Topbar widget area empty.
Hanya di Ujung Jalan hanya di ujung jalan Tampilan penuh

Hanya di Ujung Jalan

Puisi-Puisi Rahmat Akbar dan Nurul Istiawati

 

 

MELIHAT MATAMU

Karya: Rahmat Akbar

 

Kau harus tau matamu telah menyibak sunyiku.

Meluruhkan musim yang lama tak bersemi. Bekutat,

Sesak harap membentang di keluasan hati. Rasa yang telah mati,

Perlahan mulai merekah.

 

Melihat matamu seperti mengundang bencana kasih.

Kasihmu telah memburai, menghapus cerita noktah. Nelangsa

Karena sebelum aku menatapmu. Perih telah bersarang di kepalaku.

 

Kau balas dengan pandangan yang mengendap.

Seolah ada harap. Kerling matamu dingin. Seperti ditumbuhi

Bunga-bunga mawar di antara kita berdua.  Tumpalah kita dalam

Sebuah naluri untuk memiliki.

 

Kotabaru, 2018

 

 

SARANJANA

Karya: Rahmat Akbar

 

Sayup-sayup kudengar mereka menghaburkan cerita

“Saranjana”. Tempat di mana ada batasan

Desau angin berhembus di lelautan

Suara-suara malam terdengar sampai ke perkampungan

 

Di sebuah gunung ada peradaban

Suara deruh kota terdengar sampai ke telinga

Mereka menjelma layaknya manusia

Dan aku masih membaca semua kejadian

 

Saranjana!

Di kota ini mata luka telah terbuka

Manusia mulai berkuasa

Mematikan tanah halimun

Mengeruk habis isi perutnya

Berpesta dengan kegilaan

Aura wajah dan tubuhnya telah raib dimangsa pengintai

 

Saranjana!

Musim kian biadab mengendap

Tikus kian membuncitkan perutnya

Menyelinap di malam buta

Mengabarkan sebuah duka

Bahwa kini kotamu beringsut celaka

 

Saranjana!

Manusia mulai membuat peraturan sendiri

Ketika murka menjelma

Kemana kita mengadu, kalau bukan kepadaNya

 

Kotabaru, 2018

 

 

NOVEMBER BASAH

Karya: Rahmat Akbar

 

Di bawah langit beku

Novemnber telah basah di matamu

Retak kisah terlukis di wajah

Nelangsa hingga memburai kejadian

Kejadian membawamu

Pada sebuah peristiwa luka

 

Kau tahu telah merekah

Bulir-bulir hujan meresap ke putiknya

Tapi, kau masih sangaja mengeja kata

Bahwa harapmu telah sirna

Karena layu sebelum berbunga

 

November basah di pipimu

Dan kau sulit untuk menyekanya

Lelaki dengan senyum merona

Terus bersarang di kepalamu

Ingin kau buang ke lubang penghianatan

Namun tertinggal kenangan menyakitkan

 

November basah bersama masa lalumu

 

Kotabaru, November 2018

 

Rahmat Akbar, kelahiran Kotabaru 04 Juli 1993 Kalimantan Selatan. Puisinya  menggisi beberapa media massa cetak dan elektronik serta sejumlah antologi bersama. Mengabdikan diri di sekolah SMA Garuda Kotabaru dan pendiri sekaligus pembina siswa-siswanya di Taman Sastra SMA Garuda Kotabaru. Akbar bisa disapa melalui email  Rahmatakbar464@gmail.com

 

 

 

Pada Akhirnya

Karya: Nurul Istiawati

 

Pada akhirnya daun-daunpun akan gugur

seperti rinduku

perlahan akan jatuh

dari pohon cintamu

yang semakin menua

 

Pemalang, 16 Juli 2018

 

 

Hujan di Ujung Jalan

Karya: Nurul Istiawati

 

Serumpun kabut pagi meluruhkan bulir demi bulir yang menjamah dedaun dan menjadikannya embun di pucuk rumput

Waktu begitu dingin seperti engkau yang memanggilku di ujung jalan untuk kembali berduka; rindu

Aku akan mengibas hujan

Sebab bukan hanya engkau

Pun matahari merindukanku

Akan kutikam kabut dengan pelangi yang telah ditaubati

Sebab namamu terdengar dalam khutbah hujan yang ditimang malaikat

Dan bila gerimis purnama mengurungmu

Sudah kualamatkan risalah senja pada mentari esok pagi

 

Pemalang, 06 November 2017

 

 

Lukisan Takdir

Karya: Nurul Istiawati

 

Engkau yang terlukis dalam bulir demi bulir hujan

Dibingkai langit fajar yang mekar dalam lembaran awan

Engkau yang terlukis sebagai prasasti cinta di lauhl mahfudz

Aku tengah mendambamu dalam bingkai Qudrat Iradat-Nya

 

Tentang kita yang lewati pundak lembah terjal penuh liku

Merintih letih bersama melalui kejamnya kehidupan



Untuk sampai di dermaga bercermin rembulan

Bersamamu aku takkan tumbang

 

Sebab engkau adalah lukisan takdirku

Dalam bingkai keabadian

Aku tetap mendambamu

Menuturkan cinta dalam aksara

 

Pemalang, 15 Februari 2018

 

Nurul Istiawati, remaja 17 tahun yang mencintai dunia puisi. Selain suka menulis puisi, saya juga suka mendengarkan musik klasik. Pernah menjuarai lomba cipta puisi tingkat nasional yang diadakam oleh penerbit. Beberapa karyanya telah dibukukan dalam buku  antologi puisi. Kesibukan saya saat ini adalah sekolah dan berkarya. Bertinggal di desa Semingkir Kec. Randudongkal Kab. Pemalang. Info lebih lanjut dapat lewat email: nurulistiawati05@gmail.com

 

Ilustrasi Foto oleh Rangga Zaura

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.