Rindu Kampung Halaman Kampung 2 - Terkait Tampilan penuh

Rindu Kampung Halaman

Puisi-Puisi Hendri Krisdiyanto dan Mashudi

 

 

Rindu Kampung Halaman

Oleh: Hendri Krisdiyanto

 

Dalam rentang jarak

Madura-Jogja

Aku bagai kehilangan

Kampung halaman

Desa yang kerap kurindukan

Seperti semakin menjauh

Setelah dalam dadaku

Sesak dengan deru kendaraan

Dan polusi bis kota.

 

Kapan aku pulang?

Jalan masih panjang

Tentu dengan rindu

Semakin dalam

 

Biarkan dulu aku tumbuh

Dengan mimpi-mimpi

Yang mencakar langit

Meski kaki menjejak bumi.

 

Yogyakarta, 2017

 

 

Pada Tepi Jalan diJogja

 

Di tepi jalan ini, Kekasihku

Cahaya memancar

Aku termangu sebagai orang asing

Di tengah kota yang bising

 

Udara masa lalu telah tiada

Orang-orang berjalan

Tanpa bertukar sapa dan pandang.

 

Aku masih berada di tepi jalan ini

Merasakan kelam malam

Menikmati rindu yang panjang

 

Yogyakarta, 2017

 

 

Suatu Malam Di Angkringan

 

“Berapakah harga nasib yang baik, Pak”

Aku membuka suara pertama kali

Di tengah kesunyian yang mencekam

 

Tak ada siapa-siapa di tempat ini

Pembeli hanya jejaknya sisa

Jalanan lengang kendaraan

Hanya tinggal bau asap yang sisa

 

Di langit mendung

Udara beku

Bapak itu menjawab

Dengan sisa tenaga yang terkuras

 

“Nasib hanya dijual untuk seseorang

yang keberuntungannya tiada”

 

Lalu, aku termangu

Membayangkan nasib.

 

Februari, 2018

 

Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Antologi bersamanya: Suatu Hari Mereka Membunuh Musim (Persi, 2016), Kelulus (Persi, 2017), The First Drop Of Rain (Banjarbaru, 2017) dan Suluk Santri, 100 Penyair Islam Nusantara (Hari Santri Nasional, Yogyakarta, 2018) Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta.

 

 

 

Ranti

 

Ranti, pinjamkanlah benakmu untukku
Agar kusuling rasa demi rasa menyatu syahdu
Getar jiwa yang merana, kuceraiberaikan lapuk yang membisu
Ranti, aku kira tiada lagi sepi yang menjamuku
Di pembaringan ini aku temukan jentik mutiara cintaku
Kalau tak sempat ingat, rupawan wajahmu bening cermin cita citaku
Aku tetap masih sanggup memelukmu
Ranti, tunggulah hangat mesra kesetianku padamu

Yogya, 2018

 

Siang Itu

Pernah aku memagut bibirmu

Di samping kanan kiriku angin lesu

Pintu kamar merapat menunggui kesah

Nyamuk melongo berdendang menatap kita

Aku tak sengaja

Wajahmu yang basah itu tersenyum biru terukir di dalam benak

Tak kuasa aku menjaring hawa

Nafsuku kau ikat di dalam dada

Hingga siang itu membuatku pasrah

 

Wonosari, 2018

 

 



Rahasia

 

Oh Tuhan Yang Agung
Senyumkanlah kalbuku disaat Kau menjemput
Sirnakanlah duka nestapa sekitarku
Benamkanlah kalut di setiap serpih nestapa

Oh Tuhan Yang Agung
Pinjamilah luasnya rohani sepeninggalku
Kuburkanlah segala aib dan letak kekuranganku
Aku ikhlas tersenyum di hadapan-Mu

Oh Tuhan Yang Agung
DariMu aku ada dan dariMu aku tiada
Mati yang tak terduga

Yogya, 2018

 

Mashudi, Lahir Gunungkidul 12 Desember 1982. Penulis puisi tinggal di Bleberan Playen  Gunungkidul. Puisi puisinya pernah di muat: TUTUR SANG AYAH (Majalah Pendidikan Merah Putih Nasima Semarang), Hingga kini masih menuangkan pena di sela sela kesibukannya.

 

Photo: TH Pohan

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.