Topbar widget area empty.
YANG SELALU SEMBUNYI Puisi Para Pencari Tampilan penuh

YANG SELALU SEMBUNYI

PUISI PUISI MUHAMMAD DAFFA

 

SAJAK PARA PENCARI

 

Di sajakmu

Aku rebah

Menjelma kata

Berpeluk sunyi.

 

Di sajakmu

Kulacak jejak tuhan

 

Ia tunggal

Di setiap bahasa

Yang penuh perumpamaan

 

Surabaya, September 2018

 

 

KITA DENGAR MALAM

 

Kudengar malam mengungsi

Akrab kesunyian

Rebah di padang-padang ilalang

Memantul cahaya kenangan

Biru senantiasa

 

Kudengar malam mengusik

Setiap mimpi, setiap ilusi, yang jauh

Membaca cahaya. cahaya yang tumpah

Mengeja namamu berulang, kesunyian

Yang akrab, di padang-padang ilalang

 

 

YANG SELALU SEMBUNYI

Ada yang selalu sembunyi

Ke dalam baris puisimu, mencari makna

Keberadaan yang ganjil. Ada yang setia bersembunyi

Ke dalam dirimu, melukis langit

Nubuat-nubuat tuhan,  dan kota yang terbangun

Pukul 6 pagi

 

Ada yang bersikeras lolos dari dirimu

Bayang-bayang waktu, biru dalam menunggu

Kau hanya pendamping bagi sunyi

 

Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Puisi-puisinya dipublikasikan di Radar Banjarmasin, Banjarmasin Post, Media Kalimantan, Koran Banjar, Buletin Jejak, Tribun Bali, dan sejumlah antologi bersama: Ije Jela(Tifa Nusantara 3), Hikayat Secangkir Robusta(Antologi Puisi Krakatau Award 2017), 1550 MDPL(Antologi Puisi Kopi), Senyuman Lembah Ijen(Antologi Puisi Nusantara, Taresi Publisher), Negeri Bahari: Dari Negeri Poci 8, Maumang Makna Di Huma Aksara(Antologi Puisi Penyair Kalimantan Selatan, Aruh Sastra 2017), dan Banjarbaru Lewat Sajak: Antologi Puisi Penyair Banjarbaru. Biodatanya tercantum pula pada buku APA DAN SIAPA PENYAIR INDONESIA(Yayasan Hari Puisi, 2017). Buku kumpulan puisi tunggalnya TALKIN(2017) dan Suara Tanah Asal(2018). Mahasiswa di Prodi Bahasa Dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya.

________________

 

PUISI-PUISI Y.A. NUGROHO

 

Aku Tak Lagi Menemukan Apa-Apa

-kepada rumah jiwa

 

Beberapa hal tentangmu

yang mungkin bakal terjadi;

 

Kelak aku pulang,

dan tak lagi menemukan apa-apa

selain kemalanganmu hari itu

yang kau simpan di bawah bantal.

Sedang aku keburu lelap

akibat pertengkaran tidak perlu

dengan teman sebangku.

 

Kelak aku pulang,

dan tak lagi menemukan apa-apa

selain uang saku tambahan di dalam tas

yang kau sematkan dengan diam-diam.

Sebab kau tahu,

aku tak terlalu pandai

menyimpan segala sesuatu,

termasuk keberuntungan.

 

Aku pulang,

dan tak lagi menemukan apa-apa

selain pertanyaan-pertanyaan mengapa

sampai kini aku selalu pulang telat.

Sedang kau terus diintai usia, di sini

aku terus menekuni hal-hal sia-sia.

 

2017

 

 

Badar Baraat

 

Kuguyurkan ke penjuru cakrawala

tandon air yang tertampung dari rasa bersalahmu

hingga tanda baca, mimpi-mimpi buruk, otot paha,

dan langit-langit perasaanmu basah kuyup. Ia yang

mengelupas mantel prasangka, tanah liat yang mengeras

menjadi tudung kepalamu -keangkuhan arus atas daratan.

 

Kutembuskan ke dasar palung samudra

bengawan musim kedua yang luber dari keputusasaanmu.

Tebing-tebing hampa securam rahasia, waktu mengais

di punggung hari depan yang kasar. Di antaranya pula

kapur-kapur merenung, mengapa ia tak sempat

mempercayai deras tekad dengan lebih.

 

Biarkan aku sebagai pandir, keberanian masa kecil

yang mencintaimu sepenuh getir,

ketidaktahuan membuatku lebih leluasa, berkarib dengan maut

sebagai jalan jaminannya. Biarkan aku sebagai pulan,

kasih kayu manis dari hutan dalam –pelan demi pelan.

Nasib hanyalah pengulangan kata-kata baku,

sedang aku si pendosa yang mati dalam riwayat batu.

 

2018

 

 

Tubuhmu Semesta

 

Tubuhmu adalah semesta

yang konon diciptakan

dengan sekali sentuhan.

Lalu tumbuh. Lalu tumbuh

Sungai merangkul batu

daging dan sari-sari sepi



darahmu menjelma tebing,

kita menamainya sebagai doa;

setiap pagi. Setiap pagi.

Musim datang

menjaga kebun hati

air terjun dan perasaan.

 

2017

 

Y.A Nugroho. Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1997. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Bergiat aktif di komunitas sastra KRS (Komunitas Rabo Sore) Surabaya dan sebagai jurnalis di pers mahasiswa Gema, Unesa. Karya puisi dan cerpen dimuat di Suara Merdeka, Solopos, Denpost Bali, Koran Merapi, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Magelang Ekspres, Radar Bojonegoro, Simabala.com, Kibul.in.

 

Ilustrasi Foto oleh Juanda Pranggana

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.