Topbar widget area empty.
Tanjung Balai Tapak Tuan Tampilan penuh

Tanjung Balai

Puisi-Puisi Budi Hatees dan Kakanda Redi

 

 

BATANG AYUMI, 2017

Oleh: Budi Hatees

 

Saat hujan, seekor naga bergerak  dari ulu ke ilir

batang ayumi. Tubuhnya yang besar membentur

rumah-rumah sepanjang sungai mengalir,

dan mengecat wajahmu dengan hitam lumpur

 

serupa berpupur.  Tapi ketika tiba di Sitamiang,

tak ada  orang yang percaya pada naga,

dan melihat batang-batang pepohonan rumpang

meluncur serupa binatang  sangat perkasa terluka;

 

mengamuk dengan taring dan cakar, dan matanya

seperti menyedot apa saja dan mengantarnya

ke gerbang kematian.  Tapi kau menolak mengakui

beberapa orang telah hilang di batang ayumi

 

sesaat setelah hujan berhenti.  Bau anyir bergelombang

di udara,  menyapu rumah-rumah yang rompal,

bangkai anjing yang perutnya menggelembung,

air mata dan ludah basi. Hidup terasa pejal,

 

harapan yang telah mati. Kau tak buat tempat untuk pengungsi,

dan amarah ditanak gegara intermie lancung dibagi,

sebelum tegur-sapa, semacam rasa simpati disampaikan dengan sedih.

Seseorang berteriak, marah, memaki-maki:

 

“Memang kami lapar, Tuan Wali Kota,

tapi kami hancur juga, maka satukan tondi

yang terberai,  terpisah di mana-mana

kembalikan ke dalam diri.”

 

Di sekitarnya bilah-bilah papan rumah yang tumbang,

seluruh permukaan tampak begitu rumpang,

dengan batang-batang kayu dengan akar-akar melintang.

Bangkai kambing dan ayam masih mengambang.

 

Banjir tak lagi ganas, tapi langit tak panas

dan di ulu sungai itu hutan telah habis dirambah

untuk vila Wali Kota. Hujan masih akan deras,

masih akan marah serupa naga raksasa.

 

———————–

Batang Ayumi nama sungai di Kota Padang Sidempuan. Tahun 2017, sungai ini meluap dan menghancurkan rumah-rumah sepanjang das.

 

 

SAKUMPAL BONANG

Oleh: Budi Hatees

 

Di sini,  kau tak akan melihat sungai mengalir

dari ulu pada urat tanah hingga ilir

di dada anak-anak yang berenang

pada lubuk penuh gejambang.

 

Tak akan kau dengar  lagi  nyanyian katak

di musim hujan, tak akan kau lihat kemilau

sisik-sisik ikan di air yang beriak,

tak akan kau lihat sibar-sibar bergurau

 

sambil menarikan tarian lembut dan gemulai

dengan sepasang sayap seperti selendang.

Tak akan telingamu menangkap lagu pagi

sepasang cici menyanyi di ranting dan batang

 

trembesi.  Pohon itu telah diganti tiang listrik

dengan kabel-kabel selalu menyetrum jantung

tiap bulan, dan mereka pasang  iklan menarik

yang merayumu agar jadi pemurung

 

yang malang. Di antara suara klakson kendaraan

kota meresap di kepalamu jadi kegilaan

anak-anak muda yang mengisap mariyuana

seperti membuka kotak pandora.

 

Di sini,  kau temukan sakumpal bonang hanya nama

sebuah pasar, menguarkan bau darah kering

dari  los daging,  hiruk dengan makian dan tipu daya

pedagang yang selalu berpikir miring.

 

Dan kau menolak menyimpan semua dalam ingatan,

atau menjaganya sebagai kenangan:

Sakumpal bonang, hanya potret sungai  yang hilang,

ditimbun kerakusan dan betapa semua ini begitu malang.

 

2018

  

————————

Sakumpal Bonang, nama sebuah sungai di Kota Padang Sidempuan yang ditutup swasta dan diizinkan pemerintah, dan di atasnya dibangun sebuah bagunan pasar milik swasta.

 

 

TANJUNG BALAI

Oleh: Budi Hatees

  

Aku tampung kapal-kapal yang datang dari laut,

dan kuabaikan bau kelelahan yang melumuri

dinding-dindingnya.  Tak  kuhiraukan bendera kusut

pada tiang-tiangnya,  tapi kuawasi para kelasi

 

diam-diam menurunkan peti-peti di dermaga,

memikulnya di bawah remang cahaya, menaruhnya

di gudang-gudang rahasia.  Sebelum dicatat,

sebelum petugas  tiba dan menerakan  tanda cat.

 

Kulihat nahkoda telah turun ke dermaga, menghidu

aroma alkohol dan parfum perempuan yang meruapkan

persetubuhan.  Di keda-kedai, di antara letih dan bau

sisik ikan, transaksi dibuka menuju kesepakatan,

 

lalu gelas diangkat dan musik dimainkan

di antara suara tertawa dalam perayaan kemengan.

Aku  dengar jerit yang lirih dari arah perkampungan

nelayan,  seperti rasa sakit yang tak tertahankan,

 

semacam ada yang diiris dengan sangat lambat,

lepas dari rumah-rumah beratap rumbia di atas air

yang pasang.  Tapi sebentar,  jerit itu telah tercekat

di tenggorokan ketika tanah bergoyang atau mengalir

 

diamuk mariyuana.  Tubuh anak-anak remaja tergeletak

seperti pakaian atau celana dalam yang lupa dicuci

di sudut ruangan.  Di dalam ruang itu ada yang retak,

sesuatu yang tak akan bisa diperbaiki.

 

——————–

Tanjung Balai, kota pelabuhan di Sumatra Utara, salah satu pintu bagi masuknya barang-barang seludupan dari negeri tetangga.

 

BUDI HATEES bekerja sebagai peneliti di Dewan Riset Daerah (DRD) Kabupaten Lampung Timur 2016-2023.  Mantan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL)  ini menulis puisi, cerpen, esai, dan novel. Menekuni dunia komunikasi dan media sebagai praktisi, trainer,  konsultan,  dan peneliti di Sahata Institute. Karya-karyanya telah disiarkan di berbagai media. Esai-esainya diterbitkan dalam buku Tulisan yang Tak Enak Dibaca, Seri 1 (2008), Bila Tersangka Mendadak Saleh (2010), Ulat di Kebun Polri (2013), Antologi Esai Riau Pos (2014), Antologi Esai Riau Post (2015), dan lain sebagainya.

 

 

 

Tentang Rindu dan Suara Yang Menjerit

  

PULANG

Oleh: Kakanda Redi

 

Aku ingin pulang, Mak. Pulang ke rumah kita. Rumah yang terjaga oleh pelita. Rumah yang bahagia oleh rebus teh dan empat potong ketela. Rumah yang sejuk oleh dongeng-dongengmu yang kaya makna.

 

Aku ingin pulang, Mak. Bermain lagi di halaman rumah kita. Mencium lagi wangi tanah basah ketika hujan telah reda. Menyelam lagi di telaga belakang rumah. Lurus pematang sawah. Dedaun padi yang rata. Atau berteduh di bawah rindang akasia.

 

Aku ingin pulang, Mak. Melihatmu lagi menjemur biji-biji kopi hasil panen minggu ini. Lantas sebentar nanti bakal kau seduh.  Senyummu senantiasa teduh. Petang ini, teh kita ganti kopi. Ketela tetap ketela, katamu. Tak mengapa, Mak. Racik tanganmu adalah cinta. Teduh senyummu adalah gula. Maka biarlah ketela tetap ketela.

 

Aku ingin pulang, Mak. Pulang ke rumah kita. Rumah tua yang kaya dengan cinta.

 

2018

 

 

PRELUDE NOSTALGIA

Oleh: Kakanda Redi

 

/1/

Nanti akan kubuatkan kau rumah kecil beratap kepak sayap kupu-kupu. Agar dapat kau sesekali menerbangkan segala resah. Agar tenang rumah kita suatu ketika. Agar tak canggung kau menyuguhkan secangkir teh ketika senja penuh dengan jingga.

 

/2/

Barangkali tak sempat kukecup keningmu jelang pisah tempo hari. Atau tak terbaca sama sekali paras sedihmu di malam yang kian purba. Tapi percayalah. Kau akan tetap abadi di sajak-sajak selanjutnya.

 

/3/



Lantas tak usah kau menunggu detik-detik jelang perjumpaan yang akan datang. Biar dia abadi sebagai sebuah rahasia. Sebab seperti janjiku, akan kubuatkan kau rumah kecil beratap kepak sayap kupu-kupu. Kelak, saat rindu sudah menjumpai jalan temu.

 

2018

 

 

RISTIA  #1

Oleh: Kakanda Redi

 

Di sudut kota kecil, Jalan Ampera. Malam hampir sampai. Jingga matahari leleh di atas roti panggangmu. Aku khusyu’ menyeduh huruf-huruf yang segera jadi sajak paling hangat. Sore larut dalam sebuah melankolia. Kita bercakap-cakap, perkara mana yang paling enak; perjumpaan tiga belas tahun yang lalu atau sore yang segar beraroma bunga krisan merah. Rotimu dingin. Sajakku juga.

 

Tiba-tiba dedaun gugur. Kita bersitatap. Di kejauhan, gelap mencipta gemuruh di dada masing-masing. Samar-samar. Februari jadi benderang dalam ingatan. Pukul tujuh lebih seperempat. Aku baru ingat. Kau ketika itu adalah candu paling hangat!

 

2018

 

Kakanda Redi. Menghadiri Temu Penyair Asia Tenggara di Kota Padang Panjang pada bulan Mei 2018. Sajak-sajaknya disiarkan di beberapa antologi seperti Suara Lima Negara (Tuas Media, 2012), Bayang-Bayang Tembawang (Pijar, 2015), Klandestin (Pustaka Rumah Aloy, 2016), Epitaf Kota Hujan (FPL Padang Panjang, 2018), Wangian Kembang (Persatuan Penyair Malaysia, 2018), Kunanti di Kampar Kiri (HPI Riau, 2018), dll. Selain itu, cerpen-cerpennya juga disiarkan di beberapa media cetak. Saat ini berdomisili di Mempawah, Kalimantan Barat.

 

Ilustrasi Foto oleh Rangga Zaura

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.