Topbar widget area empty.
Sembilan Varian Ajal Varian Ajal 2 Tampilan penuh

Sembilan Varian Ajal

Puisi-puisi Beni Setia dan Erwin Setia

 

SEMBILAN VARIAN AJAL

Oleh: Beni Setia

 

1.

kuburan senyap, orang-orang

bergegas–pulang. bertubuh

 

hari mau petang. aku terus tak

punya teman bercakap

 

mentari surut, menggelincir.

warung + tingkap jajanan

 

harus ditutup. terlarang untuk

arwah–tubuh terurai

 

meski teramat banyak: ihwal

yang ingin didiskusikan

 

2,

tubuh mau busuk;  bergegas

dikuburkan. pertanda nyata

 

–tak ada lagi perkenan. usai

sudah nikmat bersama

 

semua tangisan, lara nestapa

: tuntas. sempurna sudah

 

ritus mengantar.  upacara

menenangkan yang diusir

 

–petang mereka kumpul lagi:

serentak makan dan minum

 

3.

acara tuntas. perpisahan usai

–ruh menjadi steril

 

peristiwa dan kenangan pelan

ngendap dalam ingatan

 

hampa mengempa. yang tetap

hanya rindu: angan–jelatang

 

hamparan sunyi. ruh didera

gemetar disiksa syahwat

 

4.

keinginan dan angan pelan

meruap–aku tersisih

 

tubuh hancur dan ruh diperam

di dalam tabung transparan

 

dijajarkan di rak prefarat,

berhias lanturan hidup

 

dicatat. hasil tilikan–kekal

(sampai semesta runtuh)

 

meski kenangan. ingatan sering

galau–baur. tercampur

 

semakin pedih menanti momen

hisab–balasan lasak

 

5.

setelah enam tahun: siapakah

yang masih teringat?

 

hanyalah tanya:  siapa dia?

banyakkah harta-warisnya?

 

setelah enam puluh dua tahun

apa masih dikenang?

 

tentang lelaki pendiam, tentang

si yang bisu menunggu

 

padahal diri jadi mungkin, padahal

tubuh terurai

 

6.

silangan kayu besi. serat

nasibnya sedang. disalib

 

beratnya lempeng balok kuat

membeban. ruh sempoyongan

 

tertatih pada jalan tidak

berujung. terus memanggul

 

hingga kiamat tiba, hingga

hitungan genap. berakhir

 

laku sampai di titik akhir

semesta: hitungan hisab

 

7.

waktu menjadi raib–hitungan

gaib. besaran baur

 

semua jadi tak pasti, semua

relatif–juga mengharap

 

tapi, meskipun samar: suara

mantra atau laung doa

 

mesilaburkan hangat. seperti

janji penebusan-Nya

 

serentak Allah merengkuh

prefarat ruh. semestaputih

 

8.

hanya kenangan. waktu beku

di dalam ingatan. tuntas

 

seperti sulur sungai es: beku

kekal: terulur–rindu

 

serta kepingin: mengulangi

semuanya dari nol lagi

 

sehingga tahu: dari mana menata

laku. taubat mengulang

 

meralat skenario. nata lembar

lampiran lauh mahfuz

 

2015-2018

 

LIMA VARIAN ATAS BROMO

Oleh: Beni Setia

1.

jangan berjalan-jalan melampaui petang,

sebab kabut akan membuat jurang kabur

–lampion seberang labirin. tipuan pandang

 

fatamorgana. serta engkau akan terjatuh–

seperti hujan dari mendung. dada + rusuk

bergemeretuk bagai pohon terban. tumbang

 

julangan terjal granit, jurang terhampar

sampai cakrawala, dan gumpalan awan

berdesakan di sekitar senyap. puncak abadi

 

2

besaran waktu selalu ada di luar tanda alam

 

kabut petang tidak lenyap, sejak pagi hujan:

dingin resap–embun dikekalkan malam

 

kebas. semua bermula dari pabrik es mambo

serta mungkin akan bermuara di kutub utara

 

sia-sia dilawan dengan tungku, ceret air panas,

kopi-susu, atau–di sekali waktu–: arak enau

 

berkerodong sarung tebal, ketika mencangkul

dan menanam. berdiang menunggu panen

 

sejak senja: serangga menggesekkan sayap

berdenging sepanjang malam–di semak

 

pertanda areal–menunjuk ke dekat kuburan

 

menonton kenangan. bungkam tanpa kata-kata

 

3

jarang ada surat–kabar. tanpa kabel telepon

 

: kampung berkabut–terlalu tinggi. kabel listrik

retas di lembah. aki bolak-balik di-charge 

 

kami bercerita serta terus menceritakannya lagi

–tertawa buat yang tak perlu ditertawakan lagi

–spontan (artifisial) sesuai dengan kesopanan

 

dunia abadi–berulang-ulang. kami diselipkan

pada jerumat kenangan–yang diulang-ulang

 

meski realitas berdenyar–memperbaharui diri

kami jadi kampungan. dikurung hal-hal sepele

 

4

sekali waktu langit sangat cerah. biru–kilau

tanpa banyak awan. angin memenuhi ruang,

dan terang matahari memanasi pori-pori tanah

 

daun wortol mengerinting, daun kubis membuka

–berdoa–, dan buah tomat mengepal. membulat

–seakan-akan kami ada di pantai. tidak di gunung

 

kabutpun ditarik jauh ke ujung pandang, ke

balik cakrawala–hilang dalam nafas hangat.

seperti kelegaan daun terpapar terang (siang)

 

dan cairan enau tidak lagi dididihkan–sengaja

diperam, disimpan untuk hari murung musim

penghujan. berkumpul depan tungku. sendawa

 

5

jalan setapak cabang. sempadan arah ladang

lalu kelok dan pelan masuk ke jalan lembah

–sebelum merentang ke ujung . menjauh

 

anak-anak sekolah. turun meniti setapak

dan enggan balik–di musim penghujan

kulitnya berkilau oleh keringat tanpa matahari

 

kini mereka wangi. bajunya tak apek lagi

–seakan sudah tak akrab dengan kabut,

dan melingkari tungku: minum arak enau

 

”itu tak baik–tak sesuai tata kesehatan ..,”

katanya. aku bersendawa–kabut mengalir

bercampur kabut–yang bergulung sejak petang.

 

aku menonton kenangan tanpa berkata. diam

seperti–yang datang dari benua lain. turis

yang meninggalkan puncak dan gumpalan kabut

 

2016-2018

 

BENI SETIA. Pengarang. e-mail: setia.tirtawinata@yahoo.com

SIAPA DIRIMU?

Erwin Setia

 

Di depan cermin, aku mengadakan sebuah perjalanan

Menyelusuri tebing, langit, laut yang tercipta

Melingkupi lembar dada.

 

Aku mengembara tanpa menyandang apa-apa

Kecuali sebuah pintu terbuka di atas kepala

yang sedia diruyupkan petualangan-petualangan fana.

 

Barangkali aku akan tersesat seperti musafir kehilangan peta

Kemudian menanyakan tentang hakikat-hakikat

“Siapa Tuhanku? Siapa diriku?”

 

Tetapi aku akan kembali, mungkin dengan palu,

Mungkin sekadar tangan mengepal; memecahkan cermin

Hingga rompal, hingga keping-keping diriku kuhafal.

 

Cibiru, Desember 2018

APA ITU MATI?

Oleh: Erwin Setia

 

Aku melihat kematian pada apa-apa yang laif

Sebotol deterjen, jarum suntik, lidah kekasih;

Sabda subagio sastrowardoyo menjengang:

Kematian hanya selaput

gagasan yang gampang diseberangi

 

Tapi apa itu sakit?

Seperangkat gagasan yang mencegah kematian

Atau malah mengantarkannya?

 

Tapi apa itu luka?

Semacam langkah pertama menuju keabadian

Atau pintu segala kefanaan?

 

Tapi apa itu mati?



Benarkah hanya selaput

Atau sekelimun kabut

 

Yang takkan membiarkan sesiapa luput

Yang membuat kesedihan tak habis disebut.

 

Cibiru, Desember 2018

 

MENJADI TUBUHMU

 Oleh: Erwin Setia

Aku pernah berupaya menjadi tubuhmu. Menyusuri jalan-jalan

yang kau lalui dan pulang ke rumah tempat kau menyusun

kenangan dan harapan setiap malam.

 

Aku pernah berupaya menjadi tubuhmu. Mendengarkan lagu-lagu

yang kau putar saban hari, menyanyikan lirik-lirik sedih

tanpa meneteskan air mata.

 

Aku pernah berupaya menjadi tubuhmu. Membaca buku-buku

yang kau beli di toko buku pada akhir pekan, menjelajahi halaman-halaman

sambil berharap menemukan bagian diri yang hilang.

 

Aku pernah berupaya menjadi tubuhmu. Tidur sebelum jam sepuluh

bangun beberapa saat sebelum subuh, membuka mata dan jendela,

becermin dan kecewa karena tak benar-benar bisa menjadi tubuhmu.

 

Bekasi, 2019

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News. Bisa dihubungi melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com. Facebook: Erwin Setia

Photo: TH Pohan

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.