Topbar widget area empty.
Ayah Yang Diam Ayah yang Diam Tampilan penuh

Ayah Yang Diam

Puisi-Puisi karya Tri Hartati dan TM Reza Fahlevi

 

 

 

Ayah Yang Diam

Oleh: Tri Hartati

 

Sudah sampai kata-katamu

di cawan waktu

sudah sampai gumammu

di ruang hampa

duduk di kursi itu

meraba ingatan

diam. Meniup kenangan

 

Pontianak, November 2018

 

 

Meja Tua

Oleh: Tri Hartati

 

Usia yang menyapa meja

bernostalgia tentang pak Tua

yang duduk di kursi goyang

kini bahunya merendah

kakinya gemetar

meja meniup debu-debu

usia pun membantu mengelapnya

keduanya sepakat untuk menjaga rumah

 

Hujan November 2018

 

 

Di Bawah Rintik Hujan

; Danarto

Oleh: Tri Hartati

 

Kau temui aku

dan aku sudah lama menunggu

ketika daun-daun jati berlayar

di selokan depan rumah

hujan kupeluk

dan deru sungai kudengar

aku berlari mengejarmu

kau berdiri di sana

juga basah

 

Hujan November, 2018

 

 

Tri Hartati Meminati puisi, cerpen dan novel. Penulis tergabung dalam komunitas kepenulisan Forum Lingkar Pena (FLP) Kalimantan Barat. Puisinya terbit di koran Malaysia, Utusan Borneo dan koran lokal. Antologi puisi bersama para penulis Kal-Bar Bayang-bayang Tembawang (Pijar, 2015), antologi cerpen Mutiara Cinta di Pelangi Khatulistiwa (Stain Press 2013) dan Langit Bumi Arwana (Pijar, 2015).

 

 

 

 

TM Reza Fahlevi Elegi Waktu

Oleh: TM Reza Fahlevi

 

Setitik embun jatuh tepat di relung rindu

Menambah syahdu elegi waktu

Tak ada yang berubah

Ramah kerap jua membumbui kisah

 

Syairku henti kala sepasang mata bersitatap

Membuka kenangan dibalik keringnya dadap

Tak ku mengerti romansa ini selesai

Atau baru saja dimulai?

 

Seulas senyum buat kutergeragap

gundahku pun segera lindap

kembali kuhirup kenangan lesap

dari serpihan fatamorgana sejak kau lenyap

 

kini kau kembali sembari  menghamparkan sayap

kutak tau sejenak kemudian lenyap

hanya pimta kunanti

bila kau pergi, bawakan impian saat kembali

 

Binjai, Januari 2017

 

 

Awal nan indah untuk sebuah perjumpaan 

Oleh: TM Reza Fahlevi

 

Dari Jauh perlahan rinai

Mulai luruh angin pun ikut berkoalisi

Memindahkan awan lancip dan lonjong sesuka hati

Teringat suatu ketika seorang gadis bermata pualam tambatan hati

 

Kisah itu bermula saat sang perjaka bertingkah tak lazim, tak sewajarnya

ia berjuang hingga rela menukar letak kaki dan kepala

berharap tanpa syak wasangka

sang dara tak punya keinginan untuk mendua

 

Harapan pun sirna. tak lama, ia dapat kabar

kepalanya bagai dihantam godam

remuk tertumbuk, hancur melebur layaknya tembikar

sang dara berpaling, tak tahan indahnya pesona balam

 

Perlahan ia tersadar dengan fatamorgana indah nan semu

bahwa cinta saja tak cukup. Lafalnya membingungkan, ambigu

definisinya saru, bahkan cenderung diperdebatkan

 

Bulir bening kini berubah.

warnanya merona menyiratkan buncahan rasa dan debar di dada

ia telah menemukan muara tempat meluahkan beban asmara

 

Jabal rahmah konon katanya tempat berjumpa

dua insan di mana awal kisah cinta dua  insan bermula

hening, bahkan debar jantungnya jelas terdengar

ada haru yang menyeruak ditambah rasa bahagia kian tanak

disini dua insan awal mula kembali diperjumpakan

ia berharap akhir nan indah untuk sebuah perjumpaan

 

Batang Kuis, 2 Desember 2017

 

 

Tapaktuan, kenangan tanpa tepian

Oleh: TM Reza Fahlevi

 

Lamat-lamat pikiranku berlabuh

pada senja syahdu, desau angin bergemuruh

deburan ombak berlarian, kuterpaku sendirian

di jambo hatta yang melenakan

 

tetiba ingatanku terhujam

indahnya mata pualam

rekah senyum delima ranum

hijab panjang menguntai

milik gadis manis berlesung pipi

indah di pandangan, tak mudah mendapatkan



 

dari jauh awan berarak tak putus padu pandang

nikmatnya eungkot semilang, bertatahkan sambal kecap

nasi panas berlaukkan seumilang panggang

menambah lamun rindu

menghantam jarak memupus riak

 

Binjai, 15 september 2018

 

ket:

  • jambo hatta= tempat singgah Mohammad Hatta yang di jadikan objek wisata di kota Tapaktuan, Aceh Selatan
  • Eungkot seumilang= ikan

 

 

Aktif menulis sejak SMA untuk selanjutnya semangat yang bergelora timbul untuk menulis sastra semenjak bergabung dengan FLP Sumut sejak tahun 2014 lalu. Penyuka es kelapa muda ini bekerja sebagai pelayan tamu Allah di PT CSM Wisata, mendalami ilmu marketing dan publik speaking, pengembangan diri dan juga sebagai Promotor STIFIN (genetic inteligence). Ia sehari-hari bisa dihubungi di e-mail: rezha.alfarruq@gmail.com

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.