Topbar widget area empty.

Suatu Ketika di Goa Tlorong

PUISI-PUISI EKO SETYAWAN DAN AZIZI SULUNG

 

 

JABAL KANIL

 

Zikirmu khusyuk.

Merapal mantra untuk Ia.

 

Kekal.

 

Penyangga itu.

Kau ubah menjadi jimat.

Sebagai perantara menuju akhirat.

 

Apa benar?

 

Kau kuliti aku.

Kau percaya pada apa-apa yang tak ada.

 

Peziarah malang.

 

(2018)

 

 

KANDANG MENJANGAN

 

Hewan-hewan serupa rusa muncul

: dari kurungan penjara.

Berseloroh tentang kematian Ismail.

 

Apa Ibrahim rela untuk segalanya?

 

Ayah adalah pecahan batu kali.

Tajam serupa serpihan batu yang kelak

mengucurkan darah dari leher anaknya.

 

Ibrahim serupa temali.

Tak ikhlas untuk kehilangan.

 

Bagaimana jika Tuhanmu yang memintanya?

 

Di dunia ini, segala hal tercipta dengan kedipan mata.

Sebab Tuhan pemeluk segala umatNya.

 

Ibrahim pasrah. Demi Tuhan yang menciptakan.

: ia dan segala yang ada.

 

(2017)

 

 

SUATU KETIKA DI GOA TLORONG

 

1.

Suatu ketika langit runtuh.

Aku akan menggali ketakutanmu sedalam mungkin.

 

Aku membuat ceruk di Goa Tlorong.

Di bawah tanah dan rerimbunan awan yang berkabut.

Berpintu kelambu kuperoleh di Jenawi.

 

Lentera kunyalakan.

Api dari tintir-tintir di botol.

: bekas minuman berkarbonat.

Sesekali kuperoleh api itu dari nyalang matamu.

 

2.

Suatu ketika kau diserang lintah.

Aku akan menyesap darahmu.

Segera kulenyapkan perangai sialmu.

 

Kusiapkan api tintir untuk menyulut penyesap.

Agar tubuhmu tak lagi terhisap.

Utuh dan berbuah ranum.

: serupa stalaktit di Goa Tlorong itu.

 

3.

Suatu ketika kau mengembara.

Jauh ke dalam perut ibumu.

Menyusuri tanah kelahiranmu.

 

(2018)

 

 

EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta. Buku puisinya yang telah terbit berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Bernaung di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar. .

 

 

IKTIKAF BURUNG-BURUNG

 

adakah jalan paling hakiki selain kembali?”

seru burung-burung menggema

 

matahari menuju peraduan

rerumput kering mendatar

terhampar: sebagai sajadah pengharapan

ia lepas segala yang tak sempat dijangkau tualang

ia buang segala yang sempat dikhayalkan dari

kemungkinan-kemungkinan

“tak ada yang abadi kecuali kembali”

seru burung-burung itu terus saja menggema.

 

ketika malam kembali dilepas

embun pagi hanya hadir bersama kehampaan

jalan-jalan setapak terengkuh dalam pengap

sementara burung-burung sedang sibuk

menyelesaikan perhitungan

saat matahari surup

perhitungan itu akan dengan tiba-tiba ditutup.

kembalilah, kembalilah!

menjelang petang

burung-burung mulai melebarkan sayap

menembus segala yang tersisa

menembus segala yang rahasia.

kembalilah, kembalilah!

seru burung-burung itu terus saja menggema.

 

Rumah Belimbing, 2018

 

 

TAWAF NELAYAN

 

berputar,

mengitari laut

berputar,

genapi hitungan tujuh putaran

itulah tawaf para nelayan

 

disaksikan sembari kumat-kamit

merapal nasib

mendongak ke langit

menjunjung untung

dayung itu kembali digeliatkan

memecah datar air

jaring itu berulang dilebarkan

memburu harap yang terahasiakan.

 

dalam setiap dengus napasnya

doa itu mengalir bertubi

membaca diri

membaca ilahi

dalam keras tangannya

menguat menggenggam takdirNya

pada legam kulitnya

ia berlipat menyelami ikhtiar,

melarungkan sabar

berserah pada yang segala menampung pasrah.

 

Rumah Belimbing, 2018

 



 

SUNGKEM

: ibu

 

terasa waktu tak lagi mengamini rindu ini abadi

jarak bukan lagi persoalan teka-teki

jauh-dekat atau sibuk-sempat

hati tak lagi tegar menampung segala yang berkarat

rindu itu ibu

dan jarak itu sekarat yang  membatu.

 

Rumah Belimbing, 2018

AZIZI SULUNG, lahir di Sumenep, 7 Juli 1994. Santri Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. Kumpulan Puisinya yang telah terbit, Accident: Malapetaka Terencana (2011), Simposium (2012), Solitude (2012), Luka-Luka Bangsa (2015), Rampai Luka (2016) dan Senyuman Lembah Ijen (2018). E-mail: p_sulung52@yahoo.com

 

Ilustrasi Foto oleh: Rangga Zaura

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.