi

maka pada getar dinding

tumpahkan larik

syair yang membelah

‘batang larut’ menepi sungai

di helai daun senjamu

 

Memang, telah kau tumpah gempita

pada lorong-lorong langkah

di deras arus, maka waktu

telah mencatat seribu luka

yang tak usai membasah

dan serat angin hanyalah berhembus

lewat jendela beku

 

seperti kau tuturkan

menjadi ‘urang pambatangan’ adalah lengking cahaya

yang dibekalkan untuk piyak

di negeri melangkah

sebagai tumpahan jiwa

yang tak henti mengayuh

hingga ke tepi

 

 

sunyi masih saja menemani. Membelah

derap langkah

tetapi ‘batang-batang’ tak henti menghanyut

mencari muara masing-masing

dan kau tetap setia mendayung

 

//ajarak/25-04-18/22.05/pgt.tanbu//

 

 

LAUT BERTANYA

 

Laut membungkam. Sejenak
Lalu ia bertanya
‘Inikah tanda kelahiran palung yang sekian abad bertapa diantara celah lekang peradaban, dan kau angin, seakan tak bisa lagi memilih arah untuk membenturkan hembusan’

Ah, ke mana lagi pijak
Lain dari kecuali
Tersembunyi

 

//ajarak/06.04.18/23.53/pgt.tanbu//

 

 

MENARILAH : WAHAI

 

menarilah engkau segemulai tangan arus

yang meliuk di tikungan sungai

tinggalkan saja aku di tebingnya

merayap sendiri akar-akar terpendam

menampi keruh

karena hempas riak

 

menarilah : wahai, gemerincingkan harapan

yang membakar keringat alurnya cerita

dalam tungku langkah

sepanjang masih siang, ini

ketika senja, di kuala nanti

kita pasti bertemu lagi

pada kelelahanmu sendiri

 

//ajarak/11.01.18/12.26/pgt.tanbu//

 

 

Andi Jamaluddin, AR. AK. Lahir di Kotabaru 14 Februari 1964 dan bertempat tinggal di Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu sebagai tanah kelahirannya, mulai aktif menulis sejak awal 80an, terutama puisi dan cerpen. Berkali-kali menjadi pemenang sayembara penulisan naskah buku yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Nasional, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Sudah melahirkan sejumlah kumpulan puisi tunggal maupun antologi bersama.Pada Tifa Nusantara 3 turut serta hadir dan berpartisipasi bersama anak-anak binaannya di Komunitas Bagang Sastra Tanah Bumbu. Menerima hadiah seni dari Gubernur Kalsel Tahun 2012, Hadiah Seni Astaprana dari Kesultanan Banjar Tahun 2016, dan Anugerah Seni dari Bupati Tanah Bumbu Tahun 2018. Sekarang tinggal di Desa Batuah Kec. Kusan Hilir, Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalsel.

 

 

 

 

IMAGI

 

Ingatlah memoar masa silam yang pernah membuat hati semakin nyaman dan seakan terbang melambung tinggi sampai keufuk

 

Matahari tak sejernih embun pagi disaat panas terik menghantam pori pori kulit

Saat saat membumbung dan melambung trance alam bawah sadar terbang bersama awan gemawan

Lagu dan nyanyian merasuk kedalam sukma

Syair serta sajak melebarkan sayapnya betapa inilah kebebasan abadi kemerdekaan sejati

Genggam erat naluri menusuk kalbu seiring denting waktu yang bersijingkat

Langkah terbata bata tertangguhkan dengan kemurnian dan ketulusan serta kehalusan budi

 

Deru nafas mengisyaratkan makna makna tersirat dalam relung

Temaram sorot lilin lilin kecil serta harum haru biru bunga bunga tujuh rupa

Sempurna takdir zaman berkelit kedalam kedalaman lautan hijau sejarah masa silam

Hanyutlah kedalam kubang remang remang romantisme sejarah peradaban manusia

Sungguh keutuhan abadi

Menjelmalah menjadi penjelajah samudra biru kilauan percik bintang gemintang dialam awan gemawan naungan kasih kuasa Illahi

 

Aku bersimpuh kedalam gelap sunyi kebisuan takdir bisu sepi

Alam dan manusia

Tuhan dan segenap makhluk-Nya

Tulisan dan sebaris ketikannya

Pertemuan dan seonggok perpisahan

Kelahiran dan kematian itu sendiri

Segala awal dan segumpal penutupan

Untukku dan untuk sesama para makhluk

Tertidurlah disamping keharibaan-Nya

Dan berakhir pada kematian abadi hingga ke Tuhan

 

Gunungkidul 2018

 

 

SAMAR

 

Setahun yang lalu, wajahmu berbinar cahaya lampu neon

Jenak menerangi sudut sudut ruang kalbuku tanpa tiang penyangga yang bloon

Aku kira lantas kaki putih dan jejak lalumu saat ini adalah lingkaran lingkaran kehidupan, menggelegar seperti letusan balon balon

 

Alangkah naifnya, diterpa tumpukan batu cadas yang menggerus usia tuaku

Lolong anjing mendera malam malam jagaku

Mengusik lega daun telinga sepiku

Yang mana aku tak berduka atas perilakuku

Hanya runtuh menggunung menimpuk pada beban jiwaku

 

Sungguh aku tau

Mati pun enggan menciumku

Karena luka tak sempat minggat dari jejak langkahku

 

Wonosari 2018

 

 

IBUKU

 

Kepada ibu yang menjamu diatas pangkuannya

Dengan terbata bata tangannya menggigil lemas tiada berdaya

Namun agung perwatakan dan nilai penghidupannya

 

Kepada ibu yang menjamu diatas pangkuannya

Berpuluh puluh air mata tumpah membasahi raut wajahku yang binar

Air mata itu tertuliskan bahasa masa depan anak

Entah mau kemana dikandungnya

Tembang tembang untukku menghantarkan pada nilai derita masa silam

Tak seindah yang mereka bayangkan

 

Kepada ibu yang menjamu diatas pangkuannya

Bintang gemintang di langit sana berduka

Laut bersedih mengheningkan cipta tanpa ombak bergoyang

Malaikat malaikat halus menyerbu segala penjuru pintu

Dimanakah letak sang ibu berada



Akan kemanakah ibu bersemayam disuatu senja

 

Kepada ibu yang menjamu diatas pangkuannya

Balas budi bagaimanakah harus aku tuangkan seperti meramu arak arak sepanjang pesta pora keduniaan

 

Kepada ibu yang menjamu diatas pangkuannya

Aku merasa tak lulus ujianmu

Aku memohon ruang untuk menampung berjuta juta dosa yang menikam

 

Gunungkidul 2018

 

 

MASHUDI

Tanggal lahir 12 Desember 1982
Penulis tinggal di Menggoran II Bleberan Playen Gunungkidul Yogyakarta

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.