Topbar widget area empty.

Wajah Burung

Puisi-Puisi M. Ramli Sa-ed dan Maulana Hanif

 

 

PEREMPUAN BERSUAMI

Oleh: M. Ramli Sa’ed

 

Andai Tuhan tak murka

Aku ingin berdoa kau segera lepas dari peluknya

Lantas meminta restu pada orang tuamu

Dan membawamu pergi ke mana saja aku mau

 

Kehadiranmu di sini

Membuatku gila sendiri

Tanpa sadar hilang kendali

Karenamu aku jatuh berkali-kali

 

Dalam sungai matamu aku berenang

Terbawa arus sangat kencang

Kulawan, malah hanyut-tenggelam

 

Hidungmu menduri

Tajam menusuk hati

Darah mengalir tak bertepi

Membakar segala emosi

 

Bibirmu juga kejam

Ketajaman warna dan lekuknya membuatku tersesat

Aku lupa dari kali pertama meraba

Dari tepi ke tepi tak ada titik untuk berhenti

 

Melihat wajahmu yang merona

Aku seperti mati rasa

Tak berbahaya, namun mengancam jiwa

Aku lupa penat dan bekas luka yang sembab

Barangkali seperti mimpi

Raga mati, sementara jiwa tak henti berlari

 

Andai Tuhan tak murka

Aku ingin menculikmu dari peluk suamimu

Mungkin aku tak bisa beri rasa yang sama seperti dia

Tapi percayalah, kau akan menemukan hal yang berbeda

Sesuatu yang tak pernah kau temui dari dia

Dan itu hanya tercipta jika kamu di sampingku

 

Cipari, 16 Agustus 2018

 

  

P E R G I !

 

Aku hanya khawatir kemarau terus menghantam

Daun-daun gugur tercatat sebagai cinta yang nihil

Kulit terkelupas, reranting pecah, hati patah

Pergilah!

Selamatkan dirimu dari kekejaman cinta hitam

 

Ketika senja memerah

Kau akan semakin kesulitan memandang arah

Jalan yang sebelumnya terang akan menjadi kelam

Asa akan menyudut dihati paling nyeri

Semakin tenggelam, semakin patah harapan

 

Udara akan berubah menjadi dingin

Aroma luka akan menyekap segala harap

Ibarat Izroil menadah daun dari pohon kematian

Semua akan benar-benar terjadi jika kau tak beranjak kembali

Kembalilah!

Orang tuamu mencemaskanmu dibalik rasa yang kau punya

 

Cipari, 30 Agustus 2018

 

 

TAWAKAL

 

Aku ingin menulis puisi yang aku sendiri sulit untuk mengerti

 

Buat aku gila

Sampai tak bisa menulis dengan sadar

 

Buat aku buta

Sampai tak lagi bisa berjalan pada satu arah

 

Buat aku mati rasa

Sampai tak lagi bisa keluh-kesah

 

Seret aku dalam gelap

 

Bawa aku dalam kelam

 

Biar kutebak rencana Tuhan

Satu persatu akan kuruntuhkan

Dengan lekuk bibirku yang tajam

 

Sungguh aku ingin gila segila-gilanya

Sampai tak satu pun yang bisa menahan

 

Cipari, 25 Agustus 2018

 

Ramli Sa’ed adalah nama pena dari Moh. Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura 12 Januari 1995, bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Ia seorang remaja yang ingin mengelilingi dunia dengan Sastra. Dan saat ini ia sedang menebus Takdirnya di Jakarta. Kumpulan Puisi Terbarunya: MISTERI CINTA PERTAMA (2018). Karya-karyanya dimuat di sejumlah media cetak/daring. Karyanya juga pernah dibukukan bersama di FAM INDONESIA.  

  

  

WAJAH BURUNG

Oleh: Maulana Hanif

 

 

Di pelataran rumah ada embun  yang berdzikir tentang hujan

Wajahnya pucat seperti reranting diterpa kemarau

Pohon-pohon nyiur berlenggak-lenggok

Membawa angin sakal merasuk ke dalam jantungku dan jantungmu

Adakah yang setia menanti embun?

Adakah yang menangis bersama embun?

Embun hanyalah fatamorgana yang bertandang di atas pekikan suara gaduh

 

 

RANTAU

 

Menarilah anakku

Mabuklah bersama anggurmu

Anggurmu telah kucampur dengan maduku

Menarilah anakku

Tak usah kau menoleh ke belakang

Sebab ibu telah memasak jiwakuuntukmu

Jika nanti engkau ditanya para malaikat untuk apa kau menari anakku?

Maka kau harus jawab

Aku menari hanya untuk mati

 

 

KAFE BASABASI

 

Di penghujung malam

Segelas kopi dan sebatang rokok



Bertasbih bersama tuhan

Angin, pengamen, penjual koran, banci

Semua menyatu dalam kopiku

Hiruk pikuk kepulan asap

Membelah rasa ngantuk

Membalut rindu yang hampir terkutuk

Dari seberang laut

Ada wanita yang menjelma

Seperti ikan-ikan dalam pasir

Tersenyum miris

Membuatku menggigil pada sepotong padi yang menguning

 

 

Maulana Hanif, Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta  dan alumni Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Utara Guluk-guluk Sumenep, Madura. Aktif di komunitas sastra bawah pohon IAA Jogja, komunitas penyair pinggiran. Beberapa puisinya terkumpul dalam antologi “Penyair Islam Nusantara” dan “ Mata Sajak: Antologi puisi pengawasan pemilu BAWASLU  Jawa Tengah “.

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.