Topbar widget area empty.
Kupetik Sunyi Kupetik Sunyi Tampilan penuh

Kupetik Sunyi

Puisi-Puisi Arian Pangestu dan Bruno Rey Pantola

 

 

Zikir Cinta Ar-Rumi

Oleh: Arian Pangestu

 

Tak ada yang benar-benar sepi

Kecuali kita tak bertuhan.

 

Jakarta, 2017

  

   

Yang Setia ialah Bunga

Oleh: Arian Pangestu

 

Yang setia ialah bunga:

diikutinya matahari menggeliat ke barat memudar

tidak jemu menunggu menatap timur setia meski bergugur

 

Yang tulus ialah bunga:

diserahkan wanginya pada yang mencinta

seserpih pun tiada disesalinya

 

Yang suci ialah bunga:

di kala sepi pagi selalu bermandi embun surga

kendati yang mencinta tak pernah melihatnya

 

Jakarta, 2016-2018 

 

  

Kupetik Sunyi

Oleh: Arian Pangestu

 

Bila sebab rindu yang lebat luruh gemuruh hujan tangisku

Aku akan berteduh dengan mengingat nama manis-Mu

 

Sebab aku hanya bisa memanggil-Mu dalam zikirku

Juga hanya bisa mengintip surga-Mu lewat anganku

 

sebelum cintaku pada-Mu mengabu dalam waktu

izinkan aku sekali lagi memetik sunyi pada malam-Mu

 

Jakarta, 2018

 

   

Arian Pangestu, Mahasiswa sastra di salah satu universitas swasta di Tangerang. Menjadi fellow di Sekolah Feminisme. Artikelnya dimuat di berbagai media cetak dan media online. 

 

   

 

Daun

Oleh : Bruno Rey Pantola

 

Melambai sembari senyum sendu

Jatuh,

Rindumu pupus

Angin tersipu meliuk di antara dahan-dahan piatu

 

Oelnunuh, 23 Maret !997 

 

  

Paceklik

(untuk mahasiswa rantauan)

Oleh : Bruno Rey Pantola

 

Pagi membelai pelataran rumah

Menyisakan duri untuk hari

Sisa mimpi indah tiba-tiba keruh

Di balik wajah yang lusuh

Bulan makin tua yah?

Hari-hari ‘nikmat’ itu datang lagi

Pertanda masa paceklik akan tiba

Duri-duri telah terurai rapi

Pada jalan-jalan di kepala

Oh mimpi, mari bersama

Mengarungi peristiwa-peristiwa kelam

Kendati tubuh berparas harap

 

Yogyakarta, 27 September 2018

 

  

Sendu di Desa

Oleh : Bruno Rey Pantola

 

Kita telah menggurat pedih

Pada cadas yang tumpang tindih

Pada tembok kantor desa

Menanti suara yang gelap gempita

Bersorak dari dalam kantor bak sarang penyamun

Pecah pada kuping-kuping bodoh

Katanya mampu bermanuver di lini kemiskinan

Namun mati pada ujung kata, lenyap pada sela-sela jari

Kita adalah jawab yang bisu



Dari permukaan tanah

Dari mabuk alkohol hingga mabuk kalimat.

 

Oelnunuh 1 September 2017

 

  

Bruno Rey Pantola lahir di Lospalos 23 Maret 1997. Berasal dari Desa Oelnunuh. Alumni Seminari St. Rafael Oepoi Kupang NTT. Pernah bergiat di Komunitas Sastra Oepoi (kontas Sepoi). Kini menjalani masa perkuliahan di kampus STPMD “APMD” Yogyakarta.

 

Ilustrasi Foto oleh Juanda Pranggana

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.